
Setelah beristirahat cukup lama, Utari Gita dan Bamantara dibawa oleh Mbah Kangkas menuju ke ruang makan. Di sana sudah banyak sekali para pengurus padepokan yang sudah berkumpul. Mereka semua adalah murid-murid Mbah Kangkas.
Mereka sedang berkumpul untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan. Mbah Kangkas mempersilahkan Utari Gita dan Bamantara untuk makan. Karena sudah sangat lapar mereka berdua pun makan dengan lahap.
Mbah Kangkas yang melihat cara makan mereka berdua yang terkesan urakan, hanya bisa geleng-geleng kepala. Karena di padepokan ini semua orang selalu makan dengan pelan dan tenang, bahkan tidak berbicara sedikitpun.
Sangat berbeda dengan Utari Gita dan Bamantara yang makan sembari berbincang. Tapi tidak ada yang menegur mereka berdua, karena menegur orang yang sedang makan juga bukan adab yang baik. Mbah Kangkas juga membiarkannya, tanpa mengatakan apa pun.
Setelah selesai makan, dan semuanya dibereskan, Utari Gita dan Bamantara dikenalkan kepada semua murid-murid terbaik Mbah Kangkas yang ada di ruangan itu. Semua orang yang masuk ke ruangan ini adalah orang-orang pilihan.
Mereka orang-orang yang bisa dipercaya dan orang-orang yang sangat patuh kepada perintah Mbah Kangkas. Selama ini mereka sudah melakukan banyak sekali tugas dari Mbah Kangkas. Mereka kebanyakan mendapatkan tugas untuk melakukan serangan di posko-posko keprajuritan.
Banyak pos-pos prajurit yang tersebar di wilayah Kerajaan Bala Bathara. Pos-pos prajurit tersebut dimaksudkan untuk menjaga setiap inci wilayah dari Kerajaan Bala Bathara, agar tidak disusupi oleh mata-mata. Tapi pos-pos tersebut tidak berjalan sesuai dengan fungsinya.
Para prajurit yang berjaga di pos kebanyakan hanya memakan gaji buta. Tidak jarang mereka juga memeras para pedagang dan juga orang-orang yang lewat di pos-pos tersebut. Sehingga banyak orang yang takut untuk berinteraksi dengan para prajurit istana yang berjaga.
__ADS_1
Entah disadari ataupun tidak Prabu Barajang sudah mengibarkan bendera perang dengan rakyatnya sendiri. Semua sistem yang dibangun di kerajaan tersebut benar-benar tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena banyaknya pejabat yang menyelewengkan kekuasaan mereka.
Sebenarnya rakyat sudah sangat geram dengan perilaku pejabat istana yang suka semena-mena. Tapi apalah daya? Mereka hanyalah masyarakat biasa yang tidak punya kekuatan apapun untuk melakukan perlawanan. Hal inilah yang kemudian memancing Mbah Kangkas dan murid-muridnya untuk melakukan perubahan.
Dan hasilnya sekarang banyak sekali orang yang merasa hidupnya aman, dari para prajurit dan pejabat yang suka bertindak seenak jidat. Mbah Kangkas dan padepokannya akhirnya menjadi sorotan penting bagi para pejabat istana, terutama Prabu Barajang. Mbah Kangkas dan padepokannya sudah dicap sebagai pembangkang.
Di ruangan yang sangat besar itu, Mbah Kangkas memberikan arahan kepada Utari Gita dan Bamantara, tentang bagaimana aturan penyerangan yang akan mereka lakukan.
"Mulai dari sekarang, Bamantara dan Utari Gita-lah yang akan memimpin kalian dalam setiap penyerangan. Mereka berdua adalah para pendekar dari Wiyagra Malela. Dan mereka diutus untuk membantu kita semua. Begitu pula sebaliknya kita pun harus membantu mereka berdua."
Selama ini Mbah Kangkas sudah berusaha, dan menggunakan berbagai cara, agar bisa menghubungi Prabu Jabang Wiyagra. Mbah Kangkas juga pernah mengirimkan beberapa surat kepada Prabu Jabang Wiyagra. Tapi sayang, surat-surat itu tidak pernah sampai.
