
Para bandit yang tersisa melarikan diri ke dalam hutan-hutan belantara. Sedangkan para mantan anak buah Panggul, mereka mencoba menceritakan semuanya kepada kelompok pergerakan bawah tanah, yang beberapa waktu lalu memerintahkan Panggul untuk membuat kekacauan. Namun seperti biasanya, ketua dari pergerakan bawah tanah tersebut tidak peduli kepada nasib Panggul. Mereka justru memarahi para mantan anak buah Panggul, yang tanpa rasa bersalah meminta bantuan kepada mereka.
"Aku tidak mau ambil pusing soal si bodoh itu. Nasibnya adalah resiko dari apa yang sudah ia lakukan. Kenapa kami semua harus membantu kalian?" Ucap si ketua kelompok tersebut.
Para mantan anak buah Panggul yang kecewa pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana. Namun tidak semudah itu. Si ketua memerintahkan para pengikutnya untuk menjadikan mantan anak buah Panggul sebagai pasukannya. Lebih tepatnya, pasukan yang abadi dan tak bisa mati. Ya! Mereka semua akan dibunuh terlebih dahulu, sebelum akhirnya si ketua mengisi jasad mereka dengan roh-roh jahat, yang sangat setia, dan akan melakukan apapun untuknya.
Dari sinilah semuanya terbongkar, kalau si ketua yang dimaksud ternyata bernama Patri Asih. Patri Asih adalah seorang perempuan yang memiliki ilmu sihir tingkat tinggi. Dialah yang selama ini memimpin seluruh pasukan gerakan bawah tanah, yang ingin menghancurkan kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Patri Asih memang tidak terlalu terkenal di kalangan umum. Karena dia lebih banyak berperan di belakang layar.
Namun dalam dunia persilatan, nama Patri Asih sudah sangat terkenal. Patri Asih adalah seorang perempuan yang memiliki darah setengah manusia dan setengah siluman. Ayahandanya berasal dari bangsa siluman ular. Sedangkan ibudanya berasal dari bangsa manusia. Patri Asih dilahirkan berdasarkan sebuah pernikahan yang dipaksakan. Karena ibunda Patri Asih sendiri sama sekali tidak menyukai pernikahan tersebut.
Ibunda Patri Asih sangatlah membenci bangsa siluman. Tidak peduli apapun jenisnya. Ibunda dari Patri Asih adalah seorang pendekar perempuan, yang juga memiliki ilmu kesaktian tingkat tinggi. Kala itu ayahanda dan ibundanya adalah musuh abadi, yang tidak pernah mau berdamai. Permusuhan itu disebabkan karena bangsa siluman ular kerap kali melakukan penyerangan kepada bangsa manusia.
__ADS_1
Ibunda dari Patri Asih lalu mengibarkan bendera perang kepada bangsa siluman ular yang kala itu dipimpin oleh ayahanda dari Patri Asih. Mereka berdua terus-menerus saling serang satu sama lain. Masa itu adalah masa-masa tersulit Tanah Jawa. Banyak sekali pertikaian antar kerajaan, dan juga antar kelompok yang terjadi. Salah satu contohnya adalah ayahanda dan ibunda Patri Asih sendiri, yang selalu bermusuhan.
Namun pada suatu hari, leluhur dari bangsa siluman ular mendatangi ibunda dari Patri Asih, untuk melakukan perjanjian damai. Patri Asih jelas menolak hal tersebut. Dia justru menjadi semakin geram dengan apa yang dilakukan oleh leluhur bangsa siluman ular. Karena dengan entengnya mengajukan perjanjian damai, setelah bangsa siluman ular banyak mengalami kekalahan, yang disebabkan oleh bangsa manusia.
Tapi sangat disayangkan, karena guru dari ibunda Patri Asih ternyata sudah bernegosiasi dengan leluhur bangsa siluman terlebih dahulu, tanpa sepengetahuannya. Ibunda dari Patri Asih jelas tidak bisa menolak apa yang sudah ditetapkan oleh gurunya. Guru ibunda dari Patri Asih terpaksa melakukan hal itu, dikarenakan sudah banyak sekali korban berjatuhan. Guru ibunda dari Patri Asih tidak mau hal itu terjadi lagi.
Untuk mendamaikan kedua belah pihak, maka ayahanda dan ibunda dari Patri Asih pun akhirnya dijodohkan. Dengan sangat-sangat terpaksa ibunda dari Patri Asih harus menerima perjodohan tersebut. Karena dia juga harus mementingkan keselamatan orang-orang yang ikut bersama dengan dirinya. Ibunda dari Patri Asih juga tidak mau menambah pertikaian di Tanah Jawa ini menjadi semakin membesar.
