DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 277


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya sudah terjadi di tempat ini? Kenapa semuanya bisa kacau seperti sekarang?" Tanya Mangku Cendrasih kepada para prajurit yang ada di sana.


"Maaf Guru Besar. Beberapa hari yang lalu, Panggul dan kawan-kawannya datang untuk menantang beberapa dari kami. Namun pada akhirnya dia kalah dan malu sendiri. Dari kabar yang kami dengar, Panggul sempat mengalami gangguan kejiwaan karena kekalahannya itu."


"...Tapi hari ini, kami mendapatkan lagi kabar yang baru, dari salah satu mata-mata kami. Kalau Panggul peserta seluruh anak buahnya yang ada, sedang menuju ke tempat ini untuk melakukan penyerangan. Panggul merasa tidak terima dengan kekalahannya. Sehingga dia datang kembali untuk menuntut balas, karena sudah dipermalukan di hadapan banyak orang."


"....Karena setelah Panggul mengalami kekalahan, banyak sekali anak buahnya yang mulai melepaskan diri, dan membuat kelompok mereka sendiri. Karena hal itulah Panggul menjadi semakin marah. Dia mengerahkan seluruh pasukan yang ia miliki untuk membunuh kami semua yang ada di tempat ini. Jadi ini bukanlah sepenuhnya kesalahan kami Guru Besar. Panggul yang sudah memulai semuanya."


Mangku Cendrasih akhirnya paham dengan apa yang telah terjadi. Namun semoga kekacauan ini akan berimbas kepada pertempurannya jauh lebih besar. Karena sudah pasti, akan banyak sekali kelompok bandit dibawah kepemimpinan Panggul yang akan memecahkan diri. Dengan begitu, akan semakin sulit bagi para prajurit untuk menemukan para bandit yang suka berbuat keonaran. Dan pastinya akan terjadi lagi kekacauan kekacauan lain, yang menimbulkan korban jauh lebih banyak daripada yang sekarang.


Akibat pertikaian ini saja, banyak sekali para pendekar dan para prajurit yang terluka parah, karena mereka sudah kalah jumlah. Mantan-mantan anak buah Panggul masih banyak sekali yang tersisa di luar sana. Mereka akan beraliansi, dan membentuk suatu kelompok dengan seorang pemimpin yang baru. Yang kemungkinan besar bisa saja lebih kejam daripada Panggul. Mangku Cendrasih marah kepada sang pimpinan prajurit dikarenakan dia sangat menyayangi semua anak didiknya.


Hampir semua prajurit yang berjaga di desa ini, dan juga di desa-desa lain, adalah anak-anak didiknya yang berasal dari Padepokan Ageng Reksa Pati. Mangku Cendrasih tidak mau kalau sampai para anak didiknya mati sia-sia, hanya karena melawan para bandit, yang sebenarnya para bandit ini tidak sekuat apa yang mereka kira. Para prajurit yang ada di sini pasti akan mendapatkan masalah yang jauh lebih besar lagi daripada sekarang. Mangku Cendrasih sudah tahu kalau ada sebuah kelompok bawah tanah yang mendanai kelompok-kelompok bandit, untuk melakukan kekacauan ataupun kerusuhan.

__ADS_1


Kelompok pemberontakan bawah tanah ini jelas tidak main-main dalam memberikan dana kepada para bandit tersebut. Mereka rela membayar mahal demi menghancurkan kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Karena memang tujuan utama mereka adalah untuk menduduki seluruh wilayah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Terutama dengan singgasana raja, yang hingga saat ini tidak ada satupun orang yang mampu menggantikannya. Singgasana raja akan selamanya menjadi rebutan musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra yang masih tersisa.


Para penjahat ini akan terus-menerus melakukan kerusuhan di seluruh wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Kalau dipikir-pikir lagi mereka seakan tidak ada habisnya.


"Mati satu tumbuh seribu."


Adalah sebuah kalimat yang pantas untuk menjelaskan ke-eksistensi-an mereka, dalam upaya untuk melengserkan kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra, yang sekarang sudah naik tahta menjadi Maha Raja. Raja dari segala raja, yang sudah hampir menguasai seluruh daratan dan lautan yang ada di Tanah Jawa. Semakin besar kekuasaannya, maka akan semakin bertambah banyak pula musuh-musuhnya. Meskipun Prabu Jabang Wiyagra dan para abdi setianya sudah berusaha untuk menekan pergerakan musuh-musuh Kerajaan Wiyagra Malela, tapi tetap saja mereka terus melawan.


