
Setelah menceritakan semuanya kepada Panglima Lara Kencana, Ratu Mekar Senggani lalu keluar kembali menuju halaman rumahnya. Di sana para pasukan pemberontak sedang diinterogasi oleh para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka dipukul dan ditendang, agar mengakui semuanya. Kecuali orang yang tadi memberikan informasi kepada Panglima Lara Kencana. Meskipun orang itu tidak dipukuli dan ditendang seperti teman-temannya, tapi dia diharuskan menonton teman-teman yang sedang menderita. Orang itu hanya bisa menangis saat melihat nasib buruk yang menimpa teman-temannya tersebut.
Ratu Mekar Senggani lalu memerintahkan para pasukannya untuk menggali lubang yang besar. Para pemberontak ini akan dikubur dalam tanah, sampai batas leher mereka. Hal itu dilakukan sebagai ancaman kepada Patih Lanja Arang. Kalau Ratu Mekar Senggani tidak akan segan-segan untuk menyiksa siapa saja yang berani melakukan penyerangan di wilayah kekuasaannya. Sedangkan orang yang tadi memberikan informasi, akan dilepaskan bersama salah satu temannya. Dan mereka berdua diharuskan melaporkan secara semua hal yang terjadi, kepada Patih Lanja Arang.
Panglima Lara Kencana setuju dengan rencana Ratu Mekar Senggani. Dia justru merasa sangat senang kalau melihat penderitaan musuh-musuhnya. Bahkan untuk menambah penderitaan para pemberontak ini, Panglima Lara Kencana sudah menyiapkan rencana yang bagus untuk mereka. Sedangkan para pasukan Ratu Mekar Senggani langsung membuat lubang galian pada saat itu juga. Singkatnya, satu persatu para pemberontak itu dimasukkan ke dalam lubang galian. Sebatas leher mereka. Kalau mereka sesuatu, kepala mereka akan langsung ditusuk dengan pedang, oleh para pasukan Ratu Mekar Senggani yang berjaga.
"Hey! Baji-ngan kalian semua! Baji-ngan!" Teriak salah satu dari mereka, saat tanah-tanah galian itu mulai mengubur sebagian tubuh para pemberontak itu.
Karena kesal, Panglima Lara Kencana langsung memukul kepala orang itu dengan sebuah kayu. Sampai kepalanya berdarah.
"Katakan itu lagi! Dan kalian semua akan mati!" Bentak Panglima Lara Kencana.
"Bunuh! Bunuh kami saja! Kami tidak mau hidup di bawah kepemimpinan di ja-lang itu!"
Panglima Lara Kencana menjadi semakin kesal mendengar ucapan orang tersebut. Apa yang keluar dari mulutnya itu sudah sangat menghina Ratu Mekar Senggani. Kalimat "Ja-lang", adalah sebutan untuk perempuan nakal. Tidak sepantasnya panggilan itu diberikan kepada seorang ratu. Apalagi sekarang Ratu Mekar Senggani telah meninggalkan tabiat buruknya. Sekarang dia sudah berubah menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Bahkan saat dia mendapatkan kata-kata kasar itu, Ratu Mekar Senggani sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. Dia hanya diam di tempatnya. Padahal Ratu Mekar Senggani bisa melihat dengan jelas wajah orang yang menghinanya.
__ADS_1
Panglima Lara Kencana lalu memerintahkan pengawalnya untuk menarik orang itu dari dalam tanah. Panglima Lara Kencana ingin memukuli orang itu sepuasnya, dengan kedua tangannya sendiri. Meskipun Panglima Lara Kencana baru Ratu Mekar Senggani, tetapi dia begitu peduli, dan memahami dengan baik bagaimana perasaan Ratu Mekar Senggani saat dia mendapatkan penghinaan itu. Hanya saja Ratu Mekar Senggani berusaha untuk tetap tegar dan bersabar. Karena dia memang pernah menjadi perempuan murahan. Dia sudah hanyak melakukan hal-hal menjijikkan. Ratu Mekar Senggani pun tidak menutupinya. Karena itu memang sebuah kenyataan.
Panglima Lara Kencana lalu menarik rambut orang itu dengan tangan kirinya. Lalu dengan cepat, satu lesatan tangan ke arah perut orang itu langsung membuatnya jatuh dan muntah darah. Orang itu hanya bisa menahan rasa sakit, tanpa bisa melakukan apa-apa. Saat Panglima Lara Kencana memegang kepalanya tadi, rasanya seluruh tenaga yang ada di dalam tubuhnya terhisap seketika. Dan membuatnya lemas tak berdaya. Nasibnya tidak jauh berbeda dengan teman-temannya yang lain. Bahkan lebih parah lagi. Karena Panglima Lara Kencana tidak berhenti menghajarnya. Sekalipun orang itu sudah tergeletak di tanah, Panglima Lara Kencana masih tidak berhenti menghakiminya.