Patri Ganalaka masih kerap mengganggu bangsa manusia untuk dijadikan tumbal kesaktiannya. Sri Rangka Asih yang mengetahui hal tersebut pun merasa sangat kecewa, dan merasa dikhianati oleh suaminya sendiri. Memang, Patri Ganalaka sangatlah mencintainya, dan tidak pernah bersikap kasar kepada keluarganya sendiri. Tetapi tabiat buruknya itulah yang membuat Sri Rangka Asih tidak suka. Padahal itu adalah bagian dari perjanjian mereka dulu.
Sri Rangka Asih yang merasa sangat kecewa kepada suaminya, akhirnya memilih untuk meninggalkan suami dan anaknya. Sri Rangka Asih pergi entah ke mana. Selama hampir lima tahun Sri Rangka Asih menghilang dari hadapan semua orang. Seakan dia telah mati. Abadi dalam dekapan bumi. Tidak ada lagi kabar mengenai dirinya sampai saat ini. Keberadaan Sri Rangka Asih masih menjadi misteri bagi semua orang. Tidak ada satupun orang yang tahu dia ada di mana. Termasuk anaknya sendiri pun, tidak pernah tahu.
__ADS_1
Lambat laun Patri Asih tumbuh menjadi dewasa. Dia sudah mempelajari berbagai hal dari ayahandanya. Patri Asih diajari berbagai macam ilmu sihir tingkat tinggi yang jarang sekali dimiliki oleh para ahli sihir yang lain. Di usianya yang masih sangat muda, Patri Asih sudah mampu merubah segenggam rumput menjadi kawanan burung gagak. Tak hanya itu, Patri Asih juga mampu merubah seorang manusia menjadi seekor kelinci. Semua itu ia dapatkan dari ayahandanya.
Patri Asih tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibunda. Dia tidak pernah tahu bagaimana wajah asli seorang perempuan yang telah mengandung dan melahirkannya. Hal itu membuat Patri Asih merasa sangat sedih. Karena selama masa hidupnya, Patri Asih tidak pernah sekalipun mengetahui siapa ibunda tercintanya. Ingin sekali rasanya ia berjumpa dan memeluk erat-erat ibundanya itu, dan melepaskan segala rasa kerinduan yang sudah lama tertahan.
Namun harapan hanyalah sebuah harapan. Selama bertahun-tahun masa kehidupannya, hingga ayahandanya meninggal, Patri Asih tidak pernah bertemu sekalipun dengan ibundanya. Hal itu memberikan sebuah kebencian besar di dalam hatinya. Patri Asih berubah menjadi sosok yang liar dan sulit diatur. Bahkan dia sampai diusir oleh kakeknya sendiri, yaitu ayah dari Patri Ganalaka. Sehingga Patri Asih terpaksa harus hidup menyendiri. Tanpa ada lagi satupun orang yang peduli kepada dirinya.
Setelah terusir dari keluarganya sendiri, Patri Asih bertambah liar dan semakin brutal. Patri Asih menggunakan seluruh ilmu yang ia miliki untuk menciptakan keangkaramurkaan. Patri Asih sering sekali berbuat onar dan melakukan kejahatan. Tapi kejahatannya sudah mencapai tingkat yang tinggi. Karena kebanyakan orang yang ia bunuh adalah para pejabat istana, dan juga orang-orang penting. Karena yang terpenting baginya adalah mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari orang-orang.
Patri Asih suka sekali dipuji. Dan merasa sangat bangga dengan semua kejahatan dan kekacauan yang sudah ia ciptakan. Hal itu seakan sudah menjadi makanannya sehari-hari, dalam menjalani roda kehidupan ini. Sampai pada akhirnya Patri Asih dipertemukan dengan seorang pendekar sakti mandraguna, yang tidak lain tidak bukan adalah Prabu Jabang Wiyagra. Yang pada masa itu belum jadi seorang raja.
Patri Asih bisa dikalahkan dengan mudah di tangan seorang Prabu Jabang Wiyagra. Bahkan Patri Asih hampir saja mati, kalau Prabu Jabang Wiyagra tidak menahan diri. Prabu Jabang Wiyagra akhirnya membuang Patri Asih ke sebuah jurang yang sangat dalam, yang kala itu Patri Asih dalam keadaan yang sudah sekarat. Patri Asih kalah telak di tangan Prabu Jabang Wiyagra, yang jauh lebih sakti dari dirinya.
__ADS_1
Semenjak peristiwa itulah Patri Asih menyimpan dendam kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dia ingin menuntut balas atas kekalahannya di masa lalu. Dengan cara menghancurkan kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra secara perlahan-lahan. Patri Asih selalu ingin bermain bersih. Karena kalau dia sampai berhadapan langsung dengan Prabu Jabang Wiyagra, sudah pasti dia akan dikalahkan. Untuk menghindari hal itu, maka Patri Asih lebih memilih bermain bersih.