DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 64


__ADS_3

"Gusti Prabu, semua persenjataan dan pasukan kita sudah siap, kita tinggal menunggu waktu sampai hari pertempuran." Ucap Maha Patih Raseksa.


Seperti dugaan Prabu Jabang Wiyagra, Maha Patih Raseksa sudah pulih dari sakitnya. Dia sudah bisa bertarung dengan baik, walau pun beberapa ilmu kesaktiannya terpaksa harus dihilangkan. Karena hanya dengan cara itu Maha Patih Raseksa bisa sembuh dengan cepat.


Para Patih kerajaan dan juga semua prajurit istana sudah siap dengan segala keperluan yang akan mereka bawa. Disana mereka mulai memperkuat benteng istana, untuk mencegah adanya serangan dari musuh.


Sekarang Prabu Suta Rawaja sudah lebih teliti dalam mengurus keamanan istananya. Dia tidak mau kecolongan untuk yang kedua kalinya. Bahkan Prabu Suta Rawaja juga sudah mulai menjauhi minuman keras.


Karena kekalahannya dulu juga disebabkan oleh minuman keras yang ia tenggak di pesta ulang tahun Prabu Bujang Antasura. Prabu Suta Rawaja sudah memutuskan hubungan dengan semua sahabatnya.


Yang ia inginkan saat ini adalah menjadi penguasa tunggal. Menjadi raja diraja. Menguasai seluruh Tanah Jawa, dan hanya boleh ada satu kerajaan besar di Tanah Jawa ini, yaitu Kerajaan Rawaja Pati.


Dia berniat membersihkan semua kerajaan yang ada. Sekali pun mereka menyerah nantinya, Prabu Suta Rawaja akan tetap menghancurkan mereka. Karena dia tidak mau ada satu pun pesaing di dalam kekuasaannya.


Kerajaan-kerajaan kecil yang ada dibawah kekuasaannya juga sudah dibersihkan. Dia membunuh semua raja yang tidak mau menyerahkan kekuasaannya. Sedangkan yang mau menyerahkan kekuasaannya, akan dijadikan Patih di Kerajaan Rawaja Pati.


Para prajurit di istana kerajaan-kerajaan kecil itu akan dijadikan prajurit di istana. Mereka semua juga memakai pakaian resmi prajurit Kerajaan Rawaja Pati. Prabu Suta Rawaja benar-benar menekan semua orang yang ada dibawah kekuasaannya.


Dia tidak mau ada lagi orang yang menjadi pengkhianat di pemerintahannya. Dia menginginkan semua orang tunduk dibawah perintahnya. Jika masih ada kerajaan-kerajaan kecil, maka akan banyak sekali hambatan dalam pemerintahannya.


"Aku ingin semua pasukan kita dipersiapkan sebaik mungkin. Aku tidak mau kalah untuk kedua kalinya. Aku mau semuanya berjalan lancar, tanpa hambatan." Ucap Prabu Suta Rawaja kepada para abdinya.


Semua Patih berkumpul disana untuk menyusun rencana penyerangan mereka.


"Kita bagi pasukan kita menjadi tiga bagian. Pasukan pertama akan berangkat terlebih dahulu. Memastikan kalau jalur yang akan dilewati tidak ada masalah."

__ADS_1


".....Pasukan kedua aku yang memimpin, dan akan menyusul pasukan pertama setelah semua jalurnya benar-benar aman untuk dilewati."


"....Sedangkan sisanya, akan berjaga di istana. Dan aku tidak mau pasukan yang berjaga di istana adalah pasukan yang baru. Aku butuh pasukan yang kuat." Tambah Prabu Suta Rawaja.


Maha Patih Raseksa dan para Patih pun langsung membagi tugas kepada mereka semua. Dan membagi jumlah pasukan mereka. Kelompok pertama berjumlah dua puluh ribu pasukan dan dipimpin oleh sepuluh orang Patih.


Kelompok kedua yang dipimpin oleh Prabu Suta Rawaja, membawa pasukan yang berjumlah lima puluh ribu pasukan, bersama dengan tiga puluh orang Patih kerajaan.


Sedangkan sisanya, yaitu kelompok ketiga, yang berada dibawah kepemimpinan empat puluh orang Patih akan fokus untuk menjaga istana. Mereka adalah orang-orang pilihan, karena kekuatan di dalam istana adalah kekuatan yang dianggap sangat penting.


Banyak hal di dalam istana yang tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Salah satu hal yang penting adalah, pusaka Rawaja Pati. Di dalam ruang pusaka, ada sebuah pusaka terkuat yang dimiliki Prabu Suta Rawaja.


Pusaka Rawaja Pati itulah yang kemudian diambil namanya menjadi nama kerajaannya. Pusaka itu adalah pusaka yang sangat berbahaya. Jika sampai jatuh ke tangan musuh, maka musnahlah sudah Kerajaan Rawaja Pati.


