
Patri Asih tidak mengetahui, kalau semua pendukungnya yang ada di dalam istana Kerajaan Wiyagra Malela, telah di bantai habis oleh Maha Patih Lare Damar dan para pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Bahkan, pembantaian para pengkhianat tersebut, kini telah merambah keluar dari wilayah istana Kerajaan Wiyagra Malela. Banyak orang-orang yang mati secara misterius. Jasad mereka dibiarkan begitu saja di tempatnya. Yang sudah pasti hal tersebut dilakukan oleh pasukan Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Tujuannya jelas, yaitu untuk mengurangi kekuatan lawan-lawan Prabu Jabang Wiyagra.
Banyak sekali orang-orang yang ternyata sudah melakukan pengkhianatan kepada Sang Maha Raja. Mereka semua sama sekali tidak pernah menyangka, kalau akan ada orang yang membongkar rahasia tersebut. Dan orang itu adalah Bajur. Seorang bandit yang selalu dianggap remeh oleh orang lain. Pernah menjadi salah satu dari para pengkhianat tersebut, sekarang Bajur dan seluruh anak buahnya telah memutuskan untuk mengabdikan diri mereka kepada Prabu Jabang Wiyagra. Demi menebus semua kesalahan yang pernah mereka lakukan.
Dengan semua jasa yang telah ia berikan, untuk keamanan Kerajaan Wiyagra Malela, Prabu Jabang Wiyagra sebenarnya telah membebaskan mereka dari segala hukuman, atas semua kesalahan yang pernah mereka lakukan. Namun, Bajur dan anak buahnya masih merasa kurang dengan hal tersebut. Dia masih merasa bersalah kepada semua orang yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Karena sudah banyak sekali kejahatan yang telah Bajur lakukan bersama anak buahnya. Bajur ini sebenarnya adalah orang baik. Hanya saja dia berada di tempat yang salah.
Kalau saja dulu Bajur mau mendengarkan masukan dari orang tuanya, mungkin sekarang Bajur sudah menjadi seorang prajurit berpangkat tinggi, di Kerajaan Wiyagra Malela. Dulu, semasa masih hidup, orang tua Bajur sangat berharap, kalau anaknya bisa masuk ke dalam jajaran keprajuritan Kerajaan Wiyagra Malela. Tetapi rasa malu yang besar, karena usia Bajur sudah cukup tua, Bajur lebih memilih untuk menjadi seorang petarung. Dia berguru kepada seseorang yang juga beraliran ilmu hitam. Dari sinilah Bajur mulai mengenal dunia kejahatan. Dan harus berakhir dengan menjadi seorang bandit.
Beruntungnya, hati Bajur tidaklah sekeras fisiknya. Bajur ternyata memiliki rasa peduli, dan belas kasihan yang sangat besar kepada orang lain. Sehingga pekerjaannya sebagai seorang bandit sangatlah tidak cocok. Tapi kembali lagi kepada kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup yang sangat menuntut, juga telah menuntutnya untuk berbuat hal yang tidak baik. Bajur kemudian mulai merekrut orang-orang yang ada di sekitarnya, untuk bergabung menjadi satu kelompok. Dan ternyata, mereka juga memiliki pikiran dan perasaan yang sama. Sama-sama memiliki perasaan tidak tega, kepada orang lain.
Sifat seorang bandit, tidak bisa memasuki jiwa Bajur dan anak buahnya. Mereka akan selalu memberikan keringanan kepada para korbannya. Sebuah sifat yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang bandit. Tetapi hal ini telah bertahan selama bertahun-tahun, selama masa pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra. Setelah sekian lama, Bajur akhirnya memiliki keberanian untuk melakukan sebuah perubahan. Dia sudah tidak mau lagi terjebak ke dalam dunia hitam. Dia ingin hidup sebagai seorang suami dan ayah yang baik, bagi anak dan istrinya. Yang selama bertahun-tahun dengan setia menemaninya.
Pagi itu, Bajur dan anak buahnya berkumpul di taman istana Kerajaan Wiyagra Malela, bersama dengan Maha Patih Lare Damar. Mereka saling berbagi cerita satu sama lain. Tentang masa lalu yang telah dialami oleh Bajur dan semua anak buahnya. Maha Patih Lare Damar juga menceritakan tentang dirinya, yang dulu berbadan bungkuk, yang kerap menjadi bahan ejekan orang-orang. Hingga datanglah sebuah keajaiban, yang membuatnya berubah menjadi manusia normal, seperti manusia pada umumnya. Badannya tegap, dan gagah perkasa.
__ADS_1
"Tapi, ada satu hal yang seakan hilang dari diriku." Ucap Maha Patih Lare Damar.
