DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 25


__ADS_3

Prabu Suta Rawaja dan dua sahabatnya sudah mulai menyusun rencana untuk melakukan serangan terhadap Kerajaan Wiyagra Malela. Dia juga merekrut banyak sekali pendekar-pendekar sakti untuk memenangkan peperangan ini. Semua kesatuan pasukan terbaik di kerajaannya telah dipersiapkan.


Maha Patih Raseksa juga mulai melatih para pasukannya agar mereka menjadi semakin hebat dari sebelumnya. Kerajaan Rawaja Pati benar-benar memiliki kekuatan tempur yang sangat luar biasa. Mereka juga memiliki persenjataan yang lengkap.


Bukan hanya itu, jumlah pasukan mereka juga jauh lebih besar dari jumlah pasukan Prabu Jabang Wiyagra karena Prabu Suta Rawaja mendapatkan dukungan penuh dari Prabu Antasura, dan Prabu Bagas Candramawa.


Wajah-wajah mereka yang terlihat santun dan baik, ternyata tersimpan hati yang amat sangat busuk. Mereka memiliki kepentingan yang sama, karena mereka merasa dirugikan semenjak Kerajaan Wiyagra Malela berdiri. Karena banyak sekali pedagang dari negeri sebrang yang datang untuk berdagang ke wilayah Kerajaan Wiyagra Malela.


Ketiga kerajaan besar itu merasa dirugikan karena mereka tidak mampu bersaing dengan Prabu Jabang Wiyagra, dalam sistem perekonomian. Metode Prabu Jabang Wiyagra dalam mengembangkan ekonimi di wilayah kekuasaannya bisa dibilang suatu metode baru dan maju, sehingga kedua belah pihak, baik penjual atau pun pembeli, akan mendapatkan keuntungan yang sama-sama besar.


Sangat berbeda dengan ketiga kerajaan besar itu yang masih menggunakan cara lama, yang terkadang merugikan para pedagang dari negeri lain.


Dengan adanya Kerajaan Wiyagra Malela yang menggunakan metode baru dalam berdagang, menjadikan para pedagang itu pindah ke Kerajaan Wiyagra Malela untuk mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar. Yang tentunya tidak menekan mereka.


Hal itu sangat mempengaruhi perkembangan ekonomi di ketiga kerajaan besar itu. Mereka menjadi jarang sekali mendapatkan pelanggan atau pun penjual dari negeri sebrang. Mereka jadi lebih sering berdagang dengan para penduduk lokal.


Tempat wisata dan berbagai tempat hiburan yang biasanya ramai juga sering menjadi sepi, karena mereka lebih memilih datang ke Kerajaan Wiyagra Malela yang terkesan jauh lebih indah dan lebih tenang, karena penataan tempat yang sangat teratur dan rapi.

__ADS_1


Sebenarnya masih ada banyak sekali kerajaan-kerajaan besar di Tanah Jawa ini. Namun mereka memilih untuk tidak ikut campur dalam perang mereka. Mereka hanya menunggu hasil dari pertempuran ini, dan memilih pihak mana yang pantas untuk mereka jadikan panutan.


Ada beberapa kerajaan yang namanya terkenal hingga ke wilayah Asia. Ada Kerajaan Gelap Ngampar, Kerajaan Putra Bathara, Kerajaan Bala Bathara, Kerajaan Pancanaka, Kerajaan Panca Warna, Kerajaan Mangkon Rogo, Kerajaan Cakra Buana, Kerajaan Ciung Wanara, Kerajaan Segoro Geni, Kerajaan Kalanjana, Kerajaan Sangga Bumi, dan yang terakhir, ada Kerajaan Maha Resi.


Ketiga belas kerajaan itu pernah berperang hanya beberapa kali saja. Selebihnya hanya pertikaian kecil. Dan berkat Prabu Jabang Wiyagra, mereka semua akhirnya berdamai dan sepakat untuk tidak melakukan peperangan lagi, antara satu sama lain.


