
Pasukan Patih Kinjiri dibawah komando Utari Gita, diperintahkan untuk melakukan serangan kecil-kecilan ke daerah kekuasaan Maha Patih Jogo Rogo. Utari Gita dengan pasukannya yang berjumlah lima puluh orang mencoba menyisir semua tempat di area tersebut.
Mereka berjalan dengan sangat pelan dan sangat hati-hati. Utari Gita dan pasukannya juga memakai pakaian serba hitam agar wajah mereka tidak diketahui. Apalagi pada saat malam hari, keberadaan mereka akan sulit terlihat di daerah rimbun pohon itu.
Utari Gita mulai melihat ada sebuah pergerakan dari atas. Mereka semua langsung tengkurap di tanah. Dan memasang telinga mereka baik-baik, untuk mendengarkan setiap langkah yang sedang menuju ke arah mereka semua.
Perlahan suara-suara orang yang sedang berbincang mulai terdengar. Ada sekitar tiga orang yang ternyata sedang berkeliling untuk melakukan pengawasan di area tersebut. Dan mereka semua sepertinya adalah para warga desa yang sudah dipengaruhi oleh Maha Patih Jogo Rogo.
Terdengar kalau mereka sepertinya sedang merencanakan sesuatu.
"Kita buat di tempat ini saja. Sepertinya ini tempat yang cocok untuk menaruh bambu-bambu ini." Ucap salah satu dari mereka.
"Ya. Ayo kita gali lubangnya sekarang." Jawab salah satu temannya.
Utari Gita dan pasukannya memperhatikan mereka semua dengan seksama. Terlihat kalau mereka sudah mulai menggali tanah. Bambu-bambu yang mereka bawa sudah mulai mereka tancapkan di lubang tersebut.
Satu orang masuk ke dalam lubang, sedangkan yang dua lagi mengawasi dari luar.
Utari Gita kemudian memberikan isyarat kepada pasukannya untuk membunuh dua orang yang ada di atas, dan juga satu orang yang ada di dalam lubang. Itu orang yang ada di atas, dibekap mulutnya dan langsung ditikam di perut mereka. Sedangkan yang satunya lagi, yang berada di dalam lubang, kepalanya langsung ditusuk dengan pedang.
Utari Gita lalu pergi dari tempat itu bersama dengan pasukannya, melanjutkan pergerakan mereka. Sedikit demi sedikit Utari Gita dan pasukannya mulai sampai di wilayah perbukitan, yang menjadi markas dari Maha Patih Jogo Rogo dan pasukannya.
Dari kejauhan terdengar seperti ada suara riuh orang banyak.
__ADS_1
"Nyi, itu mereka di atas sana." Ucap salah seorang prajurit dengan suara lirih.
"Tenang dulu, tugas kita hanya untuk mengawasi, bukan untuk menyergap mereka. Hitung saja semua jumlah mereka dengan benar, dan pastikan siapa saja orang-orang penting yang ada di sana." Perintah Utari Gita.
"Baik Nyi."
Dari yang mereka perkirakan, jumlah keseluruhan pasukan yang dimiliki oleh Maha Patih Jogo Rogo ada sekitar lima ribu orang atau lebih. Disana juga terdapat Ditya Kalana dan juga para pengikutnya. Ditya Kalana dan Maha Patih Jogo Rogo menggabungkan pasukan mereka menjadi satu.
Mereka juga terlihat seperti sedang mempersiapkan sesuatu yang penting. Ada banyak dari mereka yang sedang berlatih, ada yang mengasah pedang mereka, dan ada juga yang sedang dilatih ilmu kanuragan oleh Ditya Kalana. Nampaknya kekuatan mereka benar-benar besar.
Maha Patih Jogo Rogo ingin semua pasukan memiliki setidaknya satu ilmu, seperti ilmu pukulan tingkat ringan, untuk menyerang musuh mereka. Dengan begitu kekuatan pasukan mereka yang tergolong masih sedikit, tetap bisa bersaing dengan kekuatan musuh mereka, yaitu pasukan Kerajaan Wiyagra Malela.
Setelah mendapatkan gambaran yang cukup jelas tentang tempat itu, Utari Gita dan pasukannya langsung mundur dari wilayah bukit tersebut. Saat turun, mereka bergerak dengan sangat cepat dan sangat lincah. Dan ternyata hal tersebut disadari oleh para pasukan Maha Patih Jogo Rogo yang sedang berjaga.
Utari Gita dan pasukannya dihujani oleh ribuan panah dan juga beberapa tombak yang ukurannya cukup besar, dan bisa langsung mati jika terkena tombak tersebut.
"Ayo cepat! Waktu kita tidak banyak!" Perintah Utari Gita kepada seluruh pasukannya yang masih hidup.
