
Lare Damar dan Prabu Jabang Wiyagra melakukan perjalanan cepat dengan menggunakan ilmu kanuragan mereka agar cepat sampai ke Gunung Khayangan. Karena kalau melewati jalur dari bawah, maka mereka akan memakan waktu yang lebih lama.
Di atas Gunung Khayangan, Eyang Badranaya sedang duduk bersama dengan Nyai Roro Pengasih. Mereka berdua sudah menunggu kedatangan Prabu Jabang Wiyagra sedari tadi. Prabu Jabang Wiyagra merasa sangat terhormat karena dia secara khusus mendapatkan undangan dari Eyang Badranaya.
"Selamat datang anakku. Nanda Prabu Jabang Wiyagra. Sudah sangat lama rasanya kamu tidak menginjakkan kakimu di tanah kelahiranmu ini." Ucap Eyang Badranaya yang menyambut kedatangan Prabu Jabang Wiyagra.
Lare Damar heran, karena dia baru mengetahui kalau Prabu Jabang Wiyagra berasal dari Gunung Khayangan ini.
"Terimakasih Romo. Saya sudah berhasil melakukan apa yang Romo katakan sebelum saya pergi dari tempat ini. Tapi saya yakin Romo mengetahui secara pasti apa yang sedang terjadi saat ini." Kata Prabu Jabang Wiyagra.
"Ya. Itulah mengapa aku mengundangmu kemari. Duduklah Nanda Prabu."
Eyang Badranaya dan Prabu Jabang Wiyagra pun duduk di taman. Prabu Jabang Wiyagra mulai menceritakan semua situasi yang sedang terjadi di Kerajaan Wiyagra Malela saat ini. Prabu Jabang Wiyagra akhirnya jujur kepada Eyang Badranaya, kalau dia merasa sangat lelah memegang tanggung jawab ini.
Sudah bertahun-tahun Prabu Jabang Wiyagra mengemban tugas dari Eyang Badranaya untuk mempersatukan seluruh Tanah Jawa, dibawah satu kepemimpinan. Dari sinilah semuanya terkuak. Kalau Prabu Jabang Wiyagra adalah anak angkat dari Eyang Badranaya.
Prabu Jabang Wiyagra adalah anak yang lahir dari seorang pendekar perempuan yang memiliki wajah yang sangat cantik, layaknya seperti bidadari khayangan. Karena kecantikannya tersebut, banyak sekali laki-laki yang jatuh hati kepadanya. Tapi ibunda Prabu Jabang Wiyagra selalu menolak.
__ADS_1
Ibunda Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah mau menikah, kecuali dengan seseorang yang memiliki hati yang bersih, dan memiliki tujuan yang suci. Karena banyaknya penolakan dan persaingan, akhirnya timbullah sebuah perang yang sangat besar. Dan bukan hanya melibatkan satu atau dua kerajaan saja. Tapi puluhan kerajaan.
Tanah Jawa diliputi peperangan, penderitaan, kelaparan, dan hilangnya rasa kemanusiaan. Semua orang hanya peduli dengan urusan mereka masing-masing. Hingga pada suatu hari, datanglah seorang laki-laki dari negeri sebrang. Laki-laki itu memiliki wajah yang tampan dan gagah.
Dia bukanlah orang sakti seperti pada umumnya orang-orang pada masa itu. Dia hanya orang biasa. Tapi memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia juga orang yang sangat rajin beribadah, dan bukan seorang pemalas. Dia suka membantu orang tanpa mengharapkan imbalan. Itulah yang membuat ibunda Prabu Jabang Wiyagra jatuh hati kepada laki-laki itu.
Sampai pada akhirnya, semua orang yang pernah ditolak, dan mengetahui hal tersebut pun marah dan merasa sangat kecewa. Mereka berlomba-lomba untuk memburu semua orang yang memiliki hubungan dekat dengan si laki-laki tersebut. Laki-laki itu pun kemudian diasingkan oleh ibunda Prabu Jabang Wiyagra.
Ibunda Prabu Jabang Wiyagra dan si laki-laki itu berdoa sepanjang malam agar mereka diberi keselamatan dan kedamaian. Karena saat itu, hampir semua orang memburu mereka untuk dibunuh. Sehingga mereka tidak bisa mempercayai siapa pun. Hingga mereka bertemu dengan Eyang Badranaya.
Eyang Badranaya-lah yang kemudian menikahkan Ibunda dan Ayahanda dari Prabu Jabang Wiyagra. Setelah pernikahan itu sah, mereka berdua tinggal di Gunung Khayangan, sampai Prabu Jabang Wiyagra lahir. Sayangnya, ayahanda dari Prabu Jabang Wiyagra tidak berumur panjang.
