
Di suatu desa, Patri Asih bersama dengan beberapa orang kepercayaannya, sedang melakukan rapat untuk penyerangan selanjutnya. Mereka sudah mulai merambah ke wilayah perkotaan. Dan menguasai beberapa tempat-tempat penting yang ada di daerah pedesaan dan perkotaan tersebut. Pergerakan yang dilakukan oleh Patri Asih, sempat menjadi perdebatan di antara para pasukannya sendiri. Pasalnya, banyak sekali pasukannya yang tewas di medan perang. Bahkan tak sedikit juga yang terluka parah. Tetapi Patri Asih tidak mau menghentikan penyerangan. Karena dia ingin segera menduduki tahta Kerajaan Wiyagra Malela.
Padahal, dengan para pasukan yang terluka, dan mulai melemah, Patri Asih harus menghentikan penyerangannya. Karena hal itu akan sangat membahayakan para pasukan yang lain. Para pasukan yang terluka tidak bisa diikutkan dalam perang. Jika mereka tetap dimasukkan dalam medan perang, maka mereka akan menjadi beban bagi teman-temannya yang lain. Hal itu justru akan menjadi penghambat bagi Patri Asih sendiri. Tapi Patri Asih sama sekali tidak mendengarkan nasehat dari para pengikutnya. Dia hanya peduli kepada pendapatnya sendiri. Yang menurutnya, apa yang dia lakukan sudah sangat tepat.
"Mohon maaf Nyi, ada baiknya Nyai mau mengistirahatkan pasukan untuk sementara waktu. Mereka sudah sangat kelelahan Nyi. Dan itu akan membahayakan mereka semua. Mereka tidak mungkin bertarung dalam keadaan yang lemah dan lelah. Kalau tetap dipaksakan, seluruh pasukan kita bisa habis tanpa sisa." Ungkap salah seorang abdi setianya.
"Benar Nyi. Ditambah lagi dengan jumlah pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, yang semakin dekat dengan istana, jumlah mereka juga semakin membesar. Senjata-senjata yang mereka gunakan juga sangat-sangat lengkap. Pasukan kita kewalahan di medan perang. Saya mohon Nyi, Nyai Patri Asih mau mengistirahatkan para pasukan. Walaupun hanya sebentar saja." Kata salah seorang lainnya.
Namun di sini Patri Asih tetap teguh dengan pendiriannya. Dia tidak akan mengistirahatkan pasukannya. Sebelum dia benar-benar mencapai wilayah perbatasan antara Kerajaan Wiyagra Malela dan Kerajaan Panca Warna.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengistirahatkan mereka, meskipun hanya sementara waktu. Aku akan menghentikan pergerakanku, jika Aku sudah benar-benar sampai di wilayah perbatasan antara Kerajaan Wiyagra Malela dan Kerajaan Panca Warna. Di wilayah itulah nantinya kita akan membangun sebuah kerajaan kecil. Dan dari sana juga, aku ingin membangun kekuatan yang baru, yang jauh lebih kuat daripada yang sekarang. Aku sendiri yang akan melatih ribuan orang. Untuk membentuk sebuah pasukan yang paling ditakuti." Jawab Patri Asih.
Semua orang yang ada di sana hanya bisa saling tatap satu sama lainnya. Mereka memang sudah menduga, kalau Patri Asih tidak akan mau menghentikan pergerakan pasukannya. Karena satu-satunya tempat yang menarik adalah wilayah perbatasan tersebut. Wilayah ya sekarang diduduki oleh Ratu Intan Senggani, memang memiliki banyak sekali sumber daya. Dengan sumber daya alam yang melimpah, maka Patri Asih bisa membangun apa saja yang ia mau. Termasuk kerajaan kecil impiannya. Dan dari sana, Patri Asih akan mulai menghimpun kekuatan pasukannya. Dengan kedua tangannya sendiri. Karena sekarang, Patri Asih hanya bisa mengandalkan kekuatan yang dimiliki oleh para pendekar saja.
Sedangkan dia sendiri tidak memiliki kekuatan inti. Dia hanya merekrut secara paksa para pemuda yang ada di wilayah-wilayah yang sudah ia taklukan saja. Selebihnya, dia tetap mengandalkan para pendekar yang menjadi pengikutnya. Padahal, banyak sekali dari para pendekar itu yang sudah mulai melakukan protes secara halus kepada Patri Asih. Tetapi Patri Asih tetap saja tidak bisa mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Dia hanya peduli terhadap kepentingannya sendiri. Tanpa memperhitungkan semuanya dengan matang. Sekalipun musuhnya sudah sangat jelas, nampak di depan kedua bola matanya.
