
Ditya Kalana dan para pendukungnya ternyata tidak benar-benar ingin membantu Maha Patih Kana Raga. Ditya Kalana tidak hanya memandang harta dan kuasa yang ditawarkan oleh Maha Patih Kana Raga kepadanya. Tapi dia menginginkan lebih dari itu. Dia ingin mengambil alih semuanya.
"Untuk apa aku bersusah payah membangun kembali Kerajaan Reksa Pati-ku yang sudah hancur lebur. Aku ingin menguasai Kerajaan Gelap Ngampar dan seluruh wilayahnya. Begitu juga dengan semua harta yang dimiliki kerajaan ini." Ucap Ditya Kalana.
Nyai Dwi Sangkar dan yang lainnya setuju dengan rencana Ditya Kalana. Mereka juga sudah bersumpah untuk mengabdikan diri mereka kepada Ditya Kalana, atas perintah langsung dari guru mereka, yaitu Ki Benang Sengget.
Ki Benang Sengget memerintahkan mereka untuk tetap setia kepada Ditya Kalana, dalam keadaan apa pun. Karena hanya Ditya Kalana satu-satunya harapan untuk membalaskan dendam kepada Prabu Jabang Wiyagra. Selain itu, Ditya Kalana juga akan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk orang-orang yang sealiran dengan Ki Benang Sengget.
Selama ini, Ki Benang Sengget dan orang-orang yang sealiran dengannya, selalu merasa tertindas oleh orang-orang seperti Prabu Jabang Wiyagra dan juga para pengikutnya. Karena kebanyakan pengikut aliran hitam tinggal di hutan dan memiliki kehidupan yang sangat tidak layak.
Mereka sangat jarang menampakkan diri mereka ke publik, karena khawatir akan diburu oleh orang-orang beraliran putih. Padahal orang-orang beraliran putih tidak pernah mempermasalahkan ilmu apapun yang dianut oleh orang-orang di sekitar mereka.
Seperti halnya Mangku Cendrasih, dan beberapa pendekar lain yang juga menganut ilmu hitam. Mereka sama sekali tidak pernah ditanya soal keilmuan yang mereka miliki. Karena mereka memiliki tujuan yang lurus. Dan tetap akan berkorban untuk membela kebenaran.
Mangku Cendrasih dan orang-orang yang bersamanya, mereka itu kebanyakan memiliki ilmu hitam. Namun Prabu Jabang Wiyagra sendiri tidak pernah mempermasalahkan dan mempertanyakan hal tersebut. Karena menurut Prabu Jabang Wiyagra, ilmu itu ibarat sebuah pisau.
Baik maupun buruknya suatu ilmu, itu semua tergantung kepada perilaku manusianya itu sendiri. Karena banyak juga orang yang menggunakan ilmu putih demi kepentingan hitam mereka. Perilaku jahat itu pun dapat membuat ilmu putih berubah menjadi ilmu hitam, karena digunakan untuk sesuatu yang salah.
Sedangkan orang-orang seperti Ki Benang Sengget, hanyalah orang-orang yang iri dan dengki kepada keberhasilan orang lain. Mereka akan merasa susah, ketika melihat orang senang, dan akan merasa senang ketika melihat orang susah. Sehingga mereka menciptakan dendam dan kebencian di dalam diri mereka sendiri.
__ADS_1
Tidak sedikit orang di luar sana yang menggunakan ilmu mereka untuk kepentingan yang tidak baik. Mereka mengorbankan apapun demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sekalipun harus mengorbankan saudara mereka sendiri. Sehingga hati mereka selalu diliputi dengan kejahatan.
......................
Suasana hati Prabu Jabang Wiyagra penuh dengan campuran emosi, termasuk kekhawatiran, tekad, dan juga sedikit kepedihan. Menghadapi perang besar di kerajaannya adalah situasi yang sangat menantang dan berisiko tinggi, sehingga tidak heran jika Prabu Jabang Wiyagra merasa tertekan atau cemas.
Di sisi lain, sebagai pemimpin dan penguasa, Prabu Jabang Wiyagra juga merasa penuh dengan tekad dan semangat juang. Ia berusaha mempersiapkan pasukan dan strategi yang tepat untuk melindungi kerajaannya dan rakyatnya.
Pada saat yang sama, ia juga berusaha membangun kepercayaan diri dan semangat berjuang di antara para prajurit dan bangsanya. Dalam menghadapi situasi seperti ini, penting bagi Prabu Jabang Wiyagra untuk mempertahankan ketenangan dan menjaga fokus.
