DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 60


__ADS_3

Patih Kinjiri dan Maha Patih Putra Candrasa akhirnya sampai di depan istana Kerajaan Antasura. Namun mereka semua terkejut, karena banyak sekali mayat prajurit yang tergeletak.


“Ada apa ini Maha Patih?! Kenapa semuanya kacau seperti ini?!”


“Entahlah Patih Kinjiri. Ayo kita masuk!”


Mereka berdua pun akhirnya masuk ke dalam, dan disana mereka melihat banyak sekali orang-orang berbaju hitam yang sedang berusaha untuk membuka pintu istana Kerajaan Antasura.


“Hey! Lawan kalian disini!” Teriak Maha Patih Putra Candrasa.


Orang-orang berbaju hitam yang jumlahnya ratusan itu pun menengok ke belakang, mereka semua seketika berlari ke arah Maha Patih Putra Candrasa dan Patih Kinjiri.


Jumlah mereka sangat banyak, pantas saja kalau prajurit istana yang jumlahnya sedikit tidak mampu mereka, dan hanya bisa bersembunyi di dalam istana. Orang-orang berbaju hitam itu sudah membantai puluhan prajurit istana.


Mereka semua membawa pedang ditangan mereka, dan kelihatannya mereka memang para pembunuh yang sudah sangat ahli. Karena mereka semua memiliki kemampuan gerakan bela diri yang mumpuni.


Namun, ditangan Maha Patih Putra Candrasa mereka bukanlah apa-apa. Dengan sekali pukul ke arah mereka, mereka yang jumlahnya puluhan pun terkapar dan langsung tewas.


Sedangkan yang lainnya masih berusaha mendekat ke Maha Patih Putra Candrasa. Maha Patih Putra Candrasa sudah tidak kaget lagi menghadapi para pendekar yang tingkatannya jauh dibawahnya.


Dia memukul dan menendang mereka semua dengan sangat mudah. Karena seberapa kuat pun mereka menangkis pukulan dan tendangan dari Maha Patih Putra Candrasa, mereka tetap saja tidak mampu.


Tendangan, pukulan, dan juga sayatan pedang, tidak ada satu pun yang berhasil Maha Patih Putra Candrasa. Padahal, Maha Patih Putra Candrasa menyerang mereka dengan sangat santai.


Kalau orang biasa, mungkin sudah kalah karena jumlah mereka sangat banyak. Tapi Maha Patih Putra Candrasa tidak bergeser sedikit pun dari posisinya. Dia hanya berubah arah ke kanan, kiri, depan, dan belakang untuk menghadapi mereka.

__ADS_1


Para pendekar baju hitam itu terus menerus menyerangnya dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Bahkan merekalah yang dibuat kerepotan melawan Maha Patih Putra Candrasa.


Sejenak Maha Patih Putra Candrasa diam dan tidak melakukan apa-apa. Dia memejamkan kedua matanya, dan seketika dia berteriak.


Hyaatttt!!!!


Ratusan orang yang mengerumuninya itu langsung terpelanting kesana kemari, karena Maha Patih Putra Candrasa mengeluarkan kesaktiannya. Yang masih selamat pun mulai mundur dan ragu untuk melawan balik.


Pada akhirnya, mereka yang masih hidup pun memilih untuk kabur melarikan diri. Istana Kerajaan Antasura benar-benar sudah sangat kacau. Banyak mayat bergelimpangan.


Ada juga para prajurit istana yang masih hidup, tapi mereka semua sudah terluka parah karena serangan brutal dari para pendekar baju hitam itu. Patih Kinjiri mendekati salah satu prajurit yang masih hidup untuk menanyakan apa yang terjadi di dalam.


“Semua prajurit telah dibantai habis. Bala bantuan istana mungkin akan datang terlambat. Prabu Bujang Antasura dibawa lari ke Kerajaan Candramawa. Tapi masih ada beberapa Patih yang bertahan di dalam untuk menahan para ketua pemberontak baju hitam itu.” Ucap salah seorang prajurit kepada Patih Kinjiri.


