DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 222


__ADS_3

Para Pasukan Bara Jaya yang dipimpin langsung oleh Panglima Galang Tantra, sudah masuk ke kapal mereka masing-masing. Begitu juga dengan Maha Patih Kumbandha dan pasukannya. Dua orang ini benar-benar ingin melakukan penyerangan secara besar-besaran, untuk membalas kematian orang-orang yang sebelumnya gugur pada saat penyerangan yang dilakukan oleh Prabu Galang Tantra, dan Maha Patih Salara.


"Habisi saja semuanya! Jangan pandang bulu! Kita balas kematian saudara-saudara kita!" Ucap Panglima Galang Tantra kepada seluruh pasukan yang ada.


Para pasukan pun bersorak ramai dan gembira. Mereka sangat bersemangat ingin membalaskan kematian saudara-saudara mereka yang telah gugur. Para pasukan ini bergerak atas perintah langsung dari Prabu Jabang Wiyagra. Maha Patih Lare Damar dan yang lainnya juga sudah diberitahu mengenai penyerangan tersebut. Mereka semua sudah bersiap pada posisi mereka masing-masing.


Bahkan Pangeran Rawaja Pati juga sudah mengirimkan pasukannya lewat jalur darat. Namun untuk kali ini dia tidak bisa turun tangan sendiri, karena harus menjaga kerajaannya agar tetap aman. Begitu juga dengan Prabu Sura Kalana yang sudah pasang pasukan pertahanan di kerajaannya. Karena pagi hari ini akan menjadi pagi hari yang sangat mengerikan bagi semua orang.


Semua kerajaan yang membantu Prabu Barajang pasti akan bergerak untuk menjaga wilayah kekuasaan Kerajaan Bala Bathara. Dan kemungkinan besar mereka juga akan melakukan penyerangan secara besar-besaran ke semua kerajaan yang mendukung Prabu Jabang Wiyagra. Atas perintah langsung dari Prabu Jabang Wiyagra, semua kerajaan diwajibkan untuk membentuk pasukan pertahanan di wilayah kerajaan mereka masing-masing.


Karena setelah penyerangan yang dilakukan oleh Maha Patih Kumbandha dan Panglima Galang Tantra pagi hari ini, keadaan di seluruh lapisan Tanah Jawa akan menjadi medan peperangan bagi semua orang. Sekarang hanya dua kubu besar yang tersisa, yaitu pembela Kerajaan Wiyagra Malela, dan pembela Kerajaan Bala Bathara. Karena sisanya sudah tidak lagi memiliki pengaruh dan kekuatan untuk ikut campur dalam peperangan kali ini.

__ADS_1


Prabu Gala Ganda juga sudah kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaannya. Apalagi dengan perginya Maha Patih Rangkat Sena dan para pasukannya yang setia, membuat pertahanan di seluruh wilayah Kerajaan Putra Bathara menjadi sangat lemah. Kerajaan Putra Bathara sekarang tidak lagi memiliki banyak pasukan, hanya beberapa puluh saja yang tersisa dari pasukan Prabu Gala Ganda.


Semua itu terjadi akibat dari penyerangan yang dilakukan oleh Prabu Barajang dan para pendukungnya. Semua hal yang dimiliki oleh Prabu Gala Ganda sudah direbut dan dirampas secara paksa. Tidak ada lagi yang tersisa dari Kerajaan Putra Bathara, selain satu-satunya istana yang sekarang menjadi tempat tinggal Prabu Gala Ganda dan para pasukan yang masih setia kepadanya.


Namun dengan semua yang terjadi, para pasukan, pelayan, dan pejabat istana juga sudah banyak yang mulai mengundurkan diri. Karena sekarang penghasilan yang didapatkan istana hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Sedangkan para pelayan dan pejabat sangat membutuhkan biaya hidup untuk anggota keluarga mereka, yang sama-sama sedang dalam kesulitan.


