DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 252


__ADS_3

Ratna Malangi memasuki sebuah keraton yang menjadi tempat tinggal untuk Panglima Bayu Kusuma. Keraton tersebut telah dihuni oleh Panglima Bayu Kusuma selama bertahun-tahun, selama masa pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra. Panglima Bayu Kusuma juga salah satu pengikut setia Prabu Jabang Wiyagra, dimasa Prabu Jabang Wiyagra masih menjadi seorang pejuang. Keadaan Keraton tersebut sangat terawat dengan bersih. Seakan tidak ada sebutir debu pun yang menempel di Keraton itu.


Udara di tempat itu juga sangat sejuk. Ratna Malangi seakan dibuat nyaman di tempat singgah sementara ini. Andaikan saja Ratna Malangi tidak memiliki sebuah tujuan lain, mungkin dia akan lebih memilih untuk tinggal di tempat ini, jauh lebih lama lagi. Seluruh pasukannya beristirahat di sekitaran Keraton. Suasana di wilayah ini benar-benar sangat sepi tanpa penghuni. Sangat disayangkan, sebuah Keraton yang indah dan megah harus ditinggalkan begitu saja.


Dari sini Ratna Malangi sudah menyadari kalau semuanya memang telah dipersiapkan untuk kedatangannya. Prabu Jabang Wiyagra benar-benar menjamin keselamatan semua orang yang ada di bawah kekuasaannya. Hal ini sudah dapat lihat oleh Ratna Malangi, dari suasana tempat ini yang sudah sangat sepi. Padahal Keraton ini memiliki wilayah yang sangat luas. Dan banyak juga rumah-rumah warga masyarakat yang terbangun di sekitarnya.


Ratna Malangi sudah bisa menebak, kalau sebelumnya suasana di tempat ini begitu ramai. Berbeda dengan sekarang, yang dalam masa-masa perang. Ratna Malangi tidak pernah menyangka, kalau Prabu Jabang Wiyagra akan mempersiapkan semuanya dengan sangat matang. Ratna Malangi menjadi curiga, kalau tempat ini bisa saja sudah dipasang jebakan. Ditutupi dengan sebuah keindahan yang membutakan kedua matanya.


Benar saja, tak beberapa lama kemudian Ratna Malangi mendengar ada suara keributan di luar Keraton. Ratna Malangi langsung bergegas keluar, untuk melihat apa yang terjadi kepada para pasukan. Di sana, Ratna Malangi melihat sebuah hal yang sangat-sangat mengejutkan. Tanah di sekitaran Keraton tersebut, tiba-tiba saja amblas. Dan mengakibatkan banyak sekali pasukannya yang terjebak oleh tanah yang amblas tersebut.


Para pasukan Ratna Malangi yang terjebak di sana berteriak meminta tolong kepada teman-teman mereka. Tetapi karena tanah itu amblas sangat dalam, tidak ada satupun orang yang berani mengeluarkan mereka dari sana. Para pasukan yang lain pun kepanikan, dan berusaha mencari tali agar bisa membantu teman-teman mereka keluar dari tanah yang amblas itu. Tapi setelah mereka menggunakan tali tali yang mereka bawa, ternyata tali yang digunakan tidak bisa sampai ke bawah, karena ukurannya terlalu pendek.


"Cepat ambilkan tangga untuk mereka!" Perintah salah seorang pimpinan pasukan.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini?!" Tanya Ratna Malangi.


"Mohon maaf Gusti Ratu. Tiba-tiba saja tanah amblas ke bawah. Dan membuat sebagian besar prajurit kita terjebak di sana. Kami sedang berusaha mengeluarkan mereka, Gusti Ratu. Tetapi lubangnya terlalu dalam tali dan tangga tidak cukup untuk membantu mereka keluar dari sana."


"Aku sudah menduga! Kalau tempat ini sudah dipenuhi dengan berbagai macam jebakan." Ucap Ratna Malangi.


"Lalu bagaimana sekarang Gusti Ratu?"


"Baik Gusti Ratu!"


Akhirnya, dengan terpaksa Ratna Malangi harus memecah pasukannya menjadi dua bagian. Karena jika ia tidak melakukan hal tersebut, maka akan semakin banyak pasukannya yang terkena berbagai macam jebakan di tempat ini. Apalagi Ratna Malangi belum tahu secara pasti ada jebakan apa saja yang sudah dipersiapkan oleh Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya. Ditambah lagi perjalanannya menuju Ibu Kota Wiratirta bisa terhambat. Padahal Ratna Malangi sedang mengejar waktu agar cepat sampai ke sana.


