DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 223


__ADS_3

Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha beserta pasukannya sudah sampai di pelabuhan Kerajaan Bala Bathara. Semua prajurit yang berjaga di sana dibuat terkejut, karena saat sudah turun dari kapal-kapal mereka, Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha langsung melakukan penyerangan bersama pasukannya.


Semua prajurit yang ada di tempat itu dibuat kocar-kacir tak berdaya menghadapi para pasukan yang jumlahnya ribuan. Mereka lari tunggang langgang, berusaha menyelamatkan diri dari pelabuhan yang sekarang sudah kacau balau. Tetapi hal itu tidak dibiarkan oleh Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha.


Para pasukan terbaik dua orang ini langsung membabat habis semua prajurit yang ada di sana, yang jumlahnya lebih sedikit dari mereka. Para prajurit Prabu Barajang yang berjaga di pelabuhan ini hanya bisa melakukan perlawanan seadanya. Karena mereka diserang dalam kondisi yang tidak siap. Sehingga mereka tidak bisa berbuat banyak.


Belum lagi dengan para pimpinan prajurit yang belum datang ke pelabuhan ini. Hal yang biasa terjadi kepada para pimpinan, yaitu mereka akan selalu datang terlambat. Padahal tidak lama lagi hari akan menjelang siang. Tapi suasana di tempat tersebut masih terlalu sepi dari biasanya. Belum ramai dengan aktivitas orang-orang yang kebanyakan berdagang di tempat ini.


Walaupun banyak sekali orang asing di tempat itu, tetapi Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha tidak kesulitan untuk menemukan para prajurit yang sedang berusaha untuk lari dari tempat itu. Para prajurit berusaha keras agar bisa keluar dari pelabuhan tersebut, karena mereka harus melaporkan kejadian ini kepada pimpinan mereka, sebelum situasinya bertambah rumit.


"Habisi semuanya! Habisi!" Teriak Panglima Galang Tantra.


"Bunuh para tikus-tikus ini!" Teriak Maha Patih Kumbandha yang juga sama-sama sedang menghadapi para prajurit yang berusaha menghadangnya.


Sebagian prajurit berusaha bertahan di tempat tidur untuk menghalang-halangi pergerakan Maha Patih Kumbandha dan Panglima Galang Tantra. Lalu sebagiannya lagi berusaha keluar agar bisa melaporkan penyerangan ini kepada pimpinan mereka. Tapi jalan begitu sulit untuk para prajurit yang ada di tempat ini, karena suasana sudah sangat kacau dan susah untuk dikendalikan.


Pasukan Bara Jaya dan pasukan Kerajaan Batih Reksa semakin mengganas menyerang para prajurit ini. Mereka tidak peduli dengan orang yang bertubuh kecil ataupun besar. Semua yang berani muncul di hadapan mereka langsung di babat habis. Bahkan para pendekar pun ikut menjadi korban dari penyerangan tersebut. Padahal para pendekar yang ada di sana berusaha untuk tidak ikut campur dalam pertarungan itu.

__ADS_1


Tapi bagi para Pasukan Kerajaan Batih Reksa dan Pasukan Bara Jaya, mereka semua sama saja. Sama-sama musuh yang harus di bumi hanguskan. Bagi mereka, para prajurit ini tidak pantas untuk diberi kesempatan hidup. Apalagi para pasukan Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha datang dengan membawa dendam, atas kematian saudara-saudara mereka.


Suara gesekan, pukulan, tendangan, dan juga teriakan terdengar begitu riuh. Baik dari pihak Panglima Galang Tantra, ataupun dari pihak pasukan Prabu Barajang. Mereka semua sama-sama sedang membuktikan siapa yang pantas mati dan siapa yang pantas hidup. Mereka saling unjuk kemampuan masing-masing. Meskipun pasukan Prabu Barajang kebal terhadap senjata, tetapi mereka masih bisa kalah di tangan para pasukan Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha.


Ilmu kekebalan yang mereka miliki tidaklah sebanding dengan kemampuan para pasukan dari pihak Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha. Pasukan dua orang ini jauh lebih mengerikan dari apa yang musuh mereka fikirkan. Apalagi saat beberapa anggota Pasukan Bara Jaya mulai merubah wujud mereka menjadi harimau, masalah semakin bertambah. Dan semakin banyak korban yang berjatuhan.


