
Pangeran Rawaja Pati kembali melanjutkan ceritanya soal Kerajaan Maha Resi. Saat Tanah Jawa dilanda peperangan besar, hanya satu kerajaan yang tidak bisa diserang dan tidak mau menyerang, yaitu Kerajaan Maha Resi itu sendiri. Kerajaan Maha Resi memiliki orang-orang sakti mandraguna, yang kemampuannya di atas rata-rata orang-orang sakti Pada masa itu.
Sehingga mereka selalu menjadi sasaran bagi kerajaan yang membutuhkan bantuan kekuatan. Namun seperti keputusan mereka di awal, kalau Kerajaan Maha Resi tidak akan pernah ikut campur dalam peperangan tersebut. Hal tersebut membuat semua kerajaan yang berperang pada masa itu menjadi geram.
Setiap kali ada satu pihak yang memenangkan peperangan, mereka juga pasti akan menyerang Kerajaan Maha Resi. Tapi di sinilah letak keanehan dari semuanya. Karena setiap orang yang menyerang Kerajaan Maha Resi, tidak akan pernah terlihat kembali.
Kabar mereka juga tidak pernah terdengar sampai sekarang. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi kepada raja-raja yang menyerang Kerajaan Maha Resi. Hingga tak ada lagi orang yang berani ke sana. Dan yang datang ke sana hanyalah orang-orang tertentu saja yang mendapatkan undangan.
Salah satu orang yang pernah datang ke Kerajaan Maha Resi adalah Sang Maha Guru dan juga Eyang Badranaya. Hal tersebut membuat Prabu Jabang Wiyagra semakin penasaran dengan Kerajaan Maha Resi yang sangat melegenda itu. Karena baru kali ini dia mendengar tentang Kerajaan Maha Resi.
Dan Prabu Jabang Wiyagra baru sadar, kalau ada satu kerajaan yang tidak pernah mau berperang dengan siapapun. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan yang lain, yang pasti akan ambil keuntungan setiap kali ada peperangan. Prabu Jabang Wiyagra juga seperti tidak pernah mendengar, siapa raja yang memimpin Kerajaan Maha Resi.
Prabu Jabang Wiyagra ingin sekali bertemu dengan Sang Maha Guru di padepokannya. Karena saat ini, Sang Maha Guru tidak berada di istana seperti biasanya. Semenjak dia menyerahkan sebagian tanggung jawabnya kepada Prabu Jabang Wiyagra, Sang Maha Guru lebih banyak menghabiskan waktu di padepokannya sendiri.
Prabu Jabang Wiyagra hanya ingin tahu tentang Kerajaan Maha Resi secara lengkap. Kalaupun Kerajaan Maha Resi tidak mau berperang untuk melawan musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra, maka Prabu Jabang Wiyagra tidak akan memaksa. Prabu Jabang Wiyagra juga tidak akan mengibarkan bendera perang kepada mereka.
__ADS_1
Karena yang menjadi sasaran Prabu Jabang Wiyagra hanyalah kerajaan-kerajaan yang masih berperilaku curang, dan suka semena-mena kepada rakyatnya. Selama Kerajaan Maha Resi tidak melakukan apapun, dan tidak ikut campur dalam peperangan ini, maka Prabu Jabang Wiyagra enggan untuk menyerang Kerajaan Maha Resi.
"Aku benar-benar baru menyadari, kalau ada satu kerajaan yang tidak pernah mau berperang. Kalau mereka benar-benar tidak mau berperang dan tidak mau bergabung dengan siapapun, maka aku pun enggan untuk menyerang kerajaan itu."
".....Aku tidak memiliki alasan yang kuat untuk menyerang mereka. Aku juga tidak mau mengirimkan mata-mata kepada kerajaan yang tidak pernah bersahabat atau pun bermusuhan denganku. Biarkanlah mereka hidup tenang dan mengurus urusan mereka sendiri." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada para abdinya.
Prabu Jabang Wiyagra juga memerintahkan semua abdinya untuk tetap fokus kepada penaklukan Kerajaan Gelap Ngampar secara penuh. Prabu Jabang Wiyagra ingin mereka semua secepatnya menemukan komplotan Ditya Kalana yang masih tersisa dan berhasil kabur. Terutama dengan Maha Patih Kana Raga yang dibawa pergi oleh Nyai Dwi Sangkar.
