
"Dengan berdirinya Kota Jaya Pancana, maka itu akan menjadi masalah besar untuk kita semua yang ada di sini. Kota itu mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Padahal, belum sampai satu bulan kota itu didirikan." Ucap Prabu Barajang kepada para abdinya.
"Benar Gusti Prabu. Bagaimana kalau kita serang saja sekarang?" Ucap Maha Patih Kana Raga.
"Tidak Maha Patihku. Aku tidak mau nasibku sama seperti kerajaan-kerajaan yang lainnya. Aku ingin kita menaklukkan Kota Jaya Pancana dengan cara yang lain. Kalau kita menyerang secara langsung Kota Jaya Pancana, maka akan banyak pasukan kita yang mati."
"...Apalagi sekarang Patih Kinjiri sudah menjadi seorang Panglima. Tentu dia memiliki wewenang yang besar untuk menggerakkan setiap pasukan yang ada di wilayah Kota Jaya Pancana. Dia memiliki kekuatan yang lebih, untuk mengendalikan para pasukannya." Jawab Prabu Barajang.
Di ruang singgasananya, Prabu Barajang sedang bermusyawarah dengan para abdi istananya. Termasuk Mbah Gagang dan Maha Patih Kana Raga. Dan ternyata memang benar, sekarang Maha Patih Kana Raga dan Mbah Gagang sudah menjadi abdi setia Prabu Barajang. Semenjak ada mereka berdua Kerajaan Bala Bathara berkembang dengan sangat baik.
Prabu Barajang juga menginginkan kekuasaannya diperluas, dengan cara mengeruk sedikit demi sedikit wilayah Kerajaan Putra Bathara. Kerajaan yang dipimpin oleh kakaknya sendiri, Prabu Gala Ganda. Pertikaian mereka berdua bukan hanya sekedar rumor. Tapi memang benar adanya. Karena Prabu Barajang ingin menuntut balas atas perilaku kakaknya yang tidak mau membantunya saat sedang mengalami kesulitan.
Lalu kemanakah Maha Patih Salara?
__ADS_1
Maha Patih Salara sendiri sudah disingkirkan oleh Prabu Barajang. Dia dipenjara di sebuah penjara bawah tanah yang ada di Kerajaan Bala Bathara sendiri. Maha Patih Salara ditangkap saat dia sedang melakukan upacara pengangkatan dirinya sebagai seorang raja baru, di Kerajaan Bala Bathara. Namun sangat disayangkan, Prabu Barajang kala itu sudah bangkit dari keterpurukannya.
Selama Maha Patih Salara sibuk mengurusi persiapan pengangkatannya sebagai raja, Prabu Barajang sudah pergi selama beberapa hari dari istananya, untuk mencari keberadaan Nyi Dwi Sangkar. Karena Nyi Dwi Sangkar dengan Prabu Barajang, ternyata masih memiliki hubungan keluarga. Nah, Prabu Barajang meminta bantuan kepada Nyi Dwi Sangkar untuk membantunya menangkap Maha Patih Salara di hadapan semua pasukannya.
Prabu Barajang ingin supaya Maha Patih Salara dipermalukan di hadapan pasukannya. Dengan cara dikalahkan dalam pertarungan melawan Nyi Dwi Sangkar. Tentu Maha Patih Salara akan merasa sangat-sangat malu, karena dia bisa dikalahkan ditangan seorang perempuan. Dengan begitu, para pasukannya tidak akan lagi mempercayainya, dan sudah pasti akan meninggalkannya.
Karena dalam hukum Kerajaan Bala Bathara, yang kuat yang berkuasa, yang lemah yang menjadi hamba. Dan dengan kalahnya Maha Patih Salara di tangan Nyi Dwi Sangkar, maka akan menjatuhkan kehormatannya sebagai seorang Maha Patih, sekaligus raja yang baru. Hasilnya, sekarang Maha Patih Salara dikurung dalam penjara bawah tanah bersama dengan para tahanan rendahan lainnya, yang tidak lain adalah para pendukung Maha Patih Salara sendiri.
Dan untuk Mbah Gagang, dia diangkat menjadi pelatih para pasukan. Baik pasukan yang sudah lama ataupun para pasukan yang baru masuk. Sehingga sekarang, kekuatan pasukan Prabu Barajang jauh lebih kuat dari pada sebelumnya. Mereka juga diberi kemampuan lebih oleh Mbah Gagang, agar mampu mengimbangi kekuatan musuh-musuh mereka. Terutama pasukan Kerajaan Wiyagra Malela.
