
"Sebelum kami menjadi sebuah kelompok yang disegani dan dihormati, kami semua hanyalah sebagian kecil orang yang mungkin menurut orang lain sangatlah tidak penting, atau justru membahayakan. Tidak jarang juga ada pendekar-pendekar sakti yang dikirim untuk membunuh Panglima Agung Wira Satya. Masa-masa itu adalah masa-masa yang sangat-sangat berbahaya." Ucap Kencana Wangsa kepada Maha Patih Lare Damar.
"Lalu apalagi yang terjadi setelahnya Mbah?" Tanya Maha Patih Lare Damar.
"Panglima Agung Wira Satya adalah orang yang sangat baik kepada siapa saja. Namun masih saja ada orang yang tidak suka kepadanya. Termasuk saudara-saudaranya sendiri, yang ada di dalam kelompok Satrio Luhur."
"Jadi, konflik sesama saudara juga sering terjadi?"
"Iya Gusti Patih. Dan orang yang memulai semua konflik itu adalah Kawirit. Guru dari Ganda Ruwo. Kakak dari Ratna Malangi. Kawirit adalah orang yang sangat-sangat kejam dan tidak berperasaan. Bahkan, Panglima Agung Wira Satya pernah mengatakan kepada kami semua, kalau Kawirit suka memakan ari-ari bayi untuk menambah ilmu kesaktiannya."
Maha Patih Lare Damar sebenarnya sudah di tidak heran lagi dengan para penganut ilmu hitam yang memakan ari-ari bayi. Namun, memakan ari-ari bayi adalah sebuah hal yang sangat-sangat menjijikan. Hanya untuk mendapatkan ilmu kesaktian, orang mau melakukan apa saja. Bahkan melakukan hal-hal menjijikan sekalipun. Seperti apa yang telah dilakukan oleh Kawirit. Yang hal tersebut jelas bertentangan dengan aturan di kelompok Satrio Luhur.
__ADS_1
Tetapi setelah masalah Kawirit selesai, muncul lagi masalah yang baru. Kala itu Kencana Wangsa dan beberapa senior yang ada di kelompok Satrio Luhur mencurigai pergerakan yang dilakukan oleh Panglima Agung Wira Satya. Semakin ke sini pergerakan yang dilakukan oleh Panglima Agung Wira Satya sangat melenceng dari aturan yang telah ditetapkan. Padahal aturan itu ditetapkan oleh dirinya sendiri.
Kencana Wangsa dan para petinggi lainnya sudah berusaha untuk mengingatkan Panglima Agung Wira Satya, agar tidak bertindak dengan kejam dan arogan, sekalipun kepada musuh-musuh mereka. Tetapi Panglima Agung Wira Satya seperti sudah dirasuki setan. Tidak seperti biasanya, dia tidak mau mendengarkan nasihat dari siapapun. Sekalipun para petinggi yang sangat dekat dengan dirinya.
Namun kala itu para petinggi yang ada di kelompok Satrio Luhur berusaha untuk menyembunyikan kejahatan Panglima Agung Wira Satya kepada para anggota yang lainnya, terutama dengan para anggota yang masih baru. Para petinggi kelompok Satrio Luhur tidak mau ada perpecahan yang jauh lebih besar lagi, di antara para anggota. Apalagi pengaruh Kawirit waktu itu masih sangatlah kuat dan sangat berbahaya.
Walaupun pada waktu itu Kawirit sudah mati. Tetapi pengaruhnya kepada semua orang masih sangatlah besar. Terutama dengan Ganda Ruwo yang secara terus-menerus menyebarkan ajaran sesat yang dianut oleh Kawirit kepada rakyat yang tidak tahu apa-apa. Sehingga banyak sekali orang yang kemudian menjadi pengikut Ganda Ruwo. Bahkan mereka rela mengorbankan apapun yang mereka miliki, sekalipun anggota keluarga mereka sendiri.
Karena itulah Panglima Agung Wira Satya merencanakan pembunuhan kepada Ganda Ruwo. Awalnya, Panglima Agung Wira Satya mengirim Panglima Galang Tantra hanya untuk mengawasi terlebih dahulu keadaan yang ada di tempat tinggal Ganda Ruwo. Namun karena waktu itu Panglima Galang Tantra melihat sebuah kesempatan, dia pun tidak segan untuk mengambil kesempatan yang baik itu, dengan cara melemparkan bubuk racun yang dibuat sendiri oleh Ganda Ruwo untuk meracuni warga masyarakat.
