DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 58


__ADS_3

Prabu Bujang Antasura yang ada di istananya juga merasa khawatir dengan keadaan Patih Kinjiri dan Lare Damar. Apalagi setelah Prabu Jabang Wiyagra menceritakan semua kepadanya, apa yang mereka berdua alami.


“Awalnya aku pun sudah melarang mereka, Prabu Wiyagra. Tapi kedua abdi setiamu itu tetap bersikukuh untuk pergi kesana.” Ucap Prabu Bujang Antasura.


“Ya. Mereka berdua tidak pernah mundur jika sudah mendapatkan perintah dariku. Baik atau buruk, pasti akan mereka tanggung.”


“.....Tapi aku yakin, Prabu Antasura. Kalau mereka sebentar lagi akan membawakan apa yang kamu butuhkan. Obat untuk sakitmu.”


Prabu Bujang Antasura berkali-kali meminta maaf kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dia merasa sangat bersalah karena pernah memusuhinya. Tapi orang yang ia anggap musuh, justru malah memberikannya pertolongan.


Prabu Jabang Wiyagra sama sekali tidak menaruh dendam, atau pun kebencian sedikit pun, kepada Prabu Bujang Antasura. Dia justru senang, karena Prabu Bujang Antasura sudah menyadari semua kesalahannya.


Sikap Prabu Jabang Wiyagra yang lembut dan santun itu membuat hati Prabu Bujang Antasura luluh. Prabu Bujang Antasura berjanji, kalau dia sembuh, dia akan mengabdikan dirinya kepada Kerajaan Wiyagra Malela.


Dia siap untuk berada dibawah kepemimpinan Prabu Jabang Wiyagra. Sekaligus, dia pun ingin mengakhiri semua peperangan ini. Karena sampai sekarang, Prabu Suta Rawaja masih belum mau berdamai dengan Prabu Jabang Wiyagra.


Prabu Jabang Wiyagra jelas tidak ambil pusing soal itu. Karena dia sudah mengetahui secara pasti bagaimana kekuatan Kerajaan Rawaja Pati. Dan belum lama ini, Prabu Suta Rawaja juga terkena sakit karena usianya sudah semakin tua.


Ditambah lagi dengan kekuatan pasukan mereka yang semakin hari semakin sedikit, karena terjadi perang saudara antara Kerajaan Rawaja Pati dengan beberapa kerajaan-kerajaan kecil yang ada dibawahnya.


Maha Patih Raseksa juga belum sembuh sampai saat ini. Dia masih terus melakukan pengobatan secara rutin. Karena selama bertarung dengan Mangku Cendrasih, Maha Patih Raseksa banyak sekali mengeluarkan ilmu kanuragannya.


Sehingga untuk sekarang, Maha Patih Raseksa masih belum bisa menjalankan tugas apa pun, karena dia harus menunggu sampai dirinya benar-benar sembuh dari sakit yang dideritanya.


Yang lebih dikhawatirkan oleh Prabu Jabang Wiyagra dan Prabu Bujang Antasura saat ini adalah Ditya Kalana. Karena setelah bertarung dengan Prabu Bujang Antasura, dia tidak pernah terdengar lagi.


Para mata-mata Kerajaan Antasura juga belum menemukan titik terang, dimana keberadaan Ditya Kalana. Ditya Kalana bisa saja masih hidup dan sedang menyusun sebuah rencana untuk mengalahkan mereka semua.

__ADS_1


Atau paling tidak, Ditya Kalana bisa saja menyusup ke istana Kerajaan Antasura, untuk membunuh Prabu Bujang Antasura yang masih terbaring lemah dan belum bisa melakukan apa-apa.


Keadaan Prabu Bujang Antasura yang lemah dan tidak bisa banyak bergerak, sudah pasti akan dimanfaatkan oleh musuh mereka untuk membunuhnya. Karena diantara Prabu Jabang Wiyagra dan Prabu Bagas Candramawa, hanya Prabu Bujang Antasura-lah yang paling lemah.


Sebenarnya ini adalah kesempatan yang bagus juga untuk Prabu Jabang Wiyagra jika dia ingin menyerang Kerajaan Antasura. Tapi dia tidak mau melakukan hal itu.


Kalau masih ada cara yang lebih baik, maka Prabu Jabang Wiyagra akan menggunakan cara yang baik untuk menaklukkan musuh-musuhnya. Dia tidak mau mengutamakan peperangan.


Peperangan adalah jalan terakhir yang akan ia gunakan, kalau musuhnya tidak mau berdamai dan tunduk dibawah kepemimpinannya. Karena Prabu Jabang Wiyagra lebih mengutamakan otak dari pada otot.


......................


