
Istana Kerajaan Panca Warna dibanjiri oleh api yang menjilat-jilat. Semua orang yang ada di dalam istana, termasuk Intan Senggani, semuanya berusaha keluar untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing. Intan Senggani meneriaki para prajurit dan pengawalnya, untuk membantunya keluar dari ruang singgasana. Tapi semuanya berjalan terbalik dari yang ia harapkan. Pada saat itulah Intan Senggani menyadari, kalau tidak ada satupun orang yang peduli kepada dirinya. Bahkan banyak sekali para prajurit yang melakukan penjarahan di dalam istana.
Intan Senggani yang marah pun langsung menghabisi mereka semua, yang sudah berani melakukan penjarahan di istana Kerajaan Panca Warna. Dia merasa sangat kecewa dengan para abdinya yang kini berubah menjadi penghianat. Intan Senggani bahkan sampai mendapatkan perlawanan dari pasukannya sendiri. Yang hal tersebut tidak pernah ia sangka-sangka sama sekali. Karena yang ia tahu, para abdinya tidak pernah berani membangkang perintahnya. Tapi hari ini situasinya sudah sangat berbeda.
Keadaan istana sudah berubah total. Semua orang saling serang satu sama lain, demi mendapatkan barang-barang berharga yang ada di dalam istana besar Kerajaan Panca Warna. Dari sekian banyak pasukan yang ia miliki, Intan Senggani hanya memiliki beberapa orang saja yang masih bertahan dengan dirinya. Mereka adalah para Patih, yang sering dijadikan budak nafsu oleh Intan Senggani. Jelas saja mereka mau melakukan apapun demi lindungi ratu mereka. Karena hampir setiap hari mereka mendapatkan imbalan lebih, dari yang mereka harapkan.
"Bunuh siapa saja yang berani menjarah istana ini!" Perintah Intan Senggani kepada para pengawal setianya.
"Baik Gusti Ratu!"
Para Patih Kerajaan Panca Warna yang masih setia kepada Intan Senggani, berusaha untuk membubarkan semua orang, yang sudah semakin menggila. Dan betapa terkejutnya para Patih itu, setelah mereka mengetahui, kalau kebanyakan orang yang menjarah istana ini adalah rakyat Kerajaan Panca Warna itu sendiri. Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan oleh Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima. Rakyat Kerajaan Panca Warna yang berada tidak jauh dari istana, langsung melakukan penjarahan setelah mereka melihat ada kobaran api yang menyelimuti istana besar.
__ADS_1
Mereka semua berbondong-bondong untuk menjarah semua barang-barang mewah yang ada di dalam istana tersebut. Sekaligus untuk melakukan penyerangan kepada Intan Senggani dan pasukannya. Sehingga kekacauan di istana Kerajaan Panca Warna tidak bisa dibendung lagi. Para Patih yang kalah jumlah itu pun akhirnya lebih memilih untuk pergi dari sana, daripada harus menghadapi ratusan orang yang menyerang mereka secara membabi buta. Mereka sudah tidak peduli lagi kepada Intan Senggani. Karena mereka tidak mau mengorbankan nyawa mereka, demi untuk mendapatkan sebuah kenikmatan sesaat.
Intan Senggani tidak bisa berbuat apa-apa selain melawan rakyat dan pasukannya sendiri. Dia sudah kehilangan semua orang yang ia percaya untuk menjaga istana ini. Dengan biadabnya, Intan Senggani membunuh semua orang yang masuk ke dalam istana tersebut. Ia bahkan sudah tidak mempedulikan lagi bagaimana keadaan tubuhnya sendiri. Padahal, baju kehormatannya yang terbakar pun tidak dibedulikannya lagi. Intan Senggani hanya ingin menumpahkan amarahnya kepada semua orang yang ada di sana. Dengan ilmu kesaktian yang ia miliki, Intan Senggani memukul, menendang, dan bahkan meminum darah dari orang-orangnya sendiri.
Intan Senggani sendiri benar-benar sudah menggila. Rasa kecewa yang begitu besar, membuatnya menjadi kehilangan akal sehatnya. Semua ini terjadi juga karena sifat Intan Senggani yang sangat rakus akan kekuasaan. Pikiran dan hatinya menjadi kotor, dan hanya peduli kepada dirinya sendiri. Padahal, Ratu Mekar Senggani yang memiliki tabiat menjijikan sekalipun, tidak sampai hati untuk menyakiti, apalagi sampai menumbalkan rakyatnya sendiri. Sifat Intan Senggani ternyata jauh lebih kejam dan tidak berperasaan daripada kakak kandungnya.
