
"Kurang ajar! Si ja-lang itu benar-benar sudah mempermainkanku! Selalu saja begitu dari dulu!" Ucap Patih Lanja Arang yang kecewa karena rencananya untuk menjebak Ratu Mekar Senggani telah gagal total.
"Sabar Gusti Patih. Pasti ada cara lain untuk membalas kekalahan kita ini." Kata seorang tangan kanan Patih Lanja Arang, yang bernama Pralesik.
Pralesik adalah tangan kanan dari Patih Lanja Arang. Dia yang selama ini membantu pergerakan yang dilakukan oleh Patih Lanja Arang dan para pasukannya. Dia juga yang merekrut dan menghasut mantan pasukan Kerajaan Panca Warna, untuk memberontak kepada Intan Senggani dan juga Ratu Mekar Senggani. Pralesik awalnya hanya seorang prajurit biasa, sama seperti Patih Lanja Arang. Hanya saja dia beruntung, karena memiliki otak yang cukup cerdas. Sehingga Patih Lanja Arang kerap kali mengandalkannya untuk sesuatu. Sampai dia diangkat menjadi orang kepercayaan, sekaligus penasehat pribadi Patih Lanja Arang, untuk membantu Patih Lanja Arang dalam setiap pergerakan yang ia lakukan bersama pasukannya.
Pralesik memiliki tubuh yang lebih pendek daripada para prajurit yang lainnya. Dia juga memiliki mata yang picak sebelah. Dan rambut yang keriting, dengan rambut yang berwarna coklat kemerah-merahan. Namun fisiknya itu sama sekali bukan penghalang bagi dirinya, untuk menjadi orang penting di antara para abdi setia Patih Lanja Arang. Apalagi Patih Lanja Arang memberikan pengaruh yang cukup besar kepada Pralesik. Pralesik pakan memiliki pasukannya sendiri. Yang bertugas mengawal dirinya, kemanapun dirinya pergi. Pralesik tidak bisa berjalan dengan cepat, disebabkan kaki kirinya yang agak pincang. Cacat fisik itu ia dapatkan setelah ia bergabung dengan prajurit Kerajaan Panca Warna, pada masa pemerintahan Ratu Mekar Senggani dan Maha Patih Baruncing.
Dia terluka karena puluhan anak panah yang menancap di kakinya, saat menghadapi pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Saat itulah Patih Lanja Arang menolong Pralesik yang sedang terluka parah. Saat semua orang hanya peduli kepada dirinya sendiri, hanya Patih Lanja Arang-lah yang benar-benar peduli kepadanya. Pralesik merasa berhutang nyawa kepada Patih Lanja Arang. Dia sudah bersumpah untuk setia kepada Patih Lanja Arang dalam keadaan apapun. Walaupun tidak jarang Pralesik suka mendapatkan kata-kata pedas dari Patih Lanja Arang, tetapi Pralesik seperti tidak mempedulikan hal itu. Setiap kali Patih Lanja Arang marah, tentu Patih Lanja Arang tidak marah begitu saja. Tapi dia memiliki alasan yang kuat, mengapa dia sampai marah kepada Pralesik.
"Tenang?! Kau bilang tenang?! Bagaimana aku bisa tenang?! Aku telah kehilangan beberapa orang pasukanku! Dan mereka menderita dengan sia-sia!"
"Gusti Patih. Masih banyak orang di luar sana yang mendukung Gusti Patih. Seperti yang telah hamba katakan sejak awal, kalau mereka hanyalah umpan. Berkat tertangkapnya beberapa orang pasukan itu, sekarang Gusti Patih bisa mengetahui kalau Ratu Mekar Senggani mendapatkan dukungan penuh dari Prabu Jabang Wiyagra. Dan, Ratu Mekar Senggani belum sepenuhnya bisa mengatur pemerintahannya dengan baik, Gusti Patih."
__ADS_1
Seketika Patih Lanja Arang mulai menyadari sesuatu. Apa yang diungkapkan oleh Pralesik memang ada benarnya. Sekarang Patih Lanja Arang bisa mengetahui bagaimana kekuatan pasukan Ratu Mekar Senggani yang sebenarnya. Kenyataan kalau Ratu Mekar Senggani dibantu penuh oleh Prabu Jabang Wiyagra, sudah tidaklah penting bagi dirinya. Karena pada masanya nanti, Patih Lanja Arang tetap harus berhadapan dengan Prabu Jabang Wiyagra. Sekalipun nantinya dia bisa mengalahkan Ratu Mekar Senggani. Yang terpenting baginya sekarang adalah, mempersiapkan segala sesuatunya, untuk segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Kamu benar juga, Pralesik. Bagaimanapun keadaannya, pada waktunya nanti aku tetap akan berhadapan dengan Prabu Jabang Wiyagra. Karena untuk menguasai seluruh daratan yang ada di Tanah Jawa ini, aku harus mengalahkan Prabu Jabang Wiyagra terlebih dahulu."
"Ya. Begitulah kira-kira maksud hamba Gusti Patih. Gusti Patih hanya perlu mempersiapkan pasukan sebanyak-banyaknya. Kalau perlu, kita juga mengajak Nyai Patri Asih. Karena Nyai Patri Asih juga memiliki ambisi yang sama dengan Gusti Patih."
"Apa kamu yakin? Kalau dia tidak akan membahayakan kita nantinya?"