Ia merundingkan dengan para abdi istana, mempelajari strategi musuh, dan mengatur sumber daya dengan bijaksana. Dalam menghadapi tantangan perang, keahlian dan kepemimpinan yang baik, sangat membantu Prabu Jabang Wiyagra menghadapi situasi tersebut dengan keyakinan dan kesuksesan.
Prabu Jabang Wiyagra juga merasa bertanggung jawab untuk mencari cara damai atau solusi diplomatis jika memungkinkan, untuk mencegah perang yang lebih luas dan meminimalkan dampak negatifnya. Namun tetap saja itu adalah kenyataan yang sulit untuk diwujudkan.
Secara keseluruhan, suasana hati Prabu Jabang Wiyagra saat menghadapi perang besar di kerajaannya penuh dengan campuran emosi, tetapi dengan kepemimpinan yang bijaksana dan tekad yang kuat, ia berharap dapat mempertahankan kerajaannya dan melindungi rakyatnya dengan sebaik-baiknya.
Di markas militer Kerajaan Wiyagra Malela, Maha Patih Putra Candrasa dan para Patih kerajaan berkumpul untuk merencanakan serangan tersebut. Ruangan ini dipenuhi peta, strategi perang, dan berbagai rencana taktis.
Suasana serius dan fokus tampak terpancar di wajah semua orang yang terlibat dalam rencana penyerangan tersebut. Bahkan boleh dikatakan, kalau suasana kala itu cukup tegang. Karena Maha Patih Putra Candrasa membeberkan situasi Kerajaan Gelap Ngampar secara detail.
__ADS_1
Sedangkan di luar markas militer, prajurit kerajaan sedang sibuk mempersiapkan diri. Mereka memeriksa persenjataan, mengisi persediaan amunisi, baik anak panah atau pun amunisi senjata yang lainnya.
Dan memastikan perlengkapan mereka dalam kondisi yang baik. Suasana di luar penuh dengan kebisingan karena para prajurit bergerak dengan cepat, ditambah jumlah mereka yang sangat banyak.
Suara derap kaki kuda, senjata yang sedang diasah, dan juga suara-suara para prajurit yang saling bersahutan, membuat suasana di luar markas militer Kerajaan Wiyagra Malela, menjadi semakin ramai.
Hal itu juga terjadi di Padepokan Ageng Reksa Pati. Para pasukan yang baru saja dilantik, kini juga sama-sama sedang mempersiapkan diri, untuk pertahanan dan penyerangan.
Meskipun penyerangan ini sudah diperhitungkan dengan sangat matang, tetapi Prabu Jabang Wiyagra tetap memerintahkan Maha Patih Putra Candrasa untuk mempersiapkan pasukan pengamanan di seluruh wilayah Kerajaan Wiyagra Malela.
Melihat pasukan musuh yang didukung oleh orang-orang dari masa lalunya, Prabu Jabang Wiyagra merasa harus mempersiapkan perencanaan ganda untuk meminimalisir korban dari penyerangan malam ini. Sekaligus memastikan kalau musuh tidak melakukan hal yang sama.
Dan setelah semua persiapan sukses dilakukan, Maha Patih Putra Candrasa, Pangeran Rawaja Pati, Patih Dawala, Patih Kepila, Patih Rekta, dan juga Lare Damar. Ditambah dengan para pasukan lembut milik Mangku Cendrasih dan juga pasukan lelembut milik Prabu Jabang Wiyagra.
Dengan bantuan kekuatan dari Pangeran Rawa Japati dan pasukannya, semua pasukan yang terlibat dalam penyerangan tersebut sampai dengan sangat cepat, di sebuah lokasi yang tidak jauh dari istana Kerajaan Gelap Ngampar. Tanpa diketahui oleh siapapun yang ada disana.
Kecuali dengan Kebo Walik, yang merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan suasana yang hening dan terlalu tenang ini. Kebo Walik mulai merasakan kekhawatiran tentang keamanan yang ada di istana Kerajaan Gelap Ngampar.
Apalagi saat dia melihat banyak pasukan yang mulai bergantian berjaga. Menjadi tanda kalau sebagian besar dari mereka sudah mulai kelelahan, karena hari yang sudah larut malam. Namun di sini Kebo Walik berusaha untuk bersikap biasa saja.
__ADS_1
Kebo Walik juga mengambil beberapa minuman keras yang tersedia di sebuah meja, yang ada di halaman istana. Minuman-minuman tersebut memang disediakan untuk para pasukan yang berjaga sampai pagi hari. Untuk jamuan agar mereka tidak merasakan kantuk.