
Mendengar kisah hidup Prabu Jabang Wiyagra, Lare Damar hanya geleng-geleng kepala. Dia sangat tidak menyangka kalau seorang Prabu Jabang Wiyagra ternyata juga mengalami bagaimana rasanya kehilangan orang tua. Sama seperti Lare Damar, yang bahkan tidak pernah melihat wajah kedua orang tuanya.
"Saya sangat tidak menyangka Kakang Prabu, kalau Kakang Prabu juga mengalami beban hidup yang hampir sama seperti yang saya alami. Saya sangat-sangat bersyukur, karena Yang Maha Kuasa benar-benar telah memberikan Kuasa-Nya, kepada hamba-Nya yang lemah tak berdaya ini." Ucap Lare Damar.
"Ya. Begitulah aku, Lare Damar. Aku juga sangat bahagia dengan perubahanmu sekarang. Karena kesabaran dan ketabahanmu, sekarang tidak akan ada lagi orang yang menghinamu karena fisikmu."
"Iya Kakang Prabu."
"Nah, sekarang tinggal pada intinya saja. Aku bermaksud mengundangmu ke tempat ini, karena aku ingin kamu kembali kepada pasukanmu di masa lalu. Mereka semua sudah berbondong-bondong datang ke puncak ini untuk meminta izin dariku."
".....Para bangsa lelembut yang dulu menangisi kepergianmu, sekarang sedang menangis haru karena adanya dirimu di tempat ini. Mereka semua hanya ingin mendapatkan perintah darimu."
".....Jangan biarkan mereka menangis bersedih untuk yang kedua kalinya, Nanda Prabu. Buatlah mereka bangga, karena bisa berjuang bersama denganmu." Ucap Eyang Badranaya.
Prabu Jabang Wiyagra menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dia juga memejamkan matanya. Dan sesaat dari itu, terdengarlah derap langkah kaki dan suara riuh ribuan orang yang seakan menggema ke seluruh tempat yang ada di sekitar Gunung Khayangan.
Suara itu adalah suara-suara para bangsa lelembut yang sedang berteriak bangga karena Prabu Jabang Wiyagra memanggil mereka semua. Bahkan ada yang terbang di atas Gunung Khayangan. Padahal sebelumnya tidak ada satu pun makhluk yang akan selamat jika terbang di atas Gunung Khayangan.
Tapi sekarang, para burung-burung elang raksasa pun keluar dari sarang mereka. Bahkan satu-satunya ulat terbesar yang tinggal di dalam perut Gunung Khayangan pun muncul ke permukaan dan memeluk Gunung Khayangan. Ukuran ular itu sangat-sangatlah besar, ujung kepala dan ujung ekornya mengitari seluruh lapisan Gunung Khayangan.
__ADS_1
Ular itu bernama Ular Sancanaka. Ular itu adalah makhluk legenda yang sudah hidup jutaan tahun. Ada juga seekor Elang yang paling besar bernama Elang Maha Raja. Elang Maha Raja adalah satu-satunya burung Elang legenda yang masih hidup sampai sekarang. Bahkan Elang Maha Raja sudah membuat pasukan burung Elang.
Dia memiliki pasukannya sendiri yang jumlahnya ada ribuan. Elang-elang para pasukan dari Elang Maha Raja itu sudah lama bersembunyi di Gunung Khayangan. Mereka semua sudah menunggu kedatangan Prabu Jabang Wiyagra selama bertahun-tahun. Dan selama itu pula, mereka masih sangat setia kepada Prabu Jabang Wiyagra.
Dengan seluruh pasukan dari Gunung Khayangan yang sudah siap untuk diterjunkan ke medan perang, Prabu Jabang Wiyagra tidak perlu khawatir lagi soal kemenangan. Karena sekarang dia sudah memiliki pasukan yang tidak akan pernah bisa dikalahkan. Dan tidak akan ada satu pun musuh yang tahu kalau mereka datang dari Gunung Khayangan.
Prabu Jabang Wiyagra kembali membuka matanya. Dia tidak menyangka, selama ini semua pasukan yang ada di Gunung Khayangan bersembunyi dan tidak menampakkan diri mereka, demi bisa bertemu kembali dengan Prabu Jabang Wiyagra.
"Saya tidak pernah menyangka Romo, kalau mereka masih setia kepada saya. Padahal saya sudah lama sekali tidak datang ke tempat ini." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Eyang Badranaya.
