DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 97


__ADS_3

Secara membabi buta, Prabu Jabang Wiyagra beserta seluruh pasukan yang ia bawa dari Gunung Khayangan terus menerus menggempur para pasukan musuh. Sekaligus menghancurkan semua senjata-senjata berat yang mereka bawa.


Tenda-tenda pasukan yang berada tidak terlalu jauh dari sana juga dibakar habis. Sehingga bukan hanya prajurit di garis depan saja yang tewas. Tapi para Patih dan ahli strategi juga tewas di dalam tenda yang mereka buat.


Kebakaran terjadi hampir di semua tempat. Pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang ada di perbatasan akhirnya bisa membuat para pasukan dari Kerajaan Gelap Ngampar secara perlahan mulai mundur. Setelah sebelumnya para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela hanya bisa bertahan.


Karena melihat raja mereka turun tangan. Para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela menjadi jauh lebih bersemangat dalam pertempuran. Beberapa prajurit pilihan bahkan sampai unjuk taring dengan merubah diri mereka menjadi harimau hitam.


Prajurit-prajurit pilihan itu memang diberi ilmu yang lebih oleh Maha Patih Putra Candrasa. Agar mereka semua bisa menggunakan kekuatan itu dalam keadaan yang benar-benar mendesak. Dari awal pertempuran mereka sudah menahan diri untuk tidak berubah wujud.


Namun setelah mereka melihat Prabu Jabang Wiyagra terbang dengan Elang Maha Raja di atas mereka, mereka kemudian melepaskan semuanya tanpa dapat menahannya lagi. Secara sadar, mereka bisa menyerang musuh yang ada di depan mereka. Hanya saja mereka menjadi lebih beringas dari biasanya.


Sebagian pasukan yang telah berubah menjadi harimau hitam itu berhasil membunuh para pasukan musuh dengan jumlah yang tidak sedikit. Bahkan para pasukan dari Kerajaan Gelap Ngampar ketakutan dengan kemampuan yang dimiliki oleh para pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela.


Mereka sama sekali tidak menyangka kalau semuanya akan kacau balau seperti ini. Mereka tidak pernah tahu, kalau sebagian dari prajurit biasa, ada banyak sekali prajurit-prajurit pilihan yang bisa merubah wujud mereka menjadi seekor harimau hitam, yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari harimau biasanya.


Pasukan dari Kerajaan Gelap Ngampar dan juga pasukan bantuan dari para kerajaan pendukungnya akhirnya menarik mundur dari perbatasan. Mereka sudah tidak sanggup melawan semua pasukan Prabu Jabang Wiyagra yang sekarang sudah sangat menggila dalam memburu mereka semua.


Bahkan saat mereka sudah pergi dari sana pun, masih banyak sekali pasukan Prabu Jabang Wiyagra yang berusaha melempari mereka dengan tombak, panah, kapak dan juga pedang. Pasukan Elang Maha Raja juga mencabik-cabik para pasukan musuh yang berusaha lari dari pertempuran.


Para pasukan Prabu Jabang Wiyagra benar-benar tidak membiarkan mereka semua pergi. Prabu Jabang Wiyagra juga membiarkan semua itu terjadi, karena dia ingin sekali segera menuntaskan semua peperangan yang sudah semakin kacau dan menyebabkan kerusakan ini.

__ADS_1


Meski pun begitu, ada beberapa pasukan yang akhirnya diampuni. Sebagian ditahan. Sebagian lagi dibiarkan hidup untuk melaporkan apa yang terjadi di tempat ini kepada Maha Patih Kana Raga. Supaya Maha Patih Kana Raga menarik mundur semua pasukannya yang ada di wilayah Kerajaan Mangkon Rogo.


Di benteng pertahanan, Patih Kinjiri tengah berjuang keras untuk menghadapi gelombang pasukan Maha Patih Kana Raga yang jumlahnya jauh lebih banyak dari pada pasukan yang menyerang Kerajaan Wiyagra Malela. Karena Maha Patih Kana Raga ingin sekali meluluhlantahkan benteng tersebut.


Bagi Maha Patih Kana Raga, benteng itulah yang menjadi penyebab Prabu Bambang Pura kalah dalam peperangan. Jadi dia menginginkan benteng itu digempur habis beserta semua orang yang ada di dalamnya. Posisi Maha Patih Kana Raga sendiri ada di sebuah bukit yang cukup jauh dari benteng itu.


Dia masih belum mengetahui kalau pasukannya yang menyerang Kerajaan Wiyagra Malela sudah dibantai habis-habisan. Dia masih bersantai di bukit itu bersama dengan beberapa raja-raja besar yang mendukungnya. Mereka sudah yakin kalau mereka akan menang.


