
Ditya Kalana, setelah dia berhasil selamat dari pertarungannya dengan Prabu Bujang Antsura, Ditya Kalana kembali ke bukit tempat dimana dia menimba ilmu kepada seorang guru. Dia belajar banyak kepada seseorang yang telah menjadi gurunya.
Pendekar sakti mandraguna itu tidak pernah menyebutkan namanya kepada Ditya Kalana. Sehingga Ditya Kalana memanggil gurunya itu dengan sebutan 'Romo'. Ditya Kalana kembali mempelajari jurus-jurusnya yang telah lama tidak dia gunakan.
Berkat bimbingan dari kakek tua itu, Ditya Kalana berhasil menguasai banyak sekali ilmu hitam kelas tinggi. Sekarang tubuhnya sudah semakin kuat. Semakin hari dia juga semakin sakti, karena ilmunya terus bertambah.
Si kakek tua yang menjadi guru Ditya Kalana benar-benar mengajari anak itu dengan sangat baik. Banyak hal-hal baru yang Ditya Kalana dapatkan selama dia berguru kepada si kakek. Dia bisa memiliki ajian-ajian tingkat tinggi yang sudah lama hilang.
Dan yang luar biasanya adalah, Ditya Kalana sudah menguasai Ajian Pancasona. Ajian itu adalah ajian yang sangat langka. Dan tidak sembarang orang mampu mempelajarinya. Tapi karena tekad Ditya Kalana yang kuat, dia pun berhasil menguasai ajian kelas tinggi tersebut.
Dengan adanya Ajian Pancasona, maka Ditya Kalana akan menjadi sosok yang sulit dikalahkan. Karena tidak banyak orang yang mampu melawan para pemilik Ajian Pancasona. Setiap kali pemilik ajian itu dibunuh, maka dia akan kembali hidup seperti semula.
Sekali pun jasadnya dipotong-potong, tetap saja akan menyambung kembali. Karena satu-satunya kelemahan Ajian Pancasona adalah memotong jasad si pemilik ajian tersebut, lalu dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dan itu pun tidak boleh menyenuh tanah.
Jika sampai jasad si pemilik Ajian Pancasona menyentuh tanah, jasad itu akan kembali seperti sedia kala. Jadi sekarang, Ditya Kalana sudah hampir setara dengan Maha Patih Putra Candrasa. Maha Patih Putra Candrasa juga memiliki ajian tersebut.
Ajian Pancasona yang melegenda sudah lama tidak terdengar lagi kabarnya. Karena untuk menguasai ajian tersebut, dibutuhkan kesabaran dan ketabahan. Banyak proses yang harus dilewati untuk menguasai ajian tersebut secara sempurna.
Dan seroang Ditya Kalana sudah mampu menguasai ajian itu berkat ketabahan dan kesabarannya. Tapi sayangnya, Ditya Kalana tidaklah sama dengan Maha Patih Putra Candrasa. Dia memiliki niat terselubung, yaitu untuk menguasai kembali Kerajaan Reksa Pati, yang sekarang sudah dipegang oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Kerajaan yang ia bangun bersama dengan para pendukungnya itu sudah memakan banyak sekali biaya. Dan juga mengorbankan banyak nyawa. Karena selama masa pembangunan, Ditya Kalana sudah mengorbankan, atau lebih menumbalkan abdinya sendiri untuk memperkokoh semua lapisan bangunan istananya.
Hal itu dilakukan atas saran dari Gabah Lanang. Tidak heran kalau bekas istana Kerajaan Reksa Pati sulit ditembus oleh orang biasa, karena istana Kerajaan Reksa Pati dibangun dengan darah, daging, dan tulang orang-orang yang tidak bersalah.
__ADS_1
Jiwa-jiwa tak bersalah itu terus menghantui dan membayangi seluruh penghuni istana, termasuk Ditya Kalana sendiri. Namun karena Gabah Lanang adalah penganut ilmu hitam, dia jelas menyukai hal itu. Berbanding terbalik dengan orang lain selain dirinya yang tinggal di istana itu.
Untuk membangun kembali kerajaannya yang telah direbut oleh Prabu Jabang Wiyagra, Ditya Kalana jelas membutuhkan pasukan yang jumlahnya tidak sedikit. Dan itu memerlukan waktu yang sangat lama. Karena pasca pertempuran Kerajaan Rawaja Pati dengan Kerajaan Wiyagra Malela, banyak orang yang sudah menjadi korban.
Ditya Kalana harus membuktikan kekuatannya terlebih dahulu dihadapan orang-orang, agar banyak yang percaya, kemudian mengikutinya. Cara lama, yaitu pemaksaan, sudah tidak terlalu efektif untuk mewujudkan impian-impiannya.
Ditya Kalana ingin meniru cara yang digunakan oleh Prabu Jabang Wiyagra, yaitu mengambil simpati rakyat. Dengan begitu, dia bisa memiliki apa pun yang ia mau.
