
“Cepat atau lambat, pasti paman dan adikmu akan kembali untuk menuntut balas, Nanda Prabu. Dan mereka bisa saja bersatu dengan ketiga kerajaan untuk menyerang kita.” Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
“Saya benar-benar tidak menyangka Romo Prabu, kalau Dimas Ditya Kalana akan menjadi seperti ini. Kalau dia memang sudah tahu semua kebusukan Paman Gabah Lanang, seharusnya dia kembali kepadaku.”
“Hati Ditya Kalana sudah dikuasai oleh iri dan dengki, Nanda Prabu. Kamu harus berfikir ribuan kali, sekali pun dia bersujud di hadapanmu. Karena tidak menutup kemungkinan dia mewarisi kelicikan Gabah Lanang.”
“Gabah Lanang sangat pandai mencuci pemikiran seseorang, terutama orang-orang yang masih lugu. Seperti Ditya Kalana, adikmu. Tetaplah waspada Nanda Prabu. Dan mulai sekarang, jangan meninggalkan kerajaanmu tanpa perintah dariku.”
“Nggih Romo Prabu.”
“Sekarang kembalilah ke Batih Reksa. Tunggu kabar selanjutnya dariku. Dan jangan lupakan perintahku ini.”
“Nggih Romo Prabu. Saya izin undur diri, dan kembali ke Batih Reksa.”
“Silahkan Nanda Prabu. Doaku selalu menyertaimu.”
“Nggih Romo.”
Prabu Sura Kalana dan para pengawalnya pun akhirnya pulang ke Kerajaan Batih Reksa. Prabu Jabang Wiyagra sebenarnya khawatir dengan keadaan yang tidak menentu ini. Dia tidak mungkin melakukan serangan kepada sebuah kerajaan yang sudah diambang kehancuran. Karena itu bisa mengurangi kepercayaan orang-orang kepada dirinya.
Dia tidak akan bertindak sebelum bermusyawarah dengan para raja-raja besar lainnya. Karena sekarang, Kerajaan Rawaja Pati, Kerajaan Candramawa, dan Kerajaan Antasura, masih sedang dalam masa perbaikan dan masa pengembangan.
Mereka masih menata ulang kerajaan mereka yang telah dirusak oleh pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela. Suatu hal yang memalukan jika Prabu Jabang Wiyagra menyerang musuh dengan kekuatan yang sama sekali tidak seimbang, dan bahkan sangat kekurangan kekuatan.
__ADS_1
Kekuatan ketiga kerajaan itu seakan memudar dalam waktu satu malam. Dari kabar yang tersiar, rakyat Kerajaan Rawaja Pati sempat melakukan pemberontakan, karena mereka kelaparan. Dan Prabu Suta Rawaja tidak mengirimkan bantuan pangan sedikit pun.
Hal itu dikarenakan persediaan pangan di istana Rawaja Pati, sebagian besar telah terbakar karena serangan dari Mangku Cendrasih. Dan hanya cukup untuk para prajurit. Sebagian kerajaan-kerajaan kecil yang ada dibawah kepemimpinan Prabu Suta Rawaja pun mulai memerdekakan diri mereka. Dan memutuskan untuk berdiri sendiri.
Atas terpecahnya beberapa daerah kekuasaan Kerajaan Rawaja Pati, jelas akan membawa dampak besar bagi perekonomian mereka. Banyak pedagang asing yang mulai menarik diri mereka dari sana, karena takut kalau mereka akan terkena imbas dari peperangan ini. Dan hanya tersisa beberapa kelompok saja yang masih bertahan disana.
Kebanyak dari pedagang asing itu adalah para penjual pernak-pernik dan juga para pedagang pakaian untuk orang-orang kaya. Merekalah yang selama ini menjadi penyetor pajak paling besar kepada Kerajaan Rawaja Pati, dikarenakan usaha mereka berkembang sangat pesat di wilayah kerajaan besar itu.
Dengan perginya mereka kembali ke negeri asal mereka, sudah tentu pendapatan negara akan berkurang drastis. Belum lagi dengan para pejabat istana yang masih belum sembuh dari luka mereka. Maha Patih Raseksa hingga kini juga masih belum sadarkan diri. Dia masih terbaring tak berdaya di ruang pengobatan.
Istana megah Kerajaan Rawaja Pati masih belum bisa dihuni karena harus diperbaiki. Dan membutuhkan waktu yang lama. Sehingga saat ini, Prabu Suta Rawaja dan para abdinya membangun sebuah istana sementara, sebagai tempat tinggal mereka. Sampai istana besar bisa kembali ditinggali.
Tanpa kehadiran seorang Maha Patih Raseksa, dan juga para prajurit yang sekarang jumlahnya sudah tidak sebanyak dulu, kekuatan Kerajaan Rawaja Pati menjadi sangat rentan. Bisa saja ada kerajaan lain yang ingin menduduki kerajaan besar itu.