Prabu Gala Ganda tidak bisa melakukan apa-apa, selain pasrah dengan keadaannya sekarang. Dia tidak bisa melakukan banyak hal. Semua ancaman yang ia berikan kepada para bawahannya justru membuat mereka semakin tidak betah dan ingin pergi untuk selama-lamanya dari kerajaan ini. Mereka sudah tidak tahan dengan kelakuan Prabu Gala Ganda yang semakin hari semakin menggila karena kehilangan kuasanya.


Apapun yang dia lakukan selalu saja salah perhitungan. Dikarenakan dia sudah tidak memiliki banyak kekuatan untuk menjalankan pemerintahannya. Pada dasarnya, Kerajaan Putra Bathara sudahlah hancur semenjak Maha Patih Rangkat Sena pergi meninggalkan Prabu Gala Ganda. Karena Maha Patih Rangkat Sena adalah simbol kegagahan Kerajaan Putra Bathara.


Dengan hilangnya simbol besar tersebut, maka tidak akan ada lagi orang yang mau membantu Prabu Gala Ganda untuk mempertahankan pemerintahannya. Banyak sekali rakyat yang sudah menjadi korban dari perang saudara ini. Mereka hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan. Dalam waktu beberapa bulan belakangan, sudah banyak yang mati karena kelaparan.

__ADS_1


Bagaimana mereka bisa makan? Kalau setiap hari makanan yang mereka miliki selalu saja dirampas oleh para prajurit Kerajaan Putra Bathara yang sekarang sudah berpihak kepada Prabu Barajang. Para prajurit ini juga sama-sama sedang merasakan bagaimana sakitnya menahan rasa lapar yang luar biasa. Mereka tidak peduli dengan orang-orang yang mereka rampas makanannya.


Sekalipun para korban perampasan itu adalah teman sendiri, mereka tetaplah tidak peduli. Yang penting mereka dan keluarga mereka bisa makan semuanya. Wabah kelaparan yang terus menjangkit di hampir seluruh wilayah Kerajaan Putra Bathara membuat banyak orang kehilangan akal sehat mereka. Kabarnya, sampai ada sekelompok orang yang dengan terpaksa melakukan kanibalisme.


Mereka memakan daging dari orang-orang yang sudah mati. Hal itu benar-benar dengan terpaksa harus mereka lakukan agar tetap bisa bertahan hidup. Tetapi hal ini masih menjadi rumor yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Karena dalam situasi yang sedang rumit seperti sekarang, pasti ada saja yang mencoba memanfaatkan keadaan dengan menyebarkan berita bohong, untuk menakuti semua orang.


Semakin orang ketakutan dan panik, maka akan semakin banyak pula orang-orang jahat yang terus mengambil keuntungan. Sekelompok orang-orang tidak bertanggung jawab ini sama seperti dengan seekor tikus yang rakus. Mereka semua adalah orang-orang yang ingin berkuasa dengan cara yang licik. Walaupun tidak diketahui secara pasti siapa 'mereka-mereka' ini, tapi pengaruh yang mereka miliki cukup besar.


Bahkan orang-orang licik ini, mereka sudah mampu mengalahkan kepercayaan sekelompok masyarakat kepada pemimpin mereka sendiri. Mereka memecah belah masyarakat agar melakukan pemberontakan kepada pemimpin mereka masing-masing. Cara itu juga sudah dilakukan oleh Prabu Barajang untuk bisa mengambil alih kekuasaan Kerajaan Putra Bathara dari tangan Prabu Gala Ganda.


Walaupun dua raja besar tersebut sudah dikutuk untuk tidak lagi melakukan pertikaian, tetapi mereka tetap saja melakukannya dengan cara yang halus, yang mereka kira itu adalah cara yang aman. Karena yang terpenting bagi mereka berdua adalah tidak saling membunuh satu sama lain. Yang kemungkinan besar mereka berdua ini salah mengartikan kalimat dari ayah mereka. Sehingga mereka tidak mempedulikannya.

__ADS_1


Memang, sampai saat ini belum ada tanda-tanda kalau kutukan tersebut akan benar-benar terjadi. Tetapi kebanyakan, bagi anak-anak yang suka melawan orang tuanya akan mengalami hidup yang sial. Dan ke jalan itu tidak akan pernah berakhir sebelum mereka semua mati.


__ADS_2