DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 337


__ADS_3

"Gusti Prabu memanggil hamba?" Tanya Prabu Putra Candrasa kepada Prabu Jabang Wiyagra.


"Ya. Duduklah. Ada hal penting yang harus aku katakan kepadamu." Ucap Prabu Jabang Wiyagra mempersilahkan Prabu Putra Candrasa untuk duduk di ruang singgasana tersebut.


Setelah Prabu Putra Candrasa duduk di tempatnya, barulah mengutarakan semuanya kepada Prabu Putra Candrasa.


"Aku sebenarnya tidak suka mengatakan hal ini. Tapi ini adalah keputusan terakhirku. Aku akan mengirimkan Pasukan Bara Jaya, untuk menghancurkan Kerajaan Putra Bathara. Dan aku putuskan, Prabu Gala Ganda beserta para abdi setia dan juga sekutunya, harus mati sekarang juga. Aku sudah terlalu lama menunda-nunda hal ini. Sehingga pasukan Kerajaan Putra Bathara bisa berkembang sampai sekarang. Aku mau, kamu yang memimpin penyerangan ini, Prabu Putra Candrasa."


"....Pimpinlah Pasukan Bara Jaya untuk menghancurkan Kerajaan Putra Bathara. Pulanglah dengan membawa kemenangan besar. Aku tidak mau menyisakan satupun musuhku. Aku sudah terlalu baik kepada mereka semua. Dan sekarang sudah saatnya aku menerapkan tindakan kejam. Jauh lebih kejam daripada sebelumnya. Apakah kamu siap Prabu Putra Candrasa?"


"Hamba akan selalu siap menerima perintah dari Sang Maha Raja, Gusti Prabu Jabang Wiyagra." Jawab Prabu Putra Candrasa.


"Baik. Siapkan Pasukan Bara Jaya sekarang. Dan jangan menunda-nunda lagi. Kamu sudah berpengalaman dalam melakukan penyerangan. Semua pasukanku yang berada di wilayah Kerajaan Putra Bathara pasti akan datang untuk membantumu."

__ADS_1


"Nggih Gusti Prabu. Hamba mohon restu."


"Berangkatlah!"


Di hari itu juga, Prabu Putra Candrasa berangkat bersama dengan seluruh anggota Pasukan Bara Jaya. Prabu Putra Candrasa dan Pasukan Bara Jaya menggunakan baju perang yang berwarna serba hitam. Baju perang itu sudah lama disimpan di dalam ruang pusaka istana Kerajaan Wiyagra Malela. Prabu Jabang Wiyagra sendirilah yang mendesain baju-baju perang itu. Kemudian menyerahkannya kepada para pandai besi istana. Baju perang itu dikhususkan untuk orang-orang yang menjalankan tugas penting, dari Prabu Jabang Wiyagra. Tidak semua orang mendapatkan kehormatan untuk memakai baju tersebut. Karena baju perang hitam tersebut sangat dikeramatkan oleh Prabu Jabang Wiyagra dan Sang Maha Guru.


Setelah semuanya siap, Prabu Putra Candrasa dan Pasukan Bara Jaya langsung bergegas untuk menuju ke Kerajaan Putra Bathara. Satu-satunya pentolan kelompok Pasukan Bara Jaya juga ikut dalam penyerangan tersebut. Siapa lagi kalau bukan Gendam Wulung. Gendam Wulung merasa sangat terpanggil untuk ikut dalam penyerangan tersebut, setelah dia mendapatkan pemberitahuan dari Prabu Putra Candrasa. Karena selama berada di istana Kerajaan Wiyagra Malela, Gendam Wulung hanya berjaga di sekitaran istana. Sama seperti anggota Pasukan Bara Jaya yang lainnya. Apalagi setelah kehilangan dua orang sahabat baiknya, yaitu Puger Satriya dan Arya Panunggul, Gendam Wulung menjadi orang yang pendiam. Ditambah juga dengan menghilangnya Panglima Galang Tantra.


Gendam Wulung merasa sangat kesepian semenjak ditinggal oleh mereka. Dialah yang sekarang menjadi orang yang paling dituakan, di dalam Pasukan Bara Jaya. Gendam Wulung sebuah kehormatan oleh Prabu Jabang Wiyagra, untuk mengatur kelompok tersebut. Namun kehormatan itu tak lantas membuatnya bangga. Gendam Wulung sering sekali kebingungan dalam mengambil keputusan. Dia sering mencurahkan isi hatinya kepada Prabu Putra Candrasa secara diam-diam. Karena dia tidak mau, anggota pasukan yang lainnya mengetahui tentang kegelisahannya. Apalagi kalau sampai mereka tahu, bahwa Gendam Wulung sebenarnya sudah tidak sanggup lagi untuk memimpin Pasukan Bara Jaya. Pasti akan banyak orang yang keluar dan memilih untuk kembali kepada keluarga mereka. Dan Pasukan Bara Jaya bisa dibubarkan.


Tekad Gendam Wulung untuk menemukan Panglima Galang Tantra sangatlah kuat. Andaikan Prabu Jabang Wiyagra mengizinkan dia pergi dari istana Kerajaan Wiyagra Malela, mungkin Gendam Wulung sudah pergi sedari dulu. Tapi Gendam Wulung tidak bisa kalau hanya mementingkan masalah pribadi saja. Dia juga memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengatur seluruh anggota kelompok Pasukan Bara Jaya. Dia juga sudah bersumpah setia kepada Panglima Galang Tantra dan Prabu Jabang Wiyagra. Jika dia melanggar tempat tersebut, maka nyawanya yang akan menjadi taruhan. Karena sumpah seorang prajurit, akan berlaku sampai mati. Meskipun Gendam Wulung mungkin bukanlah nama yang cocok untuk seorang laki-laki baik seperti itu, tetapi Gendam Wulung memang benar-benar orang yang jujur, dan sangat peduli kepada setiap orang.


Gendam Wulung senang sekali memberikan bantuan, tanpa mengharapkan imbalan. Bahkan mungkin, hanya Gendam Wulung-lah satu-satunya orang yang tidak pernah membicarakan masalah gaji atau tunjangan, dari Kerajaan Wiyagra Malela. Berbeda dengan sahabat-sahabatnya yang lain, yang kerap kali membicarakan hal tersebut. Membuat Panglima Galang Tantra merasa sangat bangga kepada anak didiknya itu. Gendam Wulung juga orang yang sangat penurut, dan dikenal sebagai orang yang paling patuh kepada perintah. Baik dari Prabu Jabang Wiyagra langsung, ataupun dari Panglima Galang Tantra. Sehingga lama kelamaan, namanya pun menjadi terkenal. Dan menjadi sudah menjadi murid langsung dari Sang Maha Raja, Prabu Jabang Wiyagra. Yang artinya, Gendam Wulung bisa saja menjadi penerus Panglima Galang Tantra, suatu hari nanti, saat dia sudah siap.

__ADS_1


*


*


"Apa rencana kita Gusti Prabu?" Tanya Gendam Wulung kepada Prabu Putra Candrasa.


"Aku sudah memberitahu Patih Rogo Geni dan pasukannya untuk bersiap. Kita akan melakukan penyerangan langsung ke istana Kerajaan Putra Bathara. Buat kebakaran sebesar mungkin di istana itu. Dengan begitu giliran Patih Rogo Geni dan pasukannya yang akan melakukan penyerangan besar-besaran." Jawab Prabu Putra Candrasa.


Mereka lalu bergegas menuju ke istana Kerajaan Putra Bathara menggunakan Ajian Sapu Angin. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di wilayah istana Kerajaan Putra Bathara. Sayangnya, Gendam Wulung dan para pasukannya berhenti di tempat yang berbeda. Mereka berhenti tepat di depan pintu gerbang istana. Sedangkan Prabu Putra Candrasa berada sangat jauh dari benteng pertahanan istana Kerajaan Putra Bathara. Karena di depan pintu gerbang istana banyak sekali pasukan yang berjaga, Gendam Wulung dan pasukannya pun langsung diserang saat itu juga. Tanpa pikir panjang, Gendam Wulung juga langsung membalas serangan tersebut. Penyerangan yang terjadi tepat di depan pintu gerbang itu, membuat para pasukan dari Prabu Gala Ganda kelimpungan.


Pasukan yang ada di atas benteng tidak bisa melakukan penyerangan, karena Gendam Wulung dan pasukannya terlalu menepi ke depan gerbang istana tersebut. Sehingga membuat para pasukan yang berjaga di depan pintu gerbang harus bertahan mati-matian, dari serangan balasan Gendam Wulung dan pasukannya. Mereka menghadang dengan berbagai macam senjata. Yang dibarisan depan menggunakan perisai dan juga tombak. Sedangkan pasukan yang ada di barisan belakang, berusaha menyerang dengan panah-panah mereka. Namun posisi mereka sangatlah sulit untuk melesatkan anak panah. Karena sedikit terhalang oleh para pasukan yang berada di barisan paling depan. Mereka juga tidak mungkin menyerang teman mereka sendiri.


Sedangkan Prabu Putra Candrasa, dia berusaha untuk memanjat dinding benteng istana tersebut. Dari atas benteng, para pasukan Prabu Gala Ganda menyerangnya, dengan terus melesatkan puluhan anak panah. Namun Prabu Putra Candrasa tidak peduli dengan hal itu. Sekalipun ribuan anak panah melesat ke arahnya, tidak ada satupun anak panah yang bisa menancap di tubuhnya. Karena tubuh Prabu Putra Candrasa kebal terhadap semua senjata tajam. Para pasukan Prabu Gala Ganda semakin dibuat bingung dengan hal itu. Beberapa dari mereka akhirnya terpaksa masuk ke dalam ruang singgasana raja. Yang kala itu sedang ada perjamuan makan malam. Karena prajurit istana semakin terdesak masuk ke dalam.

__ADS_1


Prabu Gala Ganda yang mengetahui hal itu langsung memerintahkan semua patih yang ada di sana untuk segera bersiap membantu para prajurit istana. Tak hanya itu, Patih Jala Karang juga diperintahkan untuk meminta bantuan, kepada pasukan yang sedang berjaga di luar wilayah istana Kerajaan Putra Bathara. Sedangkan Prabu Gala Ganda akan mencoba menyerang para Pasukan Bara Jaya, yang masih terus mendesak masuk. Para prajurit istana akhirnya tidak mampu lagi menahan serangan dari Gendam Wulung, setelah Gendam Wulung menggunakan Ajian Brajamusti. Sekali tampar, semua orang yang ada di hadapannya langsung terkapar. Membuat barisan pasukan pertahanan istana dengan mudah dihajar dan dibunuh, oleh Gendam Wulung dan Pasukan Bara Jaya.


__ADS_2