Mereka tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk mempertahankan Kerajaan Rawaja Pati. Pada saat peristiwa pembantaian itu, Prabu Suta Rawaja sebenarnya sudah diberi tanda-tanda. Tapi Prabu Suta Rawaja justru mengabaikannya.


Pada hari-hari terakhir menuju pertempuran besar yang akan terjadi, Pusaka Rawaja Pati juga melayang-layang di atas sebuah obor yang ada di dalam ruangan penyimpanan pusaka kerajaan. Hal itu dianggap aneh oleh Prabu Suta Rawaja, karena pusaka itu belum pernah bersikap seperti itu.


Namun seperti biasanya, Prabu Suta Rawaja meyakinkan dirinya kalau semuanya akan baik-baik saja kali ini. Karena sekarang, jumlahnya pasukannya sudah jauh lebih besar, dan persenjataan di istananya juga sudah lebih lengkap dan lebih maju dari sebelumnya.


Dia bahkan berfikir, kalau Pusaka Rawaja Pati mungkin tidak akan pernah ia gunakan. Karena baginya, kekuatan besar yang ia miliki dirasa sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan musuh-musuhnya. Prabu Suta Rawaja sekarang sudah tidak lagi takut dengan Prabu Jabang Wiyagra.


Sekarang dia sudah berhasil lepas dari bayang-bayang Prabu Jabang Wiyagra. Dia benar-benar sudah siap jikalau harus berhadapan langsung dengan Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Suta Rawaja juga sudah meningkatkan ilmu kanuragannya jauh lebih baik lagi.


Dia jauh lebih sehat dan jauh lebih kuat dari pada sebelumnya. Bahkan, untuk memenangkan perang ini, Prabu Suta Rawaja sama sekali tidak mau menyentuh perempuan. Dia benar-benar ingin fokus terlebih dahulu untuk kemenangannya.

__ADS_1


Dendam dan kebencian dalam dirinya membentuknya menjadi orang yang jauh lebih kuat. Dia tidak mau lagi menghabiskan waktunya hanya untuk bersenang-senang seperti dulu. Dia benar-benar telah merubah kebiasannya. Walau pun rasa percaya dirinya masih terlalu tinggi.


Prabu Suta Rawaja selalu yakin, kalau dia tidak akan pernah kalah dari siapa pun. Apalagi dengan keberhasilannya mendamaikan perang saudara di kerajaannya, yang bisa ia raih dalam waktu yang sangat cukup singkat. Membuat rasa percaya dirinya semakin tinggi.


"Gusti Prabu, semua pasukan kita sudah dibagi, dan mereka tinggal menunggu perintah dari Gusti Prabu." Ucap Maha Patih Raseksa yang datang memberikan laporan.


"Bagus Maha Patihku. Aku tidak akan memberikan satu pun kesempatan kepada musuh kita untuk melakukan perlawanan."


".....Setelah kita menyusul kelompok pertama, dan pertempuran sudah dimulai, jangan pernah berhenti untuk mendesak."


"Baik Gusti Prabu. Hamba juga sudah memerintahkan sebagian pasukan Layang Pati untuk bergabung dengan pasukan penjaga istana. Sedangkan sisanya akan ikut dengan kita, Gusti."


"Ya. Itu rencana yang baik, Maha Patih. Pastikan dirimu juga meminum ramuan yang aku berikan kepadamu."


"Selalu Gusti Prabu."


"Dan ingat satu lagi, jangan dulu mengeluarkan semua kehebatan kita dalam pertempuran, kalau kita belum melihat dengan jelas dimana keberadaan Jabang Wiyagra."


"Baik Gusti Prabu. Hamba permisi dulu."


"Silahkan."


Pertempuran akan berlangsung satu hari lagi. Semua pasukan di Kerajaan Rawaja Pati sudah bersiap. Prabu Suta Rawaja juga mulai bersemedi di ruangan semedinya. Dia ingin menambah kekuatan ilmu kanuragannya. Dia ingin benar-benar mengalahkan musuhnya.


Dipikirannya hanya satu, tidak mau kalah dengan siapa pun. Sekali pun oleh Prabu Jabang Wiyagra yang dikenal sakti mandraguna. Dia justru semakin penasaran dengan kekuatan Prabu Jabang Wiyagra. Selama bertikai dengannya, belum sekali pun dia berhadapan dengan Prabu Jabang Wiyagra.

__ADS_1


Kekuatan Prabu Jabang Wiyagra hanyalah sebuah cerita bagi Prabu Suta Rawaja. Banyak cerita yang sudah dia dengar dari semua orang. Tapi dia ingin membuktikannya sendiri.


__ADS_2