Kalau digabungkan, maka kekuatan pasukan dari kerajaan-kerajaan kecil itu sudah mampu untuk menggulingkan kekuasaan Prabu Suta Rawaja. Namun mereka sepertinya masih berfikir dua kali, karena Prabu Suta Rawaja adalah seorang raja yang sakti dan tidak mudah dikalahkan.
......................
Prabu Suta Rawaja tidak tinggal diam begitu saja. Peristiwa pada malam itu membuatnya sadar, dan dia berubah menjadi orang yang sangat-sangat waspada. Tapi, dia juga berubah menjadi orang yang penakut. Dan mudah panik.
Peristiwa pembantaian di Kerajaan Antasura membuatnya trauma dan tidak bisa melupakan semua kengerian yang terpampang jelas di depan matanya. Sejak saat itu, dia menjadi kesulitan tidur.
Istana kecilnya itu juga selalu dijaga dengan ketat selama dua puluh empat jam penuh. Para prajurit berjaga secara bergantian. Prabu Suta Rawaja juga tidak mengizinkan para Patih dan Punggawa yang sudah sembuh untuk kembali ke keluarga mereka. Karena mereka harus terus menerus menjaganya.
__ADS_1
Bahkan saking tidak relanya, Prabu Suta Rawaja mengizinkan para pejabat penting istana yang ada untuk membawa keluarga mereka, supaya mereka tetap berada disana. Rasa kekhawatirannya akan Prabu Jabang Wiyagra benar-benar sudah membuatnya gila.
Hampir setiap hari dia selalu memimpikan Prabu Jabang Wiyagra, setiap kali dia berhasil lelap dalam tidurnya. Dan hal itu membuatnya sangat tersiksa. Seakan Prabu Jabang Wiyagra mengejarnya setiap saat saat. Prabu Jabang Wiyagra menjadi hal paling menakutkan dalam hidupnya.
Setiap kali Prabu Suta Rawaja mendapatkan surat dari Prabu Jabang Wiyagra, dia tidak pernah mau membacanya. Dia akan mengalami kepanikan hebat kalau dia tahu ada surat dari Prabu Jabang Wiyagra. Tapi hal itu ia sembunyikan dari pasukannya. Dan meminta para prajurit untuk menyimpan saja surat-surat itu, untuk ia baca lain kali.
Itu hanya alasan Prabu Suta Rawaja agar tidak terlihat seperti pengecut dihadapan pasukannya sendiri. Dia tidak mau sampai pasukannya tahu kalau dia memiliki ketakutan besar kepada Prabu Jabang Wiyagra, karena itu akan mempengaruhi rasa percaya pasukannya kepada dirinya.
Itulah kenapa surat-surat yang dikirimkan Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah balas. Jangankan membalas, menyentuh surat dari Prabu Jabang Wiyagra saja sudah membuatnya bergidik ngeri, dan mengingatkannya kembali pada peristiwa pembantaian malam itu.
Pikirannya menjadi sangat kacau. Kejiwaannya jelas sudah terganggu. Ketakutan pada Prabu Jabang Wiyagra sudah mendarah daging dalam diri Prabu Suta Rawaja. Sekali pun dia sudah mencoba keras untuk melupakannya, tapi tetap saja dia ia gagal.
Prabu Suta Rawaja mencoba menyibukkan dirinya dengan mulai menata kembali kerajaannya yang sudah hancur. Dia kembali membangun istananya dan semakin hari istana itu semakin bagus. Dia juga menghubungi semua raja-raja yang dibawah kepemimpinannya, yang masih setia kepadanya.
Dia ingin mengembalikan lagi kepercayaan dunia luar kepada dirinya. Membangun kembali jalur perdagangan yang sebelumnya telah dirusak dan dihentikan secara paksa oleh Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya.
Prabu Suta Rawaja juga membangun kembali tempat-tempat hiburan yang sekarang jauh lebih baik dan jauh lebih indah dari sebelumnya.
Orang-orang yang menurutnya cerdas, diangkat menjadi pejabat istana. Mereka ditempatkan di wilayah perdagangan, tempat hiburan, dan juga wilayah-wilayah penting lainnya. Kesibukannya itu sedikit mengurangi beban pikirannya yang sebelumnya telah rusak. Walau pun belum bisa sembuh sepenuhnya, setidaknya sekarang Prabu Suta Rawaja jauh lebih baik.
Dia mulai bisa mengontrol dirinya. Dia juga semakin berbakat dalam mengatur pemerintahannya. Hanya saja sifatnya yang sudah menjadi jati dirinya itu memang sulit dihilangkan. Yaitu sifat pendendam. Dia melakukan semua itu bukan hanya untuk menyembuhkan trauma, tapi juga untuk membalas rasa sakitnya kepada Prabu Jabang Wiyagra.
Dia ingin membalaskan dendamnya suatu hari nanti, kalau dia sudah berhasil mengembalikan kejayaan Kerajaan Rawaja Pati seperti semula.
__ADS_1