
Pangeran Rawaja Pati melalukan pertemuan dengan Prabu Jabang Wiyagra di istana Kerajaan Wiyagra Malela. Di sana mereka berdua membahas masalah surat dan peta mengenai keadaan di istana Kerajaan Wesi Kuning. Pangeran Rawaja Pati memberitahu Prabu Jabang Wiyagra, kalau dia juga mendapatkan surat yang sama.
Prabu Jabang Wiyagra sudah mengirimkan Patih Kinjiri ke sana, tapi masih belum ada kabar. Hingga saat ini, Patih Kinjiri masih belum melaporkan apa pun. Hal itu bisa dimaklumi, karena jalur yang dilewati oleh Patih Kinjiri bukanlah jalur yang aman. Prabu Jabang Wiyagra hanya mendapatkan kabar dari Maha Patih Putra Candrasa, kalau Patih Kinjiri sudah melewati daerah penaklukkan.
Kemungkinan tidak akan lama lagi Patih Kinjiri akan sampai ke tempat persembunyian Maha Patih Galangan dan para pengikutnya. Setelah keluar dari wilayah penaklukkan, Patih Kinjiri jelas akan mendapatkan kesulitan, karena dia tidak bisa bergerak dengan bebas. Pergerakannya sempit, tidak bisa melakukan segala hal secara sembarangan.
Di wilayah-wilayah yang belum ditaklukkan oleh Lare Damar dan pasukannya masih menjadi wilayah kekuasaan musuh. Banyak pasukan musuh yang berjaga di berbagai tempat. Maha Patih Galangan juga sebenarnya sudah tidak sabar ingin bertemu secara langsung dengan Prabu Jabang Wiyagra. Dia ingin menjelaskan semuanya kepada Prabu Jabang Wiyagra.
Namun keinginannya itu tidak bisa berjalan secepat yang ia harapkan. Dia harus lebih banyak bersabar lagi untuk bisa bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra, apalagi setelah Maha Patih Galangan dengan berani sudah menipunya. Sebenarnya Prabu Jabang Wiyagra sudah tahu kalau hal itu adalah jebakan, itulah kenapa Prabu Jabang Wiyagra mengirimkan Maha Patih Putra Candrasa.
Tujuan utama Maha Patih Galangan dan Prabu Bawesi adalah untuk mendapatkan Prabu Jabang Wiyagra. Dengan terculiknya Prabu Jabang Wiyagra, maka kekuatan Kerajaan Wiyagra Malela akan menjadi lemah, sehingga Prabu Bawesi maupun Maha Patih Galangan bisa melakukan segalanya dengan bebas, tanpa ada yang mengganggu mereka lagi.
Tapi bukan Prabu Jabang Wiyagra namanya, kalau bisa terjebak dengan tipuan semacam itu. Tipuan seperti itu sudah sering ditemukan oleh Prabu Jabang Wiyagra sebelumnya. Banyak musuh-musuhnya yang menggunakan cara yang sama, seperti yang digunakan oleh Maha Patih Galangan dan Prabu Bawesi. Sehingga Prabu Jabang Wiyagra sudah bisa menebaknya sejak awal.
Di sisi lain , Patih Kinjiri sedang berusaha agar bisa cepat sampai ke tempat persembunyian milik Maha Patih Galangan. Tempat persembunyian Maha Patih Galangan ada di sebuah hutan yang ada di salah satu daerah pegunungan. Lokasinya cukup jauh dari istana Kerajaan Wesi Kuning. Bahkan sangat jarang orang yang mengetahui jalur untuk menuju ke tempat tersebut.
__ADS_1
Patih Kinjiri cukup kesulitan untuk menemukannya, tambah lagi dengan suasana hutan yang sangat-sangat mencekam. Masih banyak sekali binatang buas yang ada di hutan ini yang memaksa Patih Kinjiri harus sangat berhati-hati dalam setiap langkah yang ia ambil. Maha Patih Galangan memang sangat pintar dalam mencari sebuah tempat persembunyian.
Dengan lika-liku perjalanan yang rumit, suasana hutan yang sangat-sangat sepi, dan yang masih banyaknya binatang buas, sudah menjelaskan kalau tempat ini memang sebuah jebakan untuk siapa saja yang datang tanpa menggunakan peta. Karena yang datang tanpa menggunakan peta, pasti akan mudah tersesat dan sulit untuk kembali.
