
"Terima kasih sudah menyambut kedatangan kami Panglima Dara Gending, dan Mbah Kangkas." Ucap Arya Panunggul kepada mereka berdua yang sudah menunggu sejak lama.
"Sama-sama, Arya Panunggul. Kami sudah menunggumu sedari tadi."
"Aku minta maaf Panglima, dan Mbah Kangkas. Senjata-senjata yang kami bawa adalah jenis senjata-senjata berat. Jadi perjalanan kami sedikit lambat."
"Tidak apa-apa Arya. Ayo kita berangkat sekarang." Ucap Mbah Kangkas.
"Baik Mbah Kangkas. Oh ya Panglima, aku hampir saja lupa..."
"....Gusti Prabu Jabang Wiyagra menitipkan salam kepadamu. Beliau juga mengharapkan kehadiranmu di istana Kerajaan Wiyagra Malela."
"Terima kasih." Jawab Panglima Dara Gending dengan singkat.
Selepas itu, Arya Panunggul dan Mbah Kangkas langsung pergi ke padepokan. Mbah Kangkas mengambil sebuah kayu kecil berbentuk silinder yang tersimpan di pinggangnya. Kayu kecil itu kemudian dia pukul-pukulkan ke tanah sebanyak tujuh kali. Dan secara ajaib, Arya Panunggul beserta lima ribu pasukannya sudah berada di padepokan Mbah Kangkas.
"Gila!" Arya Panunggul terkejut dan mengusap-usap kedua matanya seakan tidak percaya.
"Orang tua itu benar-benar sakti mandraguna. Hebat! Aku tidak pernah melihat yang seperti ini." Kata Arya Panunggul yang keheranan dengan apa yang baru saja terjadi.
Begitu juga dengan lima ribu pasukan yang ikut bersamanya. Para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela itu celingukan ke sana kemari. Mereka tidak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi. Dalam sekejap mereka sudah berada di Padepokan Mbah Kangkas. Padahal jarak Kota Taram Sari ke wilayah Kerajaan Bala Bathara sangatlah jauh. Dan perlu waktu seharian penuh jika ditempuh dengan kuda.
__ADS_1
Arya Panunggul memang sering mengalami hal-hal yang aneh dan menakjubkan seperti ini. Tapi sepengetahuannya, ilmu melipat bumi tidak bisa digunakan untuk orang dalam jumlah besar. Hanya bisa dilakukan oleh beberapa orang. Itupun bisa saja gagal, kalau jumlah orangnya lebih dari tiga. Sedangkan Mbah Kangkas mampu memindahkan lima ribu pasukan beserta seluruh perlengkapan yang dibawa, hanya dengan memukul tanah sebanyak tujuh kali dengan batang kayu.
"Apa yang kamu tunggu Arya Panunggul?" Tiba-tiba suara Mbah Kangkas mengejutkannya.
"Maaf mbah... Aku..."
"Cepat perintahkan pasukanmu untuk bersiap membentuk garis pertahanan." Perintah Mbah Kangkas kepada Arya Panunggul.
"Baik Mbah..."
"Prajurit! Pasang badan di benteng pertahanan!" Teriak Arya Panunggul kepada semua pasukannya.
Para pasukan Prabu Jabang Wiyagra langsung memposisikan senjata dan juga diri mereka di benteng kecil yang mengelilingi Padepokan Mbah Kangkas. Semua persenjataan kelas berat dipasang dengan sangat rapi oleh para prajurit. Prajurit yang jumlahnya lima ribu orang itu di tempatkan di seluruh bagian benteng kecil ini.
Daerah perbukitan dan juga pegunungan yang mengelilingi tempat ini bisa menjadi tempat untuk musuh-musuh Mbah Kangkas melakukan pengawasan terhadap padepokannya. Musuh bisa menyerang dari mana saja, dan kapan saja mereka mau. Karena tidak jarang Mbah Kangkas menangani para pasukan Prabu Barajang.
Mereka sering datang dalam jumlah yang besar dan membawa peralatan tempur mereka. Tapi hingga saat ini, Prabu Barajang dan pasukannya tidak pernah berhasil menaklukkan Padepokan Mbah Kangkas. Mereka selalu berhasil dipukul mundur oleh Mbah Kangkas dengan sangat mudah.
