DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 333


__ADS_3

Pertarungan antara Maha Patih Lare Damar dengan Arjuna Soma dan Suma Gara, berlangsung dengan sangat sengit. Suma Gara dan Arjuna Soma dibuat kerepotan, dengan kemampuan yang dimiliki oleh Maha Patih Lare Damar. Meskipun Suma Gara dan Arjuna Soma adalah mantan anggota Kelompok Satrio Luhur, tapi tetap saja kesaktian mereka tidak sebanding dengan Maha Patih Lare Damar. Apalagi mereka berdua sudah sangat lama tidak mengasah ilmu kanuragan yang mereka miliki. Bahkan mereka sering bermain perempuan. Sungguh suatu hal yang sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang pejuang sejati. Karena itu adalah sebuah perbuatan yang tercela.


Semenjak mereka berdua keluar dari kelompok Satrio Luhur, mereka mulai melakukan berbagai hal yang tidak baik. Yang seharusnya tidak mereka lakukan. Semua itu sebagai bentuk pelampiasan, dari kekecewaan yang mereka rasakan. Karena setelah kepergian Panglima Agung Wira Satya, mereka sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Keluarga mereka terlantar. Dan mereka tidak memiliki masa depan yang baik. Karena hal itu, mereka pun berontak dari keyakinan yang sudah mereka anut sejak lama. Mereka lebih memilih jalan cepat, untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Sudahlah. Kita sudahi saja permusuhan ini. Tidak ada lagi yang bisa kalian lakukan. Lihatlah teman-teman kalian..." Ucap Maha Patih Lare Damar sembari menuju ke arah para mantan anggota Satrio Luhur yang sudah terkapar tak berdaya.


"...Mereka telah menjadi korban dari kelicikan kalian. Kalau kalian mau bersatu, pasti kalian bisa membangun sebuah kekuatan baru. Dan bisa meneruskan hal-hal baik yang ada di Satrio Luhur. Tanpa harus membahas dan mempermasalahkan sebuah kesalahan, yang dilakukan oleh Panglima Agung Wira Satya."


Suma Gara dan Arjuna Soma tidak bisa menerima apa yang diucapkan oleh Maha Patih Lare Damar. Kekecewaan yang ada di dalam diri mereka terlalu besar. Mereka sudah tidak mengenal lagi kebaikan. Yang terpenting sekarang, mereka dan keluarga mereka bisa makan. Sekalipun mereka mendapatkan makanan dengan cara yang tidak baik, mereka tetap tidak peduli. Selama perut mereka bisa kenyang, maka cara yang paling laknat pun, akan mereka gunakan. Dan itu sudah mereka lakukan selama bertahun-tahun, semenjak mereka keluar dari Kelompok Satrio Luhur.


"Diam kamu bocah! Kamu tidak tahu apa-apa soal kami! Apa kamu tahu bagaimana rasanya kelaparan?! Hah?!" Bentak Arjuna Soma.


"Aku pernah merasakan bagaimana rasanya kelaparan. Namun aku terus berusaha agar tidak menyusahkan orang lain. Tidak seperti kalian, yang hanya mencari keuntungan sendiri. Dan bisa dengan lantangnya, tertawa di atas penderitaan orang lain."


"Persetan dengan orang lain! Orang lain adalah orang lain! Kami adalah kami!" Kata Suma Gara.

__ADS_1


"Oh. Begitu ya? Baiklah. Jangan salahkan aku, kalau aku harus melakukan hal yang kejam kepada kalian." Ucap Maha Patih Lare Damar yang kembali menyerang mereka berdua.


Suma Gara dan Arjuna Soma yang sudah dalam keadaan lemah, tidak bisa banyak melakukan perlawanan. Mereka hanya bisa menggunakan tersia-sia tenaga mereka, untuk bertahan dari serangan Maha Patih Lare Damar. Karena sudah tidak bisa menahan amarahnya, Maha Patih Lare Damar lalu mematahkan kedua tulang lengan milik Suma Gara. Setelah itu, Maha Patih Lare Damar juga mematahkan kedua tulang kaki milik Arjuna Soma. Arjuna Soma dan Suma Gara mengerang kesakitan. Mereka berdua merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa, menjalar ke seluruh tubuhnya. Walaupun Arjuna Soma hanya kehilangan dua tulang kakinya, dan Suma Gara kehilangan dua tulang lengannya, tetapi rasa sakitnya seakan menjalar ke seluruh anggota tubuh mereka.


"Baji-ngan kamu Lare Damar! Baji-ngan!" Teriak mereka berdua.


"Aku sudah bilang, jangan salahkan aku, kalau aku sampai melakukan tindakan yang kejam kepada kalian." Jawab Maha Patih Lare Damar.


"Kami akan balas perbuatanmu suatu hari nanti!" Ucap Arjuna Soma, yang menahan sakit luar biasa di kedua kakinya.