"Apa itu Gusti Patih?" Tanya Bajur.
"Dulu, aku tidaklah sekejam ini. Bahkan, dengan hewan sekalipun, aku tidak berani menyakitinya. Padahal, aku sudah sering sekali diserang oleh binatang buas. Tapi sekarang, jangankan dengan hewan yang buas, dengan manusia saja, aku berani melakukan apa saja."
"Semua orang akan berubah pada waktunya, Gusti Patih. Sebagai seorang Maha Patih, tentunya kekejaman memang dibutuhkan. Apalagi, sekarang jumlah pasukan Prabu Jabang Wiyagra telah mencapai jutaan orang. Dan Gusti Patihlah yang memegang mereka semua. Kalau Gusti Patih tetap seperti dulu, mungkin orang-orang akan meragukan kepemimpinan Gusti Patih." Kata Bajur.
"Ya. Kamu benar Bajur. Biar bagaimanapun, Kakang Prabu memang menginginkan aku seperti ini. Kejam, dan tidak perasaan. Tapi, kekejaman yang aku lakukan sangatlah beralasan. Aku tidak akan bertindak kejam kepada sembarang orang. Kalau orang itu jahat, maka aku akan menunjukkan kekejamanku. Tapi kalau orang itu baik, maka aku pun bisa lebih baik dari dirinya."
"Ya. Itulah salah satu alasan kuat, mengapa Kakang Prabu Jabang Wiyagra ingin berkuasa atas Tanah Jawa. Karena dia tidak suka melihat orang miskin. Dia tidak suka melihat orang lain sengsara. Dia tidak suka melihat penindasan. Dia tidak suka melihat perbudakan. Walaupun kejam, dan aku pun tidak suka dengan cara yang ia lakukan, tapi dia memiliki tujuan yang sangat mulia. Melihat perilaku musuh-musuhnya yang sudah tidak berakal, bagaimana bisa Kakang Prabu menghadapi mereka dengan akal? Iyakan?"
"Benar Gusti Patih. Hamba yakin, Gusti Prabu Jabang Wiyagra pasti bisa berkuasa di Tanah Jawa sepenuhnya. Hamba beserta seluruh anak buah hamba, telah bersumpah untuk setia kepada Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Sekalipun nantinya hamba hanya menjadi seorang pelayan, hamba tetap akan merasa senang, karena bisa menghabiskan sisa umur hamba, untuk orang yang sangat mulia."
__ADS_1
"Kamu tidak hanya akan menjadi pelayan, Bajur."
Tiba-tiba Prabu Jabang Wiyagra mendatangi mereka.
"Gusti Prabu."
"Kamu tidak hanya akan menjadi seorang pelayan. Kamu akan jauh lebih pantas menjadi bagian dari pasukanku. Seperti apa yang orang tuamu impikan, selama masa hidup mereka."
Bajur pun terkejut dengan ucapan Prabu Jabang Wiyagra. Bajur belum pernah menceritakan kisah hidupnya di masa lalu, kepada Prabu Jabang Wiyagra. Namun Prabu Jabang Wiyagra sudah mengetahuinya terlebih dahulu.
"Hamba mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, Gusti Prabu. Hamba tidak meminta apapun. Hamba hanya ingin berubah menjadi orang yang lebih baik. Hamba ingin mengabdikan diri hamba kepada Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Hamba ingin menggunakan sisa umur hamba, untuk menjadi orang yang lebih baik lagi."
"Ya. Aku juga merasa senang dengan keberadaanmu di tempat ini. Aku tahu, kamu tidak pernah suka dengan apa yang kamu lakukan selama ini. Hanya saja keadaan yang memaksamu untuk melakukannya bukan? Aku paham Bajur. Mulai sekarang, kamu dan semua anak buahmu tidak akan berada di jalanan lagi, hanya untuk merampas hak orang lain. Sekarang kamu adalah bagian dari Pasukan Maha Wira."
__ADS_1
".....Selamanya kamu dan anak buahmu akan menjadi abdi setiaku. Aku percaya, kalau kalian tidak akan melakukan pengkhianatan. Aku harap, kamu tidak mengecewakanku."
Bajur dan anak buahnya merasa sangat senang, setelah mereka mendapatkan sebuah lencana, Pasukan Maha Wira. Sekarang, mereka semua telah resmi diangkat menjadi pengawal pribadi Prabu Jabang Wiyagra. Selamanya, Bajur dan anak buahnya akan mengabdikan diri mereka, kepada Prabu Jabang Wiyagra. Sesekali mereka juga akan diberikan waktu untuk bertemu dengan keluarga mereka masing-masing. Setelah itu, mereka akan kembali ke istana Kerajaan Wiyagra Malela, untuk menjalankan tugasnya.