"Tentu saja tidak Gusti Patih. Seperti biasanya, kita berikan apa yang ia butuhkan, bukan apa yang ia inginkan. Tidak penting Gusti Patih akan menduduki kerajaan yang mana. Kita berikan wilayah Kerajaan Wiyagra Malela kepada Nyai Patri Asih. Dengan begitu, Nyai Patri Asih akan mengira kalau kita mendukung pergerakannya. Padahal, Nyai Patri Asih sendirilah yang secara tidak sadar memberikan dukungan kepada Gusti Patih."
"Gusti Patih. Gusti Patih harus memikirkan kekuasaan dalam jangka panjang. Tidak masalah kalau kita menghabiskan waktu yang lama, tapi dengan hasil yang memuaskan. Daripada bergerak dengan cepat, tapi sasarannya tidak tepat."
Lagi-lagi Patih Lanja Arang menyetujui rencana yang akan dijalankan oleh Pralesik. Meskipun harus menunggu waktu yang sangat lama, Patih Lanja Arang tidak mempedulikan masalah itu lagi. Karena yang terpenting baginya adalah, dia bisa menjadi seorang penguasa dan seorang raja. Perjuangannya untuk menaklukkan musuh-musuhnya, tentu saja akan sangat sebanding dengan apa yang akan ia dapatkan di masa depan. Dia bisa menjadi seorang raja yang berkuasa sepenuhnya di Tanah Jawa ini. Raja Diraja, layaknya Prabu Jabang Wiyagra. Saat itulah dia kan merasakan bagaimana manisnya perjuangan melelahkan yang telah lama ia jalankan, dengan penuh kesabaran.
__ADS_1
"Aku percayakan semua rencananya kepadamu, Pralesik. Tapi aku berpesan, kamu harus berhati-hati kepada Nyai Patri Asih. Dia bukan orang biasa, yang bisa kita remehkan. Dia juga cerdas dalam strategi perang. Kalau dia sampai mengetahui rencana kita, maka tamatlah kita semua."
"Hamba bisa menjamin semuanya akan berjalan dengan lancar, Gusti Patih. Gusti Patih hanya perlu menikmati hasilnya. Hamba yakin, Gusti Patih memang sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang raja besar. Hamba bersumpah, akan selalu berada di samping Gusti Patih. Dan kalau perlu, hamba akan mencari cara, bagaimana agar Gusti Patih berkuasa selama-lamanya. Abadi. Tak bisa mati."
"Adakah cara untuk mencurangi kematian? Pralesik?"
"Tentu saja ada Gusti Patih. Meskipun caranya tidak mudah, dan membutuhkan banyak pengorbanan, tapi hamba yakin, kalau Gusti Patih Lanja Arang akan mampu melakukannya."
"Aku benar-benar berterima kasih kepadamu Pralesik. Selama ini kamulah orang yang berjasa besar untukku. Aku tidak mengingkari janji-janjiku. Kalau aku berhasil menjadi seorang raja, kamu akan aku angkat menjadi penasehat abadiku. Kalau aku tidak mati, maka kamu pun tidak boleh mati. Selamanya, kita akan berkuasa atas Tanah Jawa ini."
"Nggih Gusti Patih."
Mereka berdua pun tertawa gembira, membayangkan bagaimana menyenangkannya berkuasa di Tanah Jawa yang selalu berkelimpahan ini. Kekayaan di Tanah Jawa tidak akan ada habisnya, sampai kapanpun juga. Patih Lanja Arang membayangkan bagaimana indahnya menjadi seorang raja. Pikirannya terbayang ke sana kemari. Dia memimpikan sebuah kerajaan besar, yang ia bangun dengan kerja kerasnya. Tidak ada lagi peperangan dan persaingan. Dan hanya ada satu-satunya seorang raja yang pantas berkuasa di Tanah Jawa ini. Yaitu Patih Lanja Arang sendiri. Tapi, mimpi hanyalah sebuah mimpi. Apalagi Patih Lanja Arang sudah menggunakan cara yang salah.
__ADS_1
Tanah Jawa tidak pernah menginginkan seorang pemimpin yang rakus dan licik, seperti Patih Lanja Arang. Sampai kapanpun, harapannya tetap akan menjadi sebuah harapan. Dan tidak akan pernah menjadi sebuah kenyataan. Patih Lanja Arang belum mengenal dengan baik, siapa sosok Prabu Jabang Wiyagra yang sebenarnya. Dia adalah seorang raja besar yang memiliki kedudukan tinggi. Apa yang telah dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra, murni demi kepentingan orang banyak. Agar tidak ada lagi peperangan dan pertikaian di Tanah Jawa. Mengibarkan bendera perang kepada musuh-musuhnya, adalah cara terakhir untuk menyelesaikan masalah. Prabu Jabang Wiyagra sama sekali tidak berniat untuk menghabisi semua orang yang ada di Tanah Jawa ini.
Kalau semua raja yang ada di Tanah Jawa mau diajak kerjasama, pastilah Prabu Jabang Wiyagra kita harus mengibarkan bendera perang kepada mereka. Sangat berbeda dengan cara yang digunakan oleh Patih Lanja Arang dan Pralesik untuk menaklukkan musuh-musuh mereka. Patih Lanja Arang ingin menyelesaikan masalah dengan fisik, bukan dengan perasaan dan pemikiran. Dia selalu ingin menunjukkan taringnya kepada semua orang. Padahal, di atas langit masih ada langit. Ada orang yang jauh lebih kuat dari Patih Lanja Arang. Dan belum tentu Patih Lanja Arang juga mampu mengalahkan musuh-musuh yang kemampuannya ada di bawah Prabu Jabang Wiyagra. Tapi dia sudah terbang terlalu tinggi. Sehingga dia merasa mampu untuk mengalahkan Prabu Jabang Wiyagra, dan para abdi setianya.