Para pendekar sebenarnya sudah mulai mencurigai, kalau apa yang terjadi saat ini adalah sebuah kesengajaan. Yang dimana, Prabu Jabang Wiyagra sengaja memerintahkan pasukannya untuk mengalah di pertempuran, untuk memancing Patri Asih, agar semakin mendekat ke arah wilayah-wilayah besar yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Namun, para pendekar ini sudah disumpah untuk setia kepada Patri Asih. Mereka juga tidak memiliki kuasa penuh atas apapun yang ada di tempat ini. Mereka hanya bisa bergerak di bawah perintah. Tak banyak yang bisa mereka lakukan. Beberapa dari mereka mulai meragukan kepemimpinan Patri Asih. Karena sudah terlalu banyak teman-teman mereka yang dikorbankan.
Demi ingin menyelamatkan semua orang yang ada di dalam kelompoknya, Bajur dengan terpaksa, ingin membocorkan semuanya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Kalau Bajur dan kelompoknya bisa keluar dari tempat ini, maka mereka bisa dengan mudah menuju ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Dengan bocornya strategi yang dilakukan oleh Patri Asih, hal itu akan menggagalkan rencana Patri Asih untuk menguasai Kerajaan Wiyagra Malela. Bukan hanya itu saja, tindakan yang Bajur lakukan juga bisa memberikan dampak baik bagi para pendekar yang lainnya. Karena sekarang, jumlah para pendekar yang ikut dengan Patri Asih sudah sangat sedikit. Jumlah mereka menurun, karena banyak dari mereka yang tewas di medan pertempuran.
__ADS_1
Patri Asih sendiri seperti tidak peduli, kepada kematian orang-orang yang sudah berkorban banyak untuk dirinya. Padahal, Bajur dan para pendekar lain sudah memberikan apa yang Patri Asih inginkan. Tapi Patri Asih sama sekali tidak menepati janjinya sebagai seorang pemimpin. Alasan kenapa Bajur ingin ikut bersama kelompok Patri Asih adalah, karena dia dan anggota kelompoknya membutuhkan banyak biaya, untuk kehidupan mereka di masa mendatang. Karena sebenarnya, Bajur dan orang-orang yang ada di dalam kelompoknya, ingin sekali membuka lembaran baru dalam kehidupan mereka. Mereka sudah tidak mau lagi menjadi sekelompok bandit. Yang mencari makan dengan cara merampas dari orang lain. Mereka sudah tidak mau lagi melakukan itu.
"Apa itu tidak berbahaya Kang? Kalau kita gagal, Nyai Patri Asih pasti akan membunuh kita semua. Kalau kita semua mati, siapa yang akan menghidupi keluarga kita Kang?" Tanya salah satu anak buah Bajur.
"Apa bedanya? Apa bedanya kalau kita tetap berada di tempat ini? Nyai Patri Asih tidak akan peduli sekalipun kita mati di luar sana. Mungkin Prabu Jabang Wiyagra tetap akan memberikan hukuman kepada kita, atas semua kejahatan yang sudah pernah kita lakukan. Tapi, dengan semua hal yang kita ketahui di tempat ini, aku yakin, Prabu Jabang Wiyagra pasti akan memberikan keringanan hukuman untuk. Kalaupun kita mati, Prabu Jabang Wiyagra tidak akan pernah melupakan nasib keluarga kita."
Semua anak buah Bajur, setuju dengan apa yang dikatakan oleh pimpinan mereka. Karena kenyataannya, Patri Asih emang tidak pernah peduli kepada siapapun yang ada di dekatnya. Dia sama dengan musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra yang lainnya. Yang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Bahkan, Patri Asih tidak pernah sekalipun memberikan penghargaan apapun kepada orang-orang yang telah membantunya. Terutama kepada para pendekar, yang sudah bersusah payah merebut semua wilayah, yang sekarang sudah didudukinya. Para pendekar bahkan belum mendapatkan bayaran sepeser pun. Mereka hanya mendapatkan jatah makanan saja. Tidak lebih dari itu. Semua yang pernah dikatakan oleh Patri Asih, hanyalah kata-kata pemanis.
"Baiklah Kang. Kami ikut Kang Bajur saja. Kalau kita mati, maka kita harus mati bersama-sama."
__ADS_1
"Terimakasih. Aku harap, persaudaraan kita tidak akan pernah putus. Sekalipun kita semua sudah mati."
"Iya Kang."