
Patih Kinjiri sama sekali tidak menyangka kalau di sana sudah ada Pangeran Rawaja Pati. Bahkan Pangeran Rawaja Pati yang menjemput Patih Kinjiri di pertengahan jalan. Pangeran Rawaja Pati sudah sampai di tempat ini selama beberapa waktu yang lalu. Setelah berbincang panjang lebar dengan Prabu Jabang Wiyagra, Pangeran Rawaja Pati langsung pergi menuju ke tempat persembunyian Maha Patih Galangan, bersama dengan Patih Kayat dan Patih Daraka.
kedua Patih terbaik dari Kerajaan Wiyagra Malela itu diutus oleh Prabu Jabang Wiyagra untuk mengawal Pangeran Rawaja Pati. Sekaligus untuk membantu Pangeran Rawaja Pati kalau sampai terjadi sesuatu.
"Saya tidak menyangka kalau Pangeran sudah sampai di tempat ini terlebih dahulu, apalagi Pangeran Rawaja Pati dengan cepat bisa mempercayai orang ini. Saya rasa Pangeran harus berhati-hati kepadanya." Ucap Patih Kinjiri yang melirik sinis kepada Maha Patih Galangan.
Maha Patih Galangan yang mendengar ucapan Patih Kinjiri hanya diam saja tertunduk malu, karena dia merasa sangat bersalah kepada semua orang yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Meskipun malu dan merasa sangat bersalah, tetapi Maha Patih Galangan tidak menutup-menutupi kesalahannya. Dia bahkan mengakuinya di depan Patih Kinjiri dan Pangeran Rawaja Pati.
"Maafkan aku. Maafkan aku atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan, kepada semua orang yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Terutama kepada Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Aku mungkin tidak bisa menghapus semua kesalahanku, tapi aku sudah bersumpah dan berjanji untuk berubah menjadi lebih baik lagi." Ucap Maha Patih Galangan.
"Baguslah kalau begitu. Sebaiknya kamu benar-benar menjaga ucapanmu itu. Atau aku yang akan membuatmu menyesal karena sudah dilahirkan di dunia ini." Ujar Patih Kinjiri.
Melihat kedua orang itu semakin memanas, Pangeran Rawaja Pati mencoba untuk melerai mereka berdua. Mengalihkan perhatian mereka kepada sebuah peta, yang sudah disediakan di sebuah meja. Pangeran Rawaja Pati Jelaskan beberapa tempat yang akan menjadi titik penyerangan mereka bertujuh.
__ADS_1
Pangeran Rawaja Pati ingin para pasukan Maha Patih Galangan menyerang beberapa sudut pertahanan musuh. Salah satunya adalah sebuah benteng kecil yang mengelilingi sebuah keraton. Di sana ada tujuh keraton yang belum lama dibangun untuk melindungi istana Kerajaan Wesi Kuning.
Keraton itu menjadi tempat sementara para raja yang menjadi pengikut setia Prabu Bawesi. Setiap keraton memiliki benteng dan pasukan pertahanannya sendiri. Keraton pertama memiliki pertahanan yang cukup kuat, tapi tidak sekuat benteng pertahanan yang ada di keraton-keraton selanjutnya.
Para raja yang ada di sana membangun ketujuh keraton tersebut untuk menjaga istana Kerajaan Wesi Kuning dalam keadaan baik-baik saja. Mereka membangun benteng-benteng kokoh untuk mengelilingi keraton, dan juga istana Kerajaan Wesi Kuning. Dan mereka terus menerus menambah kekuatannya setiap hari.
Setiap keraton memiliki lima ribu pasukan. Dan dipimpin oleh seorang raja dan para Patihnya. Posisi keraton-keraton itu dibentuk seperti anak panah. Keraton yang pertama adalah ujung paling runcing dari anak panah tersebut. Sedangkan keraton dua dan tiga adalah keraton yang posisi sejajar. Bisa dibilang, itu adalah sayap kiri kanan dari ujung runcing anak panahnya.
Entah siapa yang membuat strategi cerdik ini, tetapi Maha Patih Galangan meyakini, kalau ini adalah strategi Prabu Bawesi. Maha Patih Galangan yakin kalau Prabu Bawesi sudah kembali pulih, dan sudah siap untuk menyambut Prabu Jabang Wiyagra berserta seluruh pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Karena di istana Kerajaan Wesi Kuning, tidak ada satupun orang yang bisa melakukan strategi tersebut, kecuali Prabu Bawesi sendiri.
