
Sontak Ditya Kalana tersadar dari lamunannya. Ketika ada seorang perempuan cantik tiba-tiba menepuk pundaknya.
"Bagaimana nak? Indah bukan?" Tanya perempuan itu.
"Siapa kau?" Tanya balik Ditya Kalana.
"Tenang anak muda. Aku masih satu rumpun denganmu. Jangan khawatir, aku tidak akan menyakitimu. Ayo masuk ke dalam." Ajak perempuan itu.
Ditya Kalana hanya terpatung di tempatnya. Dia masih bertanya-tanya, siapa perempuan ini. Tapi perlahan dia pun mengikuti perempuan itu yang masuk ke dalam rumahnya. Dan disana sudah ada seorang laki-laki tua buta, yang sedang duduk bersila.
Rumah itu memiliki lantai yang terbuat dari kayu. Tempatnya cukup luas untuk tiga orang. Laki-laki tua itu secara tiba-tiba melemparkan tongkat yang ada ditangan kepada Ditya Kalana. Dengan sigap, Ditya Kalana pun langsung menangkap tongkat laki-laki tua itu.
Laki-laki itu tertawa, dan dengan mengacungkan jarinya, secara tiba-tiba pintu rumah itu tertutup dan terkunci dengan sendirinya. Ditya Kalana pun kaget, karena secara tiba-tiba laki-laki tua itu juga langsung menyerangnya.
Ditya Kalana langsung menggunakan tongkat kayu ditangannya untuk menangkis setiap serangan yang diberikan oleh si laki-laki tua itu. Dia menghindar kesana kemari di ruangan yang cukup luas itu.
Laki-laki tua itu semakin gencar memberikan serangan kepada Ditya Kalana, tapi dia hanya menangkis dan menghindari serangan laki-laki tua itu. Dia sama sekali tidak melawan, karena dia sudah curiga, kalau orang yang menyerangnya ini adalah Ki Dampar.
Dan seorang perempuan yang sedang duduk menikmati pertarungan itu adalah Dwi Sangkar. Si perempuan hanya diam dan menatap Ditya Kalana sembari tersenyum. Dia memperhatikan dengan baik jurus-jurus yang digunakan oleh Ditya Kalana.
"Cukup kakang!" Ucap perempuan itu.
Si laki-laki tua pun langsung menghentikan serangannya. Dia kembali duduk bersila di lantai rumah itu. Sedangkan si perempuan mendekati Ditya Kalana sembari tersenyum kepadanya.
"Pemuda yang gagah dan perkasa. Aku yakin, kamu murid yang bisa diandalkan oleh guru kami, Ki Benang Sengget." Ucap si perempuan.
__ADS_1
"Nyi Dwi Sangkar?" Tanya Ditya Kalana sembari menunjuk perempuan itu.
"Ya. Aku Dwi Sangkar. Apa tujuanmu datang kemari? Sangat tidak mungkin kalau kamu datang ke tempat ini hanya sekedar berkunjung. Pasti ada tugas dari guru kami bukan?" Tanya Dwi Sangkar.
"Ya. Guruku meminta Nyi Dwi Sangkar dan Ki Dampar untuk berkumpul. Guru juga memintaku untuk menemui yang lainnya."
"Ada tujuan apa?" Tanya Ki Dampar.
"Biarkan guruku nanti yang menjelaskannya."
"Kenapa?"
"Karena murid yang setia pasti akan datang kepadanya." Jawah Ditya Kalana.
Ki Dampar dan Nyi Dwi Sangkar saling menatap satu sama lain. Ki Dampar mengangguk kepada Nyi Dwi Sangkar. Tanda kalau dia setuju untuk ikut dengan Ditya Kalana untuk bertemu dengan Ki Benang Sengget.
"Namaku Ditya Kalana."
"Hmmm... Aku sudah paham sekarang. Tapi beristirahatlah terlebih dahulu di tempat ini. Besok kita akan mengunjungi saudara-saudara seperguruan yang lain." Ucap Ki Dampar.
"Baik Ki Dampar."
Ditya Kalana pun setuju untuk beristirahat disana terlebih dahulu. Dia juga lelah karena sudah melewati perjalanan yang sangat panjang. Apalagi dia masih harus bertemu dengan tiga orang lagi, yang tempatnya berbeda-beda, dan berjauh-jauhan.
Mereka bertiga saling berbagi pengalaman satu sama lain. Terutama Ki Dampar, dia menceritakan semua pengalaman pahitnya di masa lalu. Ternyata, dia buta karena bertarung dengan Prabu Jabang Wiyagra. Dulu orang mengenalnya sebagai 'Si Mata Iblis'.
__ADS_1
Ki Dampar bisa menyerang musuh hanya dengan tatapan mata. Bahkan, Prabu Jabang Wiyagra juga hampir saja kalah pada waktu itu. Ki Dampar memberikan serangan sengit kepada Prabu Jabang Wiyagra. Karena saat itu, Ki Dampar adalah seorang Patih di salah satu kerajaan besar.
Dia adalah orang terkuat diantara para abdi yang lain. Sehingga dia menjadi lawan yang pantas untuk Prabu Jabang Wiyagra. Mereka sama-sama sakti. Bahkan pertarungan mereka bisa dibilang imbang pada waktu itu. Tapi Prabu Jabang Wiyagra berhasil mengetahui kelemahan Ki Dampar.