Lare Damar dan Patih Kinjiri pun tersadar dari pingsan mereka. Mereka berdua sudah berada di suatu tempat, yang mereka tidak tahu itu ada dimana. Yang jelas tempat itu sangat nyaman dan luas.


Di sekitar tempat mereka berada, juga ada sebuah bangunan megah, dan juga taman yang sangat-sangat indah. Hingga membuat Lare Damar dan Patih Kinjiri takjub melihatnya.


Tiba-tiba seseorang mengejutkan mereka.


“Siapa kakek ini?” Tanya Lare Damar.


“Tenang. Duduklah dulu. Aku akan ceritakan semuanya kepada kalian.” Ucap si kakek tua itu.


Kakek tua itu berbadan gemuk. Dia memakai pakaian yang serba putih. Rambutnya yang panjang diikat dengan sangat rapi. Tercium aroma wewangian yang sangat harum dari tubuh si kakek itu.


Kakek tua itu memperkenalkan dirinya dihadapan mereka. Dan betapa terkejutnya Lare Damar, saat dia tahu kalau si kakek adalah Eyang Badranaya. Sang penguasa Gunung Khayangan.


“Maafkan kelancangan kami berdua Eyang Badranaya.” Ucap Lare Damar sembari bersimpuh di depan Eyang Badranaya.

__ADS_1


“Tidak apa-apa Ngger. Duduklah. Dan minumlah terlebih dahulu. Semua luka ditubuh kalian sudah aku obati. Sekarang sudah waktunya kalian mendengarkan ucapanku.”


“Nggih Eyang.”


Eyang Badranaya sudah mengetahui apa maksud kedatangan mereka ke Gunung Khayangan. Yaitu untuk mencari obat kesembuhan Prabu Bujang Antasura yang sedang sakit parah.


Di tempat inilah satu-satunya obat itu berada. Karena penyakit dari Prabu Bujang Antasura bukanlah penyakit luka biasa. Tapi itu adalah akibat dari benturan kekuatan dua buah pusaka yang sakti mandraguna.


Pusaka yang digunakan oleh Prabu Bujang Antasura, dan Ditya Kalana memang sangat berbahaya. Jika tidak hati-hati, maka keduanya bisa saja mati dan seluruh badan mereka juga akan hancur lebur.


Kedua pusaka sakti itu sudah lama tidak dimunculkan ke permukaan. Namun kedua pusaka itu sudah cukup melegenda dikalangan para pakar ilmu kanuragan. Dan tidak semua orang yang memiliki ilmu kanuragan bisa memilikinya.


Bagi siapa pun yang memiliki pusaka itu, maka mereka sulit untuk mati. Dan sekarang itulah yang sedang dialamai oleh Prabu Bujang Antasura. Sekali pun pusakanya hancur, tapi tidak dengan karmanya.


Karma dari pusaka itu diturunkan secara terus menerus dari pemilik pertamanya. Siapa saja yang mewarisi pusaka itu akan cenderung memiliki sifat yang pendendam, dan haus akan kekuasaan.


Beruntungnya, Prabu Bujang Antasura dipertemukan dengan musuh yang berbudi pekerti luhur. Sehingga pengaruh sifat buruk dari pusaka itu bisa hilang dengan sendirinya. Hanya saja, sakit yang diderita oleh Prabu Bujang Antasura memang tidak bisa diobati dengan sembarangan obat.


“Lalu apa yang harus kami lakukan Eyang?” Tanya Patih Kinjiri.


“Aku bisa memberikan obatnya untuk kalian. Tapi jelas tidak akan aku berikan secara cuma-cuma.”Jawab Eyang Badranaya.


Eyang Badranaya kemudian meminta Lare Damar untuk ikut bersamanya. Dia ingin membicarakan sesuatu yang penting itu, empat mata saja. Sedangkan Patih Kinjiri, dia tetap dibiarkan di tempat yang sama.


Entah apa yang Eyang Badranaya katakan kepada Lare Damar, sehingga Lare Damar terlihat sedih dan sepertinya kurang suka dengan syarat yang Eyang Badranaya berikan kepadanya.


Setelah itu, Lare Damar pun mengatakan kalau Patih Kinjiri harus pulang sendiri. Dan meninggalkan Lare Damar di tempat ini untuk sementara waktu. Karena harus ada yang Lare Damar urus bersama dengan Eyang Badranaya.

__ADS_1


Patih Kinjiri pun heran dan bertanya-tanya. Karena dia sama sekali tidak diberitahu apa yang terjadi. Patih Kinjiri khawatir kalau sampai terjadi sesuatu kepada Lare Damar. Karena ini bukanlah tempat mereka.


__ADS_2