
"Pertahanan pasukan dari Kerajaan Wesi Kuning benar-benar tidak bisa dianggap remeh, karena sangat sulit untuk ditembus secara langsung. Kita harus menggunakan cara yang jauh lebih halus dan lebih cerdas dari pada cara lama."
".....Prabu Jabang Wiyagra tidak bosan menasehatiku untuk tidak sembrono kali ini, karena Prabu Bawesi dan para pendukungnya bukanlah orang-orang sembarangan. Prabu Jabang Wiyagra juga kalau ada bantuan dari musuh-musuhnya yang lain." Ucap Lare Damar.
"Kalau begitu kita harus segera bergerak menuju ke sana. Hal yang paling bisa kita lakukan sekarang ini adalah membantu Pangeran Rawaja Pati dan Patih Kinjiri. Karena merekalah yang paling dekat dengan lokasi istana Kerajaan Wesi Kuning." Ujar Maha Patih Putra Candrasa.
"Benar Maha Patih. Aku juga memiliki pemikiran yang sama. Apalagi setelah aku tahu kalau Patih Kinjiri juga memiliki Ajian Panglimunan, yang bisa membuatnya lenyap dari pandangan mata. Dia berhasil menyusup ke sebuah jalur bawah tanah rahasia, yang dibangun oleh para raja-raja yang mendukung Prabu Bawesi."
"Sebaiknya kita bergerak dengan cepat. Lebih cepat akan lebih baik. Karena kalau sampai Prabu Bawesi mendahului kita, maka tamatlah kita semua yang ada di sini. Semua pasukan kita pasti akan mati di tangan Prabu Bawesi dan pasukannya yang sudah berkembang dengan pesat."
"Baiklah saudara-saudaraku sekalian yang ada di sini. Kita semua adalah abdi setia Prabu Jabang Wiyagra. Kita di sini bukan hanya membela Prabu Jabang Wiyagra saja, tapi juga seluruh rakyat Kerajaan Wiyagra Malela. Kalau sampai Kerajaan Wiyagra Malela jatuh ke tangan musuh, maka bencana besar akan terjadi di Tanah Jawa ini." Ucap Lare Damar.
Lare Damar lalu mengutus Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Kumbandha, untuk melakukan penyerangan secara rahasia ke keraton pertama yang menjadi gerbang utama bagi Kerajaan Wesi Kuning. Patih Kinjiri juga langsung dihubungi oleh Lare Damar melalui kemampuan batinnya, agar tidak perlu mengirimkan surat.
__ADS_1
Misi ini harus dituntaskan dalam batas waktu sampai tengah malam. Yang inti dari misi tersebut adalah, untuk membuat kekacauan keraton pertama. Sekaligus untuk membunuh para prajurit-prajurit terbaik yang ada di sana. Kalau semua prajurit terbaik yang ada di Keraton pertama berhasil dibunuh, maka nyali prajurit yang lainnya pun akan menurun.
Lare Damar suka memerintahkan para Patih dari Kerajaan Ciung Wanara dan Kerajaan Cakra Buana, untuk meracuni sumber air yang ada di wilayah ketujuh keraton yang ada di sana. Setelah hal itu berhasil dilakukan, mereka harus menuju ke ruang penyimpanan beras dan persediaan pangan para pasukan Prabu Bawesi. Dan menaburkan pupuk beracun ke beberapa kantung beras yang ada di sana.
Dengan begitu, pasukan Prabu Bawesi akan kekurangan bahan pangan, dan juga air bersih. Dan tugas dari para Patih Kerajaan Ciung Wanara dan Kerajaan Cakra Buana, dilakukan setelah Maha Patih Kumbandha dan Maha Patih Putra Candrasa berhasil memasuki keraton pertama. Jadi tugas Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Kumbandha, adalah membuka jalan untuk para Patih yang menjalankan tugas tersebut.
Alasan kenapa Lare Damar tidak menyerahkan tugas tersebut kepada para prajurit adalah, karena para prajurit terlalu lemah juga harus menembus pertahanan pasukan yang sedang berjaga di ruang penyimpanan persediaan pangan. Di sana banyak sekali pasukan yang berjaga dengan persenjataan lengkap, dan mereka dikenal sebagai pasukan yang terbaik.
Para prajurit biasa sudah pasti tidak ada apa-apanya bagi para penjaga yang ada di sana. Karena para prajurit kemampuan para prajurit masih berada jauh, di bawah orang-orang yang menjaga ruang penyimpanan bahan pangan itu. Lare Damar tidak mau ada orang yang mati secara sia-sia. Bahkan kalau bisa, semuanya harus pulang dengan selamat.