"Jika kalian menemukan kesulitan, maka barulah aku akan turun tangan langsung. Karena kerajaan-kerajaan yang berada di bawah kepemimpinan Kerajaan Gelap Ngampar, juga masih menjadi masalah besar untuk kita semua." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
"Baik Gusti Prabu."
Pasukan-pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela mulai dikirim kembali ke wilayah Kerajaan Gelap Ngampar. Mereka menyusuri sejengkal demi sejengkal tanah yang ada di wilayah Kerajaan Gelap Ngampar, demi menemukan sisa-sisa pasukan dukungan Maha Patih Kana Raga.
Sekaligus mereka juga ingin membabat habis semua kerajaan-kerajaan kecil yang masih berpihak kepada Maha Patih Kana Raga. Para kerajaan-kerajaan kecil itu tidak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah dengan penaklukan yang dilakukan oleh pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela.
__ADS_1
Jumlah pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela sangat-sangatlah banyak dan sangat besar. Sehingga mereka tidak akan mampu melakukan perlawanan sekecil apapun. Semua raja yang memutuskan untuk menyerah, langsung dibawa ke istana Kerajaan Wiyagra Malela untuk menghadap Prabu Jabang Wiyagra.
Karena sebelum mereka benar-benar memutuskan untuk berpihak kepada Prabu Jabang Wiyagra, mereka harus melakukan sumpah setia terlebih dahulu. Dan juga memberikan tanda surat perjanjian antara kedua belah pihak. Kalau kerajaan-kerajaan tersebut berusaha mengkhianati Prabu Jabang Wiyagra, maka mereka harus siap dihanguskan.
Ternyata, jumlah kerajaan yang berada di bawah pimpinan Maha Patih Kana Raga sangatlah banyak. Mereka juga menyimpan banyak sekali kekayaan berupa emas dan berlian yang mereka curi dari Kerajaan Gelap Ngampar. Sebagian besar dari mereka memiliki orang yang bekerja di dalam istana Kerajaan Gelap Ngampar.
Mereka bertugas untuk mencuri sedikit demi sedikit harta yang dimiliki oleh Kerajaan Gelap Ngampar. Jadi bisa dikatakan, mereka memiliki pejabat korup yang ada di dalam istana. Prabu Jabang Wiyagra tidak bisa menerima orang-orang semacam ini.
Dengan terpaksa, Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan para pasukannya untuk membantai semua raja yang suka berperilaku curang. Sebagian besar dari mereka dijatuhi hukuman gantung. Dan yang dan yang paling parah, mereka akan dijatuhi hukuman pancung.
Semua pasukan para raja-raja tersebut tidak bisa berkutik. Bahkan sebagian besar dari mereka juga memberikan kesaksian yang sama. Kalau raja-raja mereka sering berbuat curang dan sering sekali menindas rakyat. Banyak juga pejabat yang tidak mendapatkan upah semestinya.
Padahal, pendapatan kerajaan yang mereka miliki sangatlah besar. Namun mereka semua sangat-sangat rakus dan hanya peduli kepada diri mereka sendiri. Budaya korup ini bahkan diturunkan kepada anak-anak mereka yang mewarisi tahta. Hampir setiap hari para raja-raja itu mengadakan pesta.
Tapi tidak ada satupun dari mereka yang peduli kepada rakyat, ketika rakyat sedang mengalami kesusahan pangan. Bahkan mereka lebih sering memeras rakyat, daripada memberi kepada rakyat. Sama seperti dengan pimpinan besar mereka, yaitu Maha Patih Kana Raga.
__ADS_1
Prabu Jabang Wiyagra tidak akan mentoleransi perbuatan semacam itu. Bahkan Prabu Jabang Wiyagra juga membuka penjatuhan hukuman tersebut kepada semua rakyat Kerajaan Wiyagra Malela. Agar dijadikan pembelajaran kepada semua orang. Kalau tidak ada yang namanya toleransi untuk sebuah kecurangan.
Para raja-raja tersebut terus memohon dan memohon kepada Prabu Jabang Wiyagra untuk tidak dijatuhi hukuman. Bahkan dengan lancang mereka menawarkan harta yang mereka miliki kepada Prabu Jabang Wiyagra. Jelas saja Prabu Jabang Wiyagra semakin membenci mereka. Dan di hari itu juga, hukuman gantung dan pancung langsung dilaksanakan di depan umum.