DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 178


__ADS_3

Semakin lama pasukan Prabu Barajang semakin mendekat ke wilayah kekuasaan Prabu Putra Candrasa. Mereka sudah mulai melakukan penyerangan. Penyerangan besar-besaran dilakukan di sebuah desa di dekat perbatasan. Semua pasukan yang ada di sana, sangat kewalahan karena jumlah pasukan Prabu Barajang jauh lebih besar.


Namun karena itu adalah bagian dari strategi untuk menjebak pasukan Prabu Barajang, maka seluruh pasukannya ada di sana pun menarik mundur setelah beberapa lama mereka melakukan pertarungan. Penyerangan itu berlangsung dengan sangat cepat dikarenakan banyaknya pasukan dari Prabu Barajang, yang menerobos masuk ke perbatasan.


Para pasukan Prabu Putra Candrasa langsung mundur ke wilayah lain untuk memberitahukan kepada para pasukan yang masih berjaga di tiap-tiap wilayah. Sesuai dengan rencana para prajurit pun ditarik mundur, menuju ke benteng utama istana Kerajaan Putra Malela. Yang jaraknya sangat jauh dari perbatasan, dan juga posisi para pasukan Prabu Barajang.


Awalnya para pasukan datang dengan melakukan serangan ketapel raksasa, yang menyerang pedesaan di wilayah perbatasan. Serangan ketapel raksasa tersebut sudah pasti mampu membuat rumah-rumah warga hancur berantakan. Para pasukan yang berjaga di sana pun langsung panik mendengar adanya keributan.


Mereka mencoba melakukan perlawanan kepada para pasukan berkuda yang sudah menerobos masuk, ke desa-desa di wilayah perbatasan itu. Tetapi jumlah pasukan berkuda milik Prabu Barajang jauh lebih banyak, dibandingkan dengan para pasukan yang menjaga wilayah perbatasan. Apalagi para pasukan berkuda itu adalah pasukan yang sangat terlatih.


Para pasukan berkuda milik Prabu Barajang, menyerang secara membabi buta, kepada semua orang yang ada di sana, sekalipun warga sipil. Mereka semua tidak peduli, mau anak-anak ataupun perempuan. Karena bagi mereka, semua orang yang ada di kerajaan ini adalah musuh yang harus dibunuh. Dan kekejaman itu dilakukan atas perintah Prabu Barajang.


Para pasukan perbatasan juga banyak yang tewas. Hanya beberapa saja dari mereka yang berhasil selamat. Itupun kebanyakan dalam keadaan yang sudah terluka parah. Berapa Sudah nyampe jaga di perbatasan benar-benar diperlihatkan bagaimana kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Prabu Barajang. Bahkan mereka dengan tega membakar bayi hidup-hidup.

__ADS_1


Mereka juga melecehkan para gadis yang ada di desa. Dan membunuh semua laki-laki yang ada di sana, tanpa menyiksakan satupun. Suara teriakan, tangisan, maupun kesakitan, terdengar begitu jelas di wilayah perbatasan. Pakan suara-suara jeritan dan keributan pada waktu itu, sampai terdengar ke wilayah yang lain.


Maha Patih Galangan pada waktu itu langsung memberitahukan semua yang terjadi kepada Prabu Putra Candrasa. Walaupun semuanya berjalan sesuai dengan rencana, tetapi Prabu Putra Candrasa juga tidak bisa terima kalau rakyatnya diperlakukan semena-mena. Padahal rakyat sama sekali tidak mengetahui tentang peperangan ini.


Karena sudah sangat geram, akhirnya Prabu Putra Candrasa memutuskan untuk langsung melakukan penyerangan. Secara mendadak, Prabu Putra Candrasa membuat kembali strategi penyerangan yang akan ia lakukan. Prabu Putra Candrasa akan menyerang seluruh pasukan Prabu Barajang tanpa bantuan dari pasukan satupun.


Prabu Putra Candrasa ingin memancing seluruh pasukan Prabu Barajang untuk mengejarnya sampai ke wilayah pertambangan. Jadi pada intinya, Prabu Putra Candrasa ingin mempercepat rencana yang sudah ia buat, tetapi dengan cara yang berbeda. Karena rencana ini harus dilakukan dengan sangat cepat dan tepat.