Mereka juga sering datang melakukan kunjungan kepada Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka juga suka melakukan pertemuan di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Bahkan ada sebuah tempat wisata yang dikhususkan untuk ketiga belas kerajaan besar tersebut.


Dari sanalah mereka semua mulai saling memahami satu sama lain. Sekarang, mereka bersatu untuk mencipatakan kedamaian.


Namun kebanyakan dari mereka juga lebih setuju dengan Prabu Jabang Wiyagra. Karena mereka juga tidak suka dengan Prabu Suta Rawaja. Mereka semua tahu betul bagaimana watak asli Prabu Suta Rawaja. Terkadang Prabu Suta Rawaja berpura-pura menjadi lemah agar orang-orang bersimpati kepadanya. Padahal itu hanyalah strateginya untuk mempengaruhi orang-orang.


Mereka yang sudah paham pasti tidak akan pernah percaya dengan semua yang dikatakan oleh Prabu Suta Rawaja. Karena dia adalah orang yang sangat-sangat licik dan tidak bisa dipercaya. Dia tidak akan segan untuk mengorbankan siapa pun demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Itulah kenapa anak dan istrinya selalu saja sakit-sakitan.


Karena ternyata, Prabu Suta Rawaja sendiri yang memberikan racun kepada mereka setiap hari. Agar dia tidak memiliki putra mahkota, yang dianggapnya sebagai pesaing. Padahal itu adalah darah dagingnya sendiri.


Prabu Bujang Antasura dan Prabu Bagas Candramawa sama sekali tidak menyadari hal tersebut.

__ADS_1


Mereka belum benar-benar mengenali Prabu Suta Rawaja sampai ke akar-akarnya. Karena mereka selalu percaya kalau Prabu Suta Rawaja adalah orang yang benar-benar jujur dan baik hati, yang pantas untuk mereka jadikan panutan.


Mereka berdua juga bisa dibilang masih muda, jadi tidak heran kalau mereka sangat mudah dipengaruhi oleh ucapan-ucapan Prabu Suta Rawaja yang sudah mencuci otak mereka.


Prabu Suta Rawaja terus menerus menjejali jiwa kedua raja bodoh itu dengan kebencian. Kebencian kepada seseorang yang sama sekali tidak bersalah dan tidak pernah berfikir untuk merugikan siapa pun. Yaitu Prabu Jabang Wiyagra.


Tetapi rasa iri dan dengki sudah mendarah daging, sehingga mereka berdua sulit untuk diajak bernegosiasi. Bahkan mereka dengan congkaknya merobek sebuah surat dari Prabu Jabang Wiyagra.


Tidak hanya itu saja, mereka juga membunuh orang yang mengantarkan surat itu, dan mengirimkan kepala mereka kepada Prabu Jabang Wiyagra. Jelas saja Prabu Jabang Wiyagra menjadi murka atas penghinaan itu.


Padahal niat Prabu Jabang Wiyagra sebenarnya baik. Dia ingin menyelamatkan mereka dari niat busuk Prabu Suta Rawaja yang hanya ingin memanfaatkan mereka saja. Tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.


Mereka justru menuduh Prabu Jabang Wiyagra sedang menghasut mereka agar memusuhi Prabu Suta Rawaja. Dengan bodohnya, mereka juga memberitahu Prabu Suta Rawaja mengenai isi surat yang dikirimkan Prabu Jabang Wiyagra kepada mereka.


Sudah pasti Prabu Suta Rawaja tidak tinggal diam begitu saja. Dia langsung memberikan berbagai wejangan sesat kepada kedua sahabatnya itu, lebih tepatnya kedua kacungnya.


Kedua raja yang tidak berpengalaman itu dengan sangat mudah bisa diputar balikkan pemikirannya oleh Prabu Suta Rawaja dengan kata-kata manisnya.

__ADS_1


__ADS_2