
"Ada baiknya Gusti Patih tidak bersikap seperti itu. Aku juga pernah berada di posisi Maha Patih Galangan. Bahkan mungkin kesalahanku jauh lebih besar dari apa yang dilakukan oleh Maha Patih Galangan." Ucap Patih Kinjiri kepada Maha Patih Putra Candrasa.
"Sulit sekali Patih. Aku tidak bisa percaya begitu saja kepada Maha Patih Galangan. Aku masih meragukannya. Walaupun dia sudah berjasa untuk kita, tapi tetap saja aku belum bisa menerimanya."
".....Selama ini banyak sekali musuh Prabu Jabang Wiyagra yang diberikan kesempatan untuk berubah, tapi mereka malah mengkhianatinya. Bagaimana bisa aku percaya begitu saja dengan Maha Patih Galangan yang berubah tiba-tiba?"
"Memang tidak mudah Gusti Patih. Bahkan saya pun masih terus waspada kepada Maha Patih Galangan. Walaupun dia sudah berubah, tapi apa yang sudah dia berikan sebenarnya tidaklah sebanding dengan apa yang sudah dia lakukan kepada Prabu Jabang Wiyagra."
"Lalu kenapa kau mau bekerja sama dengannya?"
"Apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya menjalankan perintah dari Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Aku tidak mungkin membantahnya. Jujur saja, aku sebenarnya kurang setuju dengan adanya Maha Patih Galangan di tempat ini. Tapi perintah tetaplah perintah, Gusti Patih."
"Ya. Aku harap Gusti Prabu Jabang Wiyagra memiliki rencana lain untuk Maha Patih Galangan."
"Iya."
Perbincangan itu ternyata sudah didengar oleh Pangeran Rawaja Pati. Pangeran Rawaja Pati mendengarkan perbincangan mereka dari sela-sela pagar yang ada di salah satu rumah makan. Sedangkan posisi Maha Patih Putra Candrasa dan Patih Kinjiri, berada di luar rumah makan tersebut. Sehingga Pangeran Rawaja Pati bisa dengan jelas mendengarkan perbincangan mereka berdua.
__ADS_1
Perbincangan mereka diakhiri dengan datangnya salah satu prajurit yang melaporkan sesuatu. Si prajurit mengatakan kepada Maha Patih Putra Candrasa, kalau ada bentrokan antara pasukan Prabu Garan Darang dengan pasukan Prabu Bawesi, di sebuah tempat, yang tak jauh dari sini. Maha Patih Putra Candrasa dan Patih Kinjiri langsung mengikuti sj prajurit.
Begitu juga dengan Pangeran Rawaja Pati yang ingin tahu, apa yang terjadi di tempat itu. Ternyata benar, di sana sudah ada banyak sekali orang yang sedang melakukan pertarungan. Terlihat juga banyak sekali pasukan Prabu Bawesi yang mati di sana. Prabu Garan Darang masih terus menyerang mereka dengan kekuatannya.
Sedangkan pasukannya berada di barisan belakang, melihat pertarungan Prabu Garan Darang dengan pasukan Prabu Bawesi. Sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang melaporkan kejadian ini kepada raja mereka. Mereka hanya sibuk menyerang Prabu Garan Darang yang tentunya lebih kuat dari semua orang yang ada di sana.
Sampai kemudian, muncullah lima orang Patih yang mencoba untuk membantu para prajurit yang semuanya sudah terkapar.
"Kurang ajar kamu Garan Darang! Beraninya berbuat kekacauan di wilayah Wesi Kuning!"
"Aku akan membunuh kalian semua. Ayo, majulah!"
Dengan bergabungnya mereka, maka mereka akan semakin mudah menyerang Prabu Garan Darang. Mereka mulai menggunakan ilmu kanuragan yang mereka miliki. Secara bersamaan, mereka semua menggunakan Ajian Brajamusti. Ilmu pukulan yang sangat ganas itu langsung mereka lesatkan ke arah Prabu Garan Darang.
Prabu Garan Darang yang tidak siap akhirnya terlempar. Dia tersungkur jatuh ke tanah. Dan merasakan sakit di bagian perutnya. Tetapi Prabu Garan Darang kembali bangkit. Dia mengeluarkan Ajian Gelap Ngampar, yang digabungkan dengan ilmu pukulan yang ia miliki. Kelima Patih itu juga tidak mau kalah, mereka kembali menggunakan Ajian Brajamusti yang mereka miliki.
