
Mahendra dan Jiramani larut dalam kesenangan yang ada di depan mata mereka, sampai mereka tidak sadar kalau sekarang ini ada tiga orang kepercayaan Prabu Jabang Wiyagra, yang sedang mengawasi kegiatan mereka berdua. Meskipun Mahendra dan Jiramani adalah orang yang sangat ditakuti di Padepokan Ageng Maja Lingga, tapi mereka berdua tidak ada apa-apanya di tangan Prabu Sura Kalana, Prabu Bagas Candramawa, dan Prabu Bujang Antasura. Di tangan ketiga orang itu, Mahendra dan Jiramani bagaikan dua ekor anak kelinci, yang dengan beraninya menunjukkan gigi kepada tiga ekor serigala.
Prabu Sura Kalana perlahan mulai mendekati Mahendra dan Jiramani yang sedang terduduk di pendopo. Awalnya Mahendra dan Jiramani sedikit terkejut karena merasa ada sesuatu yang aneh di sekitar mereka. Namun karena mereka berdua sudah mabuk, mereka pun tidak mempedulikan hal tersebut. Mereka tetap ingin larut dalam kesenangan yang sudah lama tidak mereka rasakan. Dan, ya! Mahendra serta Jiramani dikejutkan oleh sebuah pisau yang secara tiba-tiba, dan entah datangnya dari mana, yang langsung menancap di punggung mereka berdua.
Awalnya Mahendra dan Jiramani menyangka kalau itu adalah kelakuan kelima orang murid Padepokan Ageng Maja Lingga, yang sedang bersama mereka saat ini. Namun kelima orang murid tersebut berada di depan mereka, dan sama sekali tidak melakukan gerakan apapun, selain berdiri dan melayani mereka berdua. Mahendra dan Jiramani pun berteriak kesakitan. Karena selama ini tidak ada satupun benda tajam yang bisa menancap di tubuh mereka. Mereka berdua pun heran, kenapa hal itu bisa terjadi.
"Kurang ajar! Siapa yang sudah melakukan hal ini?!" Teriak Mahendra sembari berusaha mencabut pisau yang ada di punggungnya.
Jiramani langsung mengajar kelima murid yang ada di depannya, karena merasa sangat kesal dengan perbuatan itu. Padahal Jiramani juga percaya, kalau bukan mereka berlima yang melakukan hal tersebut. Namun karena rasa sakit di punggungnya begitu luar biasa, Jiramani sulit untuk mengontrol dirinya lagi. Kepalanya juga terasa sangat pusing, karena dia menahan rasa sakit yang begitu luar biasa. Pisau itu akan mengorek-ngorek punggungnya. Bahkan punggung Jiramani dan punggung Mahendra sampai berdarah-darah. Yang akhirnya membuat mereka berdua langsung pingsan di sana.
Semua murid Padepokan Ageng Maja Lingga yang melihat hal tersebut pun keheranan. Mereka juga kebingungan karena tidak bisa menolong Mahendra dan Jiramani. Karena dengan cepat, tubuh Mahendra dan Jiramani sudah lenyap dari pendopo tersebut. Sudah pasti yang melakukan hal itu adalah Prabu Sura Kalana, Prabu Bujang Antasura, dan juga Prabu Bagas Candrawama. Mereka bertiga dengan cepat langsung membawa tubuh Mahendra dan Jiramani ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Untuk dipertemukan dengan Sang Maha Raja, Prabu Jabang Wiyagra.
Sedikit, Jiramani menatap ke sekelilingnya. Matanya begitu saya karena dia kehilangan banyak darah. Sedangkan Mahendra masih belum sadarkan diri. Dan di sinilah Jiramani baru sadar, kalau sekarang dia dan Mahendra sedang berada di halaman istana Kerajaan Wiyagra Malela. Ingin rasanya Jiramani melepaskan diri dan sebisa mungkin lari sekencang-kencangnya dari tempat ini. Namun tubuhnya sudah sangat lemah dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan ia kembali merasakan rasa sakit yang luar biasa di punggungnya, dan juga di kepalanya.
__ADS_1
Setelah sampai, barulah Prabu Sura Kalana dan yang lainnya membuka topeng mereka. Mereka akhirnya membaringkan tubuh Mahendra dan Jiramani di lantai halaman depan istana. Di sana sudah ada para anggota Pasukan Bara Jaya langsung membawa tubuh Mahendra dan Jiramani untuk masuk ke dalam istana. Karena Prabu Jabang Wiyagra sudah menunggu kedatangan mereka berdua sedari tadi. Sedangkan ketiga raja besar itu masih beristirahat di halaman istana, karena mereka begitu kelelahan, akibat membawa tubuh Mahendra dan Jiramani yang besar dan kekar.
"Di mana Prabu Sura Kalana dan yang lainnya?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra kepada para pengawal pribadinya itu.
"Prabu Sura Kalana masih berada di luar, Gusti Prabu."
"Baiklah. Kalian boleh kembali."
"Baik Gusti."