Ki Dampar berhasil diserang dikedua bola matanya. Sehingga dia menjadi buta. Sudah buta pun, Ki Dampar masih bisa bertarung dengan baik. Dia masih menyerang Prabu Jabang Wiyagra dengan sangat sengit. Tapi karena rasa sakit dikedua matanya, dia perlahan mulai melemah.
Sekarang Ki Dampar sudah tidak lagi memiliki ilmu Mata Iblis, karena kedua matanya telah diambil oleh Prabu Jabang Wiyagra. Konon, mata itu disimpan oleh Prabu Jabang Wiyagra di kawah Gunung Khayangan. Agar Ki Dampar tidak bisa mengambil kedua bola matanya lagi.
Walau pun sudah dimasukkan ke dalam kawah Gunung Khayangan, tetap saja kedua bola mata Ki Dampar tidak bisa hancur. Karena kedua bola mata itu memiliki kekuatan iblis yang sangat jahat. Sehingga butuh waktu ratusan tahun untuk membuat kedua bola mata Ki Dampar benar-benar hancur.
Lain halnya dengan Nyi Dwi Sangkar. Dia adalah dulunya hanya seorang perempuan malam. Dia pernah disewa oleh salah satu raja untuk menggoda Prabu Jabang Wiyagra. Kalau waktu itu Nyi Dwi Sangkar berhasil menggoda Prabu Jabang Wiyagra, dia akan mendapatkan hadiah besar, dan tidak perlu lagi menjadi perempuan malam.
Karena pada waktu itu keluarganya hidup dalam kesengsaraan, sehingga Nyi Dwi Sangkar terpaksa memilih pekerjaan kotor itu demi bisa menghidupi keluarganya. Namun Prabu Jabang Wiyagra sama sekali tidak tergoda dengan Nyi Dwi Sangkar. Bahkan Prabu Jabang Wiyagra mengusir Nyi Dwi Sangkar dari rumahnya.
Meski pun sudah diusir berkali-kali, Nyi Dwi Sangkar masih saja berusaha untuk menggoda Prabu Jabang Wiyagra. Sehingga lama kelamaan, dia menjadi jatuh cinta kepada Prabu Jabang Wiyagra. Nyi Dwi Sangkar kemudian mengungkapkan perasaannya itu kepada Prabu Jabang Wiyagra.
Tapi dia ditolak mentah-mentah, karena Prabu Jabang Wiyagra yang kala itu masih menjadi seorang pendekar, tidak mau tujuan-tujuan mulianya terganggu hanya karena seorang perempuan. Namun pada akhirnya, Prabu Jabang Wiyagra menikah dengan Ratu Ayu Anindya dan mendirikan Kerajaan Wiyagra Malela.
Nyi Dwi Sangkar yang sudah bertahun-tahun bersabar dalam penantiannya itu pun harus kecewa karena harapannya sendiri. Cintanya kemudian berubah menjadi dendam dan kebencian. Dia kemudian mulai mempelajari ilmu kanuragan. Setelah dia berhasil, dia kemudian membentuk sebuah pasukan dan menyerang Kerajaan Wiyagra Malela yang kala itu belum lama berdiri.
Dalam penyerangan itu, banyak sekali pasukan Nyi Dwi Sangkar dan juga prajurit Kerajaan Wiyagra Malela yang tewas. Pada saat itu pasukan Kerajaan Wiyagra Malela belum sekuat sekarang. Akibat dari penyerangan itu Nyi Dwi Sangkar mengalami luka parah karena berhadapan dengan Maha Patih Putra Candrasa.
Prabu Jabang Wiyagra tidak mau menghadapi Nyi Dwi Sangkar. Karena dia merasa tidak tega, dan Prabu Jabang Wiyagra juga berharap kalau Nyi Dwi Sangkar bisa menyadari kesalahannya selama ini. Dan berubah menjadi lebih baik lagi. Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah sekali pun memberikan harapan atau janji kepada Nyi Dwi Sangkar.
Nyi Dwi Sangkar sendirilah yang justru berharap lebih kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dia dikecewakan oleh harapan-harapannya sendiri. Sehingga ketika harapan-harapan itu tidak dapat ia capai, ia merasa kecewa berat dan menjadi seorang pendendam. Berkat perintah dari Prabu Jabang Wiyagra, akhirnya Maha Patih Putra Candrasa pun membiarkan Nyi Dwi Sangkar pergi begitu saja.
__ADS_1
Namun Prabu Jabang Wiyagra sama sekali tidak menyangka, kalau Nyi Dwi Sangkar justru menjadi penganut ilmu hitam dan suka berbuat kerusuhan. Sehingga untuk kedua kalinya, Maha Patih Putra Candrasa mendapatkan perintah langsung dari Prabu Jabang Wiyagra untuk menghadapi Nyi Dwi Sangkar.
Hanya saja Nyi Dwi Sangkar kala itu berhasil diselamatkan oleh Ki Dampar. Sampai pada akhirnya, Nyi Dwi Sangkar dinikahkan dengan Ki Dampar oleh guru mereka, yaitu Ki Benang Sengget. Namun dendam Nyi Dwi Sangkar tidak akan pernah berakhir, sebelum dia bisa menuntaskannya.