Para prajurit Prabu Barajang bisa ditumbangkan dengan sangat mudah oleh Pasukan Bara Jaya. Tubuh mereka dikoyak-koyak. Bahkan banyak dari mereka yang kehilangan anggota tubuhnya, karena mendapatkan cakaran dari para anggota Pasukan Bara Jaya. Sedangkan prajurit Kerajaan Batih Reksa sudah mulai memasuki setiap tempat yang ada di pelabuhan itu. Mulai dari rumah makan dan juga rumah penginapan.


Para pasukan yang dibawa oleh Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha benar-benar sangat beringas. Mereka membunuh siapa saja yang memakai berpakaian seperti orang penting. Dari para pejabat, sampai kepada semua padepokan yang ada di tempat itupun mereka serang dan mereka bakar. Seakan mereka tidak mau menyisakan satupun manusia di tempat itu.


Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya ada tiga orang prajurit yang sedang terluka parah berusaha pergi menuju markas para pimpinannya.


"Ket.. tua.. pela... buhan.... diser..... ang..." Jawah si prajurit terbata-bata.


Sangat disayangkan, si prajurit langsung tewas sebelum pimpinannya itu menanyakan bagaimana keadaan di pelabuhan. Para pimpinan pasukan yang berkumpul di sana pun langsung bergegas menuju pelabuhan. Mereka semua pergi menggunakan kuda mereka dan membawa para pasukan yang ada di tempat ini. Termasuk dengan para pendekar yang juga diikutkan dengan mereka.


"Ayo cepat!" Perintah seorang pimpinan kepada para pasukan yang tengah bersiap.

__ADS_1


Semua warga masyarakat yang ada di sana pun ikut panik karena mereka mendengar apa yang diucapkan oleh si prajurit yang mati itu.


"Akan ada penyerangan. Sembunyi cepat! Sembunyi!" Ucap salah seorang ayah kepada anak laki-lakinya.


Semua orang bersembunyi di dalam rumah, dan tidak berani membuka pintu mereka. Mereka semua takut kalau sampai penyerangan itu juga mengarah kepada diri mereka yang hanya masyarakat biasa. Padahak Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha hanya mencari para pasukan Prabu Barajang. Entah sekejam apapun mereka, mereka tidak akan sampai hati membunuh rakyat yang tidak bersalah.


*


*


*


Para pimpinan prajurit yang sudah di tempat itu dibuat sangat-sangat terkejut. Mereka semua sudah pasrah dengan apa yang terjadi di tempat itu. Semua pasukan yang ada di sana sudah dipukul mundur oleh Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha. Mereka semua sudah tidak sanggup menghadapi kekuatan pasukan kiriman Prabu Jabang Wiyagra yang jumlahnya tidak sedikit.


Beruntung, karena mereka sekarang mendapatkan bantuan dari para Patih yang ada di wilayah tersebut. Sehingga situasi kacau itu sedikit demi sedikit sudah mulai terkondisi. Para Patih yang datang ke sana mulai melakukan serangkaian serangan kepada Maha Patih Kumbandha dan juga Panglima Galang Tantra. Walaupun tetap saja mereka tidak bisa menghadapi pasukan Prabu Jabang Wiyagra, tapi setidaknya mereka bisa melakukan perlawanan.


"Gusti Patih, sudah banyak prajurit yang terluka. Sebaiknya kita cepat pergi dari tempat ini sebelum kita semua mati." Kata salah seorang prajurit.

__ADS_1


Namun para Patih yang ada di sana tidak menggubrisnya. Mereka terus bertarung melawan Maha Patih Kumbandha dan Panglima Galang Tantra. Para Patih ini sudah kepanasan, karena melihat banyaknya para prajurit yang tewas di tempat tersebut. Mereka berusaha keras untuk bisa mengalahkan Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha.


Meskipun mereka sudah dihajar berkali-kali, tetapi mereka terus-menerus melakukan perlawanan. Dari sekian banyak Patih yang ada, tidak ada satupun dari mereka yang bisa menyentuh Maha Patih Kumbandha dan Panglima Galang Tantra. Mereka semua benar-benar payah dan tidak bisa mengimbangi kemampuan dua orang sakti tersebut.


__ADS_2