
Apa yang sudah direncanakan oleh Prabu Putra Candrasa dan juga Prabu Jabang Wiyagra, ternyata berjalan dengan sangat baik. Sesuai dengan apa yang mereka berdua inginkan. Dimulai dari hari ini, para pasukan dari Kerajaan Bala Bathara sudah mulai diturunkan. Prabu Barajang mendapatkan kabar dari mata-matanya kalau ada pertambangan yang sudah menghasilkan banyak sekali emas.
Jumlah emas yang ada di pertambangan tersebut sangatlah banyak, dan lebih dari cukup untuk memperbesar istana Kerajaan Bala Bathara. Hal itu membuat Prabu Barajang ingin sekali merampas pertambangan tersebut, dan menguasai semua emas yang ada di sana. Tapi yang tidak ia tahu adalah, semua pertambangan adalah tempat jebakan.
Prabu Putra Candrasa bersama pasukannya sengaja menyebarkan berita bohong, yang mengatakan kalau seluruh pertambangan emas sekarang sedang berkembang dengan pesat. Banyak emas yang bisa didapatkan. Tetapi pada kenyataannya, emas yang didapatkan tidaklah sebanyak yang ditunjukkan. Karena mencari emas tidaklah semudah seperti mengumpulkan harta lainnya.
Memang pertambangan emas sedikit mengalami perkembangan, tetapi itu hanya sedikit. Tidak sebesar apa yang diberitakan oleh orang-orang. Namun sepertinya strategi ini memang sangatlah tepat, untuk membuat Prabu Barajang tertarik untuk menguasai semua pertambangan yang ada di wilayah Kerajaan Putra Malela. Dan dia sudah tidak sabar untuk melakukan hal itu.
Semua pasukannya dipaksa bergerak maju dengan cepat, untuk menguasai semua daerah pertambangan emas. Tanpa memperhitungkan kembali apa yang sudah ia lakukan. Prabu Barajang sama sekali tidak berfikiran untuk melakukan penyerangan ke satu wilayah pertahanan, lalu mempertahankan wilayah itu sampai semuanya benar-benar aman.
Yang ada di otaknya hanyalah kekayaan dan kekuasaan. Dia bahkan melupakan perjanjiannya dengan para raja yang sudah mendukungnya. Sedangkan para raja yang mendukungnya, sama sekali tidak tahu tentang rencana tersebut. Karena mereka sudah menyerahkan pasukan dan persenjataan kepada Prabu Barajang, sesuai dengan perjanjian.
__ADS_1
Prabu Gala Ganda juga tidak diberitahu sama sekali, kalau ada perubahan rencana. Prabu Barajang ingin menikmati sendiri semua harta kekayaan yang ada di Kerajaan Putra Malela, tanpa harus membaginya dengan siapapun. Sekalipun itu dengan kakaknya sendiri, yaitu Prabu Gala Ganda. Apalagi dendam di antara mereka berdua belum terselesaikan.
Prabu Gala Ganda dan Prabu Barajang Hanya dua orang yang sama-sama takut mati. Sehingga mereka tidak lagi saling serang satu sama lain. Kalau saja bukan karena kutukan yang diberikan oleh ayahanda mereka, sudah pasti mereka juga perang sampai sekarang. Apalagi tahta yang mereka miliki, dirasa masih belum cukup. Mereka ingin menginginkan sesuatu yang lebih dari apa yang mereka dapatkan sekarang.
Namun, Prabu Gala Ganda bersama dengan Maha Patih Rangkat Sena, sedang merencanakan sesuatu untuk Prabu Barajang. Prabu Gala Ganda sangat menginginkan kematian adiknya, sedari dulu. Hanya saja belum memiliki kesempatan hingga sekarang. Prabu Gala Ganda ingin Prabu Barajang mati, tanpa harus menggunakan kedua tangannya. Karena jika Prabu Gala Ganda langsung yang turun tangan, maka dia sendiri pun akan mati.
"Pasti akan ada kesempatan kali ini, Gusti Prabu. Kalau perlu, biarkan hamba saja yang membunuhnya." Ucap Maha Patih Rangkat Sena.