Beliau memutuskan untuk menghabiskan sisa umurnya dengan Prabu Jabang Wiyagra yang kala itu masih bayi. Beliau terus berdoa dan berdoa. Mengharapkan segala kebaikan untuk putra tercintanya. Dia bahkan berdoa, kalau dia ingin mati bersama dengan penyakit yang dideritanya. Karena sangat kecil kemungkinannya dia untuk sembuh.
Eyang Badranaya juga tidak bisa berbuat banyak, karena dia sudah memahami, kalau itu adalah salah satu takdir hidup yang harus dialami oleh Prabu Jabang Wiyagra beserta keluarganya. Untuk membentuk Prabu Jabang Wiyagra menjadi orang yang kuat dan tangguh dalam menghadapi segala ujian hidup yang akan ia terima.
Selepas kepergian ayahandanya, Prabu Jabang Wiyagra semakin hari tumbuh semakin besar. Diumurnya yang masih sembilan tahun, dia sudah menguasai banyak sekali ilmu kanuragan. Dia juga anak yang sangat berbakat. Semua itu berkat didikan ibundanya dan juga Eyang Badranaya yang dengan sabar mengurus Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
Namun lagi-lagi, Prabu Jabang Wiyagra diuji dengan sebuah kekecewaan dan kesedihan yang amat sangat dalam, sampai membuatnya depresi berat. Dia diuji dengan kepergian ibundanya tercinta. Ibundanya ternyata sudah memendam segala kesedihannya atas kehilangan suami yang sangat ia cintai.
Sehingga pada puncaknya, beliau jatuh sakit. Setiap kali sembuh, kesembuhannya tidak akan berlangsung lama. Dia akan kembali sakit dan sakitnya jauh lebih parah dari sebelumnya. Semua itu terjadi karena beban pikiran yang ia tanggung sendirian. Dia bahkan tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun, termasuk kepada Eyang Badranaya dan Prabu Jabang Wiyagra, anaknya sendiri.
Pada saat ibundanya akan meninggal, Prabu Jabang Wiyagra sudsh diberi sebuah wasiat, untuk melanjutkan perjuangan ibundanya yang sempat tertunda selama bertahun-tahun. Yaitu menyatukan seluruh Tanah Jawa dibawah kepemimpinannya. Namun jelas Prabu Jabang Wiyagra yang masih kecil merasa sangat sedih karena ditinggal ibundanya.
Dia menjadi anak yang pendiam dan pemurung. Dia suka sekali marah tanpa alasan yang jelas. Bahkan dia juga kerap bertengkar dengan Nyai Roro Pengasih yang kala itu juga ikut membantu mengurus Prabu Jabang Wiyagra. Eyang Badranaya kala itu sedang bertapa guna mendapatkan petunjuk, agar bisa menyembuhkan Prabu Jabang Wiyagra.
Hingga sampai Prabu Jabang Wiyagra berumur dua puluh tiga tahun, Eyang Badranaya baru menyelesaikan tapa-nya. Saat itu keadaan Gunung Khayangan sudah acak-acakan. Karena banyak sekali makhluk halus yang bersemayam di Gunung Khayangan. Sehingga udara di Gunung Khayangan pun menjadi sangat-sangat panas.
Dan yang mengundang semua makhluk-makhluk halus itu adalah Prabu Jabang Wiyagra sendiri yang sedang mengalami gangguan mental, atau depresi parah. Eyang Badranaya sebenarnya sangat geram, tapi dia juga harus memaklumi keadaan yang dialami oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Singkat cerita, sampailah hari dimana Prabu Jabang Wiyagra harus dibersihkan atau disucikan kembali. Waktu itu Gunung Khayangan sampai bergetar dan hampir meletus, karena Prabu Jabang Wiyagra melakukan perlawanan saat akan dimandikan dengan air suci yang sudah didoakan oleh Eyang Badranaya.
Prabu Jabang Wiyagra terus berkelit dan tidak mau dimandikan oleh Eyang Badranaya dan juga Nyai Roro Pengasih. Eyang Badranaya bahkan harus sampai bertarung dengan Prabu Jabang Wiyagra yang sudah kesetanan itu. Untung saja, Prabu Jabang Wiyagra berhasil dikalahkan pada saat tengah malam tiba.
Dengan cepat Eyang Badranaya dan Nyai Roro Pengasih langsung menceburkan tubuh Prabu Jabang Wiyagra ke sumur air suci yang telah disediakan oleh Eyang Badranaya. Pada proses penyembuhan itu, Prabu Jabang Wiyagra mengalami sakit yang luar biasa. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.
__ADS_1
Namun pada akhirnya Prabu Jabang Wiyagra bisa disembuhkan. Dan kembali ke keadaan seperti semula. Begitu juga dengan para bangsa lelembut yang akhirnya tunduk dibawah kepemimpinan Prabu Jabang Wiyagra. Para bangsa lelembut itu kemudian mengabdikan diri mereka kepada Gunung Khayangan.