Apalagi binatang buas yang dimaksud kebanyakan adalah jenis harimau hitam, yang terkenal ganas dan menjadi salah satu jenis harimau paling sulit untuk dihindari. Jumlah mereka tidak hanya satu. Kawanan harimau hitam itu juga sangat ahli dalam menyergap mangsa mereka. Mereka juga terkenal pandai dalam menjaga wilayah kekuasaan mereka.
Menurut penuturan Prabu Jabang Wiyagra, hutan tersebut dikuasai oleh harimau hitam yang berasal dari bangsa manusia. Dulu ada sekelompok pendekar yang suka berbuat onar dan tidak pernah patuh kepada perintah dan nasehat guru mereka sendiri. Karena mereka sudah kelewatan, akhirnya guru mereka mengutuk mereka menjadi kawanan harimau hitam.
Sampai kapanpun mereka tidak akan bisa berubah kembali ke wujud manusia mereka. Kecuali, jika mereka bertemu dengan seseorang yang memang sudah ditakdirkan untuk menjadi tuan mereka. Karena setelah mendapatkan kutukan dari guru mereka, para pendekar ini disumpah untuk menjaga alam dan juga tidak memakan daging manusia, kecuali orang-orang yang tamak seperti mereka dahulu.
Tidak seperti biasanya, sekarang Patih Kinjiri jauh lebih tenang dan jauh lebih hati-hati dalam setiap langkah yang dia pilih. Dia selalu berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Patih Kinjiri memperhatikan dengan baik setiap hal yang ada di hutan ini. Setelah berjalan cukup jauh, barulah disitu Patih Kinjiri menemukan sebuah gubuk kecil dengan sesaji di depannya.
"Pasti ini tempatnya. Gubuk kecil dengan sesaji." Gumam Patih Kinjiri sembari melihat peta dan surat di genggamannya.
Perlahan Patih Kinjiri pun mulai melangkah ke gubuk kecil itu. Patih Kinjiri mencoba menerawang dengan mata batinnya, untuk melihat ada apa saja di dalam gubuk kecil itu. Dan pandangan mata batinnya langsung tertuju pada sebuah lipatan tikar yang ada di salah satu bagian tanah gubuk tersebut.
__ADS_1
"Hmmmm... Cerdas sekali." Ucapnya dalam hati.
Patih Kinjiri kagum setelah dia membuka lipatan tikar yang ada di gubuk itu. Karena di bawahnya ada sebuah pintu rahasia. Tapi sayangnya, pintu itu terkunci. Patih Kinjiri kembali membuka surat dan petanya. Dia mendapatkan petunjuk, kalau ada tiga buah kunci cadangan yang ditanam ke dalam buah pisang, yang tersedia pada sesaji yang ada di sana.
Dan benar, disana ada lima buah biji pisang yang tersedia pada sebuah piring keramik. Patih Kinjiri memijit-mijit satu persatu buah pisang itu. Di salah satu buah pisang, dia menemukan memang ada sebuah kunci kecil. Namun di sini, Patih Kinjiri kembali harus melihat petunjuknya, karena untuk memasukkan kunci itu, Patih Kinjiri harus mengorek tanah dengan tangannya.
Dikarenakan, lubang kunci itu sangat disembunyikan. Patih Kinjiri terus mengorek dan mengorek tanah itu selama beberapa lama. Barulah dia menemukan ada sebuah kayu berbentuk persegi, yang memiliki sebuah lubang kunci.
"Huuffftt! Merepotkan saja!" Ujarnya.
Setelah berhasil menggunakan kunci itu, Patih Kinjiri mencoba untuk membuka pintunya. Dan sekali tarikan, pintu itu berhasil dibuka. Ternyata pintu itu membuka sebuah jalan yang sangat lebar dan sangat luas. Di sana tempatnya juga sangat terang, karena banyak sekali obor yang menyala. memudahkan perjalanan Patih Kinjiri menuju tempat yang dimaksud.
Patih Kinjiri memegang erat-erat pedang yang ada di pinggangnya, untuk berjaga kalau-kalau ada yang menyergapnya dari depan ataupun dari belakang. karena sampai saat ini, Patih Kinjiri belum bisa percaya sepenuhnya kepada Maha Patih Galangan.
Memang, siapa juga yang bisa percaya begitu saja?
__ADS_1
Setelah dengan cepat dan dengan ajaibnya, orang yang berbuat salah kemudian tiba-tiba sadar begitu saja?