DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 170


__ADS_3

"Aku sangat menghargai dirimu dan juga gurumu, Zafir. Tetapi aku masih belum tahu, posisi apa yang pantas untukmu di tempat ini." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Zafir.


"Menurut guru hamba, hamba diharuskan membuat sebuah padepokan, yang posisinya berada dekat dengan istana Kerajaan Wiyagra Malela, Maha Raja."


"Aku ingin tahu siapa sebenarnya gurumu itu? Karena dia tidak mungkin mengirim ke tempat ini hanya sekedar untuk mengabdi di istana Kerajaan Wiyagra Malela."


"Guru hamba bernama Syekh Hassan Baghda, Maha Raja. Dulu, sewaktu masih muda, beliau sering sekali berkunjung ke Tanah Jawa ini."


"Syekh Hassan Baghda? Benarkah? Dan kau muridnya?!" Tanya Prabu Jabang Wiyagra yang terkejut, saat mendengar nama Syekh Hassan Baghda.


"Bener Maha Raja, hambalah muridnya. Sekaligus anak angkatnya."


Prabu Jabang Wiyagra benar-benar terkejut, setelah dia tahu kalau tamunya ini adalah murid dari seorang ulama besar. Syekh Hasaan Baghda jelas tidak asing di telinga Prabu Jabang Wiyagra. Karena dia tahu betul siapa Syekh Hassan Baghda. Sang Maha guru pernah menceraikan tentang seorang ulama besar yang datang ke Tanah Jawa, dan melakukan pertemuan dengan Sang Maha Guru.


Dan ulama itu bernama Syekh Hassan Baghda. Sahabat dekat dari Sang Maha Guru sendiri. Walaupun mereka memiliki keyakinan yang berbeda, tetapi mereka tidak pernah bertengkar, ataupun berselisih paham sedikitpun. Justru dengan perbedaan itu, mereka menjadi semakin akrab. Dan saling berbagi ilmu satu sama lain.


Prabu Jabang Wiyagra sama sekali tidak pernah menyangka, kalau murid Syekh Hassan Baghda akan datang ke istana Kerajaan Wiyagra Malela, untuk bertemu dengan dirinya. Karena Prabu Jabang Wiyagra sendiri tidak pernah sekalipun bertemu dengan Syekh Hassan Baghda. Prabu Jabang Wiyagra hanya mengetahui cerita dari Sang Maha Guru.

__ADS_1


Prabu Jabang Wiyagra masih belum benar-benar percaya dengan ucapan Zafir. Karena hal itu sangat sulit untuk diterima oleh nalarnya. Padahal, pada masa muda Sang Maha Guru dan Syekh Hassan Baghda, Prabu Jabang Wiyagra belum ada, atau mungkin masih sangat kecil. Sang Maha Guru memberikan cerita itu setelah Sang Maha Guru sudah menua, dan Prabu Jabang Wiyagra sudah dewasa.


Yang artinya, Sang Maha Guru dan Syekh Hassan Baghda sudah puluhan tahun tidak saling bertemu. Dan Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah sekalipun berjumpa dengan Syekh Hassan Baghda. Karena setelah usia beliau sudah semakin tua, Syekh Hassan Baghda tidak pernah lagi melakukan kunjungan ke Tanah Jawa. Tidak seperti saat dia masih muda dulu.


"Baiklah, kalau kamu memang benar-benar murid dari Syekh Hassan Baghda, berikan aku satu bukti yang kuat. Yang bisa membuatku percaya kepadamu."


"Baiklah Maha Raja."


Zafir lalu bangun dari kursinya. Dia meletakkan pedangnya di lantai. Secara tiba-tiba pedang itu berdiri sendiri, dan keluar dari sarungnya. Dan tertulis sebuah ayat pada bilah pedang tersebut. Namun hanya Prabu Jabang Wiyagra sendiri yang bisa melihatnya. Ayat-ayat yang tertulis di bilah pedang itu memancarkan sebuah sinar putih.


Hanya dengan bukti tersebut, Prabu Jabang Wiyagra langsung percaya dengan ucapan Zafir Al-Hamzah. Karena tidak ada satupun pedang pusaka yang memiliki kekuatan luar biasa, seperti pedang yang digunakan oleh Zafir. Dan hanya Zafirlah satu-satunya orang yang memiliki pedang itu. Prabu Jabang Wiyagra lalu memerintahkan Zafir untuk kembali menyarungkan pedangnya.


