
"Sebentar lagi semuanya akan kembali seperti semula. Istana Kerajaan Panca Warna yang telah hancur, akan dibangun kembali di tempat ini. Aku memutuskan, untuk tidak lagi menggunakan bangunan istana yang lama. Bangunan itu akan aku gunakan untuk mendirikan padepokan yang besar. Agar semakin mudah bagi kita untuk melatih para pasukan yang ada di Kerajaan Panca Warna." Ucap Ratu Mekar Senggani kepada para abdinya.
Di sana juga telah hadir Panglima Lara Kencana bersama dengan para pasukannya. Panglima Lara Kencana diutus langsung oleh Prabu Jabang Wiyagra untuk membantu Ratu Mekar Senggani dalam membangun kembali pemerintahannya. Panglima Lara Kencana akan sangat membantu pergerakan yang dilakukan oleh Ratu Mekar Senggani. Karena mereka berdua sama-sama seorang perempuan. Dengan begitu, mereka akan menjadi sekutu yang sangat kuat. Apalagi wilayah kekuasaan Panglima Lara Kencana cukup dekat dengan perbatasan Kerajaan Panca Warna. Tentunya akan lebih mudah bagi Panglima Lara Kencana untuk menjangkau wilayah kekuasaan Ratu Mekar Senggani dengan waktu yang singkat.
Karena kalau sampai terjadi sesuatu kepada Ratu Mekar Senggani, maka Panglima Lara Kencana dan pasukannya yang bertanggung jawab untuk membantu setiap masalah yang sedang dihadapi oleh Ratu Mekar Senggani. Ratu Mekar Senggani merasa sangat berterimakasih atas kehadiran Panglima Lara Kencana di istana barunya. Meskipun Panglima Lara Kencana adalah seorang perempuan, tapi bukan berarti dia orang yang bisa diremehkan. Karena kemampuannya mampu menandingi para Panglima yang lainnya. Ratu Mekar Senggani merasa sangat terbantu dengan kehadiran Panglima Lara Kencana. Kehadiran Panglima Lara Kencana di kerajaannya memberikan pengaruh besar.
Banyak musuh-musuh Ratu Mekar Senggani yang tidak berani memulai penyerangan, karena mereka takut tidak memiliki kesempatan kedua untuk hidup di dunia ini. Mereka tidak mau mati konyol di tangan seorang perempuan. Karena jika mereka sampai berhadapan dengan Panglima Lara Kencana, sudah bisa dipastikan kalau mereka semua akan mati pada saat itu juga. Panglima Lara Kencana memiliki watak yang hampir mirip dengan Panglima Dara Gending. Dia juga suka bertindak kejam kepada musuh-musuhnya. Dan tidak segan untuk menyiksa siapa saja, yang berani mencari masalah dengan dirinya. Karena saking ditakutinya Panglima Lara Kencana, sampai sekarang dia belum memiliki seorang suami.
Tidak ada satupun laki-laki yang berani menggodanya. Mereka semua ketakutan kalau sudah mendengar nama Panglima Lara Kencana. Panglima Lara Kencana memang memiliki fisik yang kuat. Tubuhnya tinggi dan berisi. Dia juga sangatlah di dalam menggunakan berbagai macam senjata. Terutama pedang. Dia bahkan bisa terbang, hanya dengan sebuah pedang yang ada di pinggang kirinya, ke berbagai tempat yang ia inginkan. Konon, Panglima Lara Kencana juga mampu merubah wujudnya menjadi seekor serigala betina. Yang memiliki bulu berwarna putih dan juga mata berwarna biru. Namun jika Panglima Lara Kencana telah merubah wujudnya seperti itu, maka sudah dipastikan dia sedang menghadapi bahaya yang besar. Atau bisa saja ada sesuatu yang sedang berusaha mengancam keselamatannya.
"Saya sangat mendukung apa yang dilakukan oleh Gusti Ratu Mekar Senggani. Saya akan membantu setiap masalah yang Gusti Ratu hadapi di tempat ini. Terutama dengan Intan Senggani dan Patri Asih yang masih berkeliaran di luar sana. Mereka berdua adalah ancaman besar untuk semua orang. Terutama Intan Senggani, yang sedang berusaha keras untuk bisa membunuh Gusti Ratu." Ucap Panglima Lara Kencana.
"Aku itu semua itu Panglima. Intan Senggani memang sangat sulit diatur. Dia sudah terbiasa di manja sejak dirinya masih kecil. Hasilnya? Sekarang dia harus berakhir menjadi musuh besarku. Meskipun dia adalah dikandungku, tetapi keadilan tetap harus ditegakkan. Anak kecil itu memang harus diberi pelajaran. Tapi Panglima tenang saja, karena aku sendirilah yang akan menghajarnya."
"Jujur saja, awalnya saya meragukan perubahan Gusti Ratu. Tetapi saya sudah mulai bisa memahaminya. Apalagi dengan sikap Gusti Ratu yang tidak pandang bulu. Sekarang saya sudah yakin sepenuhnya, kalau Gusti Ratu Mekar Senggani memang benar-benar berada di pihak kami."