Mbah Kangkas kemudian menggunakan ilmunya untuk mencabut seluruh kesaktian yang dimiliki oleh Mahendra dan Jiramani. Namun Mbah Kangkas tidak bisa mencabut ilmu mereka sepenuhnya, karena Mahendra dan Jiramani ternyata memiliki Ajian Rawa Rontek. Dan hanya Prabu Jabang Wiyagra-lah yang bisa menghilangkan ilmu tersebut dari tubuh mereka berdua. Jiramani yang masih setengah sadar pun akhirnya berteriak, saat Prabu Jabang Wiyagra mencabut Ajian Rawa Rontek yang dimilikinya. Karena ia merasa tubuhnya seperti sedang dikuliti.
Begitu juga dengan Mahendra yang sempat mengalami kejang hebat saat Ajian Rawa Rontek lepas dari dalam tubuhnya. Namun pada akhirnya Mahendra dan Jiramani pun sadar dari pingsan mereka. Luka di punggung mereka juga telah hilang. Begitu juga dengan seluruh ilmu kesaktian yang mereka. Mahendra dan Jiramani merasa seperti ada yang aneh pada tubuh mereka. Mereka merasa seperti tidak lagi memiliki tenaga. Bahkan mereka berdua merasakan haus yang sangat luar biasa. Setidaknya sampai Prabu Jabang Wiyagra memberikan sebotol air.
__ADS_1
Mahendra dan Jiramani bersujud di hadapan Prabu Jabang Wiyagra. Karena adanya mereka berdua di tempat ini, itu dikarenakan Prabu Jabang Wiyagra sudah mengetahui apa yang telah mereka lakukan kepada Sang Guru Besar. Mahendra dan Jiramani memohon, dan terus memohon kepada Prabu Jabang Wiyagra agar mereka berdua bisa mendapatkan pengampunan. Tetapi Prabu Jabang Wiyagra dan Mbah Kangkas hanya diam saja. Bahkan menatap mereka berdua dengan penuh kebencian yang mendalam.
"Dasar anak-anak tidak tahu di untung! Sudah bagus masih ada orang tua yang mau mengurus kalian! Tapi kalian justru membunuhnya dengan kejam!" Bentak Prabu Jabang Wiyagra kepada mereka berdua.
"Ampuni kami Maha Raja! Ampuni kami! Kami terpaksa melakukan hal itu! Ampuni kami Gusti! Ampuni kami!" Teriak mereka berdua memohon pengampunan dari Prabu Jabang Wiyagra.
Namun Prabu Jabang Wiyagra menjawab ucapan mereka dengan sebuah tendangan dan juga pukulan yang sangat keras. Sampai memunceratkan darah dari mulut mereka berdua. Jiramani dan Mahendra merasakan sakit di mulut mereka. Bibir mereka terasa seakan langsung pecah, setelah mendapatkan hantaman dari tangan Prabu Jabang Wiyagra. Mereka berdua baru menyadari, kalau sekarang semua ilmu kesaktian yang mereka miliki, telah dicabut secara paksa dari tubuh mereka.
Mahendra dan Jiramani hanya bisa pasrah mendapatkan pukulan dan tendangan untuk kedua kalinya, dari Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra melampiaskan semua kekesalannya kepada mereka berdua, di hadapan Mbah Kangkas. Mbah Kangkas sendiri hanya terdiam melihat hal tersebut. Beliau tidak berani melarang Prabu Jabang Wiyagra. Karena sekarang ini Prabu Jabang Wiyagra sedang dalam keadaan yang marah besar. Saat dalam keadaan seperti itu, Prabu Jabang Wiyagra tidak boleh disentuh sedikitpun. Baik dengan tangan, atau sekalipun hanya dengan sebuah ucapan.
"Dengar! Kalau kalian berdua tidak mau menceritakan apa yang terjadi, aku tidak akan sedang untuk menyayat-nyayat tubuh kalian berdua di tempat ini, dengan kedua tanganku sendiri. Paham?!" Ucap Prabu Jabang Wiyagra dengan kembali memukul wajah Mahendra dan Jiramani.
Dengan kondisi fisik yang tidak sama lagi seperti sebelumnya, tentu saja pukulan sekecil apapun akan sangat terasa efeknya di tubuh Mahendra dan Jiramani. Mereka berdua sebenarnya sudah tidak kuat lagi menerima berbagai pukulan dan tendangan dari Prabu Jabang Wiyagra. Namun mereka berdua masih ingin tetap hidup. Dalam pikiran mereka berdua, kalau mereka berhasil selamat dari Prabu Jabang Wiyagra, maka mereka berdua akan kembali melancarkan aksi mereka yang sudah tertunda.
__ADS_1
Dan sudah Prabu Jabang Wiyagra juga telah mengetahui hal tersebut. Sehingga beliau memutuskan untuk menjebloskan mereka berdua ke dalam penjara bawah tanah. Yang akan membuat mereka berdua merasakan penderitaan yang sangat-sangat luar biasa pedihnya. Mereka berdua akan mendapatkan penyiksaan yang kejam setiap harinya. Tanpa henti. Dan tidak ada yang namanya jatah makan enak. Makanan dan minuman yang mereka dapatkan adalah makanan dan minuman yang sudah dicampurkan dengan kotoran hewan. Mereka akan diperlakukan serendah mungkin dalam penjara tersebut.