Semua kekejaman itu terjadi hanya karena Intan Senggani yang tidak bisa mengambil hati rakyat dan para abdi istana, yang selama ini tidak pernah berkhianat kepada pemimpin mereka. Walaupun mereka memiliki kebiasaan yang menjijikan, yaitu sering bertukar pasangan, tetapi mereka semua selalu bersikap jujur kepada Ratu Mekar Senggani. Di bawah kepemimpinan Ratu Mekar Senggani, ekonomi di Kerajaan Panca Warna tidak pernah sekalipun mengalami kemunduran. Apalagi sampai mengakibatkan terjadinya wabah kelaparan yang menyerang.
Selama masa pemerintahan Ratu Mekar Senggani, rakyat Kerajaan Panca Warna selalu bahagia dan bersenang-senang dan berbahagia setiap hari. Bahkan Ratu Mekar Senggani tidak pernah suka kalau ada rakyatnya yang bersedih. Karena di Kerajaan Panca Warna, bersedih akan dianggap sebagai sebuah kesalahan. Namun saat Intan Senggani yang memimpin Kerajaan Panca Warna, semuanya menjadi kacau balau. Jangankan untuk berbahagia dan bersenang-senang, untuk makan saja mereka tidak bisa. Bahkan sering sekali kekurangan.
Angka kemiskinan meningkat. Kebutuhan pokok sangat sulit untuk didapatkan. Karena Intan Senggani selalu mengadakan pesta setiap hari, tapi tidak pernah memikirkan bagaimana nasib rakyatnya sendiri. Yang ia tahu, menjadi seorang ratu adalah untuk bersenang-senang. Sedangkan untuk urusan pemerintahan, ia serahkan sepenuhnya kepada para abdinya. Dan sikap tersebut sangat melenceng jauh dari apa yang sudah dibangun oleh Ratu Mekar Senggani, sejak awal masa pemerintahan Ratu Mekar Senggani di Kerajaan Panca Warna ini.
__ADS_1
Meskipun Ratu Mekar Senggani sering bersenang-senang dengan para abdinya, tapi Ratu Mekar Senggani tidak pernah melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin. Dia selalu mengutamakan kebutuhan rakyatnya, dan berani mengambil tindakan kepada orang-orang yang bersikap tidak jujur di istananya. Di balik kesehariannya yang terkesan sangat menjijikkan, Ratu Mekar Senggani masih memiliki hati nurani. Dan tidak mudah terpengaruh oleh ucapan orang lain. Dia memiliki pendirian dan pendapatnya sendiri, dalam mempertahankan kekuasaannya.
Jauh...
Sangat jauh...
Sampai kapanpun Intan Senggani tidak akan pernah bisa menjadi seorang pemimpin. Dia tetap akan menjadi anak manja, yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya. Karena selama Intan Senggani hidup, dia selalu mendapatkan perlindungan penuh dari Ratu Mekar Senggani, yang begitu mencintai dan menyayanginya. Kalau saja tidak ada sosok seorang kakak yang benar-benar tulus dan peduli kepadanya, mungkin seharusnya Intan Senggani sudah mati. Atau mungkin, Intan Senggani dibuang dan ditelantarkan begitu saja. Karena tidak ada satupun orang yang mau peduli kepada dirinya.
Dia memang mendapatkan kehormatan di istana Kerajaan Panca Warna. Tapi itu semua adalah berkat kerja keras Ratu Mekar Senggani. Bukan karena para abdi istana benar-benar menghormati keberadaan Intan Senggani. Tidak ada satupun orang dari para abdi setia Ratu Mekar Senggani yang suka kepada Intan Senggani. Karena Intan Senggani kerap kali membuat masalah di dalam istana Kerajaan Panca Warna. Dan sudah pasti, Ratu Mekar Senggani-lah yang harus menyelesaikan semua masalah adiknya itu. Sedangkan Intan Senggani tidak pernah mau mempelajari apapun.
Intan Senggani selalu ingin terima beres dengan setiap hal. Dia tidak suka ketika ada orang yang menasehatinya. Satu-satunya orang yang ia takuti adalah kakaknya sendiri. Bahkan, saking nakalnya sifat Intan Senggani ini, dia pernah meludahi salah satu juru masak pribadi, milik Ratu Mekar Senggani. Hanya karena masakan sang juru masak itu menurutnya tidak enak. Padahal sang juru masak tidak melakukan kesalahan sedikitpun pada masakannya. Tapi dia mendapatkan makian dan hinaan yang luar biasa dari Intan Senggani, yang bisa dikatakan bukanlah siapa-siapa di Kerajaan Panca Warna.
__ADS_1
Seperti pepetah mengatakan...
"Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita panen."