
"Mohon maaf Gusti Prabu. Hamba dan semua Pasukan Bara Jaya sudah berupaya sebaik mungkin untuk mendapatkan kabar tentang hilangnya Puger Satriya dan Arya Panunggul. Tetapi mereka berdua sangat-sangat sulit untuk dicari, Gusti Prabu. Seperti ada suatu kekuatan besar yang menghalangi keberadaan mereka." Ucap Panglima Galang Tantra kepada Prabu Jabang Wiyagra.
"Saudaraku Panglima Galang Tantra. Aku khawatir kalau mereka berdua nantinya akan dijadikan senjata oleh musuh-musuhku untuk membunuhmu. Karena sebelum mereka membunuh semua pasukanku, mereka akan menghabisi dirimu terlebih dahulu, karena kamu adalah orang yang paling kuat di kerajaan ini."
"Hamba sama sekali tidak mengerti, Gusti Prabu."
Prabu Jabang Wiyagra lalu mengingatkan kembali kepada Panglima Galang Tantra, saat dirinya belum menjadi abdi di Kerajaan Wiyagra Malela. Dulu, beberapa tahun yang lalu, Panglima Galang Tantra adalah salah satu anggota kelompok Satrio Luhur. Dan menjadi orang yang cukup dipercaya oleh Wira Satya. Kala itu, Panglima Galang Tantra diperintahkan oleh Wira Satya untuk membunuh salah satu murid Kawirit yang paling berpengaruh.
Murid kesayangan Kawirit itu bernama Ganda Ruwo. Ganda Ruwo adalah satu-satunya murid terbaik yang Kawirit miliki, dan pantas untuk menjadi penerusnya di kemudian hari. Waktu itu, Panglima Galang Tantra pergilah sendirian tanpa ditemani oleh para anggota Satrio Luhur yang lainnya. Karena itu adalah sebuah tugas rahasia, yang tidak boleh seorang pun tahu selain Panglima Galang Tantra dan Wira Satya saja.
Pada malam pembunuhnya, Ganda Ruwo sedang bersama dengan murid Kawirit yang lainnya. Ganda Ruwo sedang menyusun rencana untuk membalas kematian Kawirit. Namun Ganda Ruwo tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedang mengawasinya dari kejauhan. Siapa lagi kalau bukan Panglima Galang Tantra, yang kala itu sedang mencari celah untuk menghabisinya, dengan sebuah belati yang sudah ia bawa di tangannya.
Panglima Galang Tantra benar-benar bersabar dan sangat berhati-hati, karena banyak sekali murid Kawirit yang masih hidup ada di sana. Panglima Galang Tantra mendekat sedikit demi sedikit ke sebuah rumah yang menjadi tempat tinggal Ganda Ruwo. Panglima Galang Tantra mendengarkan setiap kata yang dikeluarkan oleh Ganda Ruwo kepada para bawahannya, yang berkumpul di rumah itu.
__ADS_1
Dan semua yang ada di sana adalah orang-orang penting, yang sebelumnya mendukung pergerakan Kawirit melawan Wira Satya. Sedangkan puluhan orang yang berada di luar rumah hanyalah murid biasa dari Kawirit yang menjadi anak buah Ganda Ruwo. Waktu itu Ganda Ruwo mengatakan kepada para bawahannya, kalau dia ingin sekali membunuh Wira Satya, dan sedang berusaha mencari kelemahannya.
Ganda Ruwo suka memerintahkan kepada para bawahannya itu untuk melakukan serangan kepada para pendekar dan juga padepokan yang ada di seluruh wilayah kekuasaan kelompok Satrio Luhur. Ganda Ruwo bahkan sudah menyiapkan sebuah pupuk beracun untuk ditaburkan ke sebuah sumur, yang menjadi tempat penampungan air milik para warga desa. Dengan begitu, akan banyak sekali orang yang terjangkit penyakit menular.
Semakin lama, maka keadaan rakyat akan semakin kacau. Mereka akan melakukan apa saja untuk sembuh dari penyakit yang mereka derita. Wira Satya beserta para anggota Satrio Luhur juga akan kerepotan menangani wabah penyakit tersebut. Panglima Galang Tantra yang mendengar hal itu merasa tidak terima dengan apa yang akan diperbuat oleh Ganda Ruwo dan kelompoknya.
Yang awalnya Panglima Galang Tantra hanya ditugaskan untuk membunuh secara diam-diam, sekarang dia tiba-tiba muncul di hadapan Ganda Ruwo dan orang-orangnya, dengan cara mendobrak pagar rumah itu. Ganda Ruwo dan para pengikutnya pun dengan kehadiran Panglima Galang Tantra yang secara tiba-tiba ada di sana. Mereka semua langsung mengeluarkan senjata mereka masing-masing untuk menyerang Panglima Galang Tantra.