"Ayo berangkat!" Perintah Ratna Malangi kepada para pasukan yang ikut bersamanya.

__ADS_1


Sebagian pasukan lagi akan tetap berada di tempat ini, untuk menyelamatkan teman-teman mereka yang masih terjebak di dalam lubang tersebut. Mereka yang ada di tempat ini nantinya akan menyusul ke Ibu Kota Wiratirta, setelah mereka berhasil menyelamatkan teman-teman mereka. Sedangkan Ratna Malangi harus segera membawa sebagian pasukannya lagi ke tempat yang lain, yang sekiranya jauh lebih aman daripada tempat ini.


Keputusan itu memang sangat tepat untuk diambil oleh Ratna Malangi. Karena jika dia terus-menerus berada di tempat ini, maka akan semakin banyak pasukannya yang mati dengan sia-sia. Walaupun Ratna Malangi sendiri sebenarnya tidak terlalu membutuhkan para pasukannya, tetapi dia tetap harus membawa pasukan, untuk menyingkirkan para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang Menghadang. Karena para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela tidak akan membiarkan Ratna Malangi lewat.


Seluruh pasukan Prabu Jabang Wiyagra tidak akan tinggal diam, ataupun menyerah begitu saja, menghadapi Ratna Malangi dan pasukannya. Mereka pasti akan berusaha untuk mencegah Ratna Malangi memasuki wilayah Ibu Kota Wiratirta. Apalagi sampai membiarkan Ratna Malangi dan pasukannya berhasil menembus benteng pertahanan utama istana Kerajaan Wiyagra Malela. Karena itu akan sangat membahayakan keselamatan Prabu Jabang Wiyagra.


Walaupun Ratna Malangi tahu kalau masih banyak hal yang harus dihadapi, Ratna Malangi tetap tidak ingin menyerah begitu saja. Sebelum dia berhasil menuntaskan dendamnya. Ratna Malangi juga sudah bisa mengerti, kalau semakin posisinya dekat dengan Prabu Jabang Wiyagra, maka akan semakin dekat pula ia dengan 'bahaya'. Sedangkan Jumlah pasukannya sekarang sudah berkurang. Dan hanya tinggal beberapa ratus orang saja, yang sekarang ikut ke dalam rombongannya.


Ratna Malangi terus memacu kudanya dengan sangat cepat. Dirinya memutuskan untuk tidak beristirahat sedikit pun, sebelum dia sampai di wilayah perbatasan Ibu Kota Wiratirta. Ratna Malangi sudah tidak peduli lagi, bagaimana dengan lelahnya pasukan yang sudah melakukan perjalanan selama berhari-hari, untuk sampai di tempat ini. Yang ia mau, semua musuhnya dengan cepat bisa ia lumpuhkan. Dan sasaran utamanya adalah Prabu Jabang Wiyagra. Karena jika Prabu Jabang Wiyagra mati, maka semuanya juga akan ikut mati.


Kerajaan Wiyagra Malela akan kehilangan sosok pemimpin yang tegas seperti Prabu Jabang Wiyagra. Jika sampai Prabu Jabang Wiyagra mati, mereka belum tentu bisa mendapatkan pemimpin yang pemikirannya sejalan dengan rakyatnya. Apalagi kalau sampai pemerintahan Kerajaan Wiyagra Malela dipegang penuh Ratna Malangi, maka pupuslah sudah kedamaian yang ada di seluruh lapisan Tanah Jawa ini.


Namun itu adalah sebuah hal yang mustahil untuk terjadi. Dan Prabu Jabang Wiyagra juga tidak akan membiarkan hal itu. Ditambah lagi dengan dukungan orang-orang yang setia kepadanya, tidak menutup kemungkinan kalau rakyat Kerajaan Wiyagra Malela juga akan turun tangan menghadapi Ratna Malangi. Karena hampir di seluruh wilayah Kerajaan Wiyagra Malela ada kelompok pendekar yang setia, dan secara sukarela ingin mengorbankan diri mereka untuk Prabu Jabang Wiyagra dan Kerajaan Wiyagra Malela.

__ADS_1


__ADS_2