DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 168


__ADS_3

Suasana di istana Kerajaan Wiyagra Malela begitu tenang dan damai. Semua orang disibukkan dengan kegiatan mereka di pagi hari. Ada yang memberikan makan ternak. Ada yang menyapu jalanan. Ada yang sedang duduk dan berbincang di rumah makan. Dan ada juga yang sedanh berlatih bela diri.


Semua rutinitas itu dilakukan setiap pagi, hingga malam hari. Kerajaan Wiyagra Malela seakan tidak pernah sepi. Dalam keadaan apapun, suasana di Kerajaan Wiyagra Malela selalu saja ramai. Seorang laki-laki bertubuh tinggi, secara diam-diam sedang memperhatikan semua hal yang terjadi di tempat ini.


Matanya melirik kesana kemari. Tatapannya begitu tajam penuh arti. Laki-laki itu memiliki warna rambut yang hitam kecoklatan. Kedua bola matanya besar, nampak seperti orang yang melotot. Namun tatapannya yang tajam itu begitu menyejukkan. Senyumnya manis, mengartikan dia orang yang ramah kepada siapa saja.


Orang-orang di Kerajaan Wiyagra Malela sudah tidak heran melihat orang dengan ciri fisik seperti itu. Terutama orang yang menggunakan jubah panjang, dan sorban yang terikat di kepalanya. Karena sudah pasti orang dengan ciri fisik seperti ini adalah orang-orang Timur Tengah, yang kebanyakan mereka menjadi pedagang di tempat ini.


Orang itu seperti sedang mengawasi sesuatu. Entah apa yang ia cari, tapi yang jelas dia datang ke tempat ini bukan hanya sekedar untuk berdagang. Jarang sekali ada pedagang yang menyelipkan pedang di pinggangnya. Kebanyakan dari mereka akan membawa sebuah tas rajut. Bukan pedang besar yang tajam.


Ada beberapa pendekar di sana yang mencoba mengajak laki-laki itu berbincang. Dan laki-laki itu sangat fasih berbahasa Nusantara. Dia seperti sudah biasa berada di tempat ini. Namun entah kenapa, wajah laki-laki itu nampak asing bagi orang-orang yang berada di rumah makan tersebut.


"Ki sanak ini dari Timur Tengah?" Tanya salah seorang pendekar.


"Ya saudaraku. Aku dari Timur Tengah."


"Sudah lama ki sanak berada di sini? Maaf, ki sanak nampak asing bagi kami. Berbeda dengan para pendatang yang lain."


"Aku datang dari Timur, untuk bertemu dengan Maha Raja Gusti Prabu Jabang Wiyagra."


Para pendekar yang ada di sana langsung menggenggam pedang yang ada di pinggang mereka. Semua orang akan sensitif ketika mendengar ada seseorang yang mencari Prabu Jabang Wiyagra. Karena Prabu Jabang Wiyagra memiliki banyak sekali musuh. Sudah menjadi tanggung jawab para pendekar untuk melindunginya.


"Ahh.. Tenang. Tenang, tuan-tuan semua. Aku datang dengan niat yang baik. Aku sama sekali tidak ingin membuat keributan. Aku harap, tuan-tuan sekalian tidak salah paham."


"Maaf ki sanak, bukan maksud kami untuk mengancam. Tetapi kalau ki sanak berani berbuat macam-macam, apalagi menyangkut Gusti Prabu Jabang Wiyagra, maka kami tidak akan segan untuk memperlakukan ki sanak seperti hewan."

__ADS_1


"Baiklah. Baiklah. Bagaimana kalau tuan-tuan sekalian, mengantarku kepada Prabu Jabang Wiyagra? Nanti, kita perjelas semuanya di sana. Kita bicarakan baik-baik. Bagaimana?


"Bicara baik-baik dengan pedang di pinggang?"


"Tidak... Begini..."


Sraaaangggg!


Tiba-tiba para pendekar itu langsung mencabut pedang mereka, dan menyerang laki-laki itu. Spontan laki-laki itu langsung menghindar. Meja yang ada di depannya patah, karena terkena sabetan pedang dari para pendekar itu.


"Tunggu! Tuan-tuan! Dengarkan aku dulu!"


