DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 200


__ADS_3

Sore hari, Prabu Jabang Wiyagra mendapatkan sebuah surat yang katanya dikirimkan oleh Prabu Gala Ganda, melalui utusannya yang hanya sampai ke perbatasan Kota Karta Mulya. Para pasukan penjaga di Kota Karta Mulya sempat tidak mau mengirimkan surat tersebut, karena mereka mengira kalau isi surat itu adalah surat ancaman.


Namun setelah surat itu disampaikan, ternyata isinya adalah surat perjanjian damai yang ditujukan kepada Prabu Jabang Wiyagra. Namun Prabu Jabang Wiyagra tidak menerima perjanjian damai tersebut mentah-mentah. Prabu Jabang Wiyagra ingin meneliti terlebih dahulu, ada maksud apa dari perjanjian damai tersebut. Karena Prabu Jabang Wiyagra tahu kalau Prabu Gala Ganda adalah orang yang sangat licik.


"Aku tidak mau menerima perjanjian damai itu begitu saja. Aku tahu kalau Prabu Gala Ganda orang yang sangat licik dan tidak tahu malu. Dia rela melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang ia inginkan." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Maha Patih Lare Damar.


Maha Patih Lare Damar juga memiliki pendapat yang sama. Dia juga sudah mengira kalau surat perjanjian damai itu hanyalah akal-akalan Prabu Gala Ganda untuk mencari aman saja.


"Mohon maaf Kakang Prabu, hamba juga berpendapat sama. Hamba rasa, itu hanyalah siasat Prabu Gala Ganda untuk mencari aman saja. Hamba yakin, Prabu Gala Ganda pasti sedang merencanakan sesuatu."


"Benar Gusti Prabu. Hamba setuju dengan pendapat Maha Patih Lare Damar. Prabu Gala Ganda pasti sedang merencanakan sesuatu yang besar. Hamba sudah mengirimkan mata-mata ke Kerajaan Putra Bathara, Gusti Prabu. Semoga saja tidak ada masalah besar yang menanti kita." Kata Panglima Galang Tantra.


"Baiklah. Aku putuskan, kalau aku tidak akan pernah menerima surat perjanjian damai ini. Lagi pula, kedua guru besarku sudah memberikan perintah pembersihan untuk para penguasa-penguasa itu. Aku lebih baik mengikuti perintah dari guruku, daripada harus memperjuangkan seseorang yang tidak pasti."


Semua orang yang ada di sana mendukung penuh keputusan dari Prabu Jabang Wiyagra. Mereka juga tidak berharap kalau Prabu Jabang Wiyagra menerima surat perjanjian damai itu. Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Lare Damar juga menginginkan hal yang sama, yaitu pembersihan musuh-musuh Kerajaan Wiyagra Malela sepenuhnya.


......................

__ADS_1


Di istananya, Prabu Putra Candrasa bersama Maha Patih Galangan sedang menghadiri pemakaman para prajurit yang gugur akibat serangan Prabu Gala Ganda dan pasukannya. Hatinya memanas, matanya memerah penuh amarah. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya mengepal dengan kencang. Maha Patih Galangan yang melihat hal itu hanya bisa memakluminya.


Siapa yang terima kalau tiba-tiba saja kedamaian dan ketenangannya diusik. Bahkan seekor semut kucing pun akan mencakar siapa saja yang berani mengusik ketenangannya. Apalagi manusia. Prabu Putra Candrasa adalah seorang raja yang sangat dicintai rakyatnya sekarang. Dia merasakan kesedihan orang-orang yang ditinggalkan.


Sore hari itu dibalut hujan deras. Maha Patih Galangan dengan setia menemani rajanya. Dia juga tidak berani mengajak Prabu Putra Candrasa pergi dari sana. Saat ini Prabu Putra Candrasa sedang tidak baik-baik saja. Hatinya sedang dipenuhi dengan kebencian dan dendam yang membara. Di pemakaman para pasukannya yang gugur, Prabu Putra Candrasa berkata,


"Aku bersumpah. Siapa saja orang yang terlibat dalam penyerangan ini, akan aku buat menderita hidupnya. Aku akan memperlakukannya serendah mungkin, lebih rendah daripada seekor hewan. Aku juga bersumpah akan melenyapkan semua orang-orang yang ia cintai." Ucap Prabu Putra Candrasa dengan menahan amarah yang menggelora di dadanya.