Para Patih itu seperti sudah tidak mampu lagi menghadapi lima orang pendekar sakti itu, karena mereka semua sudah terluka parah. Namun, para Patih itu adalah orang-orang yang setia, sehingga mereka rela dihajar habis-habisan untuk menahan musuh mereka.


Maha Patih Putra Candrasa dan Patih Kinjiri pun langsung membantu para Patih yang sudah terluka itu. Seketika para pendekar baju hitam itu menjadi lemah saat berhadapan dengan Patih Kinjiri dan Maha Patih Putra Candrasa.


Saat ini, Prabu Bujang Antasura dibawa melalui sebuah jalur bawah tanah. Jalur itu dibuat oleh Prabu Bujang Antasura untuk melarikan diri ke istana Prabu Bagas Candramawa.


Awalnya, jalur itu sebenarnya digunakan oleh Prabu Bagas Candramawa dan Prabu Bujang Antasura, jika mereka ingin berjalan kaki tanpa harus diketahui oleh siapa pun.


Namun karena keadaan sudah mendesak, akhirnya mereka pun menggunakan jalur itu.


Prabu Bujang Antasura digendong oleh Maha Patih Widhala, karena tubuhnya sangat lemah, dan tidak mampu berjalan sendiri.

__ADS_1


Sedangkan Prabu Bagas Candramawa berjalan di belakang, untuk memastikan kalau tidak ada orang lain yang mengikuti mereka. Karena jalur ini adalah jalur rahasia.


Dan tidak boleh dilewati oleh siapa pun, tanpa perintah dari Prabu Bujang Antasura, atau pun Prabu Bagas Candramawa. Bahkan Maha Patih Widhala juga baru mengetahui jalur ini.


“Hey! Jangan ikut campur urusan kami! Kau bukan orang Kerajaan Antasura!” Ucap salah satu pimpinan pendekar baju hitam.


Orang itu jelas ketakutan setelah ia tahu, kalau yang dia hadapi adalah Maha Patih Putra Candrasa yang terkenal sakti mandraguna, dan tidak pernah terluka, atau kalah satu kali pun.


“Mulai sekarang! Urusan Kerajaan Antasura adalah urusanku juga! Paham?!” Bentak Maha Patih Putra Candrasa.


Maha Patih Putra Candrasa kemudian mengeluarkan Ajian Gelap Ngampar, dan membuat kelima orang pimpinan pendekar baju hitam itu langsung terlempar keluar dari dalam istana.


Dari kelima orang itu, hanya dua yang berhasil hidup. Selebihnya mati dengan keadaan tubuh yang gosong dan sebagian isi perut mereka keluar. Dua orang itu berusaha bangkit dan berusaha untuk kembali melawan.


Mereka tidak terima atas kematian ketiga teman mereka yang mati dalam keadaan mengenaskan. Mereka berdua menggunakan sisa-sisa kekuatan yang mereka miliki untuk menggabungkan kekuatan mereka.


“Biar saya saja Maha Patih.” Ucap Patih Kinjiri.


Patih Kinjiri kemudian mengambil satu bilah pedang kemudian dia lemparkan kepada dua orang yang sedang bersiap-siap akan menggabungkan kekuatan mereka itu.


Pedang yang hanya satu bilah, kemudian berubah menjadi ratusan. Dan dengan cepat pedang-pedang itu melesat menembus tubuh kedua orang itu. Tubuh mereka pun langsung terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Dan sudah pasti dua orang itu langsung mati.


“Ayo Patih Kinjiri. Kita susul Prabu Bujang Antasura.” Ucap Maha Patih Putra Candrasa.


Mereka berdua pun langsung terbang ke atas langit menuju Kerajaan Candramawa. Mereka harus sesegera mungkin membawa obat itu untuk Prabu Bujang Antasura.

__ADS_1


__ADS_2