
Prabu Sura Kalana yang diberi tanggung jawab untuk memimpin pasukan, diberi banyak sekali wejangan oleh Prabu Jabang Wiyagra.
"Aku kamu ingin tetap bersabar, Nanda Prabu. Jangan terburu nafsu, jika kamu ingin mengalahkan Ditya Kalana. Karena Ditya Kalana memiliki sebuah ilmu yang sulit ditandingi dengan ilmu kanuragan yang lain."
".....Ditya Kalana akan sengaja memancing amarahmu, dan membiarkanmu mengeluarkan semua kemampuan yang kamu miliki. Amarahmu itulah yang akan menjadi makanan dari ilmu Ditya Kalana. Semakin kamu marah, maka Ditya Kalana akan semakin kuat." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
"Baik Romo Prabu, saya akan selalu mengingat pesan dari Romo Prabu."
"Sekarang berangkatlah."
"Nggih Romo."
Dengan total sepuluh ribu pasukan, dan juga persenjataan yang lengkap, Prabu Sura Kalana pun berangkat. Sepuluh ribu prajurit itu adalah prajurit gabungan. Lima ribu prajurit dari Kerajaan Wiyagra Malela sendiri. Sedangkan untuk sisanya, adalah pasukan bantuan dari Kerajaan Antasura dan Kerajaan Candramawa.
Prabu Bujang Antasura dan Prabu Bagas Candramawa sudah memiliki banyak sekali pasukan saat ini. Dan itu semua berkat dukungan dari Prabu Jabang Wiyagra, yang tidak pernah lelah membimbing mereka berdua, agar kerajaan mereka menjadi kerajaan yang bermanfaat bagi kerajaan-kerajaan yang lainnya.
Prabu Bujang Antasura dan Prabu Bagas Candramawa benar-benar sudah membuktikan kesetiaan mereka kepada Prabu Jabang Wiyagra. Setelah mendengar kalau Prabu Jabang Wiyagra sedang menghadapi masalah baru, mereka berdua langsung berinisiatif mengirimkan bala bantuan.
Padahal Prabu Jabang Wiyagra sendiri tidak meminta bantuan kepada mereka.
"Aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua, yang sudah mau membantuku, padahal aku tidak memintanya sama sekali." Ucap Prabu Jabang Wiyagra berterima kasih kepada dua orang raja besar itu.
__ADS_1
"Tidak perlu begitu, Gusti Prabu. Ini adalah salah satu bentuk kesetiaan kami kepada Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Dan Gusti Prabu dalam pemimpin kami berdua. Sudah menjadi kewajiban kami berdua untuk membantu Gusti Prabu." Jawab Prabu Bujang Antasura.
"Benar apa yang dikatakan Prabu Antasura, Gusti Prabu. Kami berdua akan melakukan yang terbaik yang kami mampu, untuk membantu Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Karena masalah Kerajaan Wiyagra Malela, adalah masalah kami juga." Kata Prabu Bagas Candramawa.
Prabu Jabang Wiyagra merasa sangat senang dan berterima kasih kepada mereka berdua, karena bantuan mereka dapat meringankan beban pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Karena Prabu Bagas Candramawa dan Prabu Bujang Antasura bukan hanya memberikan bantuan pasukan saja, tetapi juga bantuan persenjataan.
Sedangkan kerajaan-kerajaan lain, seperti Kerajaan Ciung Wanara dan Kerajaan Cakra buana, mereka mengirimkan bantuan berupa persediaan makanan untuk para pasukan yang akan berperang. Meskipun kerajaan-kerajaan lain juga termasuk ke dalam kategori kerajaan besar, tetapi mereka tidak sebesar Kerajaan Antarusa dan Kerajaan Candramawa.
Sehingga kebanyakan dari mereka mengirimkan bantuan berupa persediaan makanan, ataupun kebutuhan yang lainnya. Karena banyak dari mereka yang memiliki ekonomi maju, tapi masih terbelakang dalam hal kekuatan pasukan. Mereka tidak berani ambil resiko untuk mengerahkan pasukan yang banyak.
Prabu Jabang Wiyagra juga sangat mengerti Bagaimana keadaan mereka. Bagi Prabu Jabang Wiyagra, bantuan sekecil apapun itu, bantuan tetaplah sebuah bantuan. Dan Prabu Jabang Wiyagra akan sangat-sangat menghargai pengorbanan mereka, dalam bentuk apapun. Sekalipun hanya sebuah doa.
......................
"Luncurkan sekarang!" Perintah Prabu Sura Kalana kepada pasukan meriam.