"Ingat anakku, Prabu Jabang Wiyagra bukanlah orang sembarangan. Dia lebih sakti dari dirimu. Kau harus menggunakan cara lain untuk bisa mengalahkannya." Ucap guru dari Ditya Kalana.
Selesai latihan, Ditya Kalana dan gurunya berbincang untuk membahas masalah pergerakan yang akan dilakukan oleh Ditya Kalana. Si kakek tua mencoba untuk merubah pemikiran Ditya Kalana yang selalu urakan dan semaunya sendiri.
"Cara yang lain guru?"
"Tapi guru, aku hanya ingin mengalahkan Prabu Jabang Wiyagra. Kalau aku bisa mengalahkannya, maka aku akan mendapatkan semuanya guru."
"Bodoh!" Bentak si kakek tua yang membuat Ditya Kalana langsung menciut nyalinya.
"Kamu harusnya belajar Ditya Kalana! Kerajaanmu hancur karena ulahmu suka bermain kasar. Rakyatmu sendiri bahkan membencimu! Raja macam apa itu?!"
"Maaf guru. Tapi saya benar-benar belum bisa menerima semua pengkhianatan Prabu Jabang Wiyagra kepada saya. Dia dulu berjanji akan membantu pasukan saya melawan Kerajaan Batih Reksa. Tapi justru sebaliknya, dia membiarkan saya kalah begitu saja."
"Itu bukan salah Prabu Jabang Wiyagra. Tapi itu adalah kesalahanmu. Sebagai seorang raja, kamu harusnya mampu berdiri sendiri, tanpa harus meminta bantuan siapa pun."
__ADS_1
".....Belajarlah kepada musuhmu Ditya Kalana. Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah meminta bantuan siapa pun. Tapi bantuan yang datang sendiri kepadanya."
Ditya Kalana mencoba memahami ucapan si kakek tua. Selama ini, dia memang terlalu bodoh untuk menjadi seorang raja. Bahkan dari segi ilmu kanuragan, dialah yang paling lemah diantara raja-raja besar yang lainnya.
Selama masa pemerintahannya yang terkenal kuat, itu semua karena ada Patih Kinjiri yang selalu ada di sampingnya. Kalau tidak ada Patih Kinjiri, tidak mungkin Kerajaan Reksa Pati bisa menjadi kerajaan yang besar dan ditakuti oleh musuh-musuhnya.
Bahkan pengaruh seorang Gabah Lanang pun masih kalah jauh dengan Patih Kinjiri. Patih Kinjiri ahli dalam segala hal, dan selalu bisa diandalkan. Berbeda dengan Gabah Lanang yang hanya pandai bicara tanpa mau turun langsung bersama pasukannya.
Ditya Kalana mulai memikirkan saran dari gurunya itu. Semua yang dikatakan gurunya memang benar. Tapi dia benar-benar sudah tidak sabar ingin segera menguasai Kerajaan Wiyagra Malela, dan mengalahkan Prabu Jabang Wiyagra.
Dia ingin menuntut balas kekalahannya di masa lalu, sekaligus menuntut pertanggung jawaban atas pengkhianatan yang dilakukan Prabu Jabang Wiyagra kepadanya. Dia tidak ingin membuang-buang waktu, seperti apa yang dikatakan oleh gurunya.
Dia ingin semuanya berlangsung secara instan dan cepat, sesuai dengan keinginannya. Pemikiran dan impian Ditya Kalana memang sangat-sangat tinggi. Dan hal itulah yang membuat gurunya sering memarahinya. Karena Ditya Kalana tidak benar-benar mempelajari arti ketabahan dan kesabaran.
Padahal kalau dulu Ditya Kalana bisa lebih bersabar dan lebih teliti lagi, kekuatan Kerajaan Reksa Pati sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan kerajaan-kerajaan besar yang lainnya. Kalau pun tidak, setidaknya Kerajaan Reksa Pati masih bisa bertahan hingga detik ini.
Tetapi karena kecerobohan dan kesombongan, akhirnya dia pun mengalami kekalahan telak. Banyak pasukannya yang mati. Dia dikhianati oleh Maha Patih-nya sendiri. Juga dibenci oleh rakyatnya sendiri. Karena kekalahan Ditya Kalana saat melawan pasukan dari Kerajaan Batih Reksa, membuat banyak orang menjadi kehilangan keluarga mereka.
"Kalau begitu, guru bimbanglah saya untuk membangun kembali Kerajaan Reksa Pati. Saya mohon guru. Karena hanya gurulah yang mampu merubah pandangan saya terhadap cara lama."
"Aku jelas membimbingmu, karena kamu adalah muridku. Tapi sebagai seorang murid, kamu harus patuh kepadaku. Jangan pernah sekali pun kamu membantah perintahku. Kamu paham?!"
"Saya paham guru."
__ADS_1