Prabu Putra Candrasa sangat-sangat bersyukur memiliki Nyai Sukma Jaya. Karena Nyai Sukma Jaya benar-benar sangat bisa membantunya dalam situasi yang sangat mendesak, seperti sekarang ini. Dan ternyata, Nyai Sukma Jaya juga mampu membuat Kerajaan Putra Malela lenyap dari pandangan mata manusia. Kecuali yang memiliki kemampuan mata batin yang tinggi.


Nyai Sukma Jaya juga memang memiliki bakat untuk mengerahkan banyak pasukan yang tidak terlihat. Namun ia hanya mau menggunakan kemampuannya itu saat dalam keadaan yang mendesak. Kalau masih bisa menggunakan cara lain, maka Nyai Sukma Jaya akan lebih memilih cara lain. Sebenarnya, awalnya Nyai Sukma Jaya ingin mengirim teluh untuk pasukan Prabu Barajang. Namun terlalu beresiko.


Nyai Sukma Jaya tahu, kalau Prabu Barajang memiliki para cenayang yang melindunginya setiap saat. Kalau Nyai Sukma Jaya mengirimkan teluh kepada pasukannya, maka para cenayangnya pasti akan tahu. Dan semua rencana suaminya akan gagal. Ditambah lagi, dirinya juga pasti akan mendapatkan masalah, karena harus menghadapi para cenayang Prabu Barajang.

__ADS_1


Sedangkan Maha Patih Galangan sendiri, dia merasa sangat khawatir dengan Prabu Putra Candrasa. Karena ribuan pasukan Prabu Barajang sekarang sudah menyebar ke segala tempat, di wilayah perbatasan. Namun bukan Prabu Putra Candrasa namanya, kalau dia tidak melakukan hal-hal gila. Dia lebih baik mengambil resiko menghadapi ribuan pasukan, dari pada harus melihat rakyat dan pasukannya dibantai habis.


Saat ini, Maha Patih Galangan sedang bersama dengan para pasukan bandit yang disewa oleh Prabu Putra Candrasa, di salah satu wilayah pertambangan emas. Mereka yang jumlahnya ratusan itu, sudah terbiasa dengan orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dibanding mereka. Tidak ada sedikitpun rasa takut dalam wajah mereka. Apalagi setelah mereka mendapatkan bayaran yang sangat besar dari Maha Patih Galangan.


Resiko kematian, bagi para bandit seperti mereka adalah hal yang biasa. Mereka tidak akan takut melihat kematian, karena itu sudah menjadi resiko dari jalan hidup yang mereka pilih. Entah kenapa, Maha Patih Galangan menjadi tidak tega dengan apa yang akan ia lakukan kepada para bandit ini. Karena seperti yang diketahui, para bandit ini akan ditumbalkan untuk menghadapi para pasukan Prabu Barajang. Tetapi dia tidak mungkin menolak perintah dari Prabu Putra Candrasa.


"Apa kalian yakin akan melakukan ini?" Tanya Maha Patih Galangan kepada pimpinan mereka.


"Tenang saja Maha Patih, kami akan melakukan semuanya dengan baik. Sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Prabu Putra Candrasa."


Maha Patih Galangan belum terbiasa melakukan hal semacam ini. Dia masih trauma dengan apa yang ia alami saat masih bersama dengan Prabu Bawesi. Namun dia tidak bisa berbuat banyak, apalagi waktunya sangatlah sempit. Ditambah lagi, para bandit ini sifatnya tidak berbeda jauh dengan Prabu Bawesi. Mereka rakus kepada harta dan kekuasaan. Kalau mereka dibiarkan hidup di Kerajaan Putra Malela, maka mereka bisa membahayakan Prabu Putra Candrasa.


Akhirnya, Maha Patih Galangan mencoba untuk menguatkan dirinya. Dia adalah seorang Maha Patih. Kalau dia melemah, maka pasukannya juga akan melemah. Dia berusaha tegar dan tetap kuat. Mencoba melawan segala rasa takutnya. Meskipun kedua tangannya gemetar. Maha Patih Galangan memegang pedangnya erat-erat. Matanya menatap tajam ke arah depan. Dan dia terus menerus berdoa tanpa henti.

__ADS_1


__ADS_2