
Si laki-laki yang telah berhasil mematahkan serangan Ratna Malangi, sekarang sudah mulai gencar melakukan serangan. Si laki-laki yang belum diketahui namanya oleh Ratna Malangi itu, mampu dengan sikap menandingi kekuatan yang dimiliki oleh Ratna Malangi. Bahkan dengan kesetia mampu menghindari setiap serangan yang ia dapatkan. Ratna Malangi menjadi semakin panas dan merasa terhina oleh si laki-laki tersebut. Karena laki-laki itu sama sekali tidak terkena serangan Ratna Malangi sedikitpun.
Gerakan-gerakan bela dirinya juga masih sangat gesit dan masih sangat cekatan. Padahal si laki-laki sudah mengeluarkan banyak sekali jurus. Tetapi laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan kalau merasa lelah. Ratna Malangi dibuat semakin penasaran, setelah laki-laki itu mengeluarkan sebuah jurus pukulan yang sama-sama digunakan juga oleh Ratna Malangi. Yang artinya, si laki-laki juga memiliki ilmu yang sama tingginya dengan Ratna Malangi.
"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Ratna Malangi.
Si laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya, sebanyak dua kali, ke kiri dan ke kanan. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang Ratna Malangi berikan.
"Kamu ternyata hebat juga ya? Aku tidak menyangka kalau seorang Prabu Jabang Wiyagra bisa memiliki seorang abdi yang jauh lebih kuat daripada dirinya. Kenapa kamu mau menjadi kacungnya? Hmm?"
Laki-laki itu masih saja terdiam, menatap tajam ke arah kedua bola mata Ratna Malangi. Dia sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun. Kecuali satu, yaitu amarah. Amarah yang seakan sudah ditahan selama bertahun-tahun. Sedangkan Ratna Malangi sendiri masih berusaha untuk tetap tenang menghadapi laki-laki yang misterius ini. Ratna Malangi tetap saja tidak mau kalah dari siapapun juga. Walaupun ada sedikit rasa takut, tapi Ratna Malangi juga merasa tertantang untuk menghadapi si laki-laki misterius yang tidak jelas asal-usulnya ini.
__ADS_1
"Baiklah. Tidak penting kamu mau menjawab pertanyaanku atau tidak. Yang terpenting sekarang, hadapilah aku. Dan buktikan kalau kamu memang pantas untuk mengalahkanku, daripada para kecoa-kecoa busuk ini." Kata Ratna Malangi sembari menyerang laki-laki itu dengan pukulan dan tendangan.
Namun lagi-lagi, si laki-laki itu hanya bergeser satu langkah saja, dari satu tempat ke tempat yang lain, untuk menghindari serangan dari Ratna Malangi. Ratna Malangi terus-menerus berusaha untuk bisa menyentuh tubuh si laki-laki itu. Namun seberapa keras pun Ratna Malangi berusaha, dia tetap tidak bisa melakukannya. Bahkan, semakin Ratna Malangi berusaha, seakan semakin sulit baginya untuk bisa mengenai tubuh si laki-laki itu. Hanya membuat dirinya semakin kelelahan dan semakin melemah.
"Gi-la. Dia benar-benar luar biasa. Aku tidak boleh terus-menerus seperti ini. Aku harus menemukan cara agar bisa mengalahkannya." Kata Ratna Malangi dalam hati.
Ratna Malangi lalu duduk bersila di atas tanah, dan dia berusaha untuk mengeluarkan Ajian Lampah Lumpuh, yang biasanya menjadi sebuah ilmu andalan, ketika ia sedang terdesak menghadapi musuh-musuhnya. Seperti biasanya, laki-laki bertubuh kurus pendek itu hanya diam dan hanya menatap Ratna Malangi yang sedang menggerakkan tubuhnya untuk mengeluarkan Ajian Lampah Lumpuh. Saat Ratna Malangi menghentakkan kedua tangannya ke arah si laki-laki itu, si laki-laki itu hanya berdiam diri tak berkutik.
