DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 78


__ADS_3

Patih Kinjiri tinggal di sebuah rumah kecil yang disana juga sudah ada Utari Gita. Utari Gita diutus oleh Prabu Jabang Wiyagra untuk menemani Patih Kinjiri, dan menyamar menjadi pembantu di rumahnya. Alasan kenapa Utari Gita yang dikirim adalah, karena dia ahli dalam penyamaran.


"Aku tidak menduga kalau Prabu Jabang Wiyagra akan mengirim seorang utusan. Aku tidak terbiasa dengan perempuan. Lagi pula aku juga terbiasa sendirian." Ucap Patih Kinjiri sembari membereskan barang-barang bawaannya.


"Kita disini hanya menjalankan tugas dari raja kita. Lagi pula posisiku disini hanya sebagai pembantu. Bukan yang lain. Jadi Gusti Patih tidak perlu khawatir." Jawab Utari Gita dengan lembut.


Patih Kinjiri memang tidak pernah bersama perempuan. Setiap kali menjalankan tugas, dia lebih sering berjalan sendirian. Karena bagi Patih Kinjiri, teman bisa menjadi penolong, tapi sekaligus bisa menjadi beban. Dan hanya akan merepotkannya. Apalagi perempuan.


Tapi pastinya Prabu Jabang Wiyagra memiliki alasan kuat mengirim Utari Gita kepada Patih Kinjiri. Walau pun Patih Kinjiri sudah terbiasa dalam kesendirian, tapi diam-diam Patih Kinjiri juga selalu merasakan kesepian. Ingin rasanya dia memiliki keluarga dan bisa hidup bahagia.


Namun semua harapan itu ia pendam dalam-dalam. Karena dia masih ingin fokus untuk memperbaiki dirinya sendiri. Dia ingin menebus semua kesalahan-kesalahannya di masa lalu, dengan mengabdi kepada Prabu Jabang Wiyagra.


Suasana di rumah kecil itu sedikit canggung. Patih Kinjiri dan Utari Gita hanya sama-sama saling tahu, tapi tidak saling mengenal. Sebagai sesama abdi, mereka memiliki tugas mereka masing-masing dan mereka berdua tidak pernah saling mengobrol satu sama lain.


Baru kali ini mereka berdua disatukan dalam tugas yang sama. Dan tugas mereka akan berlangsung sangat lama. Karena mereka berdua pun sama-sama tidak tahu apa yang mereka cari. Prabu Jabang Wiyagra hanya memberikan perintah untuk mengawasi Kerajaan Mangkon Rogo.


"Tidak ada yang mencurigakan di tempat ini. Semuanya biasa saja. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing." Ucap Patih Kinjiri.


"Bukankah sesuatu yang tidak mencurigakan adalah sesuatu yang paling mencurigakan?" Kata Utari Gita.


"Maksudnya?"


"Kalau ingin membuat sebuah rahasia tetap aman, maka taruhlah rahasia itu di tempat umum." Jawab Utari Gita.

__ADS_1


Patih Kinjiri paham dengan apa yang Utari Gita katakan. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, bisa saja itu hanya pengalih perhatian untuk sesuatu yang penting yang sedang mereka lakukan.


"Kamu benar Utari Gita. Dengan keadaan yang ramai seperti ini, kita akan semakin sulit mengawasi pergerakan pasukan Kerajaan Mangkon Rogo."


"....Prabu Jabang Wiyagra curiga kalau mereka sedang melakukan sesuatu yang tidak baik. Tapi sampai sekarang aku masih bingung apa yang terjadi." Ucap Patih Kinjiri.


"Sama. Prabu Jabang Wiyagra juga mengatakan hal yang sama padaku Gusti Patih. Dia mencurigai sesuatu. Tapi Prabu Jabang Wiyagra tidak mengatakannya secara rinci."


Mereka berdua pun akhirnya mulai menyusun rencana. Patih Kinjiri ingin menyamar membuka sebuah rumah makan. Rumah kecil yang mereka berdua memiliki halaman yang luas dan cocok untuk tempat orang-orang berkumpul.


Untuk memulai semuanya, Patih Kinjiri kemudian meminta bantuan salah satu warga desa untuk mencarikan orang-orang yang bisa membangun rumah makan dan juga tempat yang nyaman.


Patih Kinjiri tidak mempermasalahkan seberapa banyak biaya yang akan dikeluarkannya, karena uang yang ia pakai untuk membangun rumah makan adalah uang negara yang diberikan langsung oleh Prabu Jabang Wiyagra kepadanya.