Arjuna Soma hanya bisa terdiam mendengar jawaban itu. Mendengar nama Lubang Tikus membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi. Kalau dia dan Suma Gara memang benar-benar akan berakhir di Lubang Tikus, maka sudah tidak ada lagi harapan, untuk mereka bisa bebas dari sana. Karena Lubang Tikus adalah sel penjara yang paling mengerikan, yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Dan tidak ada satupun kerajaan yang memiliki sel penjara semengerikan itu. Lubang Tikus adalah masa depan paling buruk bagi setiap orang yang masuk ke dalamnya. Tidak ada satupun orang yang berhasil keluar hidup-hidup dari tempat tersebut. Karena sudah dipastikan, siapa saja yang masuk ke Lubang Tikus, pasti akan mati.


Para anggota Satrio Luhur yang masih hidup berusaha untuk meminta ampun kepada Maha Patih Lare Damar. Mereka membebankan masalah tersebut kepada Suma Gara dan Arjuna Soma.


"Mereka berdualah yang telah menghasut kami selama ini. Mereka yang seharusnya dihukum berat. Kami semua hanyalah korban dari otak busuk mereka berdua." Ucap Rama Jaya kepada Maha Patih Lare Damar.

__ADS_1


Namun Maha Patih Lare Damar sama sekali tidak mempedulikan ucapannya. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Pangeran Rawaja Pati kembali ke tempat tersebut, dengan membawa Ratna Malangi, yang sudah tidak sadarkan diri. Dengan terpaksa, Maha Patih Lare Damar meminta bantuan kepada Pangeran Rawaja Pati, untuk membawa tubuh Ratna Malangi, ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Jika Ratna Malangi tetap berada di tempat ini, maka itu akan sangat berbahaya bagi dirinya. Karena fisiknya sudah sangat tua dan renta.


"Aku meminta bantuanmu satu kali lagi Pangeran. Tolong bawa Ratna Malangi ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Aku akan menyusul nanti. Katakan semuanya kepada Gusti Prabu Prabu Jabang Wiyagra. Minta bantuan kepada beliau, untuk mengirimkan Pasukan Bara Jaya. Atau siapa saja, yang bisa membawa para prajurit yang terluka. Dan juga untuk menangkap para pengkhianat ini."


"Baiklah Maha Patih. Aku pergi sekarang."


"Terima Kasih Pangeran."


Pangeran Rawaja Pati seketika lenyap dari pandangan. Membawa tubuh Ratna Malangi yang sudah tidak lagi sadarkan diri. Sedangkan Maha Patih Lare Damar akan tetap berada di sana, sampai Prabu Jabang Wiyagra mengirimkan bantuan pasukan, untuk membawa para pasukan Maha Patih Galangan yang terluka dan gugur di tempat itu. Maha Patih Lare Damar lalu berusaha untuk menyalurkan tenaga dalamnya kepada Maha Patih Galangan, untuk menyembuhkan semua luka dalam yang ada di tubuhnya. Wajah Maha Patih Galangan sudah sangat pucat, karena dia sedang dalam keadaan sekarat. Dalam kondisi yang setengah sadar.


Sedangkan para pasukannya, semuanya sudah terkapar. Mereka sudah kalah sejak awal, karena para mantan anggota Satrio Luhur dengan mudah bisa mengalahkan para pasukan Maha Patih Galangan. Sejak pertama kali Maha Patih Galangan dan Maha Patih Lare Damar sampai di tempat ini, semuanya sudah kacau balau. Para prajurit yang dibawa oleh Maha Patih Galangan, sudah tersebar di mana-mana. Tanda kalau mereka telah melewati pertarungan yang sangat luar biasa. Sayangnya, tidak ada satupun dari mereka yang masih sadar. Meskipun terlihat masih ada yang hidup, tapi mereka hanya bisa mengarang kesakitan, tanpa bisa mengatakan apa-apa.


Entah bagaimana semua ini dimulai. Maha Patih Galangan dan Maha Patih Lare Damar pun sama-sama tidak tahu. Yang pasti, setelah mereka berdua sampai di tempat ini, dan tidak melihat Ratna Malangi di tempatnya, Maha Patih Lare Damar dan Maha Patih Galangan langsung Mencari keberadaannya di sekitaran tempat tersebut. Disitulah mereka berdua melihat, kalau Arjuna Soma dan Suma Gara tengah melempar tubuh Ratna Malangi ke sebuah jurang. Sehingga hal itu membuat Maha Patih Galangan dan Maha Patih Lare menjadi sangat marah. Apalagi setelah mereka berdua tahu, kalau Kencana Wangsa dan Rana Wangsa juga turut menjadi korban pengkhianatan saudara-saudaranya.


Pertarungan pun tak bisa dihindari. Maha Patih Lare Damar langsung menyerang mereka semua yang ada di sana. Begitu juga dengan Maha Patih Galangan. Namun karena mereka berdua kalah jumlah, Maha Patih Galangan pun tidak sanggup melawan para mantan anggota Satrio Luhur tersebut. Sehingga dia menjadi korban keberingasan mereka. Maha Patih Galangan dipukuli dan ditendang, meskipun dia sudah terkapar tak berdaya di atas tanah. Sedangkan Maha Patih Lare Damar juga disibukkan oleh anggota yang lainnya. Karena itulah dia tidak sempat menyelamatkan Maha Patih Galangan. Untungnya Pangeran Rawaja Pati langsung datang ke sana untuk membantu mereka. Dan pertarungan ini akhirnya bisa dihentikan.

__ADS_1


__ADS_2