
"Hamba izin melapor Gusti Prabu." Ucap seorang anggota Pasukan Bara Jaya kepada Prabu Jabang Wiyagra.
"Silahkan pengawal."
"Beberapa orang prajurit yang dikirimkan ke medan perang, sekarang ada di halaman istana Gusti Prabu. Mereka membawa beberapa pakaian, yang sepertinya pakaian tersebut adalah milik pasukan dari Panglima Dara Gending. Tak hanya itu Gusti Prabu. Mereka juga menemukan gelang kulit harimau yang digunakan oleh Panglima Galang Tantra."
"Apa?! Bawa mereka masuk! Sekarang!" Perintah Prabu Jabang Wiyagra kepada pengawalnya itu.
"Nggih Gusti."
Prabu Jabang Wiyagra serasa mendapatkan sambaran petir yang sangat dahsyat, setelah ia mendengar kalau ada gelang kulit harimau yang sering digunakan oleh Panglima Galang Tantra, yang ditemukan oleh para prajurit di medan pertempuran. Prabu Jabang Wiyagra merasa sangat tidak percaya dengan hal tersebut. Karena selama puluhan tahun tidak ada satupun orang yang bisa melepas gelang yang digunakan oleh Panglima Galang Tantra. Kesaktian Panglima Galang Tantra tidak pernah tertandingi oleh siapapun. Kecuali Ratna Malangi. Sedangkan Ratna Malangi sudah tidak memiliki apa-apa lagi.
"Aku benar-benar tidak mempercayai hal tersebut Mbah Kangkas. Itu suatu hal yang sangat mustahil terjadi. Selama puluhan tahun, tidak ada satupun orang yang bisa melepaskan gelang milik Panglima Galang Tantra. Kecuali Panglima Galang Tantra sendiri yang melepaskannya." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Mbah Kangkas.
"Tenangkan hati Gusti Prabu terlebih dahulu. Hamba akan mencoba menerawang melalui gelang tersebut, untuk memastikan kalau gelang itu memang benar-benar milik Panglima Galang Tantra."
__ADS_1
"Iya Mbah."
Empat orang prajurit menghadap kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dan mereka menceritakan semua yang sudah terjadi di medan pertempuran. Serta menghadapkan bukti-bukti yang sudah mereka bawa kepada Prabu Jabang Wiyagra. Keempat orang prajurit tersebut menceritakan, kalau mereka menemukan gelang yang digunakan oleh Panglima Galang Tantra di sebuah gua, saat mereka sedang mengamankan wilayah yang sudah mereka taklukkan. Dan penemuan itu juga membuat para prajurit terkejut. Mereka juga masih belum percaya dengan apa yang mereka dapatkan di tempat itu.
Ditambah lagi dengan beberapa pakaian yang sudah sobek, milik para pasukan Panglima Dara Gending. Dilihat dari bekas robekan di pakaian tersebut, Prabu Jabang Wiyagra akan tidak asing dengan setiap sayatannya. Lagi-lagi Prabu Jabang Wiyagra dibuat terkejut. Karena robekan di pakaian milik pasukan Panglima Dara Gending bukanlah apakah sayatan sebuah pedang ataupun benda tajam lainnya. Melainkan sebuah cakaran binatang buas, yang tidak lain adalah cakaran kuku harimau. Di antara orang-orang itu, hanya Panglima Galang Tantra yang bisa merubah wujudnya menjadi seekor harimau.
Namun Prabu Jabang Wiyagra masih belum percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya ini. Prabu Jabang Wiyagra memberikan pakaian-pakaian yang sudah robek itu kepada Mbah Kangkas.
"Lihatlah Mbah. Coba lihat apa yang sudah terjadi kepada mereka."
Mbah Kangkas lalu memejamkan matanya sembari memegang pakaian-pakaian yang sudah robek itu. Mbah Kangkas memang mendapatkan sebuah gambaran. Sayangnya, Mbah Kangkas tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi kepada para pasukan Panglima Dara Gending. Namun Mbah Kangkas berkesimpulan, kalau para pasukan Panglima Dara Gending sempat mendapatkan sebuah serangan. Tapi menurut Mbah Kangkas, serangan itu bukanlah dari Panglima Galang Tantra. Karena Mbah Kangkas sama sekali tidak merasakan aura adanya keberadaan Panglima Galang Tantra.
"Saya yakin Gusti Prabu, Panglima Galang Tantra tidak mungkin melakukan hal sekeji ini kepada saudarinya sendiri."
"Ya. Aku percaya kepadamu Mbah. Tapi cobalah kembali dengan gelang ini." Kata Prabu Jabang Wiyagra sembari menyerahkan gelang yang diduga milik Panglima Galang Tantra kepada Mbah Kangkas.