Mereka sama-sama saling menghentakkan kekuatan mereka satu sama lain. Mereka saling mendorong tenaga dalam yang mereka miliki untuk menumbangkan musuh. Prabu Garan Darang terus berusaha mendorong kekuatannya itu agar mengenai kelima orang Patih tersebut. Tapi kelima orang Patih itu nampak jauh lebih kuat dari Prabu Garan Darang.
__ADS_1
Karena tidak mau kalah, Prabu Garan Darang memerintahkan pasukannya untuk menyerang kelima Patih itu. Sehingga konsentrasi mereka terpecah. Dua orang dari mereka kemudian memilih untuk menghalau serangan dari para pasukan Prabu Garan Darang. Sedangkan tiga orang lagi masih beradu ilmu dengan Prabu Garan Darang.
Kekuatan kelima Patih tersebut pun terbelah. Mereka tidak sekuat sebelumnya, karena sekarang kekuatan mereka dibagi-bagi. Prabu Garan Darang langsung menghentakkan kaki dan tangannya. Mendorong kekuatannya sekuat tenaga, agar bisa mengalahkan ketiga orang Patih yang masih bertahan dengan dirinya.
Karena sudah tidak mampu lagi menahan dorongan kekuatan Prabu Garan Darang , ketiga orang Patih itu akhirnya terpental. Darah muncrat dari mulut ketiga orang itu. Begitu juga Prabu Garan Darang yang langsung merasakan sakit luar biasa di bagian perutnya. Pasukannya juga banyak yang kalah melawan kedua orang Patih.
Prabu Garan Darang akhirnya menarik mundur pasukannya dari tempat itu. Seketika dia menghilang bersama dengan puluhan orang yang ia bawa. Kedua orang Patih yang tersisa tidak bisa mengetahui ke arah mana Prabu Garan Darang pergi. Mereka berdua juga langsung membawa ketiga orang Patih yang terluka.
Salah satu dari mereka dibawa oleh para prajurit yang datang membantu. Di tempat itu, sudah banyak sekali mayat bergelimpangan. Dan tidak ada satu pun prajurit yang melawan Prabu Garan Darang berhasil diselamatkan. Mereka semua tewas. Habis tanpa sisa. Para prajurit itu adalah prajurit yang bertugas menjaga daerah hutan tersebut, agar tidak dikuasai oleh pihak lawan.
Di sini sudah bisa disimpulkan, kalau kekuatan pasukan Kerajaan Wesi Kuning masih terlalu lemah. Mereka tidak benar-benar siap menghadapi semua yang sedang terjadi sekarang ini. Mereka hanya memaksakan diri mereka untuk bisa melakukan apa yang Prabu Bawesi perintahkan. Karena yang penting, mereka bisa mendapatkan makan, dan tempat untuk tinggal.
Pada saat mereka akan berlalu pergi, secara mengejutkan Pangeran Rawaja Pati datang dan menyerang para prajurit itu, dari belakang. Membuat korban dari pasukan Kerajaan Wesi Kuning semakin bertambah. Dengan sangat ganas, Pangeran Rawaja Pati yang sudah berubah menjadi naga, menyapu para prajurit dengan ekornya.
Para prajurit mencoba menyerang ekor Pangeran Rawaja Pati yang sangat besar itu. Tapi sayangnya, pedang yang mereka gunakan tidak cukup kuat untuk melukai ekor Pangeran Rawaja Pati. Bahkan pedang mereka sampai patah, karena ekor Pangeran Rawaja Pati terlalu kuat. Saat sudah berubah menjadi seekor naga, Pangeran Rawaja Pati memiliki tubuh yang jauh lebih kuat.
Sisik-sisik di tubuhnya bahkan mampu menangkal serangan seperti ilmu pukulan, dan juga senjata semacam panah, ataupun serangan ketapel raksasa. Namun untuk merubah menjadi seekor naga dengan sempurna, harus ada darah manusia yang masuk ke dalam tubuh Pangeran Rawaja Pati.
__ADS_1
Dan ternyata, Pangeran Rawaja Pati sudah menghisap darah beberapa orang pasukan Prabu Garan Darang. Pangeran Rawaja Pati juga berhasil menangkap Prabu Garan Darang. Menaruhnya pada sebuah pohon, dengan akar-akar pohon yang mengikat tubuhnya dengan sangat kuat. Sehingga dia sulit untuk melepaskan diri.
Sedangkan beberapa orang pasukannya dihabisi oleh Pangeran Rawaja Pati dengan cara dihisap darahnya sampai tubuh mereka mengering. Alhasil, sekarang Pangeran Rawaja Pati bisa merubah wujudnya menjadi seekor naga dengan sangat sempurna. Bahkan ukurannya jauh lebih besar dan jauh lebih kuat dari biasanya.