Dan secara serempak meriam-meriam itu ditembakkan ke arah tempat persembunyian Maha Patih Jogo Rogo. Seketika membuat Maha Patih Jogo Rogo dan para pasukannya terkejut. Para pasukan Maha Patih Jogo Rogo berusaha untuk berlindung dari serangan meriam yang jumlahnya ratusan.
Ternyata penyusupan pasukan yang dipimpin oleh Utari Gita tidak membuat Maha Patih Jogo Rogo menjadi waspada. Maha Patih Jogo Rogo masih tetap orang yang sama, yang suka menyepelekan musuh-musuhnya. Dengan keadaan perbukitan yang terlihat sulit untuk dilewati, membuat Maha Patih Jogo Rogo yakin kalau pasukannya tidak akan kalah.
Namun dengan situasi yang sudah seperti ini, Maha Patih Jogo Rogo berubah menjadi panik. Apalagi sudah ada korban dari pasukannya yang tersebar beberapa titik. Pasukan Maha Patih Jogo Rogo disebar ke berbagai tempat untuk melindungi wilayah bukit tersebut. Tapi semuanya tetap saja sia-sia.
__ADS_1
Berkat informasi yang didapatkan oleh Utari Gita dan pasukannya, pasukan dari pihak Prabu Sura Kalana sudah mengetahui secara pasti, dimana Maha Patih Jogo Rogo menempatkan kekuatan pasukannya. Jadi serangan-serangan dari pasukan meriam selalu tepat sasaran. Bahkan sudah menghancurkan banyak sekali posko dan juga jebakan yang dipasang di bukit itu.
Bukit yang awalnya hijau dan terlihat indah, sekarang berubah menjadi lautan api. Karena pasukan meriam terus menerus menembaki bukit tersebut. Pohon yang sudah tumbang dan yang terbakar, ada di mana-mana. Memenuhi hampir seluruh kawasan dari bukit itu. Dan membuat suasana di bukit itu menjadi sangat panas. Membuat para pasukan Maha Patih Jogo Rogo menjadi tidak fokus.
Maha Patih Jogo Rogo beserta Ditya Kalana langsung memerintahkan semua pasukan yang tersisa untuk turun bukit dengan mereka berdua. Dan jebakan untuk mereka pun akhirnya berhasil. Karena setelah Ditya Kalana dan Maha Patih Jogo Rogo mendekat ke posisi pasukan Prabu Sura Kalana, mereka langsung ditembaki kembali dengan senjata meriam.
Dalam sekejap sebagian besar pasukan Maha Patih Jogo Rogo mati di tempat. Sedangkan Maha Patih Jogo Rogo dan Ditya Kalana serta pengikutnya, masih terus berusaha berlari ke depan untuk menyerang Prabu Sura Kalana dan pasukannya. Setelah melihat posisi yang pas, Prabu Sura Kalana memerintahkan seluruh pasukannya untuk melakukan kontak langsung.
"Serbu!!!" Teriak Prabu Sura Kalana.
Akhirnya para pasukan yang jumlahnya sepuluh ribu itu langsung menyerang Ditya Kalana dan Maha Patih Jogo Rogo, dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Disusul juga dengan Mangku Cendrasih, Pangeran Rawaja Pati, dan Maha Patih Putra Candrasa, yang ikut bergabung dengan pasukan, dalam pertarungan itu.
Maha Patih Jogo Rogo, Ditya Kalana, Aji Guruh, Mbah Gagang, dan Kebo Walik, berusaha bertahan dengan sangat keras, karena mereka menghadapi jumlah pasukan yang sangat-sangat besar. Ditambah lagi dengan para pasukan Maha Patih Jogo Rogo yang semuanya sudah terkapar tak berdaya, akibat serangan dari senjata meriam.
Kelima orang itu sudah dikepung oleh seluruh pasukan Prabu Sura Kalana. Dan mereka tidak memiliki cara lain untuk kabur dari pertempuran tersebut. Para pasukan Prabu Sura Kalana menyerang dengan sangat teratur, sehingga sampai saat ini belum ada korban tewas, kecuali korban yang terluka.
"Ditya Kalana! Kita harus mencari cara agar bisa cepat pergi dari pertempuran gila ini! Lama kelamaan kita bisa mati kalau seperti ini terus!" Ucap Kebo Walik kepada Ditya Kalana.
"Serang saja mereka semampumu! Dan tetap bersama! Jangan terpisah terlalu jauh! Paham?!"
"Ya!"
__ADS_1
Kebo Walik Masih sempat selamat dari penyerangan sebelumnya karena berhasil diselamatkan oleh Mbah Gagang. Mbah Gagang adalah salah satu murid, sekaligua sahabat dekat dari Ki Benang Sengget. Dan dialah yang paling sakti diantara yang lainnya. Bahkan kesaktiannya melebihi Ditya Kalana.