Untung saja waktu itu Utari Gita dan pasukannya sempat membawa kuda masing-masing. Sehingga saat mereka sudah sampai di tempat persembunyian kuda mereka, mereka semua langsung bisa kabur dengan cepat. Mereka terpaksa harus meninggalkan para pasukan yang sudah mati.
Posisi Utari Gita sangat dekat dengan benteng pertahanan, dia sudah bisa melihat benteng pertahanan dari jauh dengan sangat jelas. Namun dari arah belakang, ternyata masih ada musuh yang mengikuti mereka. Utari Gita terus menerus dipanah tanpa henti oleh pasukan Maha Patih Jogo Rogo.
Untung saja, Bamantara dan pasukannya langsung keluar dan membentuk barisan pertahanan untuk melindungi Utari Gita dan pasukannya yang sedang berusaha menyelamatkan diri.
__ADS_1
"Cepat masuk ke benteng Gita!" Teriak Bamantara.
Patih Kinjiri langsung memerintahkan para pasukannya untuk menggunakan senjata mereka. Semua Meriam yang ada di sana, digunakan untuk menyerang para pasukan Maha Patih Jogo Rogo yang keberadaannya tidak jauh dari benteng tersebut.
Suara dentuman dan ledakan dari senjata meriam, terdengar sampai ke bukit persembunyian Maha Patih Jogo Rogo. Maha Patih Jogo Rogo sangat terkejut karena dia tidak menyangka kalau pasukan yang yakin untuk menyerang Utari Gita ternyata sampai di wilayah benteng pertahanan.
Padahal Maha Patih Jogo Rogo hanya memerintahkan mereka untuk mengusir Utari Gita dan pasukannya, bukan mengejar mereka sampai ke Benteng. Dua ratus orang pemanah terbaik itu pun lari tunggang langgang, karena mereka terus digempur dengan senjata meriam.
Ditambah juga dengan lesatan anak panah dari pasukan Bamantara, yang membuat barisan mereka semakin tidak karuan. Banyak sekali dari mereka yang mati, dan tinggal menyisakan beberapa puluh orang saja. Mereka jelas tidak mungkin menghadapi senjata meriam yang menggempur mereka secara terus-menerus.
Walaupun tugas Utari Gita dan pasukannya bisa dinyatakan gagal, tetapi setidaknya Patih Kinjiri tetap mendapatkan keuntungan. Karena sekarang, jumlah pasukan Maha Patih Jogo Rogo telah berkurang cukup banyak. Sudah pasti Maha Patih Jogo Rogo akan naik pitam. Dia pasti akan berusaha untuk melakukan serangan balasan dengan cara apapun.
Di saat itulah, Patih Kinjiri dan pasukannya akan menggempur Maha Patih Jogo Rogo secara habis-habisan. Kalaupun tidak hanya akan ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan oleh Maha Patih Jogo Rogo. Yang pertama adalah, menyerang benteng pertahanan secara diam-diam. Dan yang kedua, pergi dari tempat persembunyiannya secepat mungkin.
......................
Prabu Jabang Wiyagra merasa cukup bangga, setelah mendengar kalau sebagian kecil pasukan dari Maha Patih Jogo Rogo ada yang berhasil dibunuh. Walaupun puluhan pasukan dari Patih Kinjiri ada yang mati, tapi itu tetaplah menjadi sebuah hal yang membanggakan. Karena pengorbanan pasukan Patih Kinjiri tidaklah sia-sia.
Prabu Jabang Wiyagra juga sudah diberitahu secara pasti seberapa kuat pertahanan dan kekuatan lawan. Sehingga Prabu Jabang Wiyagra bisa memperkirakan Berapa jumlah pasukan yang akan dia kirimkan untuk melakukan serangan kepada Maha Patih Jogo Rogo. Karena, Prabu Jabang Wiyagra ingin Patih Kinjiri dan pasukannya tetap berjaga di benteng pertahanan.
Sedangkan yang melakukan serangan adalah Prabu Sura Kalana dan juga pasukannya, yang akan dibantu oleh Mangku Cendrasih, Pangeran Rawaja Pati, dan juga Maha Patih Putra Candrasa. Tujuan Prabu Jabang Wiyagra adalah, agar Ditya Kalana tidak dibunuh saat serangan sedang berlangsung.
Prabu Jabang Wiyagra yakin, kalau masih ada kebaikan dalam diri Ditya Kalana. Dan akan sangat pas jika Ditya Kalana pertemukan dengan kakaknya, Prabu Sura Kalana. Karena perilaku Ditya Kalana tidaklah sepenuhnya salahnya sendiri. Semua itu akibat dari pengaruh Gabah Lanang.
__ADS_1