Prabu Barajang kembali menyusun strategi penyerangan ke Kerajaan Putra Bathara, agar Prabu Gala Ganda bisa tersingkirkan, dan Prabu Barajang tidak lagi memiliki seorang pesaing. Tapi Prabu Gala Ganda selalu berhasil lolos dari kejaran pasukan Prabu Barajang. Kekuatan Kerajaan Putra Bathara benar-benar sudah diambang kehancuran. Bahkan, Maha Patih Rangkat Sena pun lebih memilih untuk meninggalkan Prabu Gala Ganda, entah kemana.
Tindakan Maha Patih Rangkat Sena dipicu karena sebuah kalimat penghinaan dari Prabu Gala Ganda. Yang dimana kala itu pasukan yang dibawa Maha Patih Rangkat Sena mengalami kegagalan saat berhadapan dengan pasukan Kerajaan Bala Bathara, yang dipimpin oleh Mbah Gagang. Walaupun kemampuan Maha Patih Rangkat Sena jauh lebih hebat dari Mbah Gagang, tapi tetap saja pasukannya sudah kalah jumlah.
__ADS_1
Hal itu kemudian memancing kemarahan Prabu Gala Ganda, sampai Prabu Gala Ganda mengeluarkan sumpah serapahnya kepada Maha Patih Rangkat Sena. Maha Patih Rangkat Sena jelas sakit hati, karena dia sudah berkorban banyak untuk Kerajaan Putra Bathara dan juga Prabu Gala Ganda. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan urusan Prabu Gala Ganda. Dia pergi bersama dengan beberapa orang Patih kerajaan yang mendukungnya.
Keputusan itu membuat Prabu Gala Ganda semakin tidak karuan. Di saat-saat genting seperti ini, dia seharusnya sedang dalam pengawasan Maha Patih Rangkat Sena. Tapi karena Maha Patih Rangkat Sena sudah tidak ada, maka dia harus bergerak sendiri, dengan pasukannya yang tersisa. Wilayah Kerajaan Putra Bathara semakin lama juga semakin mengecil. Begitu juga dengan jumlah pasukannya, yang sekarang hanya tersisa seribu orang saja itupun pasukan istana.
Sedangkan untuk pasukan yang ada di luar, kebanyakan dari mereka memilih untuk bergabung dengan Prabu Barajang, karena mereka tidak mau mati sia-sia. Para prajurit jelas membutuhkan sosok kuat yang benar-benar mampu memimpin mereka. Sedangkan Prabu Gala Ganda sudah tidak sekuat dulu. Pengaruhnya sebagai seorang raja semakin hari semakin meredup. Bahkan bisa dibilang dia sudah tidak punya apa-apa lagi yang bisa gunakan untuk penjagaan.
Sekarang semua pasukannya difokuskan untuk menjaga istana Kerajaan Putra Bathara yang menjadi tempat tinggalnya yang terakhir. Seluruh pendukungnya sudah dirampas oleh Prabu Barajang. Mereka semua dicuci otaknya, agar memusuhi Prabu Gala Ganda. Para pasukan Prabu Gala Ganda yang tersisa itu hanyalah para pasukan yang lemah. Bukan pasukan khusus Kerajaan Putra Bathara. Hanya orang-orang lemah itulah yang masih setia mengabdikan mereka kepada Prabu Gala Ganda.
Sedangkan para pasukan elit di Kerajaan Putra Bathara sudah tidak ada. Ada yang pergi mencari jejak Maha Patih Rangkat Sena, ada yang bergabung dengan Prabu Barajang, dan ada juga yang tewas saat dalam pertarungan. Sungguh, semua itu adalah balasan untuk orang-orang yang suka berbuat kejahatan. Dulu Prabu Gala Ganda yang selalu menjadi orang yang diagung-agungkan, karena kecerdasannya. Tapi tidak lagi untuk sekarang ini.
Sekarang semuanya sudah berbalik kepada Prabu Barajang. Prabu Barajang-lah yang sekarang diagung-agungkan oleh semua orang. Bahkan nama Prabu Barajang selalu menjadi perbincangan hangat di kalangan para pendukungnya. Pengaruh Prabu Barajang benar-benar sangat kuat. Dengan pengaruhnya itu, Prabu Barajang sebenarnya bisa melakukan apa saja yang ia mau, termasuk menindas rakyatnya sendiri.
Namun, untuk sekarang Prabu Barajang tidak mau lagi melakukan hal itu. Dia mau semua kejahatannya benar-benar terlihat bersih dan tidak disadari oleh orang-orang. Prabu Barajang ingin rakyat dan semua abdinya benar-benar mencintainya setulus hati mereka. Prabu Barajang ingin menggunakan cara yang juga digunakan oleh Ratu Mekar Senggani.
__ADS_1