"Cukup Panglima!" Ucap Ratu Mekar Senggani.
Panglima Lara Kencana langsung menghentikan pukulan dan tendangannya.
"Kenapa Gusti Ratu?"
"Tapi dia sudah meremehkan Gusti Ratu."
"Tapi bukan begitu caranya menghukum seseorang. Biarkan orang itu melawan salah satu pasukan kita. Kalau dia menang, maka dia masih memiliki banyak waktu untuk hidup. Jika dia mati, maka dia harus mati di tangan salah satu pasukan kita." Kata Ratu Mekar Senggani.
"Baik Gusti Ratu."
__ADS_1
Panglima Lara Kencana menunjuk salah satu pengawalnya, untuk bertarung melawan orang itu. Si laki-laki yang sudah lemah itu hanya bisa pasrah dengan apa yang akan ia hadapi. Lawan yang akan ia hadapi memiliki perawakan tubuh yang besar dan kekar. Sudah bisa dipastikan kalau si prajurit itu adalah orang yang kuat. Dan dilihat dari gelang yang ia pakai di tangan kanan dan kirinya, jelas si prajurit itu adalah orang yang memiliki pangkat tinggi, di barisan pasukan Panglima Lara Kencana. Tentu si prajurit itu tidak akan kesulitan melawan anggota pemberontak yang sudah lemah tak berdaya. Sedangkan si laki-laki anggota kelompok pemberontak tersebut, masih terkapar lemah. Sembari terus menyentuh perut dan wajanya.
Panglima Lara Kencana benar-benar memberikan pukulan dan tendangan keras kepada orang tersebut. Dan sekarang, semuanya pun dimulai. Si laki-laki melawan si prajurit. Si prajurit membiarkan si laki-laki itu menyerang terlebih dahulu. Memberikan si laki-laki kesempatan untuk menghajarnya. Namun pada situasi ini, si laki-laki justru memilih untuk mengalah dan menyerah begitu saja. Dikarenakan dia sudah tidak sanggup lagi menggerakkan tubuhnya.
"Ampun. Aku mengalah. Aku kalah. Aku tidak akan sanggup melawanmu. Tolong, biarkanlah aku pergi. Keluargaku sedang menungguku di rumah." Ucap si laki-laki itu dengan nada suara yang lirih.
Si prajurit sebenarnya merasa iba kepada si laki-laki itu. Tetapi sebuah hal mengejutkan kembali terjadi. Tanpa basa-basi lagi, Panglima Lara Kencana langsung menyayat dada laki-laki itu, dengan pisau kecil miliknya.
"Akkgghh!" Si laki-laki itu berteriak menahan rasa sakit yang ada di dadanya.
Luka sayatan itu mengucurkan banyak sekali darah. Si prajurit yang sebelumnya merasa iba, tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya memperhatikan si laki-laki yang sedang kesakitan. Dalam hatinya ingin sekali dia menolong laki-laki itu. Karena laki-laki tersebut sudah sangat menderita. Namun di sisi lain dia juga tidak mungkin berani menghalangi Panglima Lara Kencana. Karena Panglima Lara Kencana adalah pimpinannya sendiri. Bisa-bisa dia juga mendapatkan pukulan dan tendangan dari Panglima Lara Kencana. Meskipun seorang perempuan, tetapi kekejaman Panglima Lara Kencana jauh melebihi kekejaman seorang laki-laki.
Memang apa yang dilakukan oleh Panglima Lara Kencana tidak bisa disalahkan. Karena Panglima Lara Kencana melakukan hal itu atas dasar tidak terima, dengan ucapan yang dilontarkan oleh si laki-laki tersebut. Ucapan itu sangat-sangat menghina dan menyakiti hati Ratu Mekar Senggani dan Panglima Lara Kencana. Karena dia sama-sama seorang perempuan. Rasanya sangat menyakitkan kalau mendengar ada seorang perempuan yang mendapat panggilan "Ja-lang". Apalagi yang mendapatkan panggilan itu adalah seorang perempuan yang terhormat. Dan sudah menghidupi banyak orang di sini.
Walaupun Ratu Mekar Senggani pernah melakukan kesalahan yang sangat besar, tetapi bukan berarti dirinya pantas untuk dihina dan direndahkan. Sekarang dia sudah berubah menjadi orang baik. Dia banyak melakukan hal-hal baik di tempat ini. Yang bisa saja hal itu menebus semua dosa-dosanya di masa lalu. Bahkan Prabu Jabang Wiyagra, yang merupakan musuh besarnya sekalipun, sekarang justru berbalik menjadi sahabatnya. Beliau bahkan tidak pernah sekalipun hitung-hitungan dalam membantu Ratu Mekar Senggani. Dan tidak semua orang bisa melakukan hal itu. Yaitu memaafkan kesalahan seseorang, dan menjadikannya sebagai seorang sahabat.
__ADS_1