"Tidak Maha Patih. Itu adalah cara yang bodoh. Kalau kamu yang melakukannya maka semua orang akan tahu, siapa dalang di balik pembunuhan itu. Aku tidak mau kalau sampai terjadi peperangan yang jauh lebih besar lagi. Apalagi Dimas Prabu Barajang memiliki Maha Patih Salara."
Prabu Gala Ganda jauh lebih cerdas daripada Prabu Barajang. Dia juga lebih suka bermain bersih daripada harus mengotori tangannya sendiri. Dan selama masa pemerintahannya, Prabu Gala Ganda udah banyak sekali membuat perubahan di kerajaannya. Bahkan diam-diam dia juga menyetir ekonomi yang ada di Kerajaan Bala Bathara, yang dipimpin oleh Prabu Barajang.
__ADS_1
Dan bodohnya adalah, sampai sekarang Prabu Barajang tidak tahu mengenai hal tersebut. Dikarenakan Prabu Gala Ganda menggunakan tangan orang lain. Prabu Barajang sendiri sama sekali tidak curiga kepada orang-orang yang berbisnis dengan dirinya. Semua itu disebabkan karena Prabu Barajang memiliki pengalaman yang minim dalam hal mengembangkan ekonomi. Jadi dia saat mudah ditipu oleh orang lain.
Selama ini yang dia tahu hanyalah menguasai, dan mengeruk semua yang ada di negaranya, untuk kepentingannya sendiri. Bahkan tidak jarang dia mengambil secara paksa harta milik rakyatnya, yang jumlahnya tidak seberapa. Prabu Barajang juga menerapkan pajak yang sangat tinggi, sehingga banyak rakyatnya yang kelaparan.
Di saat Prabu Barajang sedang berpesta pora dengan semua orang yang ada di istananya, rakyatnya justru sedang dalam keadaan yang menderita parah. Dan Prabu Barajang sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Yang terpenting untuknya, semua orang harus tunduk kepadanya. Tidak peduli bagaimana nasib mereka kedepannya.
Prabu Barajang akan merasa sangat senang, kalau ada orang yang merasa takut saat melihat dirinya. Bahkan dia akan menjatuhkan hukuman berat, bagi siapa saja yang berani menengadahkan kepalanya, kepada Prabu Barajang. Walaupun Prabu Barajang sudah sering memperingati rakyatnya untuk tidak melakukan perlawanan, tapi tetap saja ada orang yang berusaha untuk membunuhnya.
Meskipun usaha mereka berakhir dengan kematian, tapi hal itu sudah cukup membuktikan satu hal, bahwa Prabu Barajang sama-sama dibenci oleh rakyatnya sendiri. Bahkan, banyak juga pasukannya yang suka membangkang dan tidak patuh kepada perintah. Kalaupun mereka patuh, pasti mereka memiliki niat terselubung. Yaitu untuk mencuri harta kekayaan milik Prabu Barajang.
Tidak ada pasukan yang benar-benar setia kepadanya, bahkan Maha Patih Salara sekalipun. Diketahui, kalau sebenarnya Maha Patih Salara inilah yang sudah menanamkan hal-hal jahat kepada Prabu Barajang, saat Prabu Barajang masih kecil. Karena semua yang dikatakan oleh Maha Patih Salara, pasti akan dituruti oleh Prabu Barajang. Prabu Barajang seperti bukan siapa-siapa saat ada Maha Patih Salara.
__ADS_1
Prabu Barajang sudah menganggap Maha Patih Salara seperti ayahnya sendiri. Maha Patih Salara jelas merasa senang dengan hal tersebut. Karena akan semakin memudahkan baginya untuk mengendalikan Prabu Barajang. Maha Patih Salara bisa melakukan apa saja yang ia suka, tanpa harus mendapatkan teguran. Dan posisinya akan selalu aman. Karena dia adalah tangan kanan Prabu Barajang.
Namun ada sedikit perubahan dengan sikap Prabu Barajang akhir-akhir ini, yang membuat Maha Patih Salara khawatir. Prabu Barajang sering melakukan tindakan tanpa diketahui oleh Maha Patih Salara. Sehingga membuat Maha Patih Salara kesal, karena dia tidak bisa mengambil keuntungan apapun. Sepertinya Prabu Barajang sudah mulai tidak peduli kepada siapa saja. Dan dia hanya percaya kepada dirinya sendiri.