__ADS_1
"Terima kasih Panglima. Aku dulu memang seorang penjahat. Tetapi sekarang, semuanya sudah berubah. Aku tidak akan selamanya seperti itu. Aku ingin menebus semua kesalahan-kesalahan yang sudah pernah aku lakukan, dengan cara mengabdikan diriku kepada Prabu Jabang Wiyagra. Aku sudah berjanji kepada beliau untuk berubah menjadi orang yang lebih baik lagi. Aku berhutang nyawa kepadanya. Kalau Prabu Jabang Wiyagra tidak datang menjengukku, mungkin aku tidak akan ada lagi di tempat ini."
Ratu Mekar Senggani masih ingat apa saja yang ia lakukan kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dan juga orang-orang yang pernah ia sakiti. Sekarang hanya tersisa rasa penyesalan. Ratu Mekar Senggani tidak akan bisa merubah masa lalu. Yang bisa ia lakukan hanyalah menata kembali masa depannya. Dan mengangkat kembali kejayaan pemerintahannya yang sudah dirusak. Ratu Mekar Senggani benar-benar sudah berubah total. Dia bahkan tidak mau dekat-dekat dengan laki-laki lagi. Tidak seperti sebelumnya, yang selalu menggila saat ada seorang laki-laki di sampingnya. Namun sekarang, Ratu Mekar Senggani sudah bisa menjaga kehormatannya dengan baik. Dan telah berhasil menunjukkan kepada semua orang, kalau dia pantas untuk berubah.
Hanya saja, dalam benaknya masih terbayang wajah orang yang sangat ia cintai. Yaitu Maha Patih Baruncing. Satu-satunya orang yang mencintai dirinya, dan rela melakukan apa saja untuknya. Tapi semuanya sudah terjadi. Ratu Mekar Senggani tidak mau terus-menerus berjalan di masa lalu. Dia ingin bertarung dengan masa depan yang sudah menantinya di depan mata. Biasanya, dalam suasana hati yang tidak karuan seperti ini, Maha Patih Baruncing pasti akan selalu ada di sampingnya. Memeluknya. Memberikan kehangatan. Dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada Ratu Mekar Senggani. Sekarang, Ratu Mekar Senggani harus berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Tanpa ada sosok laki-laki yang mencintai dirinya.
"Panglima?"
"Iya Gusti Ratu?"
"Apakah kamu percaya dengan reinkarnasi?"
"Ya."
Panglima Lara Kencana bingung, mengapa tiba-tiba Ratu Mekar Senggani ingin membicarakan hal itu.
__ADS_1
"Memangnya ada apa Gusti Ratu?" Tanya Panglima Lara Kencana.
"Apakah kamu percaya? Kalau ada kehidupan kedua di dunia ini? Apakah kamu percaya jika kita telah mati, kita bisa menitis kembali kepada raga yang berbeda? Apakah kamu mempercayainya? Panglima?"
Panglima Lara Kencana pun kebingungan harus menjawab apa. Antara percaya tidak percaya, Panglima Lara Kencana sendiri pun tidak yakin kalau reinkarnasi itu memang benar-benar nyata. Tapi di sisi lain, Panglima Lara Kencana sendiri katanya adalah reinkarnasi dari seorang pendekar perempuan di masa lalu. Hal itu pernah diungkapkan oleh salah satu gurunya, saat dia masih menjadi seorang pejuang, bersama dengan Prabu Jabang Wiyagra.
"Entahlah Gusti Ratu. Saya tidak tahu harus menjawab apa. Guru saya bilang, reinkarnasi itu memang benar-benar ada. Dan sudah banyak sekali orang zaman dulu yang mengalaminya. Tapi saya sendiri masih belum yakin." Jawab Panglima Lara Kencana.
"Andaikan benar-benar ada, kamu ingin menjadi apa di kehidupan selanjutnya?"
Pertanyaan itu membuat Panglima Lara Kencama menjadi semakin bingung. Namun berusaha menjawab sepengetahuannya saja.
"Kalau memang reinkarnasi itu ada, saya ingin menjadi orang biasa saja, Gusti Ratu. Rasanya, hidup akan terasa lebih tentram dan damai daripada menjadi seorang Panglima. Kalau Gusti Ratu sendiri?"
Ratu Mekar Senggani terdiam sejenak, kemudian disusul dengan senyumnya yang manis.
__ADS_1
"Sama seperti dirimu. Aku ingin menjadi orang biasa. Memiliki suami dan anak yang aku cintai, dan juga mencintaiku. Aku berharap bisa menemukannya kembali di kehidupan selanjutnya." Ucap Ratu Mekar Senggani sembari membayangkan wajah Maha Patih Baruncing.
Yang artinya, Ratu Mekar Senggani masih mengharapkan kehadiran sosok Maha Patih Baruncing dalam kehidupannya. Walaupun hubungan mereka terdengar sangat tidak mengenakkan, tapi cinta mereka berdua benar-benar tulus. Maha Patih Baruncing mencintai Ratu Mekar Senggani dengan sepenuh hati. Dan begitu pula sebaliknya. Namun semuanya berubah semenjak kepergian Maha Patih Baruncing. Karena dia harus menerima hukuman pancung dari Prabu Jabang Wiyagra. Akibat dari semua kejahatan yang telah ia lakukan selama ini. Ratu Mekar Senggani berusaha merelakannya meskipun sulit. Karena tindakan Prabu Jabang Wiyagra tidak bisa disalahkan. Dan tindakan Maha Patih Baruncing juga tidak bisa dibenarkan.