Ratna Malangi benar-benar merasa terhina berada di tempat ini. Bahkan semua orang yang ada di sana juga menertawakan Ratna Malangi yang terlihat sudah mulai melemah. Ratna Malangi pun marah dan mengeluarkan ilmunya yang lain. Mulai dari Ajian Brajamusti, Ajian Gelap Ngampar, Ajian Serat Jiwa, dan juga Ajian Rengkah Gunung. Dan semua ilmu yang dimiliki Ratna Malangi sudah mencapai ke tingkatan terakhir, yang paling akhir. Menjadi satu hal yang mengherankan, kalau dia tidak mampu mengalahkan si laki-laki yang bertubuh kurus pendek itu.
Ratna Malangi benar-benar dibuat kebingungan menghadapi lawannya ini. Dia bahkan tidak tahu lagi harus menggunakan ilmu apa untuk bisa mengalahkannya. Semua ilmu yang ia miliki sudah ia gunakan, dan tidak ada satupun yang berhasil. Justru hanya membuat tubuh Ratna Malangi semakin melemah. Ratna Malangi bahkan sampai merasakan rasa sakit yang luar biasa di perut dan juga di dadanya. Karena terus memaksakan diri untuk mengeluarkan semua ilmu yang ada di dalam dirinya.
__ADS_1
Ratna Malangi bertekuk lutut di hadapan semua orang yang ada di sana. Seluruh tubuhnya bisa merasakan sakit akibat memaksakan diri. Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan keringat dingin. Ratna Malangi hanya bisa tertunduk lesu di depan si laki-laki yang sudah membuatnya lemah tak berdaya itu. Si laki-laki bertubuh kurus pendek itu lalu berdiri di hadapan Ratna Malangi. Dia mengucapkan sebuah kalimat yang akhirnya membuat Ratna Malangi sadar, dengan siapa dia berhadapan sekarang.
"Akulah yang telah menyebabkan kematian kakakmu. Dan aku sudah menerima hukumanku selama bertahun-tahun. Aku bahkan kesulitan untuk mengetahui duniaku yang sekarang. Semuanya telah berubah, tidak sama lagi seperti dulu. Bahkan saudara-saudaraku pun sudah banyak yang mati di tanganmu."
"....Aku tahu bagaimana sakitnya menjadi dirimu, Ratna. Aku pun pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal, sama seperti dengan dirimu. Namun, dulu aku membunuh kakakmu karena sebuah alasan yang sangat kuat. Kakakmu membahayakan semua orang. Maka dengan terpaksa, aku harus membunuhnya pada saat itu juga."
"....Dendam tidaklah membawamu kepada kedamaian. Dan tidak akan mengembalikan lagi kakakmu ke dunia ini. Kakakmu sudah mati. Dia sudah menempati tempat yang jauh lebih baik daripada dunia yang penuh dengan tipuan ini. Kalau aku menjadi dirimu, aku akan lebih memilih mengabdikan diriku kepada Yang Maha Kuasa, demi membuat orang yang aku cintai tenang di alam sana."
Ratna Malangi meneteskan air mata untuk pertama kalinya. Setelah sekian lama ini dia hanya mengorbankan semua tenaga dan fikirannya untuk hal yang sia-sia, sekarang dia akhirnya bisa sedikit menyadari apa yang dia lakukan ini adalah sebuah hal yang salah. Namun, entah mengapa kebenciannya tetaplah lebih besar daripada nalurinya. Ratna Malangi tetap ingin menjalankan rencana utamanya, yaitu membunuh semua orang yang terlibat dalam pembunuhan kakaknya.
Dia sama sekali tidak menyangka, kalau orang yang ada di hadapannya sekarang adalah, Panglima Agung Wira Satya. Ya, dia adalah Panglima Agung Wira Satya. Pemimpin kelompok persaudaraan Satrio Luhur. Yang dulunya sangat-sangat melegenda. Setelah puluhan tahun dipenjara karena semua kesalahan yang ia lakukan, sekarang ia telah dibebaskan. Dan muncul di hadapan semua orang. Tujuannya jelas, dia ingin menghentikan kejahatan Ratna Malangi, dan juga menebus semua kesalahannya di masa lalu, dengan membantu Prabu Jabang Wiyagra untuk menghadapi Ratna Malangi.
__ADS_1