Padahal, mereka tidak tahu kalau saat ini Lare Damar membawa sebagian besar pasukan dari Gunung Khayangan atas perintah Prabu Jabang Wiyagra untuk membantu Patih Kinjiri, dan membabat habis semua pasukan Maha Patih Kana Raga yang ada disana.


Prabu Jabang Wiyagra ingin Maha Patih Kana Raga mengerti, kalau Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah main-main dengan yang namanya peperangan dan pembantaian. Kalau musuhnya sudah mengibarkan bendera perang, maka dia pun akan menunjukkan taringnya sebagai seorang raja.


Sekuat apa pun Maha Patih Kana Raga, dia tidak akan mungkin menghadapi pasukan Prabu Jabang Wiyagra dengan tangannya sendiri. Dengan habisnya semua pasukan Maha Patih Kana Raga, sekaligus para pasukan pendukungnya, maka semua raja yang mendukung Maha Patih Kana Raga akan mulai meninggalkannya.


Para raja-raja besar itu tidak mungkin terus menerus melakukan serangan, kalau pasukan mereka yang ada di medan peperangan dibantai habis tanpa sisa. Karena jumlah pasukan yang mengawal mereka, jumlahnya tidak sampai seribu orang. Jadi mereka tidak akan berani melakukan perlawanan.


Patih Kinjiri dan semua pasukan benar-benar dibuat kerepotan, mereka semua seakan sudah tidak sanggup lagi menghadapi para pasukan yang terus menerus berdatangan dan melakukan serangan. Sudah banyak sekali pasukannya yang mati. Patih Kinjiri dan Singo Rogo berada di tengah-tengah barisan musuh.


Mereka berdua sudah dikepung dan tidak bisa kemana-mana, selain melawan mereka sampai mereka semua habis. Dan tanpa diduga, salah seorang raja yang ikut dalam pertempuran itu tiba-tiba menyerang Patih Kinjiri dari arah belakang dengan ilmu pukulan yang ia miliki.


Seketika Patih Kinjiri pun terlempar dan terkapar. Dia merasakan sakit disekujur tubuhnya. Hingga mengeluarkan banyak sekali darah dari mulutnya.

__ADS_1


"Akhhh!" Teriak Patih Kinjiri yang kesakitan karena serangan itu.


"Kurang ajar kau baji-ngan! Beraninya hanya dari belakang!" Ucap Singo Rogo.


Para pasukan yang menyerang Patih Kinjiri dan Singo Rogo langsung menyingkir, karena sang raja ingin bertarung satu lawan satu dengan Singo Rogo. Karena sang raja menganggap kalau Singo Rogo hanya seorang pimpinan pasukan biasa. Dia menganggap remeh Singo Rogo dan malah menantangnya.


"Hei bodoh! Ayo serang aku! Serang!" Ucap sang raja sembari tertawa.


Kesempatan bagus itu jelas tidak disia-siakan oleh Singo Rogo. Singo Rogo pun langsung ambil posisi dan langsung mengeluarkan salah satu ilmunya. Yaitu Ajian Rengkah Gunung. Dengan Ajian Rengkah Gunung, Singo Rogo seketika membuat tubuh sang raja yang menyerang Patih Kinjiri langsung hancur berkeping-keping.


Bahkan sebagian prajurit yang ada di sekitar sang raja pun sampai terkena dampaknya. Tubuh mereka langsung memerah seperti terbakar. Sebagian juga kehilangan anggota tubuhnya. Ajian Rengkah Gunung yang dikeluarkan oleh Singo Rogo membuat dampak baik untuk Patih Kinjiri dan pasukannya yang sudah terdesak.


Para pasukan Maha Patih Kana Raga pun langsung lari kocar-kacir karena melihat kehebatan Singo Rogo. Sayang sekali, pelarian bukan hal yang tepat untuk menghindari kematian. Karena saat itu sebuah ledakan besar menimpa mereka semua.


Dan ternyata itu adalah Lare Damar bersama pasukan yang ia bawa.


"Habisi mereka semua! Jangan sampai ada yang hidup!" Perintah Lare Damar.


Singo Rogo yang melihat ada bantuan pun merasa sangat lega. Namun pada saat itu dia sudah sangat lemah karena menghadapi para pasukan Maha Patih Kana Raga. Dan juga Ajian Rengkah Gunung yang ia keluarkan, dikeluarkan dengan sisa-sisa tenaganya.


Akibatnya dia langsung ambruk dan tidak sadarkan diri. Begitu juga dengan Patih Kinjiri yang sudah kehabisan banyak darah. Apalagi Patih Kinjiri, keadaannya jauh lebih parah dari pada yang lainnya. Bahkan sampai tercium bau gosong dari tubuhnya. Saat Lare Damar membawanya pun, tubuhnya terasa sangat panas.

__ADS_1


__ADS_2