Tidak bisa dipungkiri, kalau Mbah Kangkas adalah orang yang sangat sakti mandraguna. Hanya saja, Mbah Kangkas tidak mau bertindak liar karena dia adalah orang yang lurus hatinya. Mbah Kangkas selalu berusaha mencari cara agar bisa menyadarkan Prabu Barajang dan juga semua orang yang bersekutu dengan dirinya.
Setiap malam Mbah Kangkas selalu berdoa untuk mendoakan Prabu Barajang agar bisa berubah menjadi orang yang lebih baik. Sebagai orang yang suci, Mbah Kangkas tidak mau menyakiti siapapun secara langsung, kecuali dalam keadaan yang benar-benar terpaksa. Karena itulah Mbah Kangkas membutuhkan banyak pasukan, agar dirinya tidak banyak menyakiti orang.
__ADS_1
Mbah Kangkas juga mengatakan alasannya tersebut kepada Arya Panunggul dan yang lainnya. Arya Panunggul, Arsanti, Pramusita, Utari Gita, dan Bamantara, bisa memahami apa yang dikatakan Mbah Kangkas. Orang-orang sekelas Mbah Kangkas ini, hanya akan turun tangan ketika keadaan sudah benar-benar rumit.
Sedangkan untuk semua perjuangan yang dilakukan, ia bebankan kepada semua murid-muridnya. Semua murid Mbah Kangkas juga memahami bagaimana Mbah Kangkas, yang tidak suka menyakiti orang lain.
"Jangankan menyakiti orang, menyakiti hewan saja Romo tidak mau, Kang Mas Arya." Kata salah satu murid Mbah Kangkas.
Arya Panunggul ingin mencari tahu lebih banyak tentang Mbah Kangkas dari para murid-muridnya. Karena menurut Arya Panunggul sendiri, seharusnya orang-orang seperti Mbah Kangkas ini mampu merubah keadaan menjadi lebih baik dengan kesaktian yang mereka miliki. Namun, kebanyakan dari mereka justru hanya berdoa dan terus berdoa.
"Orang-orang setingkat Romo memiliki caranya sendiri Kang Mas Arya. Orang-orang seperti mereka akan lebih banyak berdiam diri di satu tempat selama berhari-hari, sembari berdoa tanpa henti. Bahkan, ada yang sampai bertahun-tahun untuk memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa."
"Benar Kang Mas Arya, mungkin akan terdengar aneh untuk sebagian besar orang. Tapi itulah mereka Kang Mas. Kitalah yang harus memahami mereka. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka akan semakin kecil pula keinginannya untuk menyakiti orang lain."
Arya Panunggul mengangguk tanda mengerti apa yang mereka dua orang itu ucapkan. Arya Panunggul hanya menyayangkan kemampuan yang dimiliki oleh Mbah Kangkas. Dalam benaknya dia berpikir, Andaikan Arya Panunggul sesakti Mbah Kangkas, pasti dia sudah melakukan penyerangan besar-besaran. Dan menghajar Prabu Barajang habis-habisan.
*
*
*
Sedangkan orang-orang sekelas Utari Gita sudah tidak heran lagi berhadapan dengan orang-orang seperti Mbah Kangkas. Karena Utari Gita dan yang lainnya sudah berpengalaman daripada Arya Panunggul, yang bisa disebut sebagai pemain baru. Tentunya masih banyak sekali hal yang harus dia pelajari di tempat ini.
__ADS_1
Walaupun Arya Panunggul sendiri adalah seorang manusia harimau, bukan berarti dia sudah menguasai seluruh ilmu kanuragan yang ada. Arya Panunggul masih jauh di bawah Utari Gita dan yang lainnya. Namun kelebihannya dalam hal kepemimpinanlah yang membuatnya mendapatkan kepercayaan dari Panglima Galang Tantra dan Prabu Jabang Wiyagra untuk memimpin pasukan bantuan.
Sebenarnya ada yang lebih tinggi lagi dari Arya Panunggul, yaitu Gendam Wulung dan Puger Satriya. Hanya saja mereka berdua sedang ditugaskan di tempat lain, sehingga tidak bisa ikut membantu Arya Panunggul menjalankan tugasnya. Biasanya tiga orang ini tidak pernah berpisah satu sama lain. Bahkan anggota Pasukan Bara Jaya yang lainnya mengenal mereka sebagai Tiga Serangkai.