
Prabu Suta Rawaja berada di sel tahanan bawah tanah Kerajaan Wiyagra Malela. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Dia memiliki luka disekujur tubuhnya. Tubuhnya sangat lemah dan sudah tidak lagi berdaya. Dia menatap kosong ke langit-langit penjara yang gelap.
Matanya berkaca-kaca. Semua kekuasaannya kini telah runtuh dan hancur. Dia sudah tidak memiliki satu pun orang yang bisa mendukungnya saat ini. Semua harapan-harapannya kini telah pupus di penjara ini. Dia sudah kacau dan kehilangan segalanya.
Dari atas, terdengar ada langkah kaki pelan dari seseorang. Samar-samar di penjara yang gelap itu dia masih bisa mengenali, kalau itu adalah Prabu Jabang Wiyagra. Dia datang kesana untuk melihat bagaimana keadaan Prabu Suta Rawaja, musuhnya yang sudah kalah.
"Bagaimana Prabu Suta Rawaja? Apakah kau sudah sadar dengan semuanya? Andaikan saja kamu tidak mendeklarasikan perang, pasti kamu tidak akan bernasib seperti orang-orang ini." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
Prabu Suta Rawaja hanya bisa menangisi nasibnya. Dia tidak menyangka kalau dia akan kalah dengan jumlah pasukan yang mencapai seratus ribu pasukan. Pasukannya kalah ditangan seorang raja yang jauh lebih muda darinya.
Prabu Jabang Wiyagra kemudian menunjukkan sesuatu kepadanya. Sebuah ikat kepala. Ikat kepala itu adalah milik Maha Patih Raseksa yang sekarang juga sama-sama ditahan di penjara bawah tanah ini.
"Semua orang yang mendukungmu dan setia kepadamu sudah aku bersihkan. Sekarang hanya tersisa dirimu dan muridmu yang sebentar lagi akan mati." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
Prabu Suta Rawaja yang mendengar itu terpancing amarahnya. Dia mencoba berdiri. Dia mengejek Prabu Jabang Wiyagra dengan kata-kata kotor. Dia lampiaskan semua kekesalannya itu.
"Apa kau tahu Prabu Suta Rawaja? Kemarahanmu itu menunjukkan kalau dirimu sudah mulai gila." Ucap Prabu Jabang Wiyagra sembari pergi meninggalkan tempat itu.
Prabu Suta Rawaja mengucapkan sumpah serapahnya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dia masih belum bisa menerima atas apa yang ia dapatkan hari ini.
"Aku akan membunuhmu Jabang Wiyagra! Aku bersumpah! Aku akan menghabisi seluruh keluargamu!" Teriak Prabu Suta Rawaja kepada Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
Namun Prabu Jabang Wiyagra tidak peduli. Karena setiap orang yang masuk ke tempat ini tidak akan pernah bisa keluar. Semua sel di penjara bawah sudah dikuatkan dengan pagar ghaib yang sangat-sangat kuat. Sehingga tidak ada satu pun tahanan yang mampu membobolnya.
Kalau pun ada yang bisa, pasti tetap akan mengalami kendala. Karena di luar penjara, sudah ada penjaga yang berpengalaman yang akan selalu siap menghajar siapa saja yang berani-berani kabur dari penjara bawah tanah ini.
Empat orang penjaga berpawakan tinggi besar dan memiliki ilmu kesaktian itu selalu siap berjaga sepanjang hari dan sepanjang malam. Mereka akan berjaga secara bergantian. Dan mereka juga akan menyiksa para tahanan secara bergiliran.
Biasanya, para tahanan akan disiram dengan air mendidih. Atau, mereka akan ditusuk dengan besi yang panas. Teriakan-teriakan dari para tahanan sudah menjadi hal yang lumrah di penjara itu, karena mereka semua selalu diberi siksaan secara terus menerus setiap harinya.
Kebanyakan dari mereka juga tidak mampu menahan sakitnya, dan lebih memilih untuk bunuh diri. Banyak yang memilih untuk menggigit urat nadi mereka sendiri, ketika mereka sudah tidak tahan lagi dengan segala bentuk penyiksaan di penjara ini.