"Cukup Zafir. Pedang itu sudah menjadi bukti paling kuat. Karena tidak ada seorangpun yang memiliki pedang seperti itu, kecuali Syekh Hassan Baghda. Dan sekarang pedang itu sudah diwariskan kepadamu. Aku sudah percaya dengan semua ucapanmu sekarang."


"Terimakasih Maha Raja. Maka izinkanlah hamba untuk mengabdi kepada Maha Raja Gusti Prabu Jabang Wiyagra."


"Ya. Hari ini kau aku terima menjadi abdi ku. Buatlah padepokan, seperti apa yang diperintahkan oleh gurumu, Syekh Hassan Baghda. Aku akan membantumu membangun padepokan itu."

__ADS_1


"Hamba ucapkan beribu-ribu terima kasih, Maha Raja. Hamba bersumpah, akan setia selalu kepada Maha Raja Gusti Prabu Jabang Wiyagra."


Mulai hari ini juga, Zafir Al-Hamzah langsung mencari lokasi yang cocok untuk membangun padepokannya. Prabu Jabang Wiyagra memberikan kebebasan kepada Zafir. Dia diperbolehkan untuk memilih tanah yang cocok untuk membangun padepokannya. Prabu Jabang Wiyagra juga memerintahkan kepada Patih Daraka dan Patih Kayat, untuk membantu pembangunan padepokan tersebut.


Prabu Jabang Wiyagra mengabulkan permintaan Zafir tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Prabu Jabang Wiyagra sudah percaya sepenuhnya kepada Zafir. Karena Zafir sudah membuktikan semua yang ia katakan. Prabu Jabang Wiyagra melihat ada sesuatu yang berbeda dalam diri Zafir. Seperti ada sebuah cahaya yang selalu mengelilingi dirinya setiap saat.


Zafir benar-benar berbeda dari orang lainnya. Dia terlihat jauh lebih berwibawa, dan memiliki sifat yang sangat lembut. Entah bagaimana dia ketika dihadapkan dalam pertarungan dan peperangan. Namun pandangan batin Prabu Jabang Wiyagra melihat, kalau Zafir sangat ahli dalam peperangan.


Dia sudah dilatih selama bertahun-tahun oleh Syekh Hassan Baghda, untuk menjadi orang yang tangguh. Selama puluhan tahun berlalu, baru kali ini Syekh Hassan Baghda mengutus salah satu muridnya untuk melakukan pengabdian di Tanah Jawa. Sebelumnya Syekh Hassan Baghda tidak pernah mengutus siapapun untuk datang ke Tanah Jawa.


Bahkan sewaktu Syekh Hassan Baghda masih sering berkunjung ke Tanah Jawa, Syekh Hassan Baghda tidak pernah sekalipun pergi bersama dengan murid-muridnya. Syekh Hassan Baghda selalu berjalan sendirian. Tidak pernah dikawal atau ditemani oleh siapapun juga. Syekh Hassan Baghda tidak pernah mau merepotkan siapapun, termasuk muridnya sendiri.


Walaupun Prabu Jabang Wiyagra tidak dapat melihat dengan jelas wajah Syekh Hassan Baghda dalam pandangan mata batinnya, tetapi Prabu Jabang Wiyagra bisa melihat apa saja yang selama ini sudah diajarkan Syekh Hassan Baghda kepada murid-muridnya. Prabu Jabang Wiyagra bisa dengan jelas melihat kegiatan sehari-hari Syekh Hassan Baghda.


Sekarang Syekh Hassan Baghda sudah terlalu tua untuk berkunjung ke Tanah Jawa. Umurnya sudah sangat sepuh. Semua rambutnya telah memutih. Bahkan Syekh Hassan Baghda berjalan dengan pelan, dan sangat hati-hati. Karena kondisi fisiknya sudah berubah drastis, di umurnya yang sudah semakin menua itu.


Lain saat dia masih muda dulu. Syekh Hassan Baghda adalah seorang ksatria yang gagah perkasa, dan sangat ditakuti oleh lawan-lawannya. Bahkan sekalipun Syekh Hassan Baghda terluka parah, dia tidak akan pernah menyerah. Karena pantang bagi dirinya untuk tunduk dan mengalah kepada musuh-musuhnya.

__ADS_1


Jadi, di negerinya sendiri, Syekh Hassan Baghda adalah seorang pejuang hebat. Karena dulu, Timur Tengah juga pernah mengalami peperangan besar, yang menimbulkan jutaan korban berjatuhan. Namun itu dulu, perang besar itu dimenangkan oleh seorang raja yang memimpin Syekh Hassan Baghda, yang pada saat itu menjabat sebagai Panglima Perang Utama.


__ADS_2