
"Sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Gusti Prabu. Dua ribu pasukan hamba sudah berangkat menuju ke gunung berapi yang menjadi tempat tinggal Ratna Malangi." Ucap Prabu Putra Candrasa kepada Prabu Jabang Wiyagra.
"Bagus Prabu Putra Candrasa. Kita hanya tinggal menunggu kabar dari mereka. Entah kenapa aku merasa begitu khawatir dengan Maha Patih Lare Damar. Seperti ada sesuatu yang besar, yang sedang menantinya."
"Hamba sudah mencoba untuk menghubungi Maha Patih Lare Damar dengan mata batin hamba. Tetapi sama sekali tidak ada jawaban Gusti Prabu. Dan menurut hamba, gunung berapi tersebut memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, sehingga menghalangi mata batin hamba, Gusti Prabu."
"Kamu benar Prabu Putra Candrasa. Gunung berapi yang menjadi tempat penahanan Panglima Agung Wira Satya, adalah tempat yang dibunuh dengan aura mistis. Tidak semua orang bisa menembus tempat itu, dengan pandangan mata batin. Siapa yang memimpin dua ribu pasukanmu itu?"
"Maha Patih Galangan, Gusti Prabu."
"Maha Patih Galangan?"
"Benar Gusti Prabu."
"Bagaimana mungkin Maha Patih Galangan bisa memahami tempat itu? Memangnya dia pernah ke sana?"
"Kata Maha Patih Galangan, dulu Prabu Bawesi suka sekali pergi ke gunung tersebut, dan beberapa gunung sakral lainnya, untuk menimba ilmu. Dan Maha Patih Galangan-lah yang selalu menyiapkan segala keperluan Prabu Bawesi."
__ADS_1
Prabu Jabang Wiyagra merasa curiga dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Putra Candrasa. Seharusnya, Maha Patih Galangan tidaklah tahu tentang tempat tersebut. Gunung itu sangatlah sakral dan dipenuhi dengan aura gaib yang sangat kuat. Kalau bukan orang yang benar-benar memahami jalur menuju tempat itu, sudah pasti akan tersesat dan hilang di gunung tersebut.
"Apakah kamu yakin tidak akan terjadi sesuatu kepada Maha Patih Galangan?"
"Hamba berharap tidak, Gusti Prabu. Maha Patih Galangan juga sudah berpengalaman dalam banyak hal. Hamba juga sudah mewarisi Maha Patih Galangan sebuah pusaka, untuk berjaga-jaga, kalau suatu saat dia membutuhkan bantuan hamba."
"Baguslah kalau begitu, Prabu Putra Candrasa. Pastikan tidak ada satupun orang yang celaka di gunung tersebut. Dan aku ingin tetap membiarkan Ratna Malangi hidup lebih lama lagi. Karena dia adalah kunci kita, untuk menemukan para pendekar yang hilang di Padepokan Mbah Kangkas."
"Baik Gusti Prabu. Apa perlu hamba mengirimkan orang juga untuk mengawasi kembali Padepokan Mbah Kangkas, Gusti?"
"Baik Gusti Prabu. Hamba berangkat sekarang."
"Berhati-hatilah Prabu Putra Candrasa. Ingat, jika kamu membutuhkan bantuan, panggil saja namaku."
"Nggih Gusti Prabu."
Atas perintah Prabu Jabang Wiyagra, Prabu Putra Candrasa akhirnya harus kembali ke istananya, untuk memeriksa semua keadaan yang ada di sana. Prabu Jabang Wiyagra merasa kalau kekuatan yang dimiliki oleh Kerajaan Putra Malela belum cukup mampu untuk menghalau kedatangan musuh. Karena musuh Kerajaan Wiyagra Malela bukan hanya Ratna Malangi saja. Masih banyak lagi musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra yang belum mati. Banyak dari mereka yang masih berkeliaran di berbagai wilayah yang ada di Tanah Jawa ini.
__ADS_1
Ratna Malangi bukanlah musuh terakhir yang Prabu Jabang Wiyagra miliki. Musuh Prabu Jabang Wiyagra masih sangat banyak, dan mereka datang dari berbagai arah, untuk satu tujuan yang sama. Yaitu membunuh Prabu Jabang Wiyagra, dan mengambil alih seluruh kekuasaannya. Terutama dengan para penganut aliran hitam yang seakan tidak pernah lelah untuk memusuhi Prabu Jabang Wiyagra. setiap kali ada satu dari mereka yang mati, pasti akan ada yang menggantikannya lagi.