Entah sudah berapa banyak tahanan yang mati di penjara ini. Yang jelas, banyak sekali mereka yang mati dan dibiarkan begitu saja, sampai mereka menjadi tulang belulang. Jadi, para tahanan yang baru akan merasakan bagaimana rasanya tidur bersama dengan tulang belulang tahanan yang sudah lama mati di tempat itu.
Kebanyakan dari para tahanan hanya akan bertahan selama dua minggu, karena mereka kehausan dan kelaparan. Kalau mereka tidak kuat, mereka bisa memakan daging mereka sendiri. Dimulai dari menggigit kedua kaki mereka dan memakannya.
Prabu Suta Rawaja terus berteriak tanpa henti. Dia memukul-mukul tembok dan juga besi yang menjadi pintu sel penjara itu. Dia terus berusaha ingin keluar dari tempat itu. Dia mulai mencoba mengumpulkan tenaganya, dan berusaha untuk mengeluarkan ilmu kanuragannya.
Tapi sialnya, semua ilmunya sudah luntur. Dia tidak menyangka kalau semua ilmunya luntur dan tidak bisa digunakan. Padahal, sebelumnya ilmu yang ia miliki masih berguna.
"Si-al! Apa lagi ini! Apa lagi Tuhan?! Apalagi?!" Teriak Prabu Suta Rawaja.
Dia benar-benar mulai tidak waras. Semua orang yang ada di penjara itu mendengar teriakan Prabu Suta Rawaja dengan sangat jelas. Termasuk Maha Patih Raseksa dan juga Gabah Lanang. Tapi mereka juga tidak bisa melakukan apa pun.
__ADS_1
Mereka hanya bisa mendengarkan tanpa bisa menjawab. Suara Maha Patih Raseksa dan Gabah Lanang seperti sudah habis. Karena mereka tidak makan dan tidak minum. Baru satu hari saja, Maha Patih Raseksa dan Prabu Suta Rawaja sudah tidak kuat rasanya.
Mereka ingin sekali keluar dan terbebas dari tempat terkutuk itu. Apalagi saat salah satu penjaga masuk ke dalam dengan membawa air mendidih. Prabu Suta Rawaja langsung berusaha untuk menghindari siraman air mendidih itu.
"Hey bodoh! Apa yang kau lakukan?!" Bentak Prabu Suta Rawaja.
"Kau yang bodoh! Dasar tikus kepa-rat!" Jawab si penjaga dengan nada yang sama-sama membentak.
"Tikus?! Kau yang tikus! Aku adalah raja! Kau harusnya tunduk padaku!"
"Hey! Setiap yang masuk ke tempat ini adalah tikus! Kau pahan?! Sekarang nikmatilah!" Ucap si penjaga sembari menyiramkan air mendidih itu ke tubuh Prabu Suta Rawaja.
Seketika Prabu Suta Rawaja pun berteriak kesakitan, dan kulitnya melepuh. Karena itu air mendidih yang baru saja diangkat dari sebuah tungku. Di dalam penjara bawah tanah itu terdapat sebuah tungku yang digunakan untuk memasak air dan membakar besi.
Prabu Suta Rawaja benar-benar merasakan penderitaan yang sangat kejam di penjara itu. Dia jadi teringat dengan semua siksaan yang ia berikan kepada orang-orang yang tidak bersalah semasa dia menjadi seorang raja.
Prabu Suta Rawaja sudah banyak melakukan penindasan dan juga kesewenang-wenangan kepada orang-orang yang tidak mau berpihak kepadanya. Bahkan kepada rakyatnya sendiri, dia bisa bertindak kejam.
Apalagi saat terjadi perang saudara di kerajaannya. Banyak orang yang tewas sia-sia. Mereka semua dibiarkan begitu saja tanpa dikuburkan. Jasad mereka bahkan ada yang digantung dan dibakar di depan umum.
Mereka semua benar-benar menderita saat itu. Banyak juga anak-anak tidak bersalah yang menjadi korban kekejaman Prabu Suta Rawaja. Semua kekejaman itu didasarkan pada keyakinan Prabu Suta Rawaja, bahwa seorang raja harus disembah.
__ADS_1
Keyakinan sesat itu datang karena dia selalu merasa iri dan dengki kepada orang-orang yang jauh lebih baik dari pada dirinya. Dia tidak pernah mau tersaingi oleh siapa pun. Sehingga membentuknya menjadi pribadi yang kejam.