Setelah selesai di pemakaman itu, Prabu Putra Candrasa lalu kembali ke istananya. Dari dalam istana, Nyai Sukma Jaya begitu mengkhawatirkan keadaan suaminya, yang semenjak kejadian penyerangan, sikap Prabu Putra Candrasa mulai berubah. Dia lebih banyak diam dan menghabiskan waktu di ruang meditasi untuk meningkatkan ilmu kanuragannya.


Nyai Sukma Jaya mencoba mendatangi suaminya, dia berharap Prabu Putra Candrasa bisa menerima semua hal yang sudah terjadi. Karena kematian pasukannya tidaklah sepenuhnya kesalahan Prabu Putra Candrasa. Prabu Putra Candrasa sudah berusaha dengan sangat baik untuk menjaga keamanan di Kerajaan Putra Malela. Namun orang-orang jahat itu selalu saja ingin mencobai kekuatannya.


"Kanda, tidak semua masalah harus diselesaikan sekarang. Kanda ini manusia, bukan dewa, yang bisa melakukan segalanya." Kata Nyai Sukma Jaya kepada Prabu Putra Candrasa.


Prabu Putra Candrasa menarik nafas, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak menyangka, kalau menjadi seorang raja ternyata jauh lebih berat daripada menjadi seorang Maha Patih. Sekarang dia sudah merasakan sendiri apa yang Prabu Jabang Wiyagra rasakan. Prabu Putra Candrasa sering dihadapkan pada pilihan sulit.


Selama dia menjadi raja, waktunya bersama Nyai Sukma Jaya benar-benar berkurang. Prabu Putra Candrasa selalu disibukkan dengan urusan pemerintahan yang selalu dihadapkan dengan kekacauan. Apalagi Kerajaan Putra Malela belum lama didirikan. Masih banyak yang harus dibangun di tempat ini. Walaupun bangunannya kokoh, akan percuma saja kalau orang-orang di dalamnya tidak sekokoh bangunan istananya.

__ADS_1


Prabu Putra Candrasa ingin semuanya kuat, baik dari luar ataupun dari dalam. Karena dia tidak mau selamanya mengandalkan bantuan dari Prabu Jabang Wiyagra. Dia sudah menjadi seorang raja sekarang. Sudah waktunya dia berusaha untuk berkembang dan menang dengan caranya sendiri. Dia ingin mengikuti jejak Prabu Jabang Wiyagra yang sudah bertahun-tahun mendidiknya.


"Aku tidak menyangka Dinda, kalau ternyata menjadi seorang raja bukanlah hal yang mudah. Selama ini aku berfikir, kalau menjadi seorang raja adalah sebuah hal indah. Aku bisa menikmati semua keindahan istana besarku yang mewah. Tapi nyatanya tidak."


"....Aku bahkan tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan sekarang. Semuanya terasa buntu. Aku seperti tidak memiliki jalan keluar atas masalahku sendiri. Aku tidak mau terus menerus merepotkan Prabu Jabang Wiyagra, Dinda. Tidak mau."


"Kalau begitu, Kanda Putra Candrasa harus bangkit. Ingat lagi siapa Kanda sebelumnya. Orang yang merangkak menuju cahaya. Kanda dulu bukan siapa-siapakan? Sekarang Kanda sudah menjadi seorang raja. Apakah itu tidak memerlukan usaha keras? Apakah Kanda tidak melewati ujian berat?"


Prabu Putra Candrasa merenung sejenak. Dia mencoba mencerna ucapan Nyai Sukma Jaya. Benar, untuk mencapai ke posisi sekarang, Prabu Putra Candrasa harus melewati berbagai macam pertempuran bersama Prabu Jabang Wiyagra. Dulu, Prabu Putra Candrasa bahkan takut membunuh orang. Tapi sekarang? Entah sudah berapa ribu orang yang tewas di tangannya.


Dulu dia hanya seorang pencuri makanan. Sekarang? Dia berkuasa di salah satu wilayah di Tanah Jawa. Kerajaan Wesi Kuning adalah kerajaan besar yang kaya raya karena emas, intan, dan berliannya. Prabu Putra Candrasa hanya perlu mengembangkan apa yang sudah ada di tempat ini. Bahkan dia bisa membuat Kerajaan Putra Malela menjadi kerajaan yang kaya raya, seperti Kerajaan Wiyagra Malela.


Prabu Putra Candrasa memeluk istrinya erat-erat. Dia sudah menyadari di mana letak kesalahannya sekarang. Prabu Putra Candrasa sudah tahu, dan sudah paham apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki semuanya.


"Terima kasih Dinda. Terima Kasih. Kanda sangat mencintai Dinda."


"Iya Kanda. Dinda juga sangat mencintai Kanda."

__ADS_1


__ADS_2