Dan setelah melarikan diri dari tempat tinggal Ganda Ruwo, dengan membawa obat penawarnya, Panglima Galang Tantra langsung menunjukkan obat penawar itu kepada Panglima Agung Wira Satya. Panglima Agung Wira Satya merasa sangat senang karena dia memiliki kesempatan yang bagus untuk bisa membunuh Ganda Ruwo. Panglima Galang Tantra sendiri tidak tahu kalau obat penawar itu sudah diberi racun oleh Panglima Agung Wira Satya.
__ADS_1
Karena kala itu Panglima Galang Tantra berfikir, kalau Panglima Agung Wira Satya memang benar-benar ingin memaafkan semua kesalahan yang telah Ganda Ruwo lakukan. Agar Ganda Ruwo sadar, dan kembali ke jalan yang benar. Namun betapa terkejutnya saat Panglima Galang Tantra, saat dia menyadari kalau obat penawar yang diberikan oleh Panglima Agung Wira Satya, ternyata sudah diberi sebuah racun yang sangat ganas dan mematikan.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Panglima Galang Tantra pada waktu itu karena semuanya sudah terlambat. Ditambah lagi Panglima Galang Tantra juga tidak tahu obat penawar untuk racun tersebut. Sehingga dia lebih memilih untuk pergi dari sana, meninggalkan Ganda Ruwo yang sedang menderita kesakitan akibat efek racun yang dibuat oleh Panglima Agung Wira Satya. Panglima Galang Tantra merasa sangat bersalah kepada Ratna Malangi, yang pada waktu itu menyaksikan sendiri, bagaimana Ganda Ruwo meregang Nyawa.
Saat Panglima Galang Tantra melakukan protes kepada Panglima Agung Wira Satya, Panglima Galang Tantra justru mendapatkan cacian dan makian yang sangat menyakitkan. Panglima Agung Wira Satya menganggap kalau Panglima Galang Tantra adalah orang yang bodoh. Karena merasa kasihan kepada musuh yang kejam. Padahal, Panglima Agung Wira Satya merasa sangat senang dengan apa yang dilakukan oleh Panglima Galang Tantra kepada Ganda Ruwo.
Tetapi apa yang dilakukan oleh Panglima Galang Tantra sangatlah bertentangan dengan apa yang ia yakini selama ini. Selama ini dirinya berpikir kalau Panglima Agung Wira Satya adalah orang yang sangat jujur dan lurus hatinya. Dan tidak pernah mau berbuat hal-hal yang kejam. Apalagi sampai menyiksa musuh-musuhnya dengan cara yang licik seperti itu. Panglima Galang Tantra yang pada waktu itu merasa sangat kecewa, kemudian memilih untuk meninggalkan Panglima Agung Wira Satya, dan tidak mau lagi mencampuri urusan kelompok Satrio Luhur.
Mengetahui kalau tindakan Panglima Agung Wira Satya sudah sangat kelewatan, Kencana Wangsa dan para petinggi kelompok yang lainnya pun melaporkan hal tersebut kepada Eyang Badranaya. Dengan sangat terpaksa mereka mengatakan semuanya yang telah terjadi kepada Eyang Badranaya. Sebenarnya, Eyang Badranaya sudah mengetahui apa yang telah terjadi dengan Panglima Agung Wira Satya. Tetapi kala itu, beliau masih sangat berharap kalau anak didiknya bisa menyadari kesalahan yang sudah ia lakukan.
Tetapi dengan semua kesaksian yang diberikan oleh para petinggi kelompok Satrio Luhur, Eyang Badranaya menjadi sangat geram dan tidak bisa tinggal diam. Akhirnya diputuskanlah sebuah keputusan, yang sangat berat bagi semuanya. Yaitu Eyang Badranaya akan menghukum Panglima Agung Wira Satya. Dengan cara memasukkannya ke dalam kawah gunung berapi. Sampai Panglima Agung Wira Satya siap untuk datang kembali dalam keadaan yang sudah bersih. Dan sudah menyadari setiap kesalahan yang pernah ia lakukan.
__ADS_1