"Begitulah mereka. Selama ini mereka dengan sangat setia menunggumu. Mereka semua rindu kepadamu, Nanda Prabu Jabang Wiyagra."
Eyang Badranaya juga memberikan sebuah tongkat pusaka kepada Prabu Jabang Wiyagra. Tongkat kayu itu terlihat seperti tongkat biasa. Namun memiliki daya magis yang sangat luar biasa. Tongkat itu mampu menghancurkan apa saja yang dihadapinya. Dan bahkan bisa menghancurkan pusaka-pusaka lainnya.
Tongkat pusaka itu terbuat dari sebuah akar kayu Pohon Khayangan. Dilapisi dengan mantra paling kuat oleh Eyang Badranaya selama puluhan tahun. Sehingga tongkat pusaka itu menjadi pusaka terkuat yang ada di Tanah Jawa. Belum pernah ada satu pun orang yang mampu menggunakan tongkat pusaka tersebut. Karena daya magisnya yang amat sangat kuat.
Dulu banyak orang yang mengincar tongkat pusaka itu. Tapi yang mereka dapatkan hanyalah kegagalan dan bahkan kematian. Karena kebanyakan orang ingin menggunakan tongkat pusaka itu untuk menjadi seorang penguasa yang ditakuti. Tidak ada satu pun yang berniat menggunakannya untuk kebenaran.
Prabu Jabang Wiyagra sendiri tidak pernah tahu akan adanya tongkat pusaka itu. Selama ini Eyang Badranaya sudah menyimpannya, secara khusus pusaka itu memang dibuat hanya untuk Prabu Jabang Wiyagra seorang. Sehingga tidak akan ada satu pun orang di dunia ini yang bisa memiliki tongkat pusaka itu. Jangan memiliki, menyentuh saja tidak akan ada yang mampu.
__ADS_1
"Terimakasih Romo. Saya akan menggunakan pusaka ini ketika keadaan sudah mendesak. Saya berjanji akan menggunakannya dengan bijak. Pesan dari Romo akan selalu saya ingat." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
"Berangkatlah Nanda Prabu. Bawalah semua pasukanmu bersamamu. Dan bawalah juga Lare Damar. Kembalilah ke tempat ini saat semuanya sudah selesai."
"Nggih Romo."
Tiba-tiba datanglah Elang Maha Raja yang mendarat di puncak itu. Elang Maha Raja menawarkan diri untuk mengantarkan Prabu Jabang Wiyagra dan Lare Damar ke medan perang.
"Terimakasih saudaraku." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Elang Maha Raja.
Prabu Jabang Wiyagra dan Lare Damar naik ke punggung Elang Maha Raja. Mereka akhirnya terbang menuju ke daerah pertempuran. Disusul juga dengan para pasukan yang lainnya. Baik dari darat, maupun dari atas udara. Di belakang posisi belakang Elang Maha Raja ada ribuan elang yang mengawal Prabu Jabang Wiyagra.
Ular Sancanaka juga membawa semua pasukan ular yang ada di Gunung Khayangan. Para bangsa lelembut juga turun gunung dan ikut bersama dengan Prabu Jabang Wiyagra menuju medan perang. Karena saking banyaknya, jumlah mereka tidak dapat dihitung. Bahkan suara gemuruh kedatangan mereka sampai terdengar ke medan perang.
Ternyata, peperangan sudah dimulai di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Bahkan pertempuran itu juga sudah terjadi di benteng pertahanan Patih Kinjiri dan pasukannya. Semua orang yang sedang bertempur pun menatap kesana kemari dengan ribuan pertanyaan dibenak mereka. Hanya suara mereka yang terdengar, padahal keberadaan mereka masih jauh.
Pertempuran paling dahsyat terjadi di wilayah perbatasan Kerajaan Wiyagra Malela. Di perbatasan, musuh mendapatkan perlawanan sengit dari para pendukung Prabu Jabang Wiyagra. Walau pun musuh sudah bersikeras untuk melewati perbatasan, tapi mereka masih saja tidak mampu menaklukkan para pasukan yang ada di wilayah perbatasan.
Banyak sudah mayat bertumpukan di perbatasan itu. Jumlah pasukan yang mati dari pihak musuh sudah ribuan, karena mereka juga diserang menggunakan meriam. Namun mereka masih saja tetap tidak mau menyerah, padahal mereka pun tahu kalau jumlah pasukan semakin lama pastinya akan semakin menipis.
__ADS_1