DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 216


__ADS_3

Sesampainya di istana Prabu Sura Kalan langsung memarahi para pasukannya yang tidak menjalankan tugas mereka dengan baik. Prabu Sura Kalana marah besar karena dia merasa sangat malu kepada Prabu Jabang Wiyagra atas peristiwa yang terjadi di Kerajaan Wiyagra Malela. Karena seharusnya peristiwa itu tidak pernah terjadi.


"Apa saja yang kalian lakukan selama ini? Kenapa keamanan kita bisa ditembus oleh musuh yang jumlahnya lebih dari seribu orang?!" Bentak Prabu Sura Kalana kepada mereka semua.


"Mohon maaf kunci Prabu kami sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjaga wilayah perairan kita. Namun para penjaga, baik yang ada di pelabuhan ataupun di dermaga, tidak pernah melaporkan kalau ada pergerakan dari orang-orang yang mencurigakan Gusti Prabu."


"Hamba sudah menduga Gusti Prabu, kalau ada penghianat di wilayah perairan. Terutama dengan para takut ada kapal yang sering sekali mengambil keuntungan pribadi, dari para penumpang yang datang. Hal itu hamba saksikan saat sedang menghadang para pasukan dari Kerajaan Panca Warna, Gusti Prabu."


"Lalu kenapa kamu tidak melaporkannya kepadaku Maha Patih?"


"Mohon maaf Gusti Prabu. Hamba sudah memperingati mereka untuk tidak melakukannya lagi. Hamba sama sekali tidak menyangka kalau masalahnya akan menjadi sebesar ini. Hamba berjanji akan memperbaiki semuanya Gusti Prabu." Ucap Maha Patih Kumbandha.


Maha Patih Kumbandha merasa tidak enak hati kepada Prabu Sura Kalana. Apalagi wilayah perairan itu adalah tanggung jawabnya yang utama. Karena wilayah perairan adalah wilayah paling rentan untuk dimasuki oleh musuh. Dan di sana juga banyak nahkoda kapal yang suka bermain curang. Mereka kerap menarik biaya tambahan dari para penumpang kapal.


Maha Patih Kumbandha sudah sering memperingati mereka. Bahkan sebagian besar dari mereka juga dikenakan sanksi, yaitu tidak diperbolehkan untuk mengemudikan kapal, dengan alasan apapun. Kalau mereka melanggar, maka mereka akan langsung dihabisi. Tapi sepertinya kecurangan-kecurangan semacam itu sudah menjamur di kalangan para nahkoda kapal.


Kejahilan mereka diwariskan secara turun-temurun kepada para nahkoda kapal yang baru. Sehingga hal tersebut sudah menjadi budaya yang akan sulit untuk dihilangkan. Maha Patih Kumbandha benar-benar sudah geram dengan perilaku mereka, apalagi sampai ada peristiwa memalukan seperti ini, yang membuat Prabu Sura Kalana merasa dipermalukan di hadapan semua orang.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang kau berangkatlah ke wilayah perairan. Bersihkan semua sampah yang ada di sana! Singkirkan semuanya! Jangan Sisakan satupun!" Perintah Prabu Sura Kalana kepada Maha Patih Kumbandha.


"Siap Gusti Prabu!"


Maha Patih Kumbandha langsung memanggil para pasukannya untuk ikut bersamanya ke seluruh pelabuhan yang ada di bawah kekuasaan Kerajaan Batih Reksa. Tak tanggung-tanggung, Maha Patih Kumbandha membawa dua ribu pasukan. Tak hanya itu, Maha Patih Kumbandha juga memanggil seluruh pendekar yang ada di wilayah istana Kerajaan Batih Reksa, untuk menyerang para anak kuda kapal yang suka berbuat curang.


Maha Patih Kumbandha masih ingat wajah-wajah mereka semua dengan jelas. Dan sekarang waktunya untuk membalas apa yang sudah mereka lakukan kepada negeri mereka sendiri.


"Ingat! Singkirkan siapa saja yang aku tuding dengan telunjukku! Mereka adalah para nahkoda kapal yang suka berbuat curang! Dan mereka pantas untuk disingkirkan!" Ucap Maha Patih Kumbandha sembari terus memacu kudanya bersama dengan para pasukannya.


"Siap Gusti Patih!"


Untung saja penjagaan di istana Kerajaan Wiyagra Malela sangat-sangatlah kuat. Kalau tidak, pasti sudah terjadi kekacauan besar-besaran di dalam istana. Dari kekacauan kecil saja sudah menimbulkan banyak sekali korban. Apalagi kalau sampai para pasukan dari Kerajaan Panca Warna itu berhasil masuk ke dalam istana, sudah pasti mereka akan mengacak-acak semua yang ada di dalam istana.