Pangeran Rawaja Pati juga yakin dengan ucapan Maha Patih Galangan. Karena sudah mengetahui betul, bagaimana kemampuan para pasukan Kerajaan Wesi Kuning. Terutama dengan para raja yang mendukung Prabu Bawesi. Mereka bukanlah orang yang cerdas dalam mengatur strategi penyerangan, apalagi pertahanan. Hal itu adalah hal yang sangat mustahil untuk mereka lakukan.
Menurut Pangeran Rawaja Pati, Prabu Jabang Wiyagra sebelumnya juga sempat menyinggung persoalan Prabu Bawesi, yang kemungkinan besarnya sudah sadar dari luka parah yang dideritanya. Prabu Jabang Wiyagra sudah mewanti-wanti Pangeran Rawaja Pati, Patih Kayat, dan Patih Daraka, untuk selalu mengetahui bagaimana perkembangan istana Kerajaan Wesi Kuning sebelum melakukan penyerangan.
__ADS_1
Kalau dugaan Prabu Jabang Wiyagra benar, maka sudah pasti mereka akan mendapatkan masalah yang sangat besar. Prabu Jabang Wiyagra terpaksa harus turun tangan sendiri untuk menghadapi Prabu Bawesi. Karena sudah pernah kalah di tangan Maha Patih Putra Candrasa, kali ini Prabu Bawesi pasti akan lebih berhati-hati dari sebelumnya.
Tidak menutup kemungkinan, kalau Prabu Bawesi juga sudah mengembangkan kembali ilmu kanuragan yang ia miliki. Prabu Bawesi pasti dendam kepada Maha Patih Putra Candrasa, yang sudah mempermalukannya di depan semua orang. Apalagi saat itu para prajuritnya dihabisi tanpa sisa oleh Pangeran Rawaja Pati. Pangeran Rawaja Pati juga pasti akan menjadi sasaran pukulan bagi Prabu Bawesi.
Dan kemungkinan kedua yang ditebak oleh Prabu Jabang Wiyagra adalah, Prabu Bawesi akan menyerang istana Kerajaan Wiyagra Malela. Dan ketujuh keraton yang ada di sana bisa saja hanyalah pengalihan perhatian, agar Lare Damar dan seluruh pasukannya tetap berada di tempat mereka. Tetapi dua hal itu masih menjadi kemungkinan. Belum bisa dipastikan soal kebenarannya.
Maha Patih Galangan dan ketujuh orang Patih yang setia kepadanya itu sekarang sudah ketahuan, karena ada salah satu anggota pasukan milik Maha Patih Galangan yang melapor kepada istana dan membeberkan semuanya. Untungnya si prajurit yang berkhianat itu tidak tahu tempat persembunyian Maha Patih Galangan dan ketujuh Patihnya yang setia. Sehingga mereka masih aman, setidaknya untuk saat ini.
Maha Patih Galangan akhirnya merubah beberapa rancangan yang sudah dia susun dengan sangat matang. Dan tidak ada satupun pasukannya yang tahu kalau Maha Patih Galangan mengirimkan surat kepada Pangeran Rawaja Pati dan juga kepada Prabu Jabang Wiyagra. Kecuali ketujuh Patih yang ikut rapat dengan dirinya beberapa waktu yang sudah berlalu.
Pangeran Rawaja Pati beserta Patih Daraka dan Patih Kayat hanya perlu menyempurnakan lagi semua rencana yang sudah dibuat oleh Maha Patih Galangan. Sehingga Maha Patih Galangan tidak perlu merubah keseluruhan rencana yang sudah dia buat. Bahkan Pangeran Rawaja Pati membuat beberapa rencana jebakan untuk para pasukan Prabu Bawesi, kalau memang Prabu Bawesi dan pasukannya menyerang Kerajaan Wiyagra Malela.
Namun rencana itu hanya diketahui oleh Pangeran Rawaja Pati sendiri. Pangeran Rawaja Pati tidak memberitahukannya kepada Maha Patih Galangan maupun kepada yang lainnya. Karena itu adalah rencana rahasia dan mereka hanya perlu mengikuti arahan darinya, agar semuanya bisa berjalan dengan sempurna.
__ADS_1