Laki-laki berusaha untuk menenangkan para pendekar yang sepertinya salah paham dengannya. Laki-laki itu tidak melakukan perlawanan sedikitpun. Dia hanya menghindar dan terus menghindar. Sampai akhirnya, keributan itu bisa dihentikan setelah ada para prajurit yang datang kesana.


"Hei! Hentikan!" Teriak seorang prajurit yang datang bersama teman-temannya.


"Apa yang kalian lakukan?!"


"Mohon maaf Tuan Prajurit yang terhormat. Semua ini hanyalah kesalahpahaman saja. Tuan-tuan pendekar ini mencurigaiku. Mereka mengira kalau aku adalah akan berbuat macam-macam di tempat ini." Ucap si laki-laki.


"Benar begitu?"


"Mohon maaf Tuan. Kami hanya menjaga tempat ini. Sudah menjadi tanggung jawab kami untuk memastikan tidak ada yang menyusup ke tempat ini. Lihatlah Tuan, dia membawa pedang yang sangat besar di pinggangnya. Dan dia berniat bertemu dengan Gusti Prabu Jabang Wiyagra." Jelas si pendekar.


"Tapi tidak berarti kalian harus menyerangnya secara membabi buta! Apalagi kecurigaan kalian tidak memiliki dasar yang kuat! Kalau sampai Gusti Prabu Jabang Wiyagra tahu, dia bisa menjatuhkan hukuman berat kepada kalian semua! Paham?!"

__ADS_1


"....Kau dari Timur Tengah?"


"Benar Tuan Prajurit. Aku dari Timur Tengah. Dan aku berniat untuk bertemu dengan Maha Raja Gusti Prabu Jabang Wiyagra."


"Ada urusan apa kamu ingin bertemu dengan Gusti Prabu?"


"Aku ingin meminta izin kepada Maha Raja Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Aku ingin membuat padepokan yang dekat dengan istana. Sekaligus, untuk menyebarkan ajaran agama secara mendalam."


"Dengar kalian semua?! Para pendekar?! Kalian benar-benar sudah menyerang orang yang tidak bersalah! Dia seorang pemuka agama! Dan pantang untuk kita menyerang seorang pemuka agama!"


"Maafkan kami Tuan Prajurit. Kami meminta maaf atas kesalahan kami. Kami berjanji akan lebih memperhatikan lagi sikap kami. Kami siap dihukum, kalau kami memang pantas menerima."


"Ya! Tentu saja!"


"Maafkan atas kesalahan para pendekar ini, ki sanak. Ki sanak aku persilahkan untuk melanjutkan perjalanan. Bawalah bekal ini, untuk di perjalanan. Jangan berhenti sebelum ki sanak sampai di gerbang istana Kerajaan Wiyagra Malela." Ucap si prajurit sembari memberikannya seekor kuda dan juga bekal makanan.


"Ya Allah... Terimakasih Tuan Prajurit! Terimakasih! Aku akan mengembalikan kudanya setelah urusanku sudah selesai."


"Ya. Silahkan."


Laki-laki itu langsung bergegas pergi menggunakan kudanya, menuju ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Sedangkan para pendekar yang menyerang si laki-laki itu, langsung diberi hukuman. Mereka diharuskan membersihkan kandang kuda milik para prajurit yang ada disana. Sampai benar-benar bersih.


Hukuman itu diberikan kepada para pendekar yang terkadang berbuat semaunya sendiri. Memang, tujuan mereka baik. Yaitu memastikan keamanan wilayah mereka, terutama Prabu Jabang Wiyagra. Namun, cara mereka salah kaprah. Karena mereka menyerang seseorang tanpa sebuah kejelasan.


Mereka tidak seharusnya menyerang orang, sekalipun orang itu terlihat mencurigakan. Karena pada dasarnya, orang-orang Timur Tengah memang memiliki pedang dengan ciri khas melengkung, besar, dan panjang. Pedang itu sudah menjadi ciri khas mereka. Apalagi mereka datang dari jauh.

__ADS_1


Sudah sewajarnya mereka membawa pedang saat perjalanan jauh. Terutama dengan si laki-laki itu. Dia bukan seorang pedagang yang suka membawa tas rajut. Dia adalah seorang pemuka agama, sekaligus seorang pendekar. Jelas yang dia bawa adalah sebilah pedang, bukan barang dagangan.


__ADS_2