Hingga saat ini, masih sangat banyak musuh Prabu Jabang Wiyagra yang bersembunyi, dan sedang berkumpul untuk merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar lagi. Namun, pertarungan kali ini cukup memberikan pukulan keras kepada musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra. Bahkan banyak sekali padepokan ilmu hitam yang juga mulai mengasingkan diri mereka, ke tempat yang jauh lebih asing lagi. Karena khawatir menjadi sasaran Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya.
Karena kemenangan yang telah diraih oleh Prabu Jabang Wiyagra dan juga para abdi setianya, sudah pasti akan lebih banyak lagi musuh yang berdatangan untuk menghancurkan kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Ditambah lagi dengan terdengarnya kabar, soal kembalinya Panglima Agung Wira Satya, yang telah membantu kemenangan pihak Kerajaan Wiyagra Malela. Sudah pasti musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra yang lainnya akan ketar-ketir.
Dan yang tidak diketahui oleh semua orang adalah, Prabu Jabang Wiyagra membiarkan Ratna Malangi dan Ratu Mekar Senggani hidup lebih lama, karena Prabu Jabang Wiyagra membutuhkan mereka berdua untuk membuka semua rahasia seluruh padepokan aliran hitam, yang ada di Tanah Jawa ini. Ratna Malangi dan Ratu Mekar Senggani adalah dua orang perempuan yang sangat-sangat berpengaruh bagi orang-orang yang menganut aliran hitam.
Dua orang perempuan ini bukan hanya menjadi ratu untuk pengikut maupun kerajaannya saja, tetapi mereka berdua juga mendapatkan dukungan dari beberapa padepokan yang menganut aliran hitam. Padepokan penganut aliran hitam yang berada di bawah kekuasaan mereka berdua, pasti akan melakukan serangan balasan kepada Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya. Mereka tidak akan terima, dan tinggal diam begitu saja, melihat para pemimpin mereka telah dirampas oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Sebagai seorang perempuan yang sangat berpengaruh, tentunya para penganut aliran hitam akan sangat membutuhkan pemimpin seperti mereka berdua. Jika dua orang perempuan paling berpengaruh ini tidak lagi berpihak kepada mereka, maka mereka akan kehilangan pemimpin, dan bahkan kehilangan sebagian besar kekuatan yang telah mereka miliki selama ini. Pengaruh mereka juga akan melemah di kalangan masyarakat yang sudah bertahun-tahun menjadi pengikut mereka.
Sebenarnya, Prabu Jabang Wiyagra sudah melakukan banyak hal, untuk menekan pergerakan para penganut aliran hitam, yang suka berbuat kerusakan. Namun kembali lagi, mati satu tumbuh seribu. Mereka selalu memiliki seorang pengganti, untuk meneruskan ajaran sesat mereka. Dan orang-orang yang menggantikan mereka ini, bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka semua adalah orang-orang terpilih, yang sudah melalui berbagai macam ritual sesat.
Walaupun mungkin kesaktian mereka tidak sebanding dengan yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra ataupun Ratna Malangi, tetapi pemikiran mereka jauh lebih berbahaya daripada kesaktian yang ada di dalam tubuh mereka. Karena sekalipun kesaktian mereka bisa dengan mudah ditandingi oleh para pasukan Prabu Jabang Wiyagra, tapi jika pemikiran sesat mereka sudah menyebar di masyarakat, maka hal itu akan tetap menjadi masalah besar bagi semua orang yang ada di dalam Kerajaan Wiyagra Malela.
Para penganut aliran hitam ini tidak segan untuk mengorbankan apapun demi mencapai tujuan mereka. Tidak jarang dari para penganut aliran hitam ini yang mengorbankan anak mereka sendiri, demi kepentingan pribadi mereka. Pemikiran mengerikan seperti itulah yang ingin Prabu Jabang Wiyagra hentikan. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau kalau sampai anak-anak yang tidak tahu apa-apa, kemudian dikorbankan ataupun ditumbalkan, untuk kepentingan sesat orang tua mereka.
__ADS_1