Maha Patih Kumbandha bersama pasukannya memacu kuda mereka dengan sangat cepat. Derap kaki kuda mereka menimbulkan suara yang bergemuruh. Membuat semua orang yang melihat dan mendengarnya merasakan ketakutan. Pedang kesayangan Maha Patih Kumbandha yang berkilat-kilat karena terkena sinar matahari itu membuat pedang tersebut terlihat semakin mengerikan.


Dengan penuh amarah dan kebencian dalam dirinya, Maha Patih Kumbandha langsung saja turun dari kudanya dan memerintahkan semua prajurit yang ada di sana untuk menghentikan semua kapal. Maha Patih Kumbandha menyebar ke semua tempat yang ada di pelabuhan untuk mencari para nahkoda kapal. Para nahkoda kapal masih belum mengetahui kalau Maha Patih Kumbandha sudah datang dengan dua ribu pasukan.

__ADS_1


Beberapa dari mereka sempat terlihat ada di sebuah rumah makan, tapi setelah Maha Patih Kumbandha menatap dan menunjuk ke arah mereka, para nahkoda kapal ini langsung melarikan diri dari tempat tersebut, karena ratusan pasukan Maha Patih Kumbandha seketika mengejar mereka. Sekaligus menyerang mereka dengan anak panah dan juga pedang yang ada di tangan mereka.


Beberapa memang berhasil lolos, tapi sebagian lainnya cukup berhasil sembunyi. Sekarang para pasukan Maha Patih Kumbandha mulai memasuki ke rumah-rumah warga dan juga rumah para pedagang yang ada di sana. Dua ribu pasukan yang dibawa oleh Maha Patih Kumbandha disebar ke segala tempat, untuk mencari para nahkoda yang menjadi target pembunuhan.


Maha Patih Kumbandha memaksa siapa saja yang ada di hadapannya untuk bicara, dan memberitahukan di mana para nahkoda kapal itu bersembunyi. Tapi semua orang yang ada di sana sudah sangat ketakutan. Bahkan saking takutnya, mereka sampai kesulitan berbicara. Karena melihat Maha Patih Kumbandha membawa dua ribu pasukan yang semuanya persenjata lengkap.


Namun dengan pasukan yang dibawanya, Maha Patih Kumbandha bisa dengan mudah menemukan mereka yang masih berusaha untuk bersembunyi. Meskipun ada saja beberapa yang berhasil lolos, dan sedang mencari jalan untuk bisa pergi dari pelabuhan. Untuk mencegah para narkoba yang suka berbuat curang ini kabur, Maha Patih Kumbandha memerintahkan untuk menutup seluruh akses jalan.


Semua prajurit yang berjaga di pelabuhan juga turut dikerahkan. Para prajurit yang pangkatnya rendah itu jelas tidak bisa melakukan apa-apa, selain menuruti perintah dari Maha Patih Kumbandha. Walaupun tidak ada satupun dari para prajurit itu yang berkhianat kepada Prabu Sura Kalana, tapi mereka tetap saja khawatir kalau sampai mereka juga dijadikan tersangka.


Peristiwa penyerangan di istana Kerajaan Wiyagra Malela ternyata sudah menyebar ke seluruh tempat, dan membuat orang-orang di setiap wilayah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela menjadi heboh. Penyerangan para pasukan Kerajaan Panca Warna menjadi topik paling hangat di kalangan masyarakat. Mereka semua sampai keheranan. Padahal, Kerajaan Wiyagra Malela selama ini sangat sulit ditembus oleh musuh.


Tetapi hari ini, musuh pakan bisa sampai di depan gerbang istana Kerajaan Wiyagra. Hal itu sudah menjadi bukti yang kuat kalau ada sesuatu yang salah dengan pertahanan di Kerajaan Wiyagra Malela. Terutama dengan wilayah kekuasaan Prabu Sura Kalana. Wilayah yang begitu besar dan begitu luas membuat Prabu Sura Kalana lalai dalam mengawasi wilayah kekuasaannya sendiri.


*


*

__ADS_1


*


Dari pencarian yang sudah dilakukan, terkumpullah dua puluh lima orang nahkoda kapal yang dicurigai terlibat dalam penyusupan pasukan Kerajaan Panca Warna. Mereka semua sudah dalam keadaan babak belur, karena dihajar habis-habisan oleh ratusan pasukan Maha Patih Kumbandha yang mengejar mereka ke segala tempat. Tapi, dua puluh lima orang itu belum semuanya. Masih ada sisa dari mereka yang masih belum ditemukan.


__ADS_2