Ganda Ruwo berteriak dengan sangat keras, karena pupuk racun tersebut juga mengenai wajahnya. Ganda Ruwo panik dan langsung masuk ke dalam kamar, untuk mencari penawar bubum racun itu. Tetapi Panglima Galang Tantra juga mengikutinya dari belakang dan langsung menyerangnya, hingga dia terlempar keluar kamar. Panglima Galang Tantra selalu berhasil menghindari serangan dari para pengikut Ganda Ruwo.
Panglima Galang Tantra seketika lari dari tempat itu setelah dia berhasil menyerang Ganda Ruwo. Pada masa itu, Panglima Galang Tantra belum sesakti seperti sekarang. Sehingga dia memilih untuk melarikan diri. Jumlah pengikut Ganda Ruwo juga sangat banyak, dan Panglima Galang Tantra tidak akan mampu untuk melawan mereka semua sendirian, karena semua kemampuan mereka juga di atas rata-rata.
Panglima Galang Tantra lari sekencang-kencangnya, mencari tempat persembunyian. Panglima Galang Tantra juga menggunakan Ajian Kidang Kuning yang ia miliki agar bisa kabur meninggalkan tempat itu dengan cepat. Para pengikut Ganda Ruwo yang lainnya juga berusaha untuk menolong Ganda Ruwo yang tidak berhenti menggaruk tubuhnya sendiri, karena rasa panas dan gatal yang luar biasa, yang menyerang seluruh bagian-bagian kulit yang ada di tubuhnya.
__ADS_1
Efek bubuk beracun itu sangatlah dahsyat. Karena dalam waktu sekejap, wajah Ganda Ruwo sudah berubah menjadi sangat mengerikan. Panas dan gatal membuat kulit-kulit wajahnya melepuh dan menjadi rusak. Tak hanya itu, luka itu juga mengeluarkan bau busuk yang sangat-sangat menyengat. Membuat semua orang yang ada di sana menjadi merasa jijik saat melihat wajahnya. Bahkan, mereka meninggalkan Ganda Ruwo di sana begitu saja.
Baik para pengikut maupun anak buahnya, tidak ada satupun yang peduli terhadap keadaan Ganda Ruwo. Anak buah Ganda Ruwo juga tidak bisa menemukan penawar yang dicari-cari oleh Ganda Ruwo. Yang ternyata, penawarnya sudah diambil oleh Panglima Galang Tantra. Jadi, pada saat Panglima Galang Tantra menyerang Ganda Ruwo, sebenarnya Ganda Ruwo sudah mendapatkan penawar yang ia simpan di dalam kamarnya.
Dan pada saat yang bersamaan, obat penawar bubuk beracun itu jatuh ke tanah setelah Panglima Galang Tantra menendangnya hingga terlempar dari kamar. Panglima Galang Tantra langsung membawa obat penawar bubuk beracun itu kepada Wira Satya. Wira Satya mempelajari semua ramuan yang terkandung di dalam obat penawar racun tersebut. Yang lebih mencengangkan adalah, obat penawar itu sama sekali tidak bisa menyembuhkan.
Ganda Ruwo salah dalam membuat obat penawarnya. Yang kemudian itu memunculkan sebuah ide baru bagi Wira Satya. Dia ingin Panglima Galang Tantra kembali ke tempat tinggal Ganda Ruwo untuk menyerahkan obat yang gagal itu. Panglima Galang Tantra harus berpura-pura memberikan obat itu. Dengan jaminan, Ganda Ruwo mau memberikan sebagian besar emas yang ia miliki kepada Panglima Galang Tantra.
Hal itu benar-benar dilakukan oleh Panglima Galang Tantra. Keesokan harinya, Panglima Galang Tantra kembali mendatangi tempat tinggal Ganda Ruwo dan memberikan Ganda Ruwo sebuah penawaran. Singkatnya, Ganda Ruwo setuju untuk memberikan sebagian besar emas yang ia simpan, untuk diberikan kepada Panglima Galang Tantra. Ganda Ruwo saat itu sudah kacau. Dia hanya bisa meringis menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Setelah menerima emas, dan menyerahkan obat penawar racun yang gagal total itu, Panglima Galang Tantra langsung pergi meninggalkan Ganda Ruwo, yang pada saat itu sedang bersama dengan adik perempuannya, yang sekarang dikenal sebagai Ratna Malangi. Namun yang tidak pernah disangka-sangka oleh Ganda Ruwo adalah, obat itu justru membuat lukanya semakin parah. Ganda Ruwo merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.
Ratna Malangi yang melihat hal itu hanya bisa menangis histeris. Dia meminta bantuan ke sana kemari, tapi tidak ada yang mau menolongnya. Bahkan, para mantan pengikut Ganda Ruwo dengan tega memperkosa Ratna Malangi yang saat itu belum menjadi seorang pendekar. Hal itu mereka lakukan secara bergiliran. Sampai Ratna Malangi tidak sadarkan diri. Sampai pada akhirnya, Ganda Ruwo tewas. Dan Ratna Malangi menghilang entah kemana.
__ADS_1