Untuk sebagian rakyat yang tidak tahu apa-apa tersebut, Prabu Jabang Wiyagra adalah sosok yang bengis dan kejam, serta tidak berperasaan. Padahal, Prabu Jabang Wiyagra adalah sosok raja yang sangat bijak dalam mengambil setiap keputusan. Prabu Jabang Wiyagra memang kerap kali melakukan tindakan yang brutal dan tidak manusiawi. Tetapi semua itu ia lakukan demi menciptakan sebuah kedamaian. Karena menurutnya, cara yang halus sudah tidak mampu lagi untuk membuat musuh-musuhnya jera. Sehingga dengan terpaksa, Prabu Jabang Wiyagra harus melakukan tindakan yang kasar dan brutal.


Sudah menjadi rahasia umum, kalau Prabu Jabang Wiyagra sering melakukan penyerangan secara diam-diam kepada musuh-musuhnya. Meskipun banyak orang yang tidak melihat kejadian tersebut, tapi tetap saja akan ada orang yang mengetahui hal itu. Dikarenakan musuh-musuh Kerajaan Wiyagra Malela akan selalu mencari celah untuk mencoreng nama besar Sang Maha Raja. Mereka juga sering memperalat rakyat yang tidak tahu apa-apa, untuk melakukan pemberontakan kepada Sang Maha Raja. Karena mereka semua tahu, kalau Prabu Jabang Wiyagra tidak akan bertindak kejam kepada rakyatnya sendiri.


Saat dihadapkan dengan rakyatnya, Prabu Jabang Wiyagra akan lebih memilih untuk menghindar dan menyerahkan masalah itu kepada para abdinya. Sebagai seorang Maha Raja, Prabu Jabang Wiyagra harus berhati-hati dalam menggunakan kedua tangan dan kakinya. Terutama dengan ucapannya. Karena ucapan seorang Maha Raja adalah hukum yang harus dipatuhi. Jika dibantah, maka hukumannya adalah penggal kepala. Prabu Jabang Wiyagra sendiri juga tidak akan bisa menarik kembali sumpah yang sudah ia ucapkan. Sumpah adalah janji. Dan yang namanya janji harus ditepati.

__ADS_1


"Aku meminta dengan sangat, kepada kalian semua, untuk tidak melakukan hal-hal kejam tanpa perintah dariku. Mulai sekarang, apapun yang terjadi di tempat ini, aku harus mengetahuinya. Laporkan setiap permasalahan yang kalian hadapi di tempat ini kepadaku, sekecil apapun itu. Kalian paham?"


"Paham Guru Besar."


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, Guru Besar? Apa para bandit yang lain akan dibiarkan begitu saja?"


"Tentu tidak anak-anakku. Aku akan bertemu langsung dengan Maha Raja Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Kalau beliau memerintahkan kita untuk membersihkan mereka, maka kita akan melakukannya. Tapi kalau beliau memberikan perintah yang lain, maka kita harus mematuhinya."


"....Aku tidak mau lagi ada yang mati sia-sia di tempat ini. Aku akan pergi ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Aku akan menitipkan semua murid terbaikku, untuk membantu kalian semua, menjaga tempat ini. Ingat pesanku baik-baik. Murid-murid terbaikku akan membimbing kalian, selama aku pergi ke istana Kerajaan Wiyagra Malela."


"Baik Guru Besar."


Saat itu juga, Mangku Cendrasih langsung pergi ke istana Kerajaan Wiyagra Malela, untuk bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra. Mangku Cendrasih ingin mencari solusi yang pasti dalam menghadapi masalah ini. Jika tidak, pertikaian antara prajurit dan para bandit tidak akan selesai. Para bandit pasti akan terus berusaha untuk mencari celah agar bisa mengalahkan para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela, dan menduduki setiap wilayah yang sekarang dikuasai oleh bala tentara Prabu Jabang Wiyagra. Pertikaian hari ini menjadi sebuah tanda bahaya bagi semua orang. Termasuk Prabu Jabang Wiyagra sendiri.

__ADS_1


__ADS_2