__ADS_1
Mbah Kangkas langsung memegang gelang tersebut. Untuk melihat, apakah itu memang benar milik Panglima Galang Tantra atau bukan. Di sini barulah Mbah Kangkas mendapatkan gambaran yang cukup jelas mengenai keadaan Panglima Galang Tantra dan Panglima Dara Gending. Namun Mbah Kangkas tidak mengatakannya saat itu juga. Mbah Kangkas hanya tersenyum kepada Prabu Jabang Wiyagra, setelah ia mengetahui apa jawaban dari semua permasalahan ini. Prabu Jabang Wiyagra yang mengetahui kalau Mbah Kangkas sudah mendapatkan sesuatu, langsung memerintahkan keempat prajurit untuk kembali ke kesatuan mereka.
Para prajurit sama sekali tidak mengetahui apa yang dikatakan oleh Mbah Kangkas kepada Prabu Jabang Wiyagra. Para prajurit hanya sempat melihat, kalau Mbah Kangkas membisikkan sesuatu kepada Prabu Jabang Wiyagra. Namun melihat ekspresi wajah Mbah Kangkas, para prajurit sangat yakin kalau ada sebuah kabar baik. Para prajurit itu kembali dengan kuda-kuda mereka ke medan pertempuran. Karena tugas mereka hanyalah mengantarkan barang-barang tersebut kepada Prabu Jabang Wiyagra. Selebihnya mereka sudah tidak mau ikut campur lagi. Karena itu bukanlah utama tugas mereka.
Tugas para prajurit itu hanyalah berjuang di medan pertempuran. Sedangkan untuk masalah orang-orang penting di Kerajaan Wiyagra Malela, mereka jelas tidak berani untuk bertanya tentang hal tersebut. Kalaupun mereka memiliki keberanian untuk bertanya, tentu saja Prabu Jabang Wiyagra kita akan memberikan jawaban apapun kepada mereka. Para prajurit itu dengan cepat pergi berlalu dari istana Kerajaan Wiyagra Malela untuk kembali menjalankan tugas mereka. Sedangkan Mbah Kangkas dan Prabu Jabang Wiyagra berpindah ruangan, karena mereka berdua akan membahas sebuah masalah penting, yang tidak boleh didengar oleh siapapun yang ada di sana.
Entah apa yang mereka berdua perbincangkan, tidak ada satupun orang yang tahu. Bahkan Prabu Jabang Wiyagra sampai memerintahkan para prajurit yang berjaga di depan ruang pribadinya, untuk pergi dari sana. Prabu Jabang Wiyagra dan Mbah Kangkas benar-benar menutup rapat, apa yang telah terjadi dengan Panglima Galang Tantra dan Panglima Dara Gending. Para pelayan dan prajurit yang ada di sana juga bingung dengan perilaku Prabu Jabang Wiyagra dan Mbah Kangkas. Mereka berdoa seperti sedang memperbincangkan sebuah masalah yang sangat penting, tetapi dengan nada suara yang sangat-sangat lirih. Sehingga tidak ada satupun orang yang bisa mendengar, apa yang mereka berdua katakan.
*
*
Rumor menyebar dengan cepat di kalangan para prajurit. Namun bukannya malah takut dengan hal itu, para prajurit justru semakin dibuat penasaran. Karena hingga saat ini, Prabu Jabang Wiyagra tidak memberikan perintah apapun untuk melakukan pencarian kepada Panglima Dara Gending dan Panglima Galang Tantra. Merasa kalau Panglima Dara Gending dan Panglima Galang Tantra berada dalam bahaya, para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela semakin gencar melakukan penyerangan ke setiap wilayah yang sudah ditentukan oleh para pimpinan mereka. Karena mereka menganggap kalau Panglima Galang Tantra dan Panglima Dara Gending telah dilukai oleh musuh-musuh mereka.
Para prajurit semakin terpacu untuk melakukan penyerangan secara besar-besaran. Ribuan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela terus menerus bergerak. Seakan mereka tidak pernah mau berhenti untuk membantai musuh-musuh mereka. Karena hal tersebut, setiap hari ada saja mayat yang bergelimpangan. Setiap hari ada saja orang yang mati. Dan kebanyakan adalah dari pihak musuh Kerajaan Wiyagra Malela. Para prajurit tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan kepada Panglima Galang Tantra dan Panglima Dara Gending. Karena mereka berdua adalah orang yang sangat berjasa untuk Sang Maha Raja.
__ADS_1
Para prajurit merasa perlu untuk mengambil sebuah tindakan yang tegas kepada musuh-musuh mereka. Begitu juga dengan para Patih Kerajaan Wiyagra Malela yang menjadi mengganas setelah mereka tahu kalau ada penemuan sebuah gelang yang digadang-gadang adalah milik Panglima Galang Tantra. Mereka memerintahkan seluruh pasukan yang mereka miliki untuk menyusuri setiap wilayah-wilayah yang terpencil. Termasuk hutan-hutan belantara yang jarang dijamah oleh manusia. Mereka hanya ingin memastikan, Panglima Galang Tantra dalam keadaan baik-baik saja.