"Iya pa. Saya paham. Soal itu bapa tidak perlu khawatir. Saya juga tidak sungkan untuk memberikan bagian."


"Ah.. Terimakasih pengertiannya Den."


"Sama-sama pa."


Laki-laki itu pun meminta bantuan ke temannya yang merupakan seorang pandai pembangunan, untuk membangun rumah makan Patih Kinjiri. Patih Kinjiri ingin semuanya diselesaikan secepat mungkin. Seperti yang ia katakan, uang bukanlah masalah.


Dan selama berada di desa ini, Patih Kinjiri merubah namanya menjadi Noto. Sedangkan Utari Gita berubah namanya menjadi Dinta, agar identitas asli mereka tidak diketahui oleh para warga desa dan juga para prajurit Kerajaan Mangkon Rogo.

__ADS_1


Saat ada orang yang menanyakan dari mana asal mereka, Patih Kinjiri akan mengatakan kalau mereka adalah seorang pengembara. Jadi mereka tidak memiliki tempat tinggal. Karena mereka terus menerus berpindah-pindah tempat. Dan akhirnya mereka memilih untuk tinggal di desa ini. Karena cocok untuk membuka usaha rumah makan.


Semua orang pun percaya. Termasuk para prajurit istana. Apalagi dengan adanya keberadaan Utari Gita disana, bisa-bisa rumah makan Patih Kinjiri ramai dikunjungi oleh para prajurit dan juga orang-orang kaya. Tapi nanti, setelah rumah makan mereka jadi, barulah semuanya akan dimulai.


Mereka harus memperhatikan dengan jeli setiap pergerakan orang-orang yang akan datang ke rumah makan mereka. Selama rumah makannya dibangun, Patih Kinjiri dan Utari Gita menyewa sebuah rumah milik salah satu warga desa untuk dihuni sementara. Sekaligus mereka juga ingin menambah keakraban dengan masyarakat sekitar.


Patih Kinjiri dan Utari Gita tinggal di rumah seorang nenek tua yang tinggal sendiri tanpa keluarga. Nenek itu dipanggil Nini Asih. Nini Asih adalah janda yang tidak memiliki anak. Anak dan suaminya meninggal karena menjadi korban dari kekejaman Prabu Garan Darang.


Nini Asih juga menceritakan beberapa aturan penting kepada Utari Gita dan Patih Kinjiri. Siapa pun yang tinggal di desa ini, disarankan untuk tidak berpenampilan cantik, bagi seorang perempuan.


Karena kalau sampai Prabu Garan Darang tahu ada perempuan cantik, dia pasti akan langsung memerintahkan para prajurit istana untuk membawa perempuan itu kepadanya.


Sedangkan untuk laki-laki, disarankan untuk bekerja sewajarnya saja. Dan sebaiknya tidak perlu belajar ilmu bela diri. Karena sudah pasti laki-laki yang bisa bela diri akan dijadikan prajurit Kerajaan Mangkon Rogo.


Kalau sudah menjadi seorang prajurit, maka disitulah semua penderitaan akan dimulai. Setiap orang yang menjadi prajurit harus selalu patuh kepada perintah Prabu Garan Darang.


Terkadang, Prabu Garan Darang suka meminta hal-hal aneh dan meminta hal-hal yang sulit untuk dipenuhi. Sebenarnya itu hanyalah alasan Prabu Garan Darang saja untuk mencari masalah.


Karena Prabu Garan Darang ini sangat menyukai kekerasan dan penindasan. Dia suka ketika melihat ada orang yang dipukuli atau disiksa. Jika ada bawahannya yang melalukan kesalahan, maka Prabu Garan Darang akan memerintahkan para prajurit untuk memukuli orang itu sampai babak belur.


Hal semacam itu sudah sering terjadi. Beruntungnya, Patih Kinjiri dan Utari Gita tinggal di desa ini. Di desa lain keadaannya bisa jauh lebih parah. Karena selalu saja ada gadis-gadis desa yang diculik untuk memuaskan nafsu Prabu Garan Darang.


Setelah bosan, Prabu Garan Darang akan mengembalikan mereka kepada keluarganya, dengan memberikan mereka sedikit uang. Namun uang tidaklah cukup untuk membayar apa yang telah ia rampas dari para gadis-gadis itu.

__ADS_1


Tetapi tidak ada yang bisa mereka lakukan. Karena mereka tidak mungkin berani melawan Prabu Garan Darang dan maupun para prajurit yang diutus olehnya. Kalau mereka melawan, maka satu keluarga akan langsung dibantai sampai habis.


__ADS_2