Satu hal yang diinginkan oleh Prabu Jabang Wiyagra adalah menyadarkan Prabu Bawesi. Dan mengajaknya kembali ke jalan yang benar. Prabu Jabang Wiyagra sendiri yang akan menghadapi Prabu Bawesi secara langsung. Karena Prabu Jabang Wiyagra tahu, kalau Prabu Bawesi memiliki banyak sekali ilmu hitam yang mengerikan. Dan tidak sembarang orang bisa menangkalnya.
Bahkan Prabu Jabang Wiyagra sampai harus meminta petunjuk kepada Eyang Badranaya, karena Prabu Bawesi adalah lawan yang berat. Dan menurut penerawangan Eyang Badranaya, Prabu Bawesi memang memiliki ilmu kesaktian yang sangat tinggi. Bahkan sekarang ilmunya sudah bertambah lebih kuat, setelah dia dikalahkan oleh Maha Patih Putra Candrasa.
__ADS_1
"Ingat Nanda Prabu Jabang Wiyagra. Sampai kapanpun Prabu Bawesi tidak akan mendengarkan ucapan dan ajakanmu, untuk berubah. Prabu Bawesi akan tetap berada dalam pendiriannya. Hanya satu hal yang dapat merubahnya, yaitu keadaan."
".....Gunakanlah kemampuan batinmu, Nanda Prabu. Bertindaklah dengan bijak. Jangan menuruti hawa nafsu amarahmu. Biarkan Prabu Bawesi tetap hidup. Namun dengan pembelajaran yang berarti untuk dirinya." Ucap Eyang Badranaya yang kemudian berlalu dari pandangan batin Prabu Jabang Wiyagra.
Prabu Jabang Wiyagra melakukan meditasi di ruangan pribadinya, agar bisa terhubung dengan Eyang Badranaya. Eyang Badranaya yang mendengarkan adanya panggilan dari anak kesayangannya itu, sudah pasti akan datang tepat waktu. Sayangnya, Eyang Badranaya tidak bisa ikut campur secara langsung dalam masalah yang tengah dihadapi oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Eyang Badranaya adalah orang yang suci. Dan sudah menjadi penghuni langit. Jadi beliau tidak boleh terlalu dalam mencampuri urusan Prabu Jabang Wiyagra. Karena takdir yang sedang di jalani sekarang adalah tentang Prabu Jabang Wiyagra sepenuhnya. Prabu Jabang Wiyagra harus menjalankan kewajiban dan juga takdirnya sebagai seorang raja. Masih banyak hal yang perlu dilewati oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Masalah seperti ini bukan apa-apa. Musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra banyak sekali yang masih hidup, dan ingin menuntut balas kekalahan mereka kepada Prabu Jabang Wiyagra di masa lalu. Berbagai permasalahan besar masih menanti di depan. Namun untuk terbangnya sebuah pemerintahan yang maju, Kerajaan Wiyagra Malela harus mengalami penekanan terlebih dahulu. Termasuk dengan Prabu Jabang Wiyagra sendiri.
Prabu Jabang Wiyagra tidak akan menjadi seorang raja, jika dulu dia tidak melakukan usaha besar untuk mendirikan Kerajaan Wiyagra Malela. Keberaniannya untuk mendirikan sebuah kerajaan di tengah-tengah peperangan, adalah sebuah hal yang sangat nekat. Dan tidak ada satupun orang yang melakukannya. Bahkan kerajaan-kerajaan besar yang lebih dulu ada sebelum Kerajaan Wiyagra Malela pun sudah banyak yang runtuh.
Selama berabad-abad Tanah Jawa dilanda peperangan besar. Kerajaan-kerajaan lama tersingkirkan. Lalu muncul kembali kerajaan-kerajaan baru. Yang pada dasarnya sifat mereka tidak jauh berbeda dengan para raja-raja pendahulu mereka. Tanah Jawa yang menyimpan berbagai keindahannya ini, dirusak oleh orang-orang yang serakah, yang hanya peduli kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Padahal semua makhluk yang hidup di dunia ini, ditakdirkan untuk saling menjaga satu sama lain. Saling melindungi, saling menyayangi, dan saling mencintai. Namun karena keserakahan, semua hal itu tidak lagi berarti. Bahkan pernah ada seorang raja yang berperang dengan keluarganya sendiri, karena menolak perintahnya.
Padahal, sikap seorang raja yang sejati adalah mengayomi. Melayani rakyatnya dengan tulus. Tanpa pamrih. Mensejahterakan semua rakyatnya, dan menggunakan kekuasaannya dengan bijak. Tetapi tidak semua orang berpendapat sama seperti Prabu Jabang Wiyagra dan para pengikut setianya. Kebanyakan manusia hanya ingin memenuhi hasrat diri sendiri, tanpa peduli lagi dengan segala konsekuensi.