Karena semua orang yang mengirimkan surat tersebut, pasti akan dihadang di tengah perjalanan. Suratnya diambil, dan orangnya dibunuh. Sudah pasti yang melakukan hal tersebut adalah para prajurit istana, utusan dari Prabu Barajang, yang sangat tidak suka kepada Prabu Jabang Wiyagra.
Semua murid Mbah Kangkas yang berkumpul disana merasa sangat bangga, karena mereka akhirnya mendapatkan bantuan dari Kerajaan Wiyagra Malela. Walaupun sebenarnya, Bamantara dan Utari Gita tidak mendapatkan tugas tersebut dari Prabu Jabang Wiyagra. Karena tugas mereka hanyalah mencari informasi tentang kekuatan musuh yang akan mereka hadapi.
__ADS_1
Namun bertemunya mereka berdua dengan Mbah Kangkas, bisa menjadi sebuah jalan yang mudah untuk mendapatkan segala hal tentang Kerajaan Bala Bathara. Karena satu-satunya orang yang bisa mereka berdua percaya, dan mengetahui secara pasti semua tentang Kerajaan Bala Bathara, hanyalah Mbah Kangkas.
Kalau mereka berdua nekat melakukan semuanya dengan rencana yang sudah Utari Gita susun sejak awal, bisa-bisa mereka gagal di pertengahan, karena sekarang situasi di Kerajaan Bala Bathara dan sekitarnya sudah sangat memanas. Setiap hari para prajurit mengelilingi kampung, sembari mengawasi setiap rumah.
Prabu Barajang sudah sering mendengar tentang setiap rencana penyerangan yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Dia sangat takut, kalau sampai Prabu Jabang Wiyagra melakukan serangan seperti yang sudah dilakukannya kepada kerajaan-kerajaan yang lain, yang sekarang kekuasaannya sudah runtuh.
Saat Prabu Barajang tahu kalau Prabu Jabang Wiyagra sudah mengetahui semua keterlibatannya dengan berbagai peperangan yang terjadi, Prabu Barajang tidak bisa beristirahat dengan tenang di istananya. Karena setiap hari dia terus-menerus dihantui oleh nama Prabu Jabang Wiyagra yang saya akan telah melengking di telinganya.
Prabu Barajang bahkan sudah tidak mau ikut campur lagi dengan urusan Kerajaan Wesi Kuning. Karena sekarang, dia harus berfokus untuk mengurus kerajaannya sendiri. Yang kemungkinan besar, sebentar lagi akan dihancurkan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Jelas Prabu Jabang Wiyagra tidak akan memberikannya ampun sedikitpun.
Prabu Barajang memerintahkan semua pasukannya yang ada untuk tetap waspada. Bahkan semua pasukan yang ada di istana pun dikerahkan untuk menjaga wilayah-wilayah penting yang sekiranya bisa ditembus oleh musuh. Sedangkan yang berjaga di istana sekarang adalah para Patih dan juga pasukan khusus kerajaan.
Prabu Barajang yang terkenal kejam, sadis dan tidak perasaan itu, seakan-akan dibuat bertekuk lutut hanya karena nama besar Prabu Jabang Wiyagra. Padahal tidak ada satupun pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela yang hadir di wilayah Kerajaan Bala Bathara. Tetapi Prabu Barajang memiliki ketakutan yang sangat besar.
Prabu Barajang sampai memerintahkan beberapa pejabat untuk mencari para pendekar-pendekar sakti, yang mau bergabung dengannya, dengan mengiming-imingi mereka harta benda, agar mereka mau membela dirinya. Karena kesaktian dari Prabu Barajang tidak akan pernah bisa menyaingi kesaktian yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
Prabu Barajang bisa dibilang cukup pintar dalam mengatur pemerintahannya, agar semua orang yang ada di kerajaannya bisa tunduk kepada dirinya. Namun hal itu jelas tidak akan pernah berlaku kepada Prabu Jabang Wiyagra. Orang yang sulit untuk dibayar, adalah orang yang sangat sulit untuk diajak bekerja sama. Apalagi untuk ditaklukan.