DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 31


__ADS_3

Kerusahan tidak hanya terjadi di Kerajaan Antasura saja, tapi juga terjadi di Kerajaan Rawaja Pati. Di Kerajaan Rawaja Pati, Mangku Cendrasih dan pasukan yang dipimpinnya sudah merangsak masuk ke dalam istana. Mereka semua sudah bertarung sejak lama, bahkan sebelum pertarungan di Kerajaan Antasura dimulai.


“Mangku Cendrasih. Aku pernah mendengar namamu. Pendekar yang dulu pernah dikalahkan oleh Prabu Rawaja Pati. Benarkan?” Tanya Maha Patih Raseksa.


Dalam suasana yang sedang kacau, mereka berdua memilih untuk bertarung di dalam istana, tepatnya di sebuah ruangan singgasana raja.


“Ya. Tapi itu dulu. Sekarang semuanya sudah berubah. Dan sebentar lagi, Kerajaan Rawaja Pati hanya tinggal nama.” Jawab Mangku Cendrasih.


Mereka berdua pun kembali melanjutkan pertarungan mereka. Mangku Cendrasih sekarang sudah lebih lihai dalam pertarungan. Dia beberapa kali mengenai Maha Patih Raseksa, dan membuatnya jatuh. Maha Patih Raseksa bertarung menggunakan pedang.


Sedangkan Mangku Cendrasih hanya menggunakan kuku-kukunya yang tajam. Dia memiliki sebuah ilmu yang bisa membuat kuku-kuku ditangan dan kakinya memanjang, dan bisa menjadi senjata paling ampuh untuk mengalahkan musuh.


Maha Patih Raseksa dibuat kagum dengan kemampuan pendekar tua itu. Dia tidak menyangka kalau Mangku Cendrasih jauh lebih hebat dari apa yang ia bayangkan sebelumnya. Mangku Cendrasih menyerang Maha Patih Raseksa dengan kuku-kuku ditangannya yang tajam dan mengkilat seperti sebuah pedang itu.


Maha Patih Raseksa yang memiliki perawakan tinggi besar itu kesulitan untuk menghindari serangan dari Mangku Cendrasih yang tidak ada hentinya.


Para pasukannya yang sedang bertarun di luar juga semakin lama semakin terpojok. Karena mereka kalah kuat dengan pasukan yang dipimpin oleh Mangku Cendrasih.


Prabu Suta Rawaja benar-benar tidak memperhitungkan masalah keamanan di dalam istananya sendiri. Pasukan dari kerajaan-kerajaan kecil yang berada dibawah pimpinannya juga tidak mungkin bisa membantu saat ini, karena sebagian besar dari mereka juga ikut menghadiri pesta.

__ADS_1


Maha Patih Raseksa sesekali mencoba menyerangan Mangku Cendrasih dengan ilmu kanuragannya. Tapi selalu saja meleset. Bahkan tidak jarang serangannya itu berbalik ke tubuhnya sendiri. Mangku Cendrasih sudah tahu betul apa kelemahan dan kekuatan musuhnya.


Apalagi Maha Patih Raseksa adalah murid langsung dari Prabu Suta Rawaja, sehingga dia paham ilmu apa saja yang dimiliki oleh Maha Patih Raseksa.


“Bagaimana Maha Patih? Kamu masih sanggup?”


“Aku masih sanggup orang tua! Ayo sekarang kita buktikan! Aku tidak akan ragu untuk menyakitimu!” Ucap Maha Patih Raseksa sembari mengeluarkan senjata andalannya, yaitu sebuah gada.


Senjata itu menimbulkan getaran hebat di dalam istana, seperti ada sebuah gempa yang sedang melanda. Mangku Cendrasih pun juga mengeluarkan ilmu andalannya. Yaitu sebuah biji kacang merah. Dengan biji kacang merah itu, dia bisa mengeluarkan pasukan yang memiliki kehebatan luar biasa.


Mangku Cendrasih melompat ke belakang, dan dengan cepat dia langsung menyebarkan biji kacang merah itu ke arah Maha Patih Raseksa. Seketika sekumpulan orang berwajah serigala langsung menyerang Maha Patih Raseksa.


Jumlah mereka lebih dari dua puluh orang, sehingga Maha Patih Raseksa kesulitan menghadapi mereka. Pasukan manusia serigala itu juga memiliki gerakan yang jauh lebih cepat dari pasukan pada umumnya. Bahkan sekelas pasukan terbaik pun tidak akan secepat itu.


Serangan-serangan mereka selalu memberikan efek pada tubuh Maha Patih Raseksa. Dengan gada yang ditangannya pun, Maha Patih Raseksa tidak mampu mengalahkan mereka. Setiap satu dari mereka mati, maka akan muncul satu lagi manusia serigala, dan itu berlangsung secara terus menerus.


Suara serigala yang meraung-raung membuat ruangan itu terdengar mengerikan. Bahkan sampai terdengar keluar istana. Para prajurit yang sedang berhadapan dengan pasukan Mangku Cendrasih juga banyak yang memilih untuk kabur.


Mereka semua ketakutan karena mendengar suara serigala dari istana. Sehingga mereka yang masih hidup berusaha keras untuk lari dari tempat tersebut. Namun mereka tetap dikejar oleh pasukan Mangku Cendrasih yang sudah berhasil membantai puluhan orang dari para prajurit itu.

__ADS_1


Para prajurit istana benar-benar sudah tidak punya nyali dan tidak punya banyak tenaga lagi untuk menghadapi musuh mereka yang semakin lama semakin mengganas. Sisa tenaga mereka akhirnya hanya digunakan untuk lari sekencang mungkin dari tempat itu.


Tapi tetap saja ada yang berhasil dibunuh, karena banyak dari mereka yang sudah terluka parah, dan juga kelelahan. Para pasukan yang dipimpin Mangku Cendrasih terus mengejar mereka, bahkan sampai ke desa-desa. Disana para prajurit istana itu mendapatkan bantuan dari teman-teman mereka.


Tapi tetap saja para prajurit itu pun pada akhirnya kalah. Dan sebagian juga melakukan hal yang sama, yaitu kabur sejauh mungkin dari sana agar mereka bisa selamat.


“Sudah cukup. Kita kembali ke istana. Ki Mangku Cendrasih pasti membutuhkan bantuan kita.” Ucap salah satu dari mereka.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke istana, membantu Mangku Cendrasih yang masih bertarung dengan Maha Patih Raseksa. Sepanjang jalan yang mereka lewati, pasti ada saja mayat prajurit yang baru saja mereka bunuh.


Beberapa dari mereka juga ada yang sekarat dan memohon ampun untuk dilepaskan. Tapi mereka tidak peduli. Mereka bahkan langsung memenggal kepala siapa saja yang masih hidup di sepanjang jalan itu.


“Pasti masih ada yang hidup di sepanjang perjalanan tadi. Perhatikan setiap tempat, jika kalian mendapati masih ada prajurit yang hidup, bunuh saja mereka.”


“Baik.”


Mereka pun berjalan sedikit melamban karena mereka yakin masih ada prajurit istana yang berhasil bersembuni atau pun berhasil selamat dari serangan mereka. Dan benar saja, beberapa kali mereka menemukan prajurit yang sedang bersembunyi dan juga sedang mengobati luka mereka.


Tanpa basa-basi mereka langsung menghabisi setiap prajurit istana yang mereka temui. Mereka juga melemparkan kepala para prajurit itu ke tempat yang berbeda, agar saat ada pasukan bantuan yang datang, mereka akan kebingungan mencari kepala teman-teman mereka yang tewas.

__ADS_1


__ADS_2