
Lare Damar dan Patih Kinjiri berjalan menyusuri hutan. Mereka tidak mungkin berjalan kaki melewati puluhan desa, akan banyak orang yang melihat mereka. Karena tujuan mereka adalah untuk mencari obat untuk Prabu Bujang Antasura.
Di perjalanan itu, Patih Kinjiri sebenarnya masih belum tahu apa yang dicari oleh Lare Damar. Karena sampai sekarang Lare Damar tidak mengatakan apa pun padanya.
Patih Kinjiri juga tidak mau bertanya apa pun. Dia hanya mengikuti kemana saja Lare Damar pergi, itulah perintah yang diberikan Prabu Jabang Wiyagra kepadanya.
Tetap berjalan bersama Lare Damar. Jangan berhenti. Dan jangan banyak bicara. Karena itu bisa menjadi hambatan untuk mereka dalam perjalanan. Selain itu, mereka juga jadi mudah lelah.
Perjalanan mereka masih jauh dan dari hutan yang lebat itu, belum terlihat sama sekali keberadaan Gunung Khayangan. Karena yang gunung amat sangat tinggi itu masih tertutup oleh pepohonan.
Apalagi tempatnya sangat jauh. Di tempat paling ujung dari Tanah Jawa. Sedangkan posisi mereka berangkat adalah dari Kerajaan Wiyagra Malela, yang letak kerajaannya ada di Pulau Jawa bagian tengah.
Sampai sini bisa dibayangkan, bagaimana rasanya berjalan dari tengah sampai ujung. Hanya dengan berjalan kaki tanpa boleh menggunakan ilmu kesaktian yang mereka miliki.
Mereka boleh menggunakan ilmu mereka kalau mereka sudah berada di dekat Gunung Khayangan. Jadi, jika mereka mendapatkan masalah di tengah jalan, maka mereka harus lari dan kabur untuk menyelamatkan diri.
Mereka tidak boleh menggunakan ilmu dalam bentuk apa pun, termasuk ilmu bela diri yang mereka miliki. Mereka benar-benar harus memaksa diri mereka untuk menjadi manusia biasa pada umumnya.
Di setiap tempat yang mereka lewati, pasti ada saja yang seakan-akan ingin menghalangi mereka. Mulai dari bangsa ghaib perempuan, sampai keadaan alam yang susah ditebak.
Hujan deras, kabut tebal, angin kencang, dan berbagai ujian lainnya. Namun yang paling sering adalah bangsa lelembut, yang menggoda mereka dengan menawarkan bantuan kepada mereka.
__ADS_1
“Hei manusia. Untuk apa bersusah payah berjalan kaki. Gunakan saja kesaktian kalian. Kalian akan sampai ke tujuan kalian dengan sangat cepat.” Ucap bangsa lelembut bertubuh tinggi kurus itu.
Jumlah mereka tidak hanya satu, tapi lebih dari satu. Kadang bisa lima sampai sepuluh bangsa lelembut yang berusaha untuk menghalangi mereka berdua dengan tipu daya mereka.
Namun Patih Kinjiri dan Lare Damar tidak mau menggubrisnya. Mereka berdua tetap berjalan dan terus berjalan. Mereka tidak pernah berhenti. Karena kalau mereka berhenti, maka itu akan menjadi kesempatan bagus bagi bangsa lelembut berbuat tidak baik kepada mereka.
“Hei manusia. Berhentilah sejenak. Aku adalah raja lelembut di hutan ini. Aku sudah mempersiapkan tempat istirahat untuk kalian. Ada banyak makanan yang kalian pasti akan suka.” Ucap si raja lelembut itu.
Lare Damar dan Patih Kinjiri tetap berjalan dengan tetap tidak mempedulikan mereka semua. Tapi lama kelamaan mereka semakin membuat Patih Kinjiri jengkel. Rasanya ingin sekali dia menghantam wajah mereka dengan tangannya.
Lare Damar tahu kalau Patih Kinjiri ingin sekali meluapkan rasa kesalnya dengan menghajar mereka semua. Tapi kalau dia melakukan itu, maka Patih Kinjiri tidak bisa masuk ke Gunung Khayangan.
“Patih, sabarlah. Ini ujian yang ringan. Masih ada yang jauh lebih berat dari ini.” Ucap Lare Damar lirih.
“Kendalikan. Jangan mengacaukan semuanya. Ingat, ini perintah dari Kakang Prabu Jabang Wiyagra. Lebih baik kita diganggu bangsa lelembut, dari pada dipenggal di depan umum.”
Patih Kinjiri pun berusaha dengan keras menahan emosinya yang seakan mau meledak, karena para bangsa lelembut itu terus menerus menggodanya. Telinganya sudah panas.
Sesekali dia mengepalkan tangan dan menggerutu karena menahan amarahnya. Lare Damar yang melihat hal itu ikut tertawa, karena ekspresi wajah Patih Kinjiri yang terlihat lucu baginya saat dia sedang emosi.
“Kenapa kau tersenyum? Aku tidak suka.” Ucap Patih Kinjiri.
__ADS_1
“Sabar Patih Kinjiri. Masih banyak ujian yang menanti kita di depan. Dan perjalanan kita masih panjang. Jangan mau kalah bangsa lelembut ini.”
Lagi-lagi Patih Kinjiri hanya menghela nafas. Dia juga tidak mau mengacaukan semua rencana yang sudah mereka setujui sama-sama. Karena niat mereka datang ke tempat ini adalah untuk mencari obat, bukan untuk mengadu kekuatan.
Kalau soal adu kekuatan, bangsa lelembut itu jelas akan kalah dengan mudah ditangan Patih Kinjiri yang sangat sakti. Tapi dia tidak akan melakukan hal itu, karena dia terus menerus mengingat pesan dari Prabu Jabang Wiyagra.
Para bangsa lelembut yang menggoda mereka perlahan mulai mundur dan menyerah. Semua cara sudah mereka lakukan untuk menghentikan perjalanan Patih Kinjiri dan Lare Damar, tapi tidak berhasil.
Lare Damar selalu menguatkan kesabaran Patih Kinjiri, dan tidak lelah untuk menasehatinya. Karena kalau sampai Patih Kinjiri marah, hutan ini bisa ia bakar habis, beserta seluruh penghuni ghaibnya.
Lare Damar yang sudah terbiasa untuk bersikap sabar dan menerima, sudah pasti tidak akan mempan godaan semacam itu. Dengan fisiknya yang berbeda dari orang lain, tidak jarang dulu dia mendapatkan hinaan.
Namun semua itu dapat ia lewati dengan sangat baik, berkat didikan yang lembut dan penuh kesabaran dari Sang Maha Guru. Dia diperlakukan dan diterima dengan sangat baik oleh Sang Maha Guru.
Anak didik Sang Maha Guru memang jarang yang gagal. Kebanyakan mereka pasti menjadi pribadi yang santun, sopan, dan tidak banyak polah. Mereka semua anteng, dan ayem. Tidak mudah berangasan.
Kebanyakan murid Sang Maha Guru juga memiliki pemikiran dan pandangan yang luas. Memang, kebanyakan dari mereka ada yang lebih memilih menutup diri dari dunia luar. Tapi itulah yang membuat mereka spesial.
Mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu di tempat sepi dengan kesendirian, pasti terlihat lebih tenang. Karena mereka tidak terlalu memikirkan urusan dunia yang suatu masa bisa menjerat mereka.
Berbeda dengan Patih Kinjiri. Dia yang sudah melewati berbagai hal, dan bertemu dengan bermacam-macam orang, pasti aura tubuhnya jauh lebih panas dari pada yang lainnya, karena dia masih mengutamakan urusan dunia.
__ADS_1
Sudah sangat lama dia tidak mengolah dan menenangkan jiwanya dalam kesendirian. Karena selama menjabat menjadi seorang Maha Patih di Kerajaan Reksa Pati, dia sering sekali membunuh orang yang kebanyakan adalah orang-orang tidak bersalah.
Ditambah juga dengan masa lalunya yang kelam. Membentuknya menjadi pribadi yang mudah goyah dan terguncang. Dia